
Suasana cafe siang itu lumayan ramai, mungkin karena sedang weekend. Beberapa wanita yg duduk di cafe itu juga sesekali melirik ke arah meja Elvano dan Niko, mereka tentu saja sedang memperhatikan Elvano. Selain ketampanan yang dimilikinya, ia juga tampil dengan sangat elegan membuat setiap mata yang melihat nya bisa menilai dari kalangan apa Elvano berasal. Alhasil banyak dari mereka yang sudah sangat ingin melangkah ke arah meja mereka dan minta berkenalan dengan nya.
Seperti biasa, Elvano sama sekali tidak terganggu dengan suasana demikian, ia malah membalas menatap dingin para gadis yang berusaha memberikan perhatian mereka dari jauh, membuat para gadis itu justru semakin tertarik dengan sikap dingin yang dimiliki oleh Elvano.
Niko juga menyadari para wanita yang terus menujukan mata mereka ke arah dirinya dan Elvano. Namun ia juga cukup tau diri, dengan penampilan nya yang biasa saja dan wajah yang pas-pasan tidak mungkin para gadis itu sedang melirik nya. Ia tau mereka pasti sedang memperhatikan lelaki yang ada di hadapannya itu.
Masih bergelut dengan pertanyaan Elvano tentang Asisten Manajer pribadi.
Elvano membiarkan Niko berdiam diri lebih lama untuk memikirkan apa yang sudah ia tawarkwan. Ia tidak mengulangi pertanyaannya hingga Niko yang menjawab sendiri.
Sesaat kemudian Niko memang menjawab pertanyaan itu ketika menyadari Elvano masih menunggu jawabannya.
"No, kamu serius dengan pertanyaanmu itu?"
Tepatnya Niko malah melempar pertanyaan.
"Iyalah Nik ... Aku serius," jawab Elvano memperlihatkan tampang seriusnya.
Niko terlihat masih berpikir dengan keras harus menjawab apa lagi.
"Nik, aku berharap kamu mau menerima tawaran ku ini," pinta Elvano
"Lagian, kamu juga tidak bermaksud menjadi sopir angkot selamanya kan?" pertanyaan Elvano kali ini sungguh membuat hati kecil Niko memberontak.
Benar kata Vano, lagian jika aku terus menjadi sopir angkot seperti ini, kapan aku baru bisa membahagiakan Ibuku yang sudah semakin menua.
Batin Niko panjang lebar.
"Nik, sudah saatnya kamu memanfaatkan ijazah S1 mu, terimalah tawaranku ini," bujuk Elvano.
Elvano mengetahui dengan jelas sahabatnya ini adalah salah satu lulusan terbaik di kampusnya dulu, hanya karena kekurangberuntungannya membuat dirinya harus rela menyimpan dalam-dalam ijazahnya dan memilih menjadi sopir angkot untuk mencukupi kebutuhan keseharian dirinya dengan ibunya.
Niko bukan tidak pernah memanfaatkan ijazahnya, waktu itu ia sudah berusaha keras mencari pekerjaan kemana-mana. Namun sayangnya ia tidak menemukan satu pun perusahaan yang mau menerima nya sebagai karyawan mereka. Ya, bukan karena ada masalah pada diri Niko, malah dilihat dari ijazah Niko, tentu sangat banyak perusahaan yang ingin menerima nya. Ini lebih kepada ekonomi yang saat itu sedang anjlok sehingga sangat sulit bagi seseorang untuk menemukan pekerjaan, termasuk lulusan terbaik yang satu ini.
Setelah berpikir sesaat kemudian Niko pun menjawab kembali pertanyaan Elvano.
Lebih tepatnya ia kembali melemparkan pertanyaan.
"No, jika aku menerima tawaranmu, lalu bagaimana dengan Ibuku? Aku tidak tega meninggalkan dia seorang diri di kota ini. Kamu tau kan, Ibu sekarang juga sudah mulai sering sakit-sakitan?"
Mendengar apa yang diutarakan oleh sahabatnya itu Elvano pun tersenyum.
"Kalau soal itu kamu tenang saja Nik. Kamu bisa membawa serta Ibumu ke kota X dimana perusahaan inti berada.
Aku sudah menyediakan sebuah rumah untuk kalian di sana." jelas Elvano.
