Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Kejadian aneh


Lif yang ditumpangi Elvano sudah mendarat dengan baik di lantai dasar, Elvano segera keluar dari lift dan menuju pintu keluar.


Setelah berada di luar Elvano segera menyetop sebuah angkot yang lewat. Ia tidak ingin melewatkan angkot itu karna hari yang sudah semakin larut tentu saja sudah jarang sekali angkutan umum yang lewat. Ia sudah sangat beruntung masih bisa langsung menemukan tumpangan.


Elvano lalu naik kedalam angkot yang sudah ia berhentikan dan memberitahukan kepada Pak Supir kemana tujuannya.


"Kuda Putih Pak !" Kata Elvano yang diikuti anggukan dari Pak Supir mengerti.


Angkutan umum tersebut segera melaju dengan kecepatan sedang dijalanan yang sudah agak sepi itu.


Sementara Jenika masih menunggu lift naik keatas lantai 11. Suasana terasa semakin mencekam bagi nya. Ia jadi teringat dengan kejadian lucu Elvano dengan Nona Cheril tadi


Namun ntah kenapa Jenika justru mengingat kata "Hantu" yang baginya lucu saat ia dengar dari mulut Elvano malah sangat menyeramkan saat ini.


Iiiiih.. Tiba-tiba aku malah mengingat hantu-hatuannya Pak Vano tadi. Tapi kali ini malah membuatku sedikit ketakutan.


Jenika berusaha untuk tetap bersikap tenang. Ia melipat kedua tangan didepan dadanya sembari menunggu lift yang sedang berjalan naik keatas.


Buk buk buk


"Tunggu ! Siapa itu? Seperti ada yang berjalan dari arah belakang !" Jenika berkata pelan


Jenika sama sekali tidak berani memutar kepalanya untuk mencari keberadaan suara itu. Ia hanya mencoba melirik dari sudut matanya dan ia tidak menemukan apapun.


Buk buk buk


Suara itu semakin jelas terdengar, kali ini seperti orang yang sedang berlari.


Jenika sangat penasaran dengan asal suara itu, akhirnya Jenika memberanikan diri memutar kepalanya dan benar saja, ia tetap tidak menemukan apapun dan suara itu pun sudah menghilang.


Kali ini jantung Jenika berdegup tak beraturan, ia belum pernah merasakan setakut ini sebelumnya. Ia sungguh-sungguh sangat ketakutan kali ini.


"Ya Tuhan, Apakah kantor ini memang ada hantu nya?" Ucap wanita cantik itu dengan wajahnya yang pucat.


Tiba-tiba pintu lift terbuka, ia segera masuk kedalam lift dan menekan tombol yang ada di lift menuju lantai dasar.


Ketika pintu lift belum tertutup sepenuhnya,


suara berjalan yang ia dengar tadi kembali terdengar, bahkan kali ini terdengar seperti ada suara yang memanggil nama nya samar-samar. Suara orang berjalan itu juga terdengar semakin jelas, Jenika sama sekali tidak menghiraukan nya lagi. Rasa takutnya kali ini lebih mendominasi daripada rasa penasaran nya. Ia tetap membiarkan pintu lift itu tertutup karna ingin segera turun meninggalkan lantai 11 yang sangat mengerikan itu.


Ting tong


Pintu lift pun terbuka kembali, Jenika sudah berada di lantai dasar saat ini. Ia segera berlari keluar dari lift menuju pintu keluar.


Bapak Satpam yang melihat nya berlari dengan wajah pucat sedikit bingung. Bapak Satpam itu pun bertanya pada Jenika memastikan semuanya baik-baik saja.


"Ada apa Nona Jenika?" Tanya Bapak Satpam


"Eh.. Ada...." Jenika menghentikan pembicaraannya sesaat.


Lebih baik aku tidak menceritakan soal hantu itu. Sekali pun cerita itu tidak membuat satpam itu ikut ketakutan, ia juga akan menganggap ku gila kan. Sudahlah.


Ia masih mampu mengontrol mulutnya sekalipun dalam kondisi darurat seperti ini, wanita ini memang sangat pandai mengontrol diri.


"Ada apa Nona?" Bapak Satpam kembali bertanya karna Jenika masih belum melanjutkan kata-kata nya.


"Eh, Ng-nggak Pak. Nggak ada apa-apa. Saya hanya sedang buru-buru saja karena baru saja mendapat telpon dari rumah anak saya sedang menangis mencari saya !"


Jenika menjawab asal namun sangat masuk akal, ia sudah memikirkan jawaban yang terbaik untuk meyakinkan Satpam itu.


"Oh, begitu.. Tapi Nona tetap harus berhati-hati, apalagi di luar sana. Jangan berlari seperti itu Nona ! Bahaya Nona !" Bapak Satpam memberi nasehat pada Nona Jenika


"Baik Pak ! Saya permisi ya pak !"


"Baik, sekali lagi hati-hati ya Nona !" Jawab Bapak Satpam mengulangi nasehatnya yang diikuti anggukan dari Jenika.


