
Perusahaan Indos Perkasa adalah sebuah Perusahaan yang sangat mementingkan kesehatan para karyawannya. Mereka bahkan mempekerjakan Koki khusus untuk menyediakan makan siang bagi semua karyawan siff pertama dan juga makan malam bagi karyawan siff kedua.
Perusahaan milik keluarga Cheril itu memang sangat mementingkan kepentingan para pekerjanya.
Saat Sang Koki sedang menghidangkan makanan yang baru saja selesai ia masak diatas sebuah etalase yang tersedia disana, ia melihat Cheril dan Elvano sedang berjalan ke arah nya.
Dia sedikit kaget melihat sosok Cheril, karna Cheril memang sangat jarang makan ditempat itu. Kecuali sedang ada acara dikantor tersebut.
koki itu tentu saja sudah sangat mengenal Cheril, namun ia belum tau tentang kepala gudang baru siff dua yang baru bekerja dua hari di Perusahaan tsb. Kemudian Sang Koki pun menyapa mereka.
"Selamat malam Nona dan.... Koki itu berhenti sesaat kemudian melanjutkan,
"Selamat malam Tuan Muda !" Ucapnya kemudian.
Ia mengira-ngira, sepertinya itu adalah kekasih nya Nona Cheril, jadi ia sebut saja Tuan Muda.
'Eh, dia panggil Elvano dengan sebutan apa tadi? Tuan Muda? Panggilan macam apa itu?'
"Eh, Selamat malam Koki Tomi !" Jawab Cheril balik menyapa dengan memasang wajahnya yang sedikit menahan geli setelah mendengar kata Tuan Muda yang diucapkan oleh Koki yang ada dihadapannya itu.
Sedangkan Elvano ia hanya diam saja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Silahkan Nona, Tuan. Mau makan apa?"
"I-iya, baik Koki Tomi. Kami lihat-lihat dulu !"Jawab Cheril kemudian karna ia melihat elvano hanya diam saja, jadi ia pun memutuskan untuk menjawab pertanyaan koki Tomi.
Ini orang yang mau makan siapa? malah aku yang harus menjawab pertanyaan Koki Tomi.
Huuuuuuuuh
Cheril membuang nafas panjang melihat tingkah Elvano yang sangat menjengkelkan itu.
Cheril yang tidak memiliki rencana untuk makan akhirnya juga ikut memilih makanan yang sudah tersedia mendampingi Elvano.
setelah selsai memilih makanan mereka pun duduk pada meja yang sudah disediakan. Cheril memilih duduk pada kursi yang berhadapan dengan Elvano.
Elvano yang sudah merasa lapar menikmati menu yang sudah ia pilih dengan sangat nikmat, sedangkan Cheril bukannya makan, ia malah diam-diam memperhatikan laki-laki yang ada dihadapannya itu.
Kalau di ihat dari dekat, Elvano memang sangat tampan. Hidung nya mancung sekali, ketika makan lesung pipinya juga kelihatan, sexy sekali.
"Kenapa menatap ku seperti itu?
"Eh,,"
'Ternyata dia tau aku sedang memperhatikannya. Ah jadi malu kan. Lagian kenapa juga sih aku harus melakukan itu tadi.'
Wajah Cheril memerah seketika. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan Elvano.
"Kenapa diam, atau jangan-jangan kamu suka sama aku ya?" Kali ini Elvano malah mengejek Cheril, yang ia sendiri sebenarnya juga sangat malu mengatakan itu. Dalam hati ia juga sangat senang karna Cheril memperhatikan nya.
"Eh,, dasar kegeeran. Siapa juga yang memperhatikan mu. Kamu yang terlalu kegeeran."
"Oh iya, bagaimana kabar Ibumu?" Tanya Cheril mengalihkan pembicaraan.
"Ibu baik-baik saja ! Oh iya, kemarin Ibu titip salam buat kamu.. Tambah elvayno.
"Oh, baguslah kalau begitu !" Jawab Cheril singkat
"Oh iya Nona, ini saya mau mengembalikan ini untuk Nona. Saya sudah membawa nya sejak Kemarin, tapi tidak memiliki kesempatan untuk mengembalikannya." Ucap Elvano sambil mengeluarkan 1 buah amplop berwarna coklat dari dalam sakunya dan menyodorkan ke arah Cheril.
"Apa ini?" Cheril bertanya singkat
"Bukalah ! Itu uang yang pernah Nona berikan untuk ku ketika di Rumah Sakit. Uangnya tidak terpakai karna Nona sudah melunasi semua biaya rumah sakit nya !"
"Eh, tapi ini tidak usah dikembalikan buat kamu saja !"Jawab Cheril setelah mengintip uang yang pernah ia berikan pada Elvano waktu itu. Uang itu memang masih utuh seperti sedia kala.
"Ambillah ! Aku belum membutuhkan nya. Hanya itu yang bisa aku kembalikan. Yang lain tidak akan aku kembalikan, tapi aku akan menepati janjiku untuk menikahi mu sesuai dengan perjanjian yang pernah Nona katakan waktu itu." Ujar Elvano dengan wajah datarnya.
Deg...
Ntah mengapa ketika mendengar itu, Cheril merasakan ada suatu perasaan yang sangat aneh hadir dihatinya. Ia sendiri tidak mengerti perasaan apa itu.
