Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Elvano mengajak Cheril kerumahnya


Cheril jelas sangat kebingungan mendengar apa yang dikatakan Elvano.


"Maksud kamu apa sih?" Cheril memberanikan diri untuk bertanya.


"Kamu bahkan tidak menyebut namaku ketika bertanya. Sekarang aku mau kamu membayar nya. Panggil aku sayang ! Kalau tidak....


"Eh, i-Iya iya.. Sayang, kita mau kemana?" Ucap Cheril secepat mungkin dengan wajah sedikit ketakutan.


"Bukan seperti itu !"


Iiiiih.. Orang ini sungguh keterlaluan.


Mau nya apa coba.


"Lakukan dengan tersenyum manis !" Tambah Elvano sambil memperagakan caranya tersenyum lebar dengan meletakkan kedua telunjuknya dikedua pipinya, membuat Cheril melototkan matanya.


"Kenapa melototiku?" Kamu menantang ku?"


"Ah, tidak tidak.. Baiklah !


Sayang, kita mau kemana?" Hehehehe.


Cheril berusaha tersenyum semanis mungkin, padahal dalam hati rasanya ia sangat ingin mencakar-cakar wajah laki-laki itu.


'Puas kamu sekarang? Puas?'


Tentu saja Elvano sangat puas dengan apa yang dilakukan Cheril, buktinya ia senyum-senyum sendiri, padahal Cheril melakukan semua itu kan juga karna ancaman nya.


Sedangkan Niko yang diam-diam menyaksikan semua itu membuatnya tertawa geli. Ia benar-benar tidak menyangka Elvano bisa melakukan hal yang memalukan seperti itu.


"Kamu benar-benar ingin tau aku akan mengajakmu kemana Nona?"


Elvano bertanya dengan wajahnya yang sudah sangat serius kali ini.


"Eh, i-iya.." Jawab Cheril agak gugup melihat wajah elvano yang sangat serius itu.


"Aku akan mengajakmu bertemu Ibuku." Jawab Elvano santai.


"Eh, bukannya kata kamu besok baru akan mengajak ku ke rumahmu?"


"Hari ini saja, aku sudah berubah pikiran, lagian Ibuku sudah merindukan mu, dia terus menanyakan tentang dirimu." Jawab Elvano masih dengan wajahnya yang datar


Eh, ternyata Ibu Anita juga sudah tau tentang gadis ini. Wah ternyata hubungan mereka sudah sejauh ini.


Niko berkata-kata dalam hatinya. Ia tidak menyangka Ibu Anita ternyata juga sudah mengenal wanita itu.


Setelah diam sesaat Elvano kembali melanjutkankan pembicaraannya.


"Atau begini saja, besok giliran kamu yang harus mengajakku bertemu dengan orang tua mu." Tambahnya lagi.


Sebenarnya Elvano juga merasa sedikit ragu dengan kata-katanya itu, ia juga takut orangtua Cheril mungkin saja tidak bisa menerima nya karna ia bahkan hanya seorang kepala gudang di Perusahaan milik keluarga Cheril.


Namun, Elvano sudah terlanjur jatuh cinta terhadap wanita itu, ia sudah siap dengan semua kemungkinan yang akan terjadi.


Sedangkan Cheril malah bengong, ia juga teringat dengan apa yang diucapkan oleh Ibunya pagi ini. Ibunya kan juga memintanya untuk memperkenalkan calon menantunya.


Kabar baiknya, Cheril tidak perlu lagi susah payah mencari alasan untuk memberitahukan kepada Elvano tentang rencana Ibunya itu, namun ntah kenapa Cheril justru merasa sangat ketakutan jika saja Ibunya tidak bisa menerima Elvano, apa yang harus ia lakukan?!


Suasana hening tercipta setelah pembicaraan tersebut hingga mobil yang tumpangi mereka tiba di rumah Elvano.


Elvano juga tidak menuntut Cheril untuk menjawab pertanyaannya itu, karna ia juga merasakan hal yang sama, takut ditolak. Jadinya mereka berdua hanya diam saja.


Niko yang sedari tadi berusaha menguping obrolan kedua insan yang sedang dalam kasmaran itu kali ini tidak dapat memahami kenapa keduanya jadi berdiam diri begitu, padahal tadi mereka sangat ribut sudah seperti pasar saja.


Ia memang tidak mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Elvano karna saat Elvano berbicara tadi ada sebuah mobil truk yang melintas mendahului mereka, suara Elvano jadi tertutup oleh suara truk tersebut.


Ketika mobil berhenti Elvano pun turun dari angkot tersebut dan setelahnya dia juga membantu Cheril untuk turun. Dan kemudian membayar ongkos angkot kepada Niko yang sudah pastinya ia lebihkan.


"Makasih ya No.." Jawab Niko menatap ke arah Elvano dan bergantian menatap gadis cantik yang ada disamping Elvano sambil sedikit menaikan alisnya ke arah gadis itu, dan Cheril juga membalas nya dengan senyuman manis sambil meganggukkan kepalanya sopan.


