
Udara dingin terasa menusuk kedalam tulang, Elvano sengaja membuka jendela kamarnya membiarkan angin malam masuk memberikan kesejukan bagi hatinya panas.
Malam ini Elvano tidak dapat memejamkan mata hingga pukul 01.00 dini hari.
Selain kejadian di kediaman Cheril, ia juga sedang memikirkan hal yang lebih penting daripada itu. Yaitu kepulangan nya ke rumah orangtua kandungnya, rumahnya yang sebenarnya. Elvano merasa khawatir dirinya tidak diterima oleh keluarganya.
Mengingat Ibu Anita yang mengatakan perjalanan menuju kerumah orangtuanya sangat jauh, Elvano terus berusaha untuk memejamkan matanya berharap ia terlelap supaya besok ia memiliki stamina yang cukup untuk menempuh perjalanan yang bisa memakan waktu hingga 5 jam lamanya.
Setelah sekian jam ia lewatkan, tepat pukul 01.35 Elvano pun terlelap, namun tidur nya sangat singkat, pukul 4 subuh Vano sudah terjaga kembali.
Ntah karna terbawa perasaan atau semacamnya, Elvano bahkan terbawa kedalam mimpi. Ia mimpi tentang keluarganya, Elvano samar-samar masih dapat mengingat wajah Ayahnya karna ia memang pernah bertemu dengan Ayahnya beberapa kali pada saat mengikuti kompetisi pendidikan yang diselenggarakan oleh Astra Investama Group beberapa waktu yang lalu, dimana waktu itu ia mengenal laki-laki tsb hanya sebagai pemimpin Astra Investama Group.
Elvano terbangun juga disebabkan oleh mimpinya sendiri, yang ia sendiri tidak dapat mengingatnya ketika sudah bangun dari tidurnya. Ia hanya mengingat baru aja ia bermimpi tentang keluarganya, disana ada Ayah, Ibu beserta Kakeknya.
Elvano kemudian keluar dari kamarnya menuju dapur untuk mengambil minum. Disana ternyata Ibu Anita juga sudah bangun, wanita paruh baya itu sedang menyiapkan makan pagi.
"Bu, pagi sekali Ibu sudah bangun?" Elvano menyapa Ibunya sambil melemparkan pertanyaan.
"Eh, Vano.. Iya, Ibu sedang menyiapkan makan pagi. Kamu sendiri kenapa sudah bangun?"
Sebenarnya Ibu Anita juga tidurnya tidak begitu nyenyak tadi malam.
"Aku mau mengambil minum Bu.. Lagian terbangun jam segini sulit untuk tidur kembali."
"Biar aku bantu Ibu masak ya !" Lanjut Elvano setelah meneguk segelas air minum yang ada ditangannya.
"Ah, tidak perlu Vano. Ibu bisa melakukan semuanya kok. Ujar Ibu Anita sambil tersenyum.
Sebentar lagi kamu sudah akan mendapatkan kembali gelar Tuan Muda mu, mana mungkin. aku masih bisa membiarkanmu membantuku Vano.
"Tidak apa-apa kok Bu, Lagian Vano juga jarang-jarang kan bisa bantu Ibu. Katakan pada Vano, apa yang bisa Vano bantu?" Elvano mulai memasang wajah manjanya.
Ah Elvano Setiono, bagaimana Ibu bisa tidak merasa tidak rela jika melihat wajahmu yang menggemaskan seperti ini.
Melihat Ibunya hanya terdiam sambil menatap nya dengan tatapan penuh arti Elvano dengan sigap mengambil pisau dan bawang yang sedang dipegang oleh Ibunya.
"Eh..
Ibu Anita tersenyum melihat tingkah Elvano.
Ia sedikit lega melihat Elvano yang sudah kembali seperti biasa. Mengingat kejadian semalam membuat Ibu Anita cukup bersyukur Elvano masih bisa move on dengan cepat.
Pada akhirnya ia pun membiarkan Elvano membantu nya memasak pagi itu.
Setelah semua makanan tersaji diatas meja, keduanya kemudian memilih mandi pagi untuk membersihkan diri mereka dari aroma makanan yang menempel pada pakaian juga tubuh mereka berdua.
Jam yang tergantung pada dinding ruang tamu saat ini terlah menunjukkan pukul 7 pagi. Elvano dan Ibu Anita memutuskan untuk makan pagi. Mereka memang sudah terbiasa sarapan dengan makanan yang agak berat.
"Vano, kita jadi kan ke rumah orangtuamu?" Tanya Ibu Anita.
"Iya, jadi Bu. Jam berapa kita akan berangkat?
"Setelah makan bersiap-siaplah. Kita akan kesana dengan menggunakan bis."
"Baik Bu !" Jawab Elvano singkat.
Setelah percakapan singkat yang mereka lakukan, suasana hening tercipta hingga kedua nya selesai bersantap.
