Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Bertemu dengan calon suami Valen


Tepat pada pukul 3 siang Cheril terjaga dari tidurnya. Elvano sudah selesai berkemas saat Cheril masih tidur tadi. Saat melihat Elvano duduk di dekat sofa yang berada di dalam kamar villa sambil menonton acara televisi, Cheril menyapa suaminya itu.


"Jeong Shu, kamu sudah kembali?"


"Eh, kamu sudah bangun Sayang?"


"Iya, maaf, aku ketiduran tadi. Jam berapa sekarang? Kita jadi kembali ke kota kan?"


Melihat Cheril yang hendak beranjak Elvano, berlarian kecil ke arah tempat tidur untuk membantu Cheril berangkat dari posisinya yang sedang berbaring.


"Iya Sayang, sebentar lagi kita kembali ke kota. Kita langsung pulang ke rumah nanti tidak mampir ke kastil lagi,"


"Kalau begitu aku mau bersiap-siap sekarang.. Mau mengemas barang-barang kita yang masih berantakan,"


"Tidak perlu Sayang, Aku sudah membereskan semuanya,"


"Ehm?"


"Iya ... Saat kamu tidur tadi aku mengemas semuanya,"


"Semuanya? Termasuk beberapa oleh-oleh untuk Ayah dan Ibu?"


"Iya! Kamu hanya cukup membersihkan diri saja. Habis itu kita pulang," ucap Elvano sambil tersenyum.


"Makasih ya, Sayang!


Ucap Cheril juga sambil tersenyum. Dan Elvano menanggapi itu dengan anggukan kecil.


Tadi pagi saat di perkebunan kopi, Pak Manto memberikan sedikit oleh-oleh pada Cheril dan Elvano untuk dibawa pulang ke kota. Selain kopi dari Pak Manto, sebelum kembali ke Villa tadi, Cheril dan Elvano juga menyempatkan diri mampir ke warung yang menjual makanan khas daerah itu untuk membeli sedikit makanan khas daerah itu untuk dibawa pulang ke kota.


Selain itu, Pak Jono dan beberapa warga lain juga mengantarkan beberapa oleh-oleh tambahan lainnya buat mereka.


Saat Cheril masih tidur tadi, Elvano memilih membereskan semua barang-barang itu yang masih berceceran di dalam kamar dan di luar kamar supaya ketika Cheril bangun nanti mereka sudah bisa langsung kembali ke kota.


10 menit kemudian setelah Cheril selesai membersihkan dirinya, mereka berdua segera bergegas keluar dari villa dan menuju ke arah mobil. Usai berpamitan pada Pak Jono, Elvano dan Cheril pun kembali ke kota.


Selama di dalam perjalanan tak banyak yang mereka bicarakan. Selain hal tentang Valen yang ingin memperkenalkan calon suaminya, Elvano sudah tak membahas apapun lagi. Hanya ada suara musik yang menemani perjalanan mereka.


Seperti halnya mereka datang 2 hari yang lalu, tepat 2 jam kemudian pasangan baru memasuki kawasan kota X. Masih membutuhkan kurang lebih 15 menit lagi bagi mereka untuk mencapai kediaman keluarga besar mereka.


Tepat pukul 17.30 mereka pun tiba di kediaman keluarga mereka.


Saat Elvano mengetuk pintu, mereka disambut oleh Ibu Winda yang berebut membukakan pintu dengan Pak Didi. Sebab ia sudah tau yang datang pasti adalah Cheril dan Elvano.


"Eh, kalian sudah kembali? Ibu kangen sekali pada kalian berdua,"


Usai melalukan cupika cupiki denagn Elvano dan Cheril secara bergantian di depan pintu, mereka pun memasuki rumah mewah itu. Tak lupa salah satu pengawal yang membawakan barang-barang bawaan pasangan ini memasuki rumah.


"Apa yang kalian bawa? Sepertinya sangat banyak?"


"Hanya beberapa oleh-oleh saja Bu," sahut Cheril.


"Oh, begitu ya? Eh Cheril, kamu sepertinya kurusan, apa kamu sakit Sayang?" ucap Ibu Winda saat menuntun Cheril memasuki rumah.


Raut wajah Ibu Winda memang terlihat sedikit khawatir.


"Iya Sayang, kamu kurusan. Apa tidak makan dengan benar?"


Kali ini Ibu Winda melemparkan pandangannya ke arah Elvano. Elvano juga ikut menatap Ibu Winda dan Cheril secara bergantian. Laki-laki itu yang tidak menyadari istrinya memang kurusan selama ini mencoba memperhatikan istrinya lebih seksama untuk menyelidiki apa yang dikatakan oleh ibunya benar atau tidak.