Cantik sekali dia. Pantas saja Elvano tergila-gila.


Niko sangat mengagumi kecantikan Cheril.


Cheril memang sangat cantik dan senyumannya sangat manis. Setiap mata yang memandang nya pasti akan berkata hal yang sama.


"Woi.. Masih belum pergi?" Elvano berkata dengan nada yang sedikit keras membuat Niko yang masih bengong sedikit terpelanggat.


"Eh.. I-iya.. Biasa aja kali bro.." Jawab Niko sambil mengejek. Dan ia pun memutar setirnya melaju ke arah yang berlawanan meninggalkan Cheril dan Elvano.


Cheril yang menyaksikan itu hanya tersenyum kecil, ia sungguh tidak mengerti kenapa Elvano bisa bersikap seperti itu, ya mungkin itu cara Elvano berteman, pikir Cheril dalam hati.


"Ayo kita masuk !" Ucap Elvano membuka pembicaraan.


Cheril hanya mengikuti langkah Elvano tanpa berkata apapun.


Tok tok tok


Elvano mengetuk pintu


Ibu Anita yang sedang duduk santai sambil nonton tv di ruang tengah pun langsung beranjak setelah mendengar suara ketukan pintu.


Jegrek


Ibu Anita membuka pintu pelan.


Wajahnya seketika tersenyum lebar melihat Cheril ada di sana bersama dengan Elvano.


"Nak Cheril,,?" Ibu Anita menyapa Cheril dengan menyebut namanya.


"Iya, Bu.. Ibu apakabar?"


"Ibu baik-baik saja kok. Ayo masuk nak !"


Ibu Anita kemudian menuntun tangan Cheril dan membawa nya masuk.


"Vano, kamu kok tidak memberitahu Ibu kalau Cheril mau kesini? Ibu kan jadinya tidak menyiapkan apa-apa untuk Cheril." Kata Ibu Anita sambil melemparkan pandangannya ke arah Elvano yang sudah menuju ke arah dapur.


"Eh, gapapa kok Bu, Ibu ga perlu repot-repot !" Cheril menanggapi pembicaraan Ibu Anita.


"Vano juga kebetulan bertemu dengan Cheril Bu, tadi Vano kan pergi sama Erik." Sambung Elvano apa adanya sambil meneguk segelas air yang ada ditangannya.


Oh iya ya, tadi Erik ke sini mengajak Vano keluar nonton.


Ibu Anita bergumam dalam hati, ia memang masih dapat mengingatnya dengan jelas, tadi pagi Erik datang ke rumah dan mengajak Elvano pergi.


"Terus Erik mana sekarang?"


"Sudah pulang Bu, katanya ada keperluan mendadak tadi."


"Ooo.. Yasudah, kamu duduk dulu ya Cheril,, biar ibu bikinin jus buat kamu."


"Eh, ga usah Bu. Tidak perlu repot-repot." Ujar Cheril lagi.


"Gapapa kok nak, Ibu nggak merasa repot hanya bikin jus saja. Kamu tunggu sebentar ya !"


Akhirnya Cheril pun mengalah dan membiarkan Ibu Anita beranjak menuju dapur untuk membuatkan jus untuknya.


"Oh iya, nak Cheril, kamu mau jus apa? Ada Alpukat dan Jeruk. Mau yang mana?" Tanya Ibu Anita


"Vano mau jus Alpukat ya Bu !" Timpal Elvano


"Eh, Ibu kan nanya Cheril, malah kamu yang jawab." Balas Ibu Anita.


"Lagian Ibu juga sih, anak sendiri malah Tidak ditawarin." Ujar Elvano dengan nada manja seolah-olah ia sedang cemburu pada Cheril.


Melihat itu Cheril tersenyum kecil, ia merasa sedikit tersentuh melihat interaksi Ibu dan Anak itu. Cheril memang sudah lama sekali tidak merasakan suasana demikian, karna Ayah dan Ibu cheril sangat berbeda dengan Ibu Anita, mereka sangat sibuk dengan kepentingan mereka masing-masing, jadi Cheril sama sekali tidak memiliki waktu untuk bermanja dengan Ayah maupun Ibunya.


"Iya iya, Ibu bikinin buat kamu juga ! Jawab Ibu anita Akhirnya.


"Jadi kamu mau apa Cheril?" Ibu Anita kembali bertanya pada Cheril karna belum mendapat jawaban dari nya.


"Eh, samain aja Bu.." Jawab Cheril kemudian, maksudnya supaya Ibu Anita tidak kerepotan harus bikin bermacam-macam. Lagian Cheril juga menyukai jus Alpukat sih.


"Baiklah kalau begitu. Kamu tunggu sebentar ya Cheril !"


"Iya Bu." Jawab Cheril singkat.