Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Pertemuan Ayah dan Anak


Tidak hanya Valen dan Flo yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kakak mereka. Ayahnya juga sudah sangat tidak sabar.


Ia malah lebih manyun lagi ketika istrinya bilang padanya ia pun harus menunggu karena putranya sedang beristirahat.


"Biarkan putra kita beristirahat dulu, Kasian dia sudah menempuh perjalanan jauh bersama Anita," pinta Winda.


"Jadi Anita datang bersama anak kita? Lalu di mana Anita?"


"Iya, Anita sedang beristirahat di kamar tamu yang ada di pojok sana," jelas Winda sambil menunjuk ke arah kamar tamu yang ditempati oleh Ibu Anita.


"Yasudah kalau begitu, aku juga mau ke kamar mandi dulu saja. Mau mandi biar harum bertemu dengan putraku," hehehen ...,


ujar Tuan William sedikit bercanda dengan istrinya.


"Iya benar ... Tiba-tiba kok aku mencium bau busuk yang menyengat dari tubuh Ayah ini," pendapat Winda, dan sudah menutup hidungnya.


"Ah kamu Win ... Jangan kuat-kuat nanti didengar oleh yang lain," waspada Tuan William sembari melirik sekeliling. Di sana memang tidak ada siapapun sih. Para pelayan sepertinya sedang di ruangan belakang.


"Memangnya kenapa Yah?" tanya Winda heran saat melihat suaminya seperti begitu serius. Walaupun Winda memang tidak sedang berbohong sih, ia memang mencium bau busuk.


"Sini aku bisikin ...,"


lalu Tuan William segera mendekatkan wajahnya ke arah telinga Winda, dan berbisik padanya.


"Saya sedang buang angin tadi," bisik Tuan William jujur


Hahahahaha


Mereka pun tertawa bersama.


"DASAR Ayah JOROK! " ejek Winda setengah berteriak.


Lalu segera menutup mulutnya menyadari ada yang sedang beristirahat, ya walaupun yang beristirahat tidak akan mendengar itu sih, karena kamar di rumah itu kan semua kedap suara kecuali kamar para pelayan.


"Ayo kita ke kamar!" ajak Tuan William kemudian sambil menarik tangan istrinya yang masih duduk untuk segera beranjak.


Mereka kemudian menuju kamar saling beriringan dengan Winda berada di depan dan Tuan William di belakang. Ia memegang pundak istrinya sambil mendorongnya pelan menuju kamar mereka.


--------------------


Sementara di dalam kamar lantai 2, Elvano Setiono sama sekali tidak memejamkan matanya. Lagian dia memang baru saja bangun, ketika di dalam bus tadi ia sudah terlelap kurang lebih 4 jam selama di dalam perjalanan menuju kemari.


Elvano memilih duduk di pinggir tempat tidurnya, matanya menyusuri setiap sudut ruangan kamar miliknya sendiri. Sebuah kamar yang sangat besar untuk ditempati seorang diri.


Di sana telah dilengkapi dengan 1 buah tempat tidur mewah yang sangat empuk, 1set sofa yang juga tak kalah empuknya, terdapat juga sebuah TV LED dengan ukuran cukup besar, serta tentu juga dilengkapi dengan kamar mandi di dalamnya. Di balik ruangan juga terdapat ruangan pakaian yang belum diketahui oleh Elvano.


Sesaat kemudian, Elvano pun beranjak dari tempat duduknya ketika melihat sebuah pintu di dalam kamarnya yaitu pintu yang menghubungkan kamar dengan ruangan pakaian yang belum ia ketahui. Ruang pakaian ini tepat di sebelah kamar mandi karena kedua ruangan ini saling terhubung dari dalam.


Elvano merasa sangat penasaran, ia jadi teringat dengan ruangan rahasia yang ada di kantor Indos Perkasa waktu itu.


Apa di dalam kamarku juga ada ruang rahasia ...


Elvano kemudian berjalan menuju pintu tersebut, lalu membukanya dan masuk ke dalam.


"Eh ternyata ini ruang pakaian?!" Gumam Elvano pelan.


Elvano tampak takjub melihat ruangan yang penuh dengan pakaian branded itu.


Itu baru beberapa pakaian yang tergantung di luar saja, ketika mata Elvano melihat sebuah lemari yang sangat besar ia pun semakin penasaran, ia kembali membuka lemari itu.


Alangkah kagetnya dia ketika lemari terbuka ratusan pakaian khusus laki-laki dengan berbagai model tergantung di sana.


"Wow ... Ini toko pakaian atau lemari pakaian?" lagi-lagi Elvano bergumam pelan mengingat pakaiannya dulu paling juga hanya 1/4 nya saja, mungkin juga tidak sampai.


"Ehm, tunggu, Apa ini semua pakaian milikku? Sebanyak ini? Ah, mungkin ini milik adikku, lagian kamar sebesar ini juga tidak mungkin aku tempati sendiri kan?"


"Tempat tidur itu juga sangat besar, bisa untuk tidur 3 orang malah." pendapat Elvano yang saat itu sedang membalikkan badannya menatap tempat tidur yang ada di balik pintu ruang ganti.


Elvano mulai berpikir, mungkin saja ia memiliki adik laki-laki lainnya yang 1 kamar dengannya. Lagian kan dia memang belum tau tentang saudara-saudaranya.


