Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Cheril hamil?


Tika melangkah penuh ragu menuju pintu keluar. Dia tidak yakin orang-orang yang bekerja sama dengan dirinya sudah selesai dengan aktivitas mereka di dalam kastil ini.


Namun ia juga tidak mungkin tetap berdiam diri di sana jika tak ingin Elvano merasa curiga.


Sesekali Tika mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kastil selama melangkah.


Tunggu ... Aku merasa ada yang salah dengan wanita itu. Sepertinya ada yang tidak beres.


"Sayang ...,"


"Ssstt!"


Cheril baru hendak mengajak Elvano berdiskusi, Elvano segera menghentikan nya. Ia merasa ada kejanggalan yang sedang terjadi di dalam kastil.


"Ayo kita masuk ke dalam lebih dulu!" ajak Elvano.


Elvano dan Cheril kemudian memasuki kamar mereka dan Elvano mengunci pintu itu.


"Loh, kenapa dikunci, sayang? Kamu tidak akan ...,"


"Tidak akan apa? Apa yang sedang kamu pikirkan?"


"Hem ... Ti-tidak ... Tidak apa-apa kok,"


Cheril menjawab sambil terkekeh kecil.


"Dasar otak mesum! Apa kamu sungguh sangat mengharapkan sentuhan dariku?" goda Elvano sambil memasang wajah genit.


Elvano melangkah mendekati Cheril yang wajahnya sudah semerah stroberi, membuat Elvano tersenyum geli.


Sementara tatapan Elvano sendiri teralih ke arah jendela yang terhubung langsung dengan taman belakang seperti sedang melihat sesuatu dari sela-sela jendela.


Setelah ******* kasar bagian favoritnya, Elvano melangkah mendekati jendela meninggalkan Cheril yang masih mematung di tempat.


Lalu, ia menyingkap jendela perlahan, dan benar saja, ia menemukan beberapa orang berada di tempat itu.


Huuuh!


Ternyata pikiranku memang benar ... Mereka pasti bekerja sama dengan wanita itu.


"Apa yang kamu lihat, sayang?" tanya Cheril heran.


"Ada orang di taman belakang! Sepertinya beberapa di antara mereka ada yang terjebak di dalam formasi yang aku pasang. Dan aku yakin di dalam kastil juga ada teman-teman mereka saat ini,"


Cheril sedikit kaget mendengar itu. Ia melangkah mendekati Elvano. dan benar saja, Cheril semakin gemetaran ketika melihat orang-orang yang cukup banyak itu.


"Tenang saja! Sebentar lagi mereka juga akan pergi. Seharusnya mereka sudah menemukan apa yang ingin mereka cari saat ini," jelas Elvano.


Ia juga merangkul istrinya Erat.


"Tetapi, bagaimana kalau mereka menuju ke dalam kamar ini?"


"Dasar gadis bodoh! Memangnya kamu pikir kenapa aku mengajakmu masuk ke dalam kamar ini? Apa kamu sungguh berpikir aku akan memangsamu?"


Wajah Cheril memerah kembali. Memang itu yang dipikirkan oleh Cheril.


"Aku sudah mengaktifkan formasi di dalam kamar ini. Dan yang di dekat jendela juga sudah. Apa kamu lihat itu?"


Elvano menunjukkan pada Cheril, ada 2 orang yang terkapar tak berdaya di dekat jendela bagian luar. Wanita itu menutup mulutnya kaget.


"Ada apa dengan mereka?" tanya cheril ketakutan.


"Mereka pasti mencoba menyentuh jendela itu,"


"Apa mereka meninggal?"


"Ya ... Aku memasang jebakan yang paling mematikan di dua tempat. Yaitu di depan pintu kamar dan jendela kamar kita,"


Mendengar ungkapan Elvano membuat Cheril semakin ketakutan. Ia juga semakin penasaran kenapa Elvano bisa mengetahui jebakan seperti ini.


"Tanya apa?"


"Bagaimana kamu bisa mengetahui tentang jebakan seperti ini?"


"Itu hanya sebuah trik. Semua orang pasti tau," jawab Elvano dengan ekspresi datar.


Apa kamu berpikir aku sungguh wanita yang sangat bodoh ....


"Apa kamu terlibat di dalam dunia mafia?"


Akhirnya Cheril memberanikan diri untuk menanyakan hal tersebut. Yang membuat Elvano terdiam tak berkutik. Dan tentu Cheril semakin yakin dengan pikirannya.