Ia memang sudah merencanakan semua ini dari awal, ia juga sudah meminta ijin ayahnya untuk menambah Asisten Manager untuk membantu nya dan Ayah William juga sudah menyetujui rencana Elvano ini. Ketika itu juga Elvano segera meminta orangnya untuk mencarikan sebuah rumah yang cukup besar untuk ditinggali oleh Niko dan ibunya ketika di kota X nanti.
Niko tentu saja sangat terharu dengan apa yang dikatakan oleh Elvano, kali ini ia sudah tidak memiliki alasan untuk menolak tawaran itu.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menerima tawaranmu." jawab Niko kemudian.
"Makasih ya Nik, kamu sudah mau menerima tawaranku. Mulai hari ini kita adalah partner," Elvano berterimakasih sekaligus menyodorkan tangannya ke arah Niko mengajak nya bersalaman.
Sementara Niko, dengan sedikit keraguan dan secara perlahan mengangkat tangannya juga meraih tangan Elvano yang sudah terjulur sebelumnya. Mereka pun bersalaman.
"Aku yang harus berterimakasih padamu Vano. Terimakasih untuk semuanya. Untuk tawaran itu dan untuk fasilitas yang telah kamu sediakan untuk ku dan Ibuku," ucap Niko sambil tersenyum.
"Baiklah, kamu sudah bisa bersiap-siap mulai saat ini. Hari Selasa nanti kamu sudah akan ikut aku ke kota X." jelas Elvano.
"Oh iya, satu lagi. Kamu tidak perlu memikirkan soal pakaian yang harus kamu kenakan, karena aku juga sudah menyediakan beberapa helai jas serta kemeja untukmu ketika sedang bertugas," tambah Elvano lagi yang membuat Niko merasa sangat lega dan sekali lagi ia merasa terharu dengan ucapan Elvano.
"Sekali lagi, terimakasih Vano. Aku berjanji akan berusaha melakukan yang terbaik untukmu dan untuk perusaahanmu," janji Niko dengan penuh percaya diri.
Elvano hanya tersenyum mendengar ucapan sahabatnya itu. Ia sudah tidak berkomentar tentang apapun lagi.
Mereka kemudian memilih menghabiskan menu yang sudah mereka pesan tadi dan beranjak dari cafe itu.
Sebelum beranjak Elvano kembali berpesan tentang permintaannya yang tadi, soal mempertemukan dirinya dengan Cheril.
Niko mengIYAkan permintaan Elvano dan berjanji akan menghubungi nya malam ini juga.
Dan Elvano juga memberikan sebuah amplop yang berisikan uang yang jumlahnya lumayan banyak pada Niko.
"Tunggu! Ini untuk apa No?" Niko sedikit kaget dengan sodoran yang diberikan Elvano.
"Itu untuk Ibumu Nikb... Bilang saja itu dari ku," jawab Elvano. Dia sengaja menjadikan ibu Niko sebagai alasan, karena jika Elvano berkata untuk Niko, ia tidak mungkin menerimanya.
"Tapi No ..., " Ini saja Niko masih berusaha menolak.
"Sudah, terima saja ... Itu untuk Ibumu, bukan untukmu ... Hitung-hitung itu sebagai pegangan untuk Ibu selama di kota X nanti," bujuk Elvano dan segera beranjak dari kursinya.
Setelahnya Elvano kembali melangkahkan kakinya ke arah mobil mewah miliknya yang terparkir di pinggir jalan depan Mall Z yang tepat berada di belakang mobil Niko.
Karena tujuan keduanya masih searah, mereka berdua pun berjalan saling beriringan menuju tempat mobil terparkir.
Elvano dan pak sopir segera berlalu dari tempat itu setelahnya, sementara Niko, ia masih terbengong di dalam mobil angkot miliknya. Kejadian hari ini sudah seperti mimpi bagi saja. Ia sampai mencubit pipinya untuk meyakinkan diri sedang tidak bermimpi.
"Aauuu! "
Niko menjerit kesakitan
Ternyata aku memang tidak bermimpi.
Gumamnya dalam hati sambil memandang amplop yang ada di tangannya. Sebuah amplop coklat yang isinya lumayan banyak, membuat amplop tersebut menggelembung cukup besar.
Sesaat kemudian, Niko pun memutuskan untuk segera pulang ke rumah. Mulai saat itu ia sudah tidak menarik angkot lagi.
Elvano sudah merubah kehidupan sahabatnya itu.