Perlahan tubuhnya terjatuh dengan sangat lembut di atas sofa.


"Wow ... Sofanya juga sangat berbeda dengan sofa di rumahku yang dulu ... Ah nyaman sekali." Gumam Elvano Elvano sekali lagi. Sembari menyenderkan punggungnya di belakang senderan sofa sambil memejamkan mata seakan menikmati kelembutan sofa itu. Ia sudah seperti seorang laki-laki yang sangat norak saat itu, kelakuannya itu sangat menggelikan. Untung saja tidak ada yang menyaksikan semua kelakuannya itu.


Setelah puas menikmati sofa itu Elvano yang sudah mulai bosan berada di dalam kamar, mencoba melangkahkan kakinya keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah.


Perlahan ia menuruni anak tangga sambil melirik ke arah lantai bawah dari atas tangga. Semua ruangan terasa asing baginya. Ia berusaha memperhatikan ada ruang apa saja di bawah sana agar tidak nyasar ketika di bawah nanti.


Sejauh mata memandang nyatanya Elvano hanya melihat hamparan ruangan kosong yang sangat luas, hanya dilengkapi oleh 1set sofa tamu yang ia duduki ketika tiba tadi. Yup, tangga itu memang langsung terhubung dengan ruang tamu dan ruang keluarga di sampingnya yang tak terlihat dari ketinggian.


Rumah ini benar-benar sangat luas, sudah seperti sebuah mall saja.


Batin Elvano mengagumi.


Saat masih di ketinggian Elvano menghentikan langkahnya hendak berbalik kembali ke kamar, karena ia merasa ragu untuk turun, ia sendiri belum mengenal rumah itu, seandainya nyasar nanti pasti sangat memalukan pikirnya.


Namun belum sempat ia berbalik, sudah terdengar suara yang memanggilnya dari bawah.


"Tuan muda ...," Pak Didi yang memanggil Elvano ketika melihat Elvano yang sudah bersiap untuk membalikkan badannya di tangga.


"Eh ...,


Elvano melirik ke arah Pak Didi, lalu melemparkan pandangannya ke arah kiri kanan atas bawah tangga seperti sedang mencari sesuatu. Yup, Elvano berpikir mungkin Pak Didi sedang memanggil orang lain yang ada di dekat dirinya.


"Tuan muda, apa yang sedang anda cari di sana?" Pak Didi kembali melempar pertanyaan ketika melihat Elvano yang seperti sedang sangat kebingungan di atas sana.


Apa dia sungguh sedang berbicara padaku ....


Sesaat kemudian Elvano menepuk jidatnya sedikit keras yang membuatnya kesakitan, ia baru ingat di rumah itu, dirinya memang mendapat gelar Tuan Muda.


"Aaau ...," jerit Elvano pelan.


"Hati-hati Tuan Muda, apa Tuan Muda kesakitan? Tunggu, aku kesana ya," tanggap


Pak Didi syok saat melihat Elvano menjerit kesakitan karena tepukan jidat yang telah dilakukannya sendiri. Pak Didi sendiri sudah siap melangkahkan kakinya ke atas tangga, ia bahkan sudah menaiki 2 anak tangga hendak menyusul Elvano untuk menolongnya.


"Eh, tidak perlu ke sini, saya tidak apa-apa kok ...," Hehehe.


tanggap Elvano cengengesan. Wajah Elvano juga sudah sedikit memerah karena malu.


Sementara di bawah,


"Ada apa ini Pak Didi? Kok ribut sekali?" Tuan William tiba-tiba muncul entah dari mana.


"Eh, Tuan ... Itu ... Tuan muda!" ujar Pak Didi sambil menunjuk ke arah atas tangga dengan memancungkan mulutnya.


Deg


Tuan William seketika melemparkan pandangannya ke atas tangga. Ia menatap putranya lekat dari kejauhan.


Jadi itu putraku ... Putra yang aku cari-cari selama ini ... Tidak disangka, ternyata kamu sudah sebesar ini ya ... Tapi sepertinya wajahnya sangat tidak asing.


Tuan William seperti sedang mencoba mengingat di mana ia pernah melihat orang ini. Ia memang pernah bertemu dengan Elvano sebelumnya, yaitu pada waktu Elvano memenangkan kompetisi di Perusahaan cabang Astra Investama Group yang berada di kota XX beberapa waktu yang lalu. Namun sayangnya Tuan William tetap saja tak dapat mengingat dengan baik


Tuan William masih menatap Elvano lekat dari kejauhan. Membuat Elvano sedikit salah tingkah dengan tatapan ayahnya yang tidak bisa diartikan itu.


"Elvano Setiono ... Kamu Elvano kan?" panggil Tuan William dengan suara berat seperti sedang menahan tangisan. Tuan William merasa sedikit terharu saat itu.


Elvano mengangguk pelan.


"Aku Ayahmu Nak ..., " Lanjut Tuan William.


"Kemarilah, Ayah ingin melihatmu dari dekat!" perintah Tuan William sambil melambaikan tangannya meminta Elvano untuk turun dari atas tangga.


Mendengar ucapan ayahnya, Elvano kemudian segera menuruni anak tangga satu per satu secara perlahan menghampiri ayahnya.