Setelah itu Jenika pun segera berlalu meninggalkan Bapak Satpam yang masih berdiri didepan pintu kantor Indos Perkasa.


Sedangkan di lantai sebelas, seorang pria berparas sangat elegan sedang berdiri tegak didepan pintu lift yang baru saja akan terbuka.


Ia adalah Manager Billy.


Tadinya Billy berjalan hendak menghampiri Jenika dan mengajak nya turun bersama ke lantai dasar, namun baru setengah jalan ia baru menyadari ponselnya tertinggal. Jadi ia pun berlari menuju ruangannya untuk mengambil ponsel yang ketinggalan tersebut.


Setelah meraih ponselnya ia pun kembali berlari dengan sangat cepat berniat menyusul Jenika, namun ia melihat Jenika sudah masuk kedalam lift dari kejauhan ia pun memanggil Jenika, sayangnya usaha laki-laki itu gagal,


Karena sudah ketakutan Jenika sama sekali tidak menghiraukan suara itu, bahkan Jenika sudah tidak dapat mengenali suara laki-laki yang seharusnya sudah sangat tidak asing baginya.


Akhirnya Billy pun harus menunggu lift kembali naik setelah digunakan oleh Jenika dengan perasaan yang sangat kecewa.


Mungkin hari ini, ia adalah karyawan yang pulang paling terakhir, tapi ya memang biasanya juga seperti itu sih.


***********


Kembali kepada Elvano


Elvano baru saja tiba dirumahnya, ia sudah turun dari angkot dan angkot itu pun sudah berlalu.


Tok tok tok


Elvano mengetuk pintu


'Itu pasti Vano.'


Ucap Ibu Anita didalam hati.


Ibu Anita yang sedari tadi sedang menunggu Elvano segera membukakan pintu.


Jegrek!


Pintu terbuka pelan


Benar saja, memang Elvano yang mengetuk pintu. Ibu Anita pun terlihat lega, melihat Elvano pulang dengan selamat.


"Vano, kamu sudah pulang?" Ucap Ibu Anita sambil tersenyum.


"Eh, iya Bu. Tapi, Vano minta maaf ya sudah membangunkan Ibu, Vano lupa membawa kunci tadi." Ucap Elvano sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.


"Tidak apa-apa Nak ! Ib juga belum tidur kok."


"Ibu kok belum tidur? Ibu pasti menunggu Vano kan? Ini kan sudah lumayan larut Bu ! Ibu tidak perlu menunggu Vano." Ucap Elvano panjang lebar. Ia sedang mengkhawatirkan Ibunya.


"Nggak kok Vano, Ibu hanya belum ngantuk saja." Jawab Ibu Anita kemudian.


Ia mencoba mencari alasan supaya Vano tidak merasa khawatir. Padahal dia memang sedang menunggu anaknya itu. Bagaimana seorang Ibu bisa pergi tidur jika anaknya belum pulang kerumah? Sekali pun Elvano hanya anak angkatnya tapi ia sudah menganggap Elvano sebagai anak kandung nya sendiri. Ibu Anita memang sangat menyayangi Elvano.


"Baik lah Bu ! Lain kali, jika Ibu sudah ngantuk, Ibu tidak perlu menunggu ku ya ! Lain kali juga Vano akan bawa kunci rumah." Ucap Elvano lagi.


Ibu Anita hanya membalas Elvano dengan senyuman dan anggukan pelan.


"Sekarang kamu bersihkan diri kamu dulu sana, Apa kamu sudah makan malam Nak?


"Eh,,"


Kalo aku menjawab belum Ibu pasti akan merasa khawatir.


Elvano memang lupa dengan makan malam nya, padahal Perusahaan Indos Perkasa selalu menyediakan makan siang dan makan malam untuk semua karyawannya. Elvano lupa mengambil nya didapur gara-gara kejadian didalam ruang kerjanya tadi.


"Vano, kamu kok bengong? Ibu sedang bicara pada mu !" Ucap Ibu Anita lagi Karna Elvano hanya diam saja tak menjawab pertanyaannya.


Ah, i-iya Bu, sudah kok ! Vano sudah makan tadi di kantor." Elvano menjawab dengan ekspresi yang sedikit aneh bagi Ibunya.


"Bener?" Ibu Anita agak meragukan jawaban Elvano melihat ekspresi nya yang sedikit aneh itu


"Iya Bu, Vano sudah makan kok ! Ni liat perut Vano, sudah besar begini kok." Kata Elvano sambil memperlihatkan perutnya kepada Ibu Anita.


Melihat kelakuan Elvano yang sudah seperti seorang bocah membuat Ibu Anita tertawa kecil.


"Yasudah, sana mandi !" Kata Ibu Anita kemudian.


Ya begitulah Elvano, dibalik sifatnya yang dingin, ia juga memiliki sifat yang sangat konyol, terkadang juga sangat polos.