Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Murka Elvano yang sesungguhnya


Sementara di dalam perjalanan, Elvano sudah mendapatkan laporan dari Manager di mall yang dikunjungi oleh Dirly dan Valen tadi. Pegawai food court yang memasukkan racun ke dalam minuman milik Valen juga sudah ditahan oleh mereka. Elvano dan Cheril sedang dalam perjalanan menuju ke arah mall tersebut.


Selama di dalam perjalanan, Elvano mencoba menghubungi Niko sebanyak beberapa kali. Namun ia tidak mendapatkan jawaban sama sekali. Elvano yakin, sesuatu pasti juga terjadi terhadap Niko. Lelaki milik Cheril ini merasa sangat khawatir saat ini.


Dia menyetir dengan cukup brutal. Berulang kali ia mencoba menyalip beberapa kendaraan yang ada di depannya. Suasana seperti itu benar-benar sangat mengerikan. Dan tentu Cheril merasa sangat ketakutan.


"Sayang, tenangkan dirimu. Kamu tidak boleh bertindak ceroboh. Ingat, di sampingmu ada aku dan anakmu!" nasehat Cheril.


Dan sontak membuat Elvano tersadar seketika. Ia segera memperlambat laju kendaraannya.


"Maafkan aku, Sayang. Aku hampir membahayakan nyawa kalian," sesal Elvano


Elvano mengucap sambil sesekali melirik ke arah Cheril lalu bergantian ke arah jalan, dengan ekspresi penuh sesal juga perasaan bersalah. Dan Cheril menanggapi Elvano dengan anggukan pelan yang disertai senyuman.


Bagi Elvano, tidak ada yang lebih penting dari keselamatan orang-orang yang ia cintai.


Tentu saja Elvano sangat mengkhawatirkan Valen dan Niko. Tapi dia juga mengkhawatirkan Cheril serta janinnya yang baru saja terbentuk. Jelas Elvano tidak akan mampu memilih di antara mereka. Walaupun sesungguhnya jika boleh jujur, Cheril dan anak dalam kandungan Cheril memang jauh lebih berharga dari segalanya.


Selang beberapa saat kemudian, Elvano dan Cheril pun tiba di mall tersebut.


Mereka berdua segera turun dari mobil dan menuju ke dalam mall menemui Manager mall tersebut.


"Tuan Muda, anda sudah tiba? Maafkan saya karena terlambat mengetahui ini. Saya baru tahu adanya insiden ini pada saat sedang memeriksa CCTV. Dan pada saat saya menuju keluar, Nona Valen sudah berhasil dibawa pergi oleh mereka," jelas Manager itu.


Elvano terlihat begitu gusar saat mendengar penjelasan itu. Beberapa kali ia mengacak rambut dan wajahnya kasar.


Terlihat tangan Cheril mengusap-usap punggung Elvano dengan gerakan cepat mencoba memberikan ketenangan baginya.


"Lalu kemana penjaga keamanan di tempat ini?"


Elvano mengucap dengan suara pelan namun berat. Juga terdengar adanya ketegasan di sana.


"Maafkan saya Tuan Muda, saya tidak tahu itu adalah sebuah tindak kriminal, Saya mengira mereka semua adalah teman. Saya bersalah Tuanku! Dan pantas menerima hukuman," ucap salah satu security di sana.


Petugas keamanan yang satu ini memang bertugas di bagian pintu depan. Yang dimana dia melihat sendiri Valen dibawa oleh Dirly dan anak buahnya. Parahnya dia masih sempat mengeluarkan kata-kata hujatan saat itu,


"Gadis sekarang sungguh tak patut dicontoh. Pagi-pagi begini sudah mabuk. Benar-benar sangat buruk akhlaknya."


Jika saja Elvano tahu tentang ini, Bapak Satpam itu pasti akan dipecat saat itu juga. Dia bahkan tak dapat mengenali Valen yang merupakan anak dari pemilik mall ini. Mall yang dikunjungi oleh Dirly dan Valen ini adalah Mall Z cabang utama yang merupakan milik pribadi dari keluarga Setiono itu sendiri.


Lagian tuduhan satpam ini sungguh tak masuk di akal. Di dalam mall ini bahkan tidak pernah menjual minuman beralkohol. Juga tidak terdapat klub ataupun bar. Bagaimana bisa wanita itu mabuk di dalam mall seperti itu?


