Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Malam pertama siapa?


Masih berkutat soal percakapan di telepon.


Niko yang tadinya sempat menjauhkan ponselnya dari telinganya kembali mendekatkan ponsel itu di dekat telinganya ketika mendengar Ibu Winda kembali bersuara.


"Maksud kamu Vano sudah menikah? Kapan Vano menikah?" Ibu Winda kembali melempar pertanyaan setelah berhasil menenangkan dirinya.


"Iya Nyonya. Tuan Muda memang sudah menikah. Dan ....


Belum selesai Niko berbicara Nyonya Besar nya sudah kembali memotong pembicaraan.


"Kenapa Vano tidak bilang bahwa dirinya sudah menikah? Dan dia juga tidak membawa istrinya pulang ke rumah. Apakah kamu tau alasannya Nik?" Tanya Ibu Winda lagi.


"Eh .... I-iya Nyonya. Itu karna ....


Niko kembali terdiam sesaat sebelum melanjutkan pembicaraannya.


Sementara Ibu Winda dan Tuan William sudah sangat penasaran. Rasanya sudah tak sabar menunggu jawaban Niko yang menggantung itu.


"Karna Tuan Muda baru menikah hari ini Nyonya.." Lanjut Niko kemudian.


"APA? HARI INI?" Kedua orangtua Elvano kembali berteriak untuk yang kedua kalinya.


Untung saja mereka tidak jantungan.


Untuk yang kedua kalinya Niko sudah lebih dulu menjauhkan ponsel dari telinganya sebelum kedua orang itu berteriak. Niko sudah bisa menebak hal itu pasti akan terjadi.


"Niko .... Saya sungguh tidak mengerti dengan semua ini. Apa kamu bisa menjelaskannya?"


Ucap Ibu Winda lagi sembari melirik ke arah suaminya.


"Eh ... Iya Nyonya ! Aku akan menjelaskan pada Nyonya dan Tuan ! Jadi begini ....


Niko pun memulai penjelasannya yang sangat panjang itu untuk menjelaskan semua yang sudah terjadi kepada kedua orangtua Elvano, yakni tentang hubungan Elvano dan Cheril yang memang sudah terjalin sejak lama. Namun mereka sempat berpisah karena satu hal, (untuk halnya Niko memang tidak menceritakan rincinya, Niko tidak membahas soal pernikahan Cheril dengan Jimmy. Biarlah itu semua Elvano yang akan menjelaskan nantinya.)


Dan ia juga bercerita Elvano yang tidak ingin Cheril tau tentang identitas aslinya. Jadi Elvano memilih menikahi Cheril secara diam-diam.


Terlihat dari balik telepon, kedua majikannya mendengarkan penjelasan Niko dengan seksama. Sejak tadi Ibu Winda memang sudah membuka speaker ponselnya supaya Tuan William juga bisa ikut mendengarkan penjelasan Niko.


Walaupun rasanya sangat tidak masuk akal, tapi Ibu Winda tetap berusaha untuk mengerti maksud dari Elvano. Sesekali ia juga melirik ke arah suaminya melihat ekspresi yang ditampilkan oleh suaminya. Dan yang ia lihat Tuan William hanya menyimak dengan ekspresi datar saja. Hanya dia sendiri yang terlihat sesekali mengerutkan dahi karna tak mengerti terutama kenapa Elvano mau menyembunyikan identitas aslinya terhadap istrinya.


"Jadi begitu Nyonya!" Ucap Niko mengakhiri penjelasannya.


"Ooh .... Baiklah! Terimakasih Niko kamu sudah mau menjelaskan semuanya pada saya. Maaf sudah menggangu mu malam-malam begini!" Ucap Ibu Winda kemudian.


"Eh .... Tidak apa-apa kok Nyonya. Saya tidak merasa terganggu." Jawab Niko menanggapi.


"Baiklah, Kamu istirahatlah! Besok pagi saya dan Tuan Besar akan ke sana." Ucap Ibu Winda sekaligus mengakhiri pembicaraannya.


"Baik Nyonya!" Jawab Niko singkat. Lalu panggilan itu pun terputus.


Tut tut tut tut


Saking kagetnya dengan pernikahan Elvano yang sangat mendadak itu membuat Winda lupa menanyakan hal penting lainnya. Yaitu tentang kenapa istri dari putranya bisa masuk rumah sakit. Ia juga tidak menanyakan separah apa. Satu lagi, di rumah sakit mana menantunya dirawat juga tidak ia tanyakan. Ia benar-benar tidak terpikirkan lagi tentang hal ini.


