
Sementara Ibu Anita membuat jus di dapur, Cheril pun duduk menyendiri di ruang tengah.
Sesekali ia melirik sekeliling rumah yang cukup besar itu, tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah foto yang tergantung didinding rumah tersebit. Cheril pun berdiri menghampiri foto itu untuk melihatnya dari dekat.
Eh, ini foto Elvano waktu masih kecil ya. Lucu sekali. Ternyata dari kecil Elvano memang sudah ganteng.
Ketika Cheril masih memperhatikan foto itu secara seksama, tiba-tiba Elvano sudah muncul dibelakangnya.
"Kamu sedang liatin apa?" Tanya Elvano yang membuat Cheril sedikit kaget karna ia tidak menyadari kehadiran laki-laki itu sebelumnya.
"Eh, ini aku lagi liatin foto. Ini kamu ya?"
"Iya, itu aku waktu masih kecil.. Lucu kan?"
"He em." Cheril menganggukkan kepalanya sambil menatap Elvano.
"Kalau yang ini Ayah kamu?" Cheril menunjuk laki-laki yang ada disampingnya.
Foto tersebut memang bertiga, satunya lagi adalah Ibu Anita, jadi Cheril menebak itu pasti Ayahnya.
"Iya, itu Ayahku, dan dia sudah lama meninggal." Jawab Elvano tertunduk sedih.
"Eh, maafkan aku, aku tidak bermaksud membuat mu sedih." Ucap Cheril meminta maaf, ia merasa tidak enak pada Elvano karna sudah mengingatkan nya pada Ayahnya.
"Sedang apa di sana?" Tanya Ibu Anita sambil memegang 2 gelas jus Alpukat dan meletakkannya diatas meja.
"Eh, Ibu, Ng-nggak, Cheril sedang melihat foto ini." Jawab Cheril sambil menunjuk ke arah foto yang tergantung dihadapannya.
Kemudian ia dan Elvano melangkah menuju ke arah Ibu Anita.
Mereka kemudian merebahkan tubuh mereka di atas sofa tamu bersamaan.
Cheril memilih duduk disamping Ibu Anita, sedangkan Elvano duduk pada sofa satu dudukan didekat Cheril.
"Diminum nak jus nya !" Kata Ibu Anita sambil mengambil jus yang ada dimeja dan memberikannya pada Cheril
"Eh, iya Bu. ! Makasih ya Bu sudah bikin jus buat Cheril." Cheril mengucapkan Terimakasih pada ibu Anita sambil tersenyum. Sedangkan Ibu Anita hanya mengangguk sambil tersenyum juga.
Cheril dan Ibu Elvano pun berbicara banyak. Mereka membahas berbagai macam hal, dari hal yang mereka lakukan dikesehariannya, cerita tentang Elvano waktu kecil hingga makanan kesukaannya.
Cheril pun dibikin tertawa oleh Ibu Anita ketika ia memberitahukan laki-laki yang sangat tampan itu ternyata adalah penggemar jengkol.
Cheril sama sekali tidak menyangka, seorang Elvano yang begitu kece ternyata makanan favoritnya adalah semur jengkol.
Sedangkan Elvano sama sekali tidak berkomentar apapun, ia hanya sibuk menekan remot tv yang ada ditangannya memindah Chanel yang ia tonton berulang kali. ia sengaja membiarkan Cheril mengobrol banyak dengan Ibunya. Setidaknya ia juga sangat ingin Cheril bisa mengetahui banyak hal tentang dirinya dari Ibunya. Jadi Elvano memilih menyibukkan dirinya dengan layar tv yang ada dihadapannya.
Tanpa terasa waktu pun sudah berlalu dengan sangat cepat, tentu saja selain Ibu Anita, Cheril juga merasa sangat senang, ia merasa sangat nyaman berada ditengah-tengah keluarga yang penuh kehangatan itu, yang tidak ia dapatkan dari keluarganya sendiri.
Waktu itu sudah menunjukkan pukul 4 sore, Cheril pun berpikir sudah saatnya untuk ia harus pamit.
"Bu, sepertinya Cheril harus pamit.." kata Cheril sembari melirik jam tangannya.
"Eh, kamu ga makan dulu? Dimeja masih ada beberapa macam menu yang Ibu masak siang tadi sebelum kamu datang."
"Tidak usah Bu, Cheril belum lapar kok." Jawab Cheril singkat.
Tentu saja Cheril berbohong, ia memang sudah sedikit kelaparan, namun ia juga tidak mungkin mengatakannya begitu saja kan?
