
Hari ini mentari terang menyinari bumi namun terselip beberapa awan mendung yang membuat terang itu perlahan meredup dan kembali lagi bersinar lebih terang seakan tak ingin kalah dari awan itu.
Apa mau dikata, awan mendung yang menyimpan jutaan tetes air itu sudah tidak mampu lagi menampung kelebihan kapasitas yang ia miliki, akhirnya dibiarkannya jatuh menyirami bumi ditengah-tengah sinar matahari yang terus berjuang mempertahankan sinar nya yang berkilau.
Hujan panas pun terjadi akibat dari peperangan sengit antara beberapa awan dengan Sang Mentari. Dan setelah semuanya berlalu langit pun mendapatkan hadiah terindah yang membuat setiap mata yang memandangnya akan berkata "Oh.. Indah nya ! Warnamu beraneka ragam membuat langit tampak sangat cantik." Yup, sehabis hujan terciptalah pelangi yang sangat indah menghiasi langit biru.
Fenomenal ini hampir menggambarkan kehidupan yang akan dijalani oleh Elvano dan Cheril kedepannya.
--------------------------
Dua hari sebelum hari H pertunangannya dengan Cheril, akhirnya Elvano memutuskan untuk memberitahukan pada Ibu Anita tentang pertunangannya yang akan digelar hari Minggu ini.
Jam kuliah hari ini telah usai, Elvano sudah didepan rumah saat ini. Seperti biasanya Elvano pulang dijemput oleh Niko dengan angkutan umum miliknya.
Tak seperti biasanya hari ini Elvano lebih banyak melamun selama perjalanan. Niko yang memang belum diberitahukan tentang acara pertunangannya hanya bisa menerka-nerka melihat sahabatnya melamun disepanjang jalan.
'Barangkali ini anak sedang perang dengan pacar nya.' Niko membatin. Pemikiran inilah yang mendominasi otaknya.
Setelah Ibunya membukakan pintu, Elvano masuk menerobos dengan tatapan matanya yang kosong tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ibu Anita sedikit heran melihat Elvano yang menurutnya sangat tidak biasa itu.
Ibu Anita masih berdiri dalam kebingungan didepan pintu sambil tatapan matanya terus mengikuti Elvano yang sudah menuju ke arah sofa dan duduk pada salah satu sofa yang tersusun rapi di ruang tamu.
Elvano bahkan seperti tidak menghiraukannya ketika ia menyapa putranya tadi.
"Vano, kamu kok bengong begini? Ada apa?"
Rasa penasaran yang tak terbendung membuat Ibu Anita tidak mampu lagi untuk tidak bertanya.
"Eh, Ibu. Ada yang ingin aku bicarakan dengan Ibu."
Deg
'Apakah ini ada hubungan nya dengan jati dirinya?:
"Ada apa Vano?" Tanya Ibu Anita kemudian.
Apapun yang akan Elvano katakan Ibu Anita sudah benar-benar menyiapkan dirinya.
"Bu, 2 hari lagi Elvano dan Cheril akan bertunangan."
Fiuuuuuh
'Ternyata bukan yang aku pikirkan, tapi tunggu dulu !
"APA?" Vano kamu serius?"
"Iya bu."
Elvano mengangkat wajahnya menatap mata Ibu Anita untuk meyakinkannya dengan apa yang sudah ia katakan.
"Kenapa kamu baru ngomong sekarang Vano? Kapan rencana itu dibuat?"
"Minggu kemarin Bu, ketika Vano diundang makan malam di rumah Nona Cheril." Jawab Elvano yang membuat Ibu Anita melotot seketika.
"Pantas saja waktu itu kamu berpakaian begitu rapi." Ujar Ibu Anita.
Ia mencoba mengingat kembali hari itu, dimana Elvano tampak seperti seorang Tuan Muda dengan balutan jas silver serta kemeja putih yang ia kenakan.
"Bahkan waktu itu kamu juga tidak bilang ke Ibu akan menghadiri undangan dari keluarga Nona Cheril." Tambahnya lagi.
Ibu Anita sepertinya sedikit kecewa, terlihat matanya juga sudah berkaca-kaca.
"Kenapa kamu tidak memberitahukan pada Ibu tentang semua itu Vano? Apakah Ibu sungguh tidak penting bagimu?"
Ibu Anita mulai menangis, ia juga merasakan sakit pada dada sebelah kirinya, ia memegang dadanya dengan satu tangannya membuat Elvano merasa khawatir.
"Ibu, Ibu kenapa? Ibu tenang dulu ! Aku mohon !" Elvano segera berdiri meraih kedua lengan Ibunya dan mendudukkannya diatas sofa.
"Bu, tentu saja Vano sangat sayang pada Ibu, hanya saja Vano malu menceritakan soal undangan makan malam itu. Dan Vano juga tidak tau bagaimana harus menjelaskan pada Ibu tentang rencana pertunangan ini, makanya Vano baru memberitahukan pada Ibu sekarang ini."
"Ibu tenang ya, Ibu jangan menangis lagi !" Kata Elvano sambil mengusap wajah Ibunya lembut untuk menghapus air matanya.
Elvano kemudian beranjak menuju dapur mengambil segelas air putih untuk Ibunya.
"Bu, ini Ibu minum dulu ya !" Ujar Elvano lagi sambil menyodorkan gelas yang ada ditangannya.
Setelah mendengar penjelasan dari Elvano dan juga meminum segelas air putih yang diberikan anaknya, Ibu Anita sudah merasa lebih nyaman saat ini.
Setelah merasa Ibunya sudah tenang, Elvano pun melanjutkan kembali pembicaraannya.
"Bu, setelah melakukan acara pertunangan, sebulan kemudian Vano dan Cheril juga kan segera melangsungkan acara pernikahan."
Elvano akhirnya sekalian menyampaikan kabar gembira yang kedua karna ia tidak ingin menyimpannya lebih lama lagi dari Ibunya, ia sudah cukup dibuat kapok dengan kejadian yang baru saja terjadi.
Mendengar kedua kabar bahagia ini, Ibu Anita tidak tau harus senang atau sedih. Ia merasa sangat tidak adil jika ia tidak memberitahukan pada Elvano tentang jati diri Elvano yang sesungguhnya.
'Bukannya yang seharusnya mendampingimu dihari pernikahanmu adalah Tuan Muda William dan Nona Muda Winda?'
Pikiran Ibu Anita sangat kacau saat itu. Jika hendak memberitahukan pada Elvano, ia juga tidak tau harus memulainya dari mana.
"Bu, Apakah Vano boleh menanyakan sesuatu?"
"Apa yang ingin kamu tau dari ibu Vano?
Tanya Ibu Anita dengan santai.
"Bu, Ibu masih ingat waktu itu? Ketika Ibu baru pulang dari rumah sakit, keesokan paginya Vano memasak untuk Ibu dan Ibu terus melamun kemudian...." Elvano sedikit ragu untuk melanjutkan kalimat berikutnya.
Sedangkan Ibu Anita mulai menjelajahi waktu menuju kearah topik pembicaraan yang sedang dibicarakan oleh Elvano saat ini. Ia masih berusaha mengingat apa saja yang terjadi saat itu. Tiba-tiba ia pun tersentak.
Mungkin memang sudah saatnya aku memberitahukan semuanya pada Vano.
"Maksud kamu tentang Elvano Setiono?"
"Ma-maafkan Vano Bu, Vano tidak bermaksud untuk...."
Elvano hanya bisa menundukkan wajahnya ketika Ibu Anita memotong pembicaraan yang belum sempat ia selesaikan.
"Tidak apa-apa Vano, justru Ibu yang harus meminta maaf padamu karna sudah menyembunyikan semuanya darimu selama ini." Ucap Ibu Anita kemudian.
"Vano, kamu mau kan memaafkan Ibu?"
Tanya nya sambil menegakkan kembali wajah Elvano.
Sekaligus ia ingin memastikan Elvano sudah siap untuk mendengarkan semua penjelasan yang hendak ia sampaikan serta ia juga ingin memastikan Elvano tidak membencinya setelah mendengar semua penjelasan yang akan ia sampaikan.
"Iya Bu, Vano sudah memaafkan Ibu kok, Vano juga janji tidak akan marah apapun yang terjadi !"
Pelukan hangat pun menyelimuti kedua tubuh yang menyatu penuh kasih sayang sebelum dimulainya penjelasan panjang yang sangat menguras otak itu. Ibu Anita dan Elvano juga terlihat sangat menikmati pelukan hangat yang mereka lakukan sebagai Ibu dan Anak.