Kemudian Elvano yang merasa sangat muak dengan penjelasan satpam itu beralih pada gadis yang terlihat sangat polos di hadapannya. Ia menatap gadis itu dengan tatapan dingin. Tentu saja gadis itu sangat ketakutan. Ia hanya melirik wajah tampan sekaligus menyeramkan itu sekilas lalu. Dan segera menundukkan wajahnya.


"Apa bekas dari botol obat itu masih ada padamu? Berikan itu padaku!"


Gadis itu mengangkat kembali wajah untuk melirik ke arah Elvano. Ia sedikit kaget mendapat perlakukan yang tidak terlalu kasar dari Elvano. Awalnya dia berpikir Elvano setidaknya akan membentaknya dengan nada tinggi. Atau bahkan lebih daripada itu, Elvano mungkin akan memukulnya. Dan ternyata semua pikirannya salah. Elvano justru mengucap dengan nada rendah. Namun juga sangat tegas dan dengan ekspresi yang mengerikan.


Gadis itu lalu memasukkan tangannya ke dalam pakaian atasnya dan mengambil sesuatu di sana. Dia menyimpan itu pada tempat yang sangat pribadi miliknya. Mereka semua yang ada di sana memperhatikan gadis itu dengan seksama, serta juga sedikit terkejut melihat itu. Pantas saja sejak tadi mereka mencoba menggeledah wanita itu, dan mereka tidak dapat menemukan apapun pada wanita tersebut.


Awalnya gadis itu memang tidak akan menyerahkan botol tersebut pada siapapun. Namun entah kenapa, ia merasa seakan terhipnotis akan tatapan dingin Elvano, mata kebiruan yang ditampilkan oleh Elvano seakan membuat gadis itu tak berkutik sama sekali. Hanya tangannya yang dengan reflek bergerak sendiri tanpa diperintahkan oleh dirinya. Otaknya seakan tidak dapat ia kendalikan. Pada akhirnya ia pun menyerahkan botol tersebut pada Elvano.


Setelah meraih botol yang diberikan oleh gadis itu, Elvano berlalu begitu saja menuju ke dalam mall. Manager mall tersebut dan Cheril segera menyusul langkah Elvano yang menjauh. Manager mall itu merasa sedikit kaget, Elvano tidak melakukan tindakan apapun terhadap gadis itu. Begitupun dengan gadis itu. Melihat kebaikan Elvano, dia kembali merasa sangat bersalah. Dirinya sungguh sudah bersalah telah melakukan kesalahan ini. Tidak hanya Valen yang bersikap baik padanya, bahkan Elvano juga memperlihatkan sikap baiknya.


Cheril berlarian kecil mengejar langkah Elvano. Berusaha mengimbangi dirinya.


"Maafkan aku Sayang, aku sedikit melupakan keberadaanmu," ucap Elvano jujur.


"Eh, iya, tidak apa-apa kok. Aku bisa mengerti," jawab Cheril sambil memperlihatkan senyumnya.


Jika aku tidak melangkah pergi secepatnya, takutnya nyawa gadis tadi akan melayang begitu saja.


Ya, sejujurnya Elvano sedang berusaha mengendalikan dirinya tadi. Jika diturut, ia sangat ingin melenyapkan gadis tersebut.


Untunglah ini terjadi pada Valen, mungkin jika ini terjadi pada Cheril, maka habislah gadis itu. Bisa dipastikan Elvano tidak akan mungkin bisa bersikap setenang ini.


Langkah Elvano tertuju ke arah ruang CCTV. Ia ingin melihat sendiri bagaimana kejadian sebenarnya. Saat tiba di ruang CCTV, petugas di sana memutar ulang video yang sudah ia copy terpisah tadi untuk Elvano.


Tayangan pertama tentu mengenai Niko. Manager mall ini tentu juga dapat mengenali Asisten Manager Astra Investama Group ini. Salah satu pimpinan yang jelas tingkatnya di atas dirinya, Hanya saja dia tidak begitu memahami kenapa Niko juga berada di sana. Bahkan juga ikut dipukul oleh orang yang membopong tubuh Valen tadi. Namun juga tidak berani berkomentar apapun.


Elvano sedikit membulatkan matanya saat melihat rekaman pertama yang ditayangkan. Ia tentu saja dapat mengenali siapa orang itu.


