Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Niko menyewakan rumah untuk Cheril


Tidak menunggu lama kini Cheril pun sudah berada dihadapan Madam Jelita dan Niko.


Cheril sangat kaget melihat penampilan Niko saat itu.


'Itukan Niko?'


Ucap Cheril dalam hati sambil memandang Niko lekat.


"Ini wanita yang kamu inginkan ! Sekarang serahkan uang itu !" Ucap Madam Jelita.


"Pengawal, serahkan kedua koper itu !" Niko memberi perintah pada kedua anak buahnya yang memegang koper yang berisikan udang senilai 200juta.


Setelah kedua pengawal itu meletakkan koper-koper itu diatas meja, Madam Jelita pun membuka kedua koper itu untuk memastikan kedua koper tsb memang berisikan uang.


Cheril pun ikut tersentak ketika koper itu terbuka.


Banyak sekali uang itu.


Sekali lagi Cheril berkata-kata dalam hatinya. Ia semakin heran, Bagaimana bisa Niko memiliki uang sebanyak itu.


"Nona Cheril, Ayo kita pergi dari tempat ini !" Ucap Niko kemudian.


"Eh... i-iya !" Jawab Cheril terbata-bata.


'Jadi uang itu untuk membebaskan aku ya.


Tapi Niko dapat uang darimana ya? Dan penampilannya juga sangat berbeda. Apa yang sudah terjadi sebenarnya?'


Cheril terus berkata-kata didalam hatinya.


Apalagi melihat beberapa pengawal yang ikut dengannya. Cheril bisa melihat ada kekuasaan yang sangat tinggi pada diri Niko.


Namun ia masih belum berani menanyakan itu, saat ini baginya yang paling penting ia bisa keluar dulu dari tempat ini.


Setelah didalam mobil, ternyata Niko malah tidak satu mobil dengan Cheril. Cheril berada di mobil lainnya bersama Pak sopir dan 2 pengawalnya. Sementara Niko berada di mobil lainnya. Ia memang sengaja melakukan ini, karna ia takut Cheril akan menanyakan hal yang tidak bisa ia jawab.


"Eh, kok Niko malah membiarkan aku sendiri di mobil ini sih? Aku mau dibawa kemana sama orang-orang ini?" Ucap Cheril pelan. Namun ia tidak begitu khawatir kali ini, karna ia yakin Niko tidak mungkin menyakitinya.


Mobil yang ditumpangi oleh Cheril memang memiliki kursi 3baris. Jadi Cheril duduk di barisan kedua dan kedua pengawal duduk di barisan paling belakang.


Sementara di mobil lainnya yang ditumpangi Niko, sesaat setelah mobil itu melaju pergi, ia pun segera merogoh saku jasnya mengambil ponselnya untuk menghubungi Elvano memberinya kabar tentang Cheril yang sudah berhasil ia bebaskan.


Tidak menunggu lama Elvano pun segera menerima panggilan Niko.


"Nik, gimana? Apa kamu berhasil membebaskan Cheril?" Elvano langsung melempar pertanyaan.


"Eh...."


Ternyata kamu sekhawatir itu ya Tuan Muda.


"Kok malah diam saja, Jawab Nik !" Ucap Elvano lagi dengan nada suara yang lebih keras.


"I-Iya.. Sudah kok. Sekarang Cheril sudah aman Tuan Muda !" Ucap Niko kemudian.


Fiiiiuh


Elvano bernafas lega.


"Syukurlah kalau begitu. Terus kamu bawa kemana dia? Dia sedang bersamamu? Apa dia mengetahuinya bahwa aku yang sudah menyelamatkan nya?" Elvano melemparkan pertanyaan bertubi-tubi.


"Hmmm.. Sepertinya Tuan Muda antusias sekali ya saat membicarakan soal Cheril?" Bukan nya menjawab pertanyaan-pertanyaan Elvano, Niko malah mengejeknya.


"Eh... Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja. Tidak lebih dari itu !" Ucap Elvano mengelak. Malah terdengar sangat menggemaskan bagi Niko. Ia pun cekikikan. Hihihi


"Eh, Apanya yang lucu?" Tanya Elvano murka mendengar Tawa Niko yang cekikikan.


"Ah, nggak kok Tuan Muda. Ampun ! Baiklah ! Cheril saat ini tidak sedang dengan ku. Dia berada di mobil satunya. Aku sudah meminta sopir membawanya ke sebuah rumah sederhana yang aku sewa di dekat gedung Astra Investama Group. Dan satu lagi dia tidak tau bahwa kamu yang sudah menyelamatkannya" Jawab Niko kemudian sambil menjelaskan secara terperinci.


Setelah mendengar penjelasan Niko yang panjang dikali lebar itu, Elvano akhirnya bisa benar-benar lega. Namun masih ada sedikit rasa penasaran didalam hatinya ketika Niko menyebut ia membawa Cheril ke sebuah rumah sederhana yang ia sewa.


Ah, sudahlah. Kalau aku menanyakan ini pasti dia akan mengejekku lagi.


Demikianlah yang sedang dipikirkan oleh Elvano. Dia pun sudah tidak lagi menanyakan tentang rumah sewa itu.