Setelah selesai berbicara di telepon, kedua orangtua Elvano kembali terlibat dalam pembicaraan ringan sebelum keduanya kembali tidur. Tentu saja topiknya masih seputaran tentang pernikahan Elvano yang sangat mendadak.


"Will ... Aku tidak habis pikir Vano bisa melakukan ini. Harusnya dia tidak menikah diam-diam seperti ini!" Ucap Winda mengawali pembicaraan.


Huuuuuuuuh


Sebelum menjawab, William lebih dulu membuang nafasnya kasar.


"Mungkin Vano memiliki alasannya sendiri Win. Sudahlah, Besok kita tanyakan langsung pada orangnya. Sekarang ayo kita tidur lagi! Tiba-tiba aku jadi kepingin banget nih!" Ucap William mengakhiri pembicaraannya sekaligus menggoda istrinya.


"Ah, kamu Win ... Masih berpura-pura tidak tau ya?!" Kali ini William sudah memeluk istrinya dari belakang.


"Eh ... Sudah tua begini masih keg***lan saja!" Ucap Winda akhirnya.


"Enak saja bilang aku tua.. Baru 17 tahun kok!" Ujar Tuan William menanggapi. Sekaligus juga mengajak istrinya bercanda sambil tangan Tuan William juga sudah mulai nakal.


Hahahahaha


Mereka pun tertawa bersama. Dan setelahnya Tuan William sudah mengendong Nyonya Winda lalu membaringkannya di atas tempat tidur. Kedua orangtua itu pun bergulat dalam pertandingan sengit sebelum sesaat kemudian mereka tertidur kembali.


Padahal Elvano dan Cheril yang baru menikah, tapi malah Ayah dan Ibu Elvano lah yang melakukan kegiatan malam pertama.


*******


Niko sendiri setelah selesai berbicara di telepon dengan majikannya, ia segera masuk kedalam rumah.


Di dalam sudah ada Ibunya yang sedang menunggunya.


Jegrek


Niko membuka pintu pelan.


Ketika ia baru saja melangkahkan kaki beberapa langkah, langkahnya kembali terhenti ketika ia melihat Ibunya tertidur di atas sofa.


"Ibu pasti menungguku." Gumamnya pelan.


Lalu perlahan Niko mendekati Ibunya yang sudah tertidur pulas.


Padahal tadinya Niko sudah meminta Ibunya untuk tidak menunggunya. Niko memang selalu membawa kunci rumah sejak dulu. Ya untuk berjaga-jaga jika kejadian seperti ini terjadi. Tapi apa mau dikata, semua orangtua terutama seorang ibu, ia tidak akan bisa tidur jika anaknya belum pulang.


Setelah berada di dekat ibunya, Niko lalu sedikit menundukan dan membangunkannya.


"Ibu, Bu .... Bangun Bu!" Panggil Niko pelan.


"Eh .... Kamu sudah pulang Nik?" Tanggap ibu Niko sembari mengucek matanya yang baru saja terbuka.


" Kenapa Ibu tidur di sini?" Tanya Niko berpura-pura tidak tau apa-apa. Padahal jelas ia sudah tau apa alasan ibunya tertidur di sofa.


"Ibu menunggu mu Niko!" Jawab ibu Niko sambil tersenyum.


"Niko kan sudah bilang, tidak perlu menunggu Niko. Nanti Ibu masuk angin loh tidur di sini!" Ucap Niko menunjukkan perhatiannya.


"Gapapa kok Nak. O iya, gimana kabar Cheril?" Tanya ibu Niko kemudian.


"Tadinya Cheril sempat koma ....


"KOMA? Kenapa bisa separah itu?" Niko masih belum selesai bicara ibunya malah sudah lebih dulu memotong pembicaraannya.


"Iya Bu. Tapi sekarang masa kritisnya sudah lewat kok Bu." Ucap Niko lagi sambil tersenyum kecil.


"Syukurlah kalau begitu. Sekarang kamu istirahatlah !" Ucap ibu Niko kemudian.


Awalnya dia mau menanyakan apa yang sudah terjadi pada Cheril sebenarnya, tapi ia tidak tega melihat Niko yang sudah sangat kelelahan. Besok saja baru menanyakan itu. Pikir ibu Niko.


"Baik Bu .... Niko mau mandi dulu, habis itu baru tidur. Ibu juga tidur di kamar sana!" Jawab Niko sekaligus meminta ibunya untuk tidur di kamar.


"Iya." Tanggap ibu Niko singkat.


Jawaban itu sekaligus mengakhiri pembicaraan mereka. Lalu keduanya memilih melangkah masuk ke dalam kamarnya masing-masing. Niko lebih memilih membersihkan dirinya di kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.