
4 hari yang lalu dimana sebuah tragedi tragis terjadi di kastil Red Rose yang menewaskan ratusan orang karena terlibat di dalam pertikaian, Dirly memang datang terlambat. Tak disangka, Dirly terlalu polos dalam hal ini. Sejauh ini, Dirly masih berpikir rencananya akan berjalan lancar. Usai melakukan penyekapan, dia akan menghubungi Elvano dan menukar Valen dengan peta tersebut. Dia tak pernah menyangka nomor ponsel Elvano malah tidak bisa dihubungi seperti sekarang ini.
Dirly masih dapat mengingat dengan baