
Today is the day.
Hari ini ada pemandangan yang sedikit berbeda di kediaman keluarga Senjaya.
Berbagai hiasan indah yang berkelap-kelip didalam ruangan sangat memanjakan mata. Bunga-bunga nan indah juga ikut mengambil andil untuk mempercantik ruangan tersebut bersama dengan berbagai aksesoris lainnya yang digunakan oleh Wedding Organizer sebagai perlengkapan untuk menyulap ruangan Tamu hingga ruang keluarga menjadi ruangan pesta yang akan digelar sore ini.
Para ART juga terlihat jauh lebih sibuk dari hari biasanya, mereka turut terlibat dalam acara penting yang akan segera digelar itu.
Sementara tuan rumah mereka juga tidak kalah sibuknya mempersiapkan diri mereka supaya tampil semaksimal mungkin.
Keluarga Senjaya bahkan mendatangkan perias profesional khusus untuk membantu Cheril dan juga ibunya supaya dapat tampil sempurna malam ini.
Sementara di kediaman Elvano berbeda jauh dari kediaman calon tunangannya. Disana suasana masih berjalan apa adanya. Ibu Anita hanya sibuk memasak sedikit camilan siang untuk dirinya dan juga Elvano. Belum ada persiapan yang terlalu berarti diantara mereka berdua untuk acara sore ini.
Tampaknya sesekali Ibu Anita masih berusaha untuk membujuk Elvano mendatangi keluarga besarnya untuk meminta restu. Sejak kemarin memang itulah yang Ibu Anita lakukan, ia terus membujuk Elvano walaupun semua usahanya hanya sia-sia belaka.
-----------
Mentari yang sebelumnya bersinar terang kini mulai meninggalkan bumi, warna kemerahan pada langit biru menciptakan keindahan tersendiri karna terbenamnya matahari. Waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga.
Elvano dan Ibu Anita sudah bersiap-siap hendak menuju kediaman keluarga Senjaya saat ini.
Ibu Anita mengajak keluarga Niko yang memang sudah seperti keluarga mereka sendiri. Dan juga keluarga Erik untuk mendampingi mereka sekaligus menjadikan mereka sebagai tamu undangan.
Ibu Erik memang satu-satunya saudara dari Ibu Anita, Erik yang sebelumnya merupakan rival Elvano juga sudah mengalah pada Elvano sejak kejadian di bioskop waktu itu, lagipula sekarang ia malah sedang pedekate dengan Tania. Tania juga ikut mendampingi Erik saat ini, ia juga merupakan salah satu tamu undangan dari Cheril tentunya, Sedangkan sahabat mereka yang satunya lagi si Nikita memutus berangkat bersama keluarganya yang dimana Ayah dari Nikita juga diundang sebagai rekan bisnis pempinan Indos Perkasa.
Mereka pun berangkat dengan menggunakan mobil milik Erik. Didalam mobil terdapat 8 orang penumpang, adapun diantaranya Erik dan Tania yang duduk dikursi depan, Kedua orang tua Erik berada dibarisan kursi kedua bersama dengan Ibu Anita juga Ibu Niko, sedangkan Elvano dan Niko memilih duduk di barisan paling belakang. Mobil dengan jenis minibus ini memang seharusnya bisa memuat hingga 10 penumpang.
Selama di dalam perjalanan terjadi percakapan santai diantara para penumpang yang sedang meet up di dalam mobil.
"Eh, No, aku sama sekali tidak menyangka ternyata gerakmu secepat ini. Udah main tunangan aja." Hahaha .p.. Erik mengejek Elvano
Hahahaha
Niko juga ikut tertawa, dan yang lainnya hanya tertawa kecil saja.
"Bener Rik yang kamu bilang, aku juga tidak menyangka Vano bisa bergerak secepat ini. Padahal aku mikirnya ini anak bakal jomblo lama !" Hahaha ... Niko kembali tertawa setelah menyelesaikan kata-katanya.
"Si*l*n kamu Nik ... Nyumpahin aku jomblo terus ya, bisa bisa menemanimu hidup bujangan terus?" Ujar Elvano sambil menepuk pundak Niko yang berada di sampingnya agak keras membuat nya sedikit terperanjak.
"Aauuu ... Sakit tau calon pengantin! Eh, enak aja kamu ngatain aku bujangan terus, setidaknya aku kan punya banyak kenalan cewek." Niko berusaha membela diri.
Elvano dan yang lainnya tertawa geli mendengar apa yang diucapkan Niko.
"Benar kata Vano,Nik. Kamu bahkan belum pernah membawa wanita pulang kerumah untuk dikenalkan pada Ibumu ini." Ibu Niko yang berada dibarisan depan menyambung pembicaraan yang sedang berlangsung.
"Tu kan, aku bilang juga apa? Buruan bawa calon menantu buat Ibumu ... " Elvano kembali mengejek Niko karena mendapat pembelaan dari ibu Niko.
"Ah Ibu ... Kok malah membela orang lain sih, bukannya belain anaknya. Aku lagi deh yang kena ... Apes apes ... "
"Makanya sebelum mengejek itu introspeksi diri bro!" Ujar Elvano lagi sambil mendorong lengan Niko pelan.
"Iya iya, memang kamu yang paling hebat deh." Akhirnya Niko mengalah.
Hihihihi
Terdengar tawa kecil yang memenuhi seisi mobil.
Ah,lagian siapa juga yang mau sama tukang angkot seperti ku. Aku memang kalah jauh dari Elvano. Setidaknya wajahnya juga begitu tampan, sedangkan aku biasa-biasa saja.
Gumam Niko di dalam hati
Waktu itu tepat menunjukkan pukul 18.20.
Di sana belum terlalu ramai, hanya ada beberapa keluarga dekat yang sudah hadir di sana karena tamu undangan diberitahukan untuk datang pukul 19.00.
Kedatangan mereka langsung disambut oleh tuan rumah itu sendiri, yaitu ayah Cheril.
"Kalian sudah tiba? Mari masuk!" Ucap Dedy Senjaya ramah.
"Baik O, maksudnya, baik Ayah!" Jawab Elvano masih sedikit canggung, ia masih belum terbiasa dengan panggilan Ayah yang diharuskan oleh calon mertuanya itu.
Yang lain pun ikut tertawa kecil melihat tingkah Elvano.
"Oh iya, kenalkan, ini Ibuku! Ucap Elvano lagi. Ia mengenalkan Ibunya pada calon besannya. Sebelumnya mereka memang belum saling mengenal.
"Oh iya, saya ayah Cheril." Jawab Dedy Setiono sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Dan yang lainnya adalah saudara kami." Tambah Elvano sekali lagi sambil menunjuk yang lainnya.
Lalu ayah Cheril pun menyalami semua pasukan yang dibawa oleh Elvano satu per satu.
Setelahnya ia juga mempersilahkan semuanya untuk masuk.
"Mari semuanya masuk!" Ucap ayah Cheril kemudian.
Setelah mereka semua masuk ke dalam mereka pun dituntun oleh wedding organizer yang ada di sana menuju meja khusus yang sudah disediakan untuk mereka.
Saat itu ayah Cheril sudah meninggalkan mereka untuk kembali ke depan menyambut tamu yang lainnya.
"Sembari menunggu Nona Cheril bersiap-siap, silahkan Tuan Vano dan yang lainnya menikmati makanan yang sudah tersedia terlebih dahulu untuk mengganjal perut." Ucap salah satu Wedding Organizer yang bertugas di sana.
"Baiklah." Jawab Elvano sembari mengangguk pelan.
Padahal saat ini jantung Elvano sedang berdegup kencang. Ia sangat tegang mengingat acara pertunangannya yang akan segera dimulai.
Sedangkan Niko, ia melemparkan pandangannya menjelajahi seluruh ruangan, ruangan yang sangat besar penuh dengan hiasan nan indah membuat Niko sedikit merasa kagum dengan kemewahan rumah Cheril.
"Eh, kita cari makan dulu yuk!" Ucap Tania membuka pembicaraan.
"Ayok!" Sahut Erik
Niko dan yang lainnya juga ikut beranjak dari tempat duduk mereka yang baru saja mereka duduki. Hanya Elvano yang tak bergeming sama sekali.
"Kalian saja ... Aku tidak merasa lapar." Ujar Elvano singkat.
"Eh, tidak apa-apa nih kami meninggalkanmu sendiri di sini?" Tanya Erik
"Atau Ibu tidak usah ikut saja." Ucap Ibu Anita memilih tetap bersama Elvano.
"Jangan Bu! Vano tidak apa-apa kok. Ibu ikut saja dengan mereka." Elvano segera mencegah ibunya untuk tetap tinggal hendak menemaninya
"Tidak apa-apa kok Vano, Ibu disini saja, nemenin kamu." Ucap Ibu Anita lagi, masih memaksakan diri untuk tetap menemani Elvano. Namun tentu saja Elvano kembali menolak.
"Sudah .... Ibu ikut mereka saja sana." Ucap Elvano sembari beranjak dari tempat lalu mendorong bahu ibunya pelan supaya mengikuti langkah Erik yang sudah bersiap untuk pergi.
Akhirnya Ibu Anita pun sudah tidak bisa lagi menolak permintaan Elvano, ia pun ikut bersama dengan Erik dan yang lainnya untuk mencari makanan ringan yang ada di pojok depan.
Erik dan Tania berjalan lebih dulu. mereka berjalan lenggang-lenggok sambil bergandengan tangan layaknya sepasang kekasih yang sedang kasmaran, sedangkan yang lainnya berjalan di belakang mereka. Mereka pun berpencar ketika dihadapkan dengan berbagai menu pondokan di ruangan itu untuk mencari makanan kesukaan mereka masing-masing.