Dan seketika ia juga mengingat kata-kata Ibunya pagi ini.
'Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apakah aku harus memperkenalkan Elvano pada kedua orangtuaku?'
'Dan bagaiman reaksi mereka jika tau calon menantu mereka hanya seorang kepala gudang di Perusahaan milik Ayah.'
"Nona, Apakah Minggu ini Nona ada waktu?" Tanya Elvano mencairkan suasana yang sangat tenang itu.
"Eh"
'Apa ia sedang mengajak ku kencan?'
Cheril berkata dalam hati.
"Jawab Nona !" Tambah Elvano dengan nada yang agak ia tinggikan
"Eh, kenapa bertanya sekasar itu? Bukannya menjawab Cheril malah balik melemparkan pertanyaan dengan wajah kesal.
'Dasar BUNGLON ! Suasana hatinya bahkan bisa berubah hanya dalam hitungan detik. Apa masih belum bisa dikatakan bunglon?'
Cheril kembali berkata dalam hatinya.
"Habisnya kamu tidak menjawab pertanyaan ku."Jawab Elvano juga dengan wajah sedikit kesal.
"Apa kamu mau aku ci...."
Mendengar kata ci, yang sudah bisa Cheril tebak kemana arah pembicaraan nya, belum selesai elvano berucap Cheril sudah memotong nya.
"Ah,, iiiiii-iya.. Aku mau !"Jawab Cheril gugup
Ah, si*l. Kenapa ia selalu mengatakan ingin menciumku sih.
Elvano tersenyum mendengar jawaban Cheril, lalu ia melemparkan pertanyaan lagi karna merasa ada yang janggal dengan jawaban Cheril.
"Memangnya aku menanyakan kamu mau apa tidak ya? Dan memangnya kamu tau aku akan mengajakmu kemana?"
Ya, salah lagi kan.
"Kamu mau ajak aku kencan kan?" Akhirnya Cheril mengeluarkan semua pendapat yang ada dipikirannya.
Hahahahahaha
Mendengar itu justru membuat Elvano tertawa sangat keras tapi ia juga sangat puas serta senang mendengar jawaban itu.
"Eh, kenapa tertawa?" Wajah Cheril mulai memerah karna malu menyadari mungkin saja pendapatnya itu salah.
"Aku mau mengajak mu kerumah ku." Ucap Elvano kemudian.
Tuh iyakan, ternyata aku memang salah. Ah kenapa juga sih harus mengatakan itu. Jadi malu sendiri kan.
Wajah Cheril sudah memerah seperti tomat, sedangkan Elvano hanya diam menatap nya dalam diam.
Ah, kenapa wajah merah mu itu begitu menggemaskan. Berhentilah bersikap seperti itu. Atau aku tidak akan dapat menahan diriku untuk tidak melakukannya lagi. Aku sudah sangat ingin mencium mu Nona.
"Eh, kenapa kamu menatap ku seperti itu?" Cheril baru menyadari dengan tatapan Elvano seolah-olah ingin memangsanya.
"Habisnya wajah Nona sangat menggemaskan." Jawab Elvano masih dengan wajah datar.
Yang ada juga jawaban Elvano justru membuat wajah Cheril jadi semakin merah.
"Nona, Jika kamu terus memperlihatkan wajah mu yang seperti itu, jangan salahkan aku kalau aku akan melakukannya lagi !" Tambah Elvano membuat Cheril reflex menutup mulut nya.
Dan Elvano pun tersenyum melihat tingkah Cheril yang sedikit menggelikan itu.
Karyawan lain mulai berdatangan ke ruang makan, karna jam makan memang sudah tiba. Mereka bertambah kaget melihat Cheril bersama Elvano ada di sana.
Kali ini mereka benar-benar yakin Cheril dan Elvano pasti memiliki hubungan yang spesial. Sebagian penggemar Elvano sudah benar-benar menyerah kali ini. Mereka memilih mengalah walaupun hati mereka sedikit kecewa, mereka tau tidak mungkin bisa bersaing dengan Cheril.
Dan sebagian karyawan laki-laki yang melihat itu juga meresa sangat iri pada Elvano. Dari awal mereka memang tidak menyimpan keinginan ingin memiliki Cheril, tapi setidaknya mereka juga mengagumi Nona Cheril. Bagaimana tidak, Cheril selain cantik, dengan tubuh yang sangat aduhai, ia juga seorang anak dari pemilik Perusahaan ini. Semua orang pasti akan sangat beruntung bisa mendapatkan cinta dari Nona Cheril.
Cheril dan Elvano sudah selesai makan saat itu. Hanya saja mereka masih duduk disana.
menyadari orang-orang yang baru berdatangan itu hampir semua melemparkan pandangan ke arah mereka. Cheril pun mengajak Elvano untuk pergi dari sana.
"Kamu sudah selesai kan? Ayo kita pergi !" Ucap Cheril.
"Sudah kok. Ayo !" jawab Elvano mengIYAkan. Ia juga merasa risih dengan tatapan orang banyak itu.
Cheril dan Elvano kemudian melangkah pergi meninggalkan ruang makan dan mereka yang menatapnya masih tetap melemparkan pandangan ke arah kedua insan itu hingga keduanya benar-benar hilang dari pandangan mereka.