"Vano, kamu ini apa tidak memberi makan pada istrimu ini dengan baik?" Lirih Ibu Winda


"Ehm?"


"Eh, tidak seperti itu kok Bu, Aku juga tidak merasa kurusan, mungkin Ibu salah lihat,"


Cheril segera mengambil alih untuk menjawab tuduhan Ibu Winda yang memojokkan Elvano.


"Salah lihat bagaimana? Kamu memang kurusan Sayang," sahut Ibu Winda cepat.


"Maafkan Vano Bu, selama 1 bulan ini Vano memang tidak begitu memperhatikan porsi makan Cheril. Sepertinya yang Ibu katakan memang benar, aku juga baru menyadari Cheril memang agak kurusan," sambung Elvano.


"Tuh iya kan? Sudah Ibu duga. Kamu ini memang layak dimarahi Vano. Setelah ini kalian tak boelh pergi kemanapun lagi. Tinggallah di sini!"


Hal ini pun dijadikan alasan oleh Ibu Winda supaya dapat menahan anak dan menantunya itu agar tetap tinggal di rumah. Ibu Winda sungguh pintar dalam bersilat lidah.


Akhir-akhir ini nafsu makan Cheril memang sedikit menurun, lebih-lebih saat mengetahui dirinya hamil. Nafsu makan Cheril turun drastis sejak itu. Karena hal inilah Cheril terlihat sedikit lebih kurus dari sebelumnya. Elvano yang baru menyadari hal ini setelah Ibu Winda mengatakannya merasa sedikit khawatir. Elvano terus menatap ke arah istrinya itu.


Posisi mereka saat itu masih berdiri di depan ruang tamu. Mereka menghentikan langkah mereka saat berbicara tadi.


Dan mengenai kabar kehamilan Cheril, pasangan ini memang berencana baru memberitahukan pada keluarga besar mereka minggu depan. Tepat pada saat Ibu Winda berulang tahun. Mereka ingin menjadikan hal itu sebagai hadiah terindah untuk Ibu Winda.


"Oh iya, ayo kita segera ke dalam. Yang lainnya sudah menunggu kita di meja makan,"


Ibu Winda yang baru menyadari perjamuan makan sedang berlangsung pun mengajak Cheril dan Elvano menuju ke meja makan.


"Apa calon suami Valen sudah datang Bu?" tanya Elvano.


"Iya, sudah. Dia ada di meja makan saat ini. Ayo kita ke sana!


Ketiga orang ini kemudian bergegas menuju ke meja makan. mereka berjalan saling beriringan. Awalnya Ibu Winda ingin menuntun Cheril, merangkul menantunya itu menuju meja makan, namun Elvano juga berebut ingin merangkul istrinya. Ibu Winda terpaksa harus mengalah pada putranya itiu.


Ibu Winda memilih berjalan di depan, sementara Cheril dan Elvano berada di belakang Ibu Winda.


Tiba di meja makan keluarga besar mereka memang sudah berkumpul di sana. Ada Ayah William, Flo dan Valen yang langsung menyapa Cheril serta Elvano, terakhir tatapan pasangan ini tertuju pada sosok asing yang ada di sana. Cheril hanya menatap pria asing itu sesaat lalu mengganggukan kepala sambil tersenyum tipis. Lain halnya dengan Elvano, Dia malah menatap lekat pria itu.


Kedua pria gagah ini malah saling beradu tatap untuk beberapa saat.


"Apakabar Jeong Shu?" sapa laki-laki itu tiba-tiba.


Tak hanya Cheril yang tersentak mendenagr nama itu disebut, semua anggota keluarga mereka yang ada di meja makan malah kebingungan mendengar calon suami Valen menyapa Elvano dengan nama asing itu.


"Siapa Jeong Shu? Dia Kakakku, Vano," sambung Valen.


Elvano dan Cheril yang masih berdiri kini memilih duduk lebih dulu di salah satu kursi kosong yang ada di sana. Sebelum dirinya sendiri duduk, Elvano lebih dulu menarik kursi untuk Cheril. Dan dengan perlahan Elvano mendudukkan istrinya tercinta di atas kursi. Baru setelah itu ia ikut merebahkan diri pada kursi yang ada di samping Cheril. Posisi Elvano saat itu tepat berhadapan dengan calon suami pilihan Valen. Sosok yang ia kenal dengan sangat baik.


Kedua bola mata mereka kini kembali bertemu. Keduanya saling bertatapan dengan tatapan yang sangat sulit untuk diartikan.