Selesai makan, Ibu Anita yang mencuci semua perkakas, sedangkan Elvano kembali kedalam kamar untuk menyiapkan beberapa pakaian yang ia masukkan kedalam tas dengan ukuran yang cukup besar untuk dibawanya menuju kediaman Keluarganya yang asli.
Ketika semuanya siap, mereka berdua pun keluar dari rumah mereka yang ntah kapan akan kembali lagi kerumah ini atau selamanya tidak kembali lagi, atau hanya Ibu Anita yang akan kembali, ntahlah.
Yang jelas satu tujuan mereka, saat ini mereka berdua siap menuju ke kehidupan yang sebenarnya.
Elvano sudah menghubungi Niko saat sedang mengemas pakaian nya tadi, saat ini Niko juga sudah tiba didepan rumahnya. Ia sedikit kaget melihat bawaan Elvano dan Ibu Anita yang lumayan banyak itu. Elvano memang belum memberitahukan pada Niko mereka akan pergi kemana. Lagian kan tidak mungkin juga menjelaskan semua di telpon.
"Wuiiiiiiiiihhh.. Bawaannya banyak bener bro... Mau pindah rumah No?" Tanya Niko asal.
"Iya, Vano memang mau pindah rumah." Ibu Anita yang menjawab setelah mengunci pintu rumah.
"Ah yang bener Bu? Mau pindah kemana?" Niko terlihat kaget mendengar jawaban ini Anita, ia tau Ibu Anita tidak mungkin membohongi nya, namun ia hanya ingin mendengar penjelasannya saja.
"Vano mau pindah kerumah orangtua kandungnya." Jawab Ibu Anita singkat padat dan jelas dan cukup membuat Niko luar biasa kaget.
'Tunggu ! Orangtua kandung?'
"Mak-maksud Ibu?" Raut wajah Niko penuh rasa penasaran.
"Bantuin bawakan semua ini dulu, nanti aku jelasin semuanya dimobil." Elvano yang mengambil alih menjawab pertanyaan Niko.
Niko segera bergegas membantu Elvano membawakan beberapa tas yang terisi penuh kedalam mobil.
Berat banget, sepertinya Ibu Anita sungguh-sungguh dengan ucapannya.
Gumam Niko dalam hati.
Setelah selesai memasukkan semua barang bawaan Elvano dan Ibu Anita kedalam mobil, dan mereka semua juga sudah didalam mobil, Niko pun melajukan kendaraannya kearah terminal yang menjadi tempat tujuan kedua orang yang menjadi penumpang pertamanya pagi ini.
"Vano, sekarang ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?" Niko sudah sangat penasaran.
"Ceritanya panjang Nik. Jadi begini....
Elvano pun menceritakan semuanya pada Niko tentang jati dirinya dan juga tentang masa kecil nya yang ia tau dari Ibu Anita.
Niko terlihat menyimak dengan seksama, sesekali ia memperlihatkan ekspresinya yang tidak percaya.
"Oh.. Jadi begitu.. Ternyata kamu adalah seorang Tuan Muda? Wah No, aku sungguh tidak menyangka kisah hidupmu sedramatis ini." Ujar Niko dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan apa artinya.
"Iya Nik, aku juga tidak menyangka, apalagi kamu."
"Jadi setelah ini kita akan jarang bertemu dong No?" Wajah Niko berubah sedih.
Elvano hanya terdiam sambil menundukkan wajahnya. Ia bahkan belum yakin apa dirinya diterima oleh orangtuanya atau tidak.
Tidak terasa mereka pun sudah tiba ditempat tujuan mereka. Terlihat beberapa bis berjejer rapi dengan tujuan yang berbeda-beda.
Ibu dan Elvano segera turun dari angkutan umum milik Niko dan mencari bis yang menuju ke tempat tujuan mereka selanjutnya, sebuah kota yang cukup besar, kota di mana keluarga Setiono tinggal. Setelah menemukan bis yang mereka cari Niko turut membantu menurunkan barang-barang bawaan mereka yang masih didalam angkotnya dan memasukkannya kedalam bis pilihan mereka.
Acara perpisahan dadakan pun terjadi penuh haru. Niko hampir meneteskan air matanya seperti hendak melepaskan kekasih hatinya untuk pergi jauh.
Ketika supir bis memberikan instruksi akan segera melajukan bis nya, Elvano dan Ibunya segera masuk kedalam bis.
Niko masih mematung di tempat sambil melambaikan tangannya kearah bis yang sedang berjalan pelan. Dari dalam bis Ibu dan Elvano juga ikut membalas lambaian tangan Niko.
Mengingat perjalanan yang begitu jauh, Elvano dan Ibu Anita mencoba memejamkan matanya ketika mobil sudah berjalan kira-kira 1 jam lamanya. Mungkin karena bangun terlalu awal dan tidur yang terlalu singkat mereka pun tertidur pulas selama perjalanan.