"Yasudah kalo begitu, kamu hati-hati ya !"
Elvano yang masih duduk menikmati film yang ia tonton juga segera beranjak.
"Eh, tidak usah, aku bisa pulang sendiri kok !" Jawab Cheril menganggapi Elvano.
"Nggak. Aku yang antar kamu, aku tidak akan membiarkan kamu pulang sendirian dengan kendaraan umum." Jawab elvano tegas membuat Ibu Anita menatap putranya itu lekat.
Ternyata kamu sudah dewasa nak.
Ibu Anita berkata dalam hatinya. Ada sedikit perasaan bangga juga karna Elvano terlihat sangat bertanggungjawab.
Sedangkan Cheril sudah tidak menjawab apa-apa lagi, karna ia juga sudah tau, apabila laki-laki yang ada dihadapannya itu sudah berucap, maka tidak akan bisa diganggu gugat lagi.
Cheril dan Elvano pun berjalan berdampingan menuju pintu keluar dengan Ibu Anita mengikuti mereka dari belakang.
"Bu, Cheril pamit dulu ya !"Ucap Cheril setelah berada didepan pintu
"Iya nak, kamu hati-hati ya !" Jawab Ibu Anita sambi memegang bahu Cheril.
Lalu ia kembali melirik ke arah Elvano,
"Jaga Cheril baik-baik ya Vano, jangan menjahili anak orang !" Tambah Ibu Anita membuat Elvano langsung melemparkan pandangan nya ke arah Ibunya.
"Memangnya Ibu pernah melihat aku mempermainkan anak orang?" Elvano melihat Ibunya dengan tatapan tidak terima.
Bener Bu, Elvano memang suka mengerjai Cheril kok, marahin dia Bu. Marahin..
Tentu saja Cheril hanya berani berkata-kata didalam hatinya.
"Iya iya, anak Ibu memang yang paling baik deh.. "Ucap Ibu Anita yang akhirnya memilih mengalah saja daripada jadi panjang pikirnya.
"Yasudah, sana kalian berdua segera jalan !Hari sudah akan gelap." Tambah Ibu Anita meminta mereka untuk segera pergi.
"Baik Bu ! Bye.."
Cheril kemudian melambaikan tangannya sambil berjalan menjauhi Ibu Anita yang masih berdiri didepan pintu yang ikut membalas melambaikan tangan.
Sedangkan Elvano sudah berjalan lebih dulu dari Cheril, ia sedang menunggu taksi yang sudah ia pesan melalui telpon.
Tidak berapa lama kemudian taksi pun tiba didepan rumah Elvano.
Cheril dan Elvano bergegas masuk kedalam taksi. Dan mereka berdua kemudian sekali lagi melambaikan tangan mereka ke arah Ibu Anita yang masih berdiri didepan pintu rumahnya. Ia memang menunggu Cheril dan Elvano disana hingga mereka benar-benar berlalu baru ia masuk ke dalam rumah.
Sebenarnya Ibu Anita masih tidak begitu rela melepaskan kepergian Cheril, tapi apalah daya, karna waktu pun sudah terlalu sore untuk menahan Cheril. Ia juga tidak ingin Cheril mendapat masalah jika pulang terlalu larut. Jadi mau tidak mau ia pun harus merelakan Cheril untuk pulang.
Sedangkan didalam taksi, Cheril duduk berdampingan dengan Elvano dikursi bagian belakang.
"Cheril, apa kamu merasa senang?" Elvano memulai pembicaraan lebih dulu.
"Eh, i-iya.. Aku senang banget bisa bercerita banyak hal dengan Ibu ! Jawab Cheril sambil tersenyum
"Jika kamu merasa nyaman kamu boleh kok main ke rumah aku kapan saja kamu mau."
"Eh, i-iya." Cheril Menjawab singkat sambil tersenyum.
Tidak tau kenapa ketika duduk sedekat itu dengan Elvano membuat Cheril mulai merasa ada sesuatu yang mengganjal dihatinya, tapi ia tidak mengerti rasa apa itu. Ia seperti sedikit gugup, tapi ada rasa bahagianya juga dan semua itu bercampur aduk didalam hati, membuat Cheril sedikit kikuk dengan suasana demikian.
Tidak lama kemudian taksi yang mereka tumpangi pun berhenti..
'Tunggu ! Ini dimana?
Cheril sedikit kaget karna jelas tempat itu bukanlah rumah Cheril. Lagian ia juga baru ngeh belum memberitahukan kepada Elvano maupun supir taksi alamat rumah nya. Elvano kan memang belum tau alamat rumah Cheril.