"Shit! Ternyata Dirly bekerja sama dengan mereka." Gumam Elvano kesal.


"Memangnya siapa mereka?" tanya Cheril saat mendengar gumaman Elvano.


"Mereka adalah orang yang berhasil menembak Geral waktu itu," jelas Elvano singkat.


Dan penjelasan dari Elvano ini cukup membungkam mulut Cheril. Wanita itu sontak mengangkat tangannya untuk menutupi mulutnya yang terbuka. Cheril masih bisa mengingat dengan jelas kejadian yang menimpa Gerald beberapa waktu yang lalu. saat ini Valen dan Niko berada ditangan mereka. Tentu saja Cheril merasa ketakutan saat itu. Rasa khawatir memenuhi lingkup hatinya.


Rekaman kedua kembali diputar, dan berikut adalah rekaman Valen yang tumbang hanya dalam hitungan detik usai menyantap 1 sendok makanan yang mengandung racun itu. Kali ini mata Elvano benar-benar membulatkan matanya menjadi sangat besar.


Ya Tuhan, apa Dirly sungguh menggunakan racun yang sangat mematikan itu?


Elvano dapat menebaknya dengan sangat baik. Sebab ada satu ciri khas yang terlihat sebelum Valen benar-benar pingsan tak sadarkan diri.


"PERBESAR GAMBAR BAGIAN ITU!" titah Elvano dengan nada tinggi.


Sekilas lewat, Elvano melihat ciri khas dari racun itu ada pada Valen, karena itulah dia meminta petugas di bagian CCTV memperbesar gambar tersebut.


Mereka semua merasa sangat kaget saat mendengar suara Elvano yang meninggi seketika. Dan tentu mereka juga tahu pasti ada sesuatu yang sangat serius sedang terjadi.


Setelah melihat gambar yang sudah diperbesar, Elvano memang melihat ciri khas yang memang sesuai dengan pikirannya. Yaitu ada pada kuku Valen yang tiba-tiba berubah warna. Kuning, lalu berganti jingga, lalu berganti lagi menjadi kebiruan sebelum pada akhirnya kembali normal. Setelah itu Adik tercintanya itu tersungkur tak sadarkan diri.


Elvano pun segera membuka penutup botol pada botol yang sedang ia pegang itu untuk memastikan sekali lagi jenis racun yang diberikan oleh Dirly pada Valen melalui aromanya. Elvano menghirup dalam-dalam aroma tersebut, dan setelahnya ia semakin yakin memang jenis ini yang diberikan oleh Dirly. Hanya saja dosisnya sedikit ia lebihkan sehingga Valen tumbang lebih cepat. Elvano adalah seorang peracik racun terhebat selama ini. Tentu saja ia memahami dengan sangat detail dosis serta campuran apa saja yang terdapat di dalam racun tersebut. Juga tahu pasti efek yang ditimbulkannya.


Mendapatkan kenyataan ini jelas membuat Elvano terlihat sangat frustasi.


"Shit! Shit! Shit! Kurang ajar kau Dirly! Kalau sampai terjadi sesuatu pada Valen, aku tidak akan pernah mengampunimu!" Umpat Elvano kesal.


"AARGH, si*l! Kau benar-benar membuatku marah, Dirly!" Emosinya sudah tak terkendali. Kata-kata bernada tinggi keluar dari mulutnya.


BRAK! SRAG!


Bebererapa benda yang ada di sana berjatuhan akibat dari keganasan yang ditampilkan oleh Elvano. Untuk kedua kalinya Elvano mengeluarkan sifat keganasannya. Seumur hidup ini Elvano memang cukup pandai mengendalikan Emosinya. Ia hanya akan sangat marah seperti sekarang jika sudah menyangkut nyawa orang-orang yang sangat ia sayangi. Murka pertama kali ia tampilkan pada saat Bos Baron membuat Cheril koma dulu. Dan ini adalah kali keduanya.


Cheril yang belum pernah melihat Elvano semarah ini cukup kaget. Ia tak menyangka di balik sisi Elvano yang selalu bersikap lembut dan baik hampir pada semua orang ternyata juga memiliki sisi menyerupai iblis saat sedang benar-benar marah. Jujur, ada sedikit rasa ketakutan yang menghampiri hati Cheril saat itu.