"Kenapa kamu masih mau terlibat ke dalam dunia yang berbahaya ini? Bukankah kamu sudah memiliki segalanya? Apalagi yang kamu cari?"


"Maafkan aku Cheril! Kamu tidak mengerti tentang jalan pikiranku. Aku memang memiliki segalanya, tapi itu semua adalah milik keluargaku, bukan milikku!"


"Tapi bukankah kamu adalah anak laki-laki satu-satunya di keluarga Setiono? Semua harta keluarga Setiono pasti akan jatuh ke tanganmu!"


"Jadi maksud kamu, kamu mau menikah denganku hanya karena harta itu? HAH?"


Sakit, itulah yang dirasakan oleh Cheril. Ia tidak menyangka Elvano bisa memiliki pikiran seperti itu terhadap dirinya. Elvano salah paham dengan kalimat terakhir yang diucapkan oleh Cheril.


JEGREK!! BRAK!!


Elvano keluar dari kamar dan membanting pintu keras. Ia sudah mematikan formasi jebakan sebelumnya. Lalu melangkah menuju ruang kerjanya dan menemukan tempat itu sudah sangat berantakan. Tepat seperti yang dipikirkan oleh Elvano. Orang-orang tersebut telah mengambil peta palsu yang ia letakkan di dekat lemari. Sementara yang asli, masih tersimpan rapi di sebuah brankas kecil di dalam kamar tidur mereka.


Setelah memastikan para mafia dari kelompok naga putih itu telah berlalu dari kastil tersebut, bahkan mereka juga membawa pergi tubuh teman mereka yang sudah meninggal di dekat jendela, Elvano juga ikut pergi meninggalkan kastil.


Kali ini Elvano bukan menuju ke kantor maupun rumah besar yang merupakan markas dari usaha terlarangnya itu. Melainkan melarikan diri dari Cheril ke suatu tempat yang sangat jauh. Yaitu gunung Elang Muda.


---------


Sementara di kastil, Bibi Nois yang sudah mendapatkan perintah dari Elvano membawakan sarapan untuk Cheril di dalam kamar. Ia bisa langsung memasuki kamar utama setelah mengetuknya karena tidak dikunci.


"Nona, Tuan Muda berpesan supaya Nona jangan lupa sarapan. Ini saya bawakan untuk Nona makanan kesukaan Nona, ada spaghetti double cheese yang sengaja di order oleh Tuan Muda kemarin dari salah salah satu restoran di kota XX, baru pagi ini tiba di sini," jelas Bibi Nois sambil tersenyum.


Namun Cheril tak terlihat senang, ekspresi Cheril malah seperti orang yang sangat tidak menginginkan makanan itu.


"Terimakasih, Bibi! Tapi entah kenapa aku agak mual mencium bau ini. Apa Bibi bisa membawa keluar makanan ini dari kamar sekarang?"


Oek oek!


Cheril segera berlarian menuju kamar mandi setelah mencium aroma dari makanan tadi.


Eh ....


"Nona ... Apa Nona baik-baik saja?" khawatir Bibi Nois.


Ia meletakkan makanan tersebut di atas meja nakas dan segera berlari menuju kamar mandi untuk memastikan Cheril tidak kenapa-kenapa.


"Aku tidak apa-apa, Bi. Apa Bibi sudah membawa keluar makanan tadi?"


Oek oek oek!


Cheril kembali mengeluarkan isi perutnya karena masih dapat mencium aroma makanan favoritnya itu.


"I-iiya, saya akan segera membawa keluar makanan itu, Nona!" ucap Bibi Nois panik.


Bibi Nois kemudian berlarian menuju meja nakas dan meraih makanan favorit Cheril untuk membawa keluar makanan tersebut. Lalu setelah itu ia juga kembali ke dalam kamar menemui Cheril.


"Nona, apa anda baik-baik saja? Atau mau saya panggilkan Dokter?" tanya Bibi Nois masih dengan ekspresi panik.


"Tidak perlu, Bi. Aku tidak apa-apa kok, hanya saja tidak tau kenapa saya tiba-tiba merasa sangat mual ketika mencium aroma dari makanan tersebut," jelas Cheril.


"Atau jangan-jangan Nona hamil?" pendapat Bibi Nois.


Raut wajah Bibi Nois berubah ceria seketika.