"Yasudah, sekarang Kembalilah ke kantor ! Sebentar lagi kita ada jadwal pertemuan yang harus dihadiri." Ucap Elvano akhirnya.


Mobil yang ditumpangi Niko pun melaju lebih cepat ketika mendapatkan perintah dari Niko untuk mempercepat lajunya setelah ia melirik jam ditangannya. Karna waktu pertemuan yang disebutkan oleh Elvano tadi sudah hampir tiba.


Sementara Cheril, ketika ia melihat mobil didepannya yang ditumpangi Niko mempercepat laju kendaraannya, sedangkan mobil yang ia tumpangi malah tetap pada kecepatan yang sekarang, ia pun semakin kebingungan. Akhirnya ia pun memberanikan diri untuk bersuara.


"Maaf Pak Supir, kita ketinggalan.. Mobil yang didepan sana sudah tidak kelihatan Pak." Ucap Cheril tiba-tiba.


"Tidak apa-apa Nona, kita tidak sedang mengikuti mobil itu." Jawab Pak supir santai.


'Apa? Jadi aku mau dibawa kemana?'


"Maaf Pak, terus kita akan pergi kemana?" Tanya Cheril lagi.


"Ke rumah yang disewakan oleh Tuan Niko pada Nona !" Sekali lagi Pak supir menjawab dengan santai.


Cheril jelas semakin bingung setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Pak supir itu.


Namun karna ia merasa Pak Supir sepertinya sangat santai, ia pun mencoba mengurik informasi darinya.


"Pak, apakah Bapak mengenal Niko? Dia bekerja dimana Pak?" Tanya Cheril kemudian.


Tentu saja kali ini Pak supir sudah tidak menanggapi perkataan Cheril. Ia sudah mendapatkan perintah dari Niko untuk tidak membahas apapun tentang dirinya maupun Elvano apalagi soal Astra Investama Group.


"Kenapa diam saja Pak? Apakah jabatan Niko sangat tinggi?" Cheril mencoba lagi dengan pertanyaan lain namun masih menyangkut topik yang tadi.


Dan tetap saja, Pak supir tidak menjawab.


Ah, Dia tidak ingin menjawabnya ya. Tidak mungkin kan Pak supir ini tidak mengetahui tentang semua itu.


Cheril masih berpikir keras bagaimana caranya supaya bisa mengurik semua informasi itu. Sesaat kemudian, ia sudah siap dengan pertanyaan barunya lagi. Namun sebelum ia bertanya kali ini ia melirik kearah belakang.


Ah, menyeramkan sekali kedua orang itu. Pantas saja jika Pak supir tidak berani menjawab pertanyaanku. Mungkin dia takut dengan kedua orang itu.


Cheril malah berpikir mungkin Pak supir takut dengan kedua pengawal itu. Akhirnya Niko pun juga mengurungkan niat nya untuk bertanya kembali. Pikirnya mungkin Pak supir itu juga tidak akan menjawab.


Sesaat kemudian, mobil yang ia tumpangi pun sudah tiba di sebuah rumah sewa yang disewakan oleh Niko tadi.


Cheril pun ikut melirik ke arah rumah itu ketika mobil itu menghentikan lajunya tepat didepan rumah sewa itu.


"Kita sudah tiba Nona. Turunlah !" Ucap Pak supir sembari membukakan pintu mobil untuk Cheril.


Setelah Cheril Turun kedua pengawal itu juga ikut turun. Mereka berdua memang diperintahkan oleh Niko untuk berjaga-jaga disana, takutnya Bos Baron masih akan mencari Cheril. Niko sudah mengantisipasi hal ini lebih dulu.


Tak disangka ya, ternyata Niko sudah sangat ahli menangani hal semacam ini.


Kemudian Pak supir juga memberikan kunci rumah sewa itu pada salah satu pengawal itu. Setelahnya ia segera masuk kembali ke mobil dan menuju pergi begitu saja.


Eh, kedua orang ini kok tidak ikut dengannya sih.


"Kenapa kalian tidak ikut supir itu?"


Akhirnya walaupun merasa sedikit takut dengan wajah menyeramkan yang dimiliki oleh kedua pengawal itu, Cheril tetap memberanikan diri untuk bertanya.


"Kami tetap disini Nona." Jawab salah satu dari mereka singkat.


"Kenapa?" Cheril bertanya lagi.


"Untuk menjaga Nona."


"Kok dijaga? Aku bisa menjaga diriku sendiri !" Ucap Cheril dengan wajah yang jutek.


"Apa Nona tidak takut, mungkin saja orang-orang di tempat hiburan tadi akan kembali mencari Nona."


"Eh...."


Cheril pun kalah telak. Ia sudah terdiam kali ini. Ya tentu saja dia takut.


"Mana kunci nya?"


Akhirnya nya dia sudah tidak mempermasalahkan lagi soal pengawal itu.


Setelah mendapatkan kunci rumah itu Cheril pun segera membuka pintu rumah itu dan masuk kedalam. Meninggalkan kedua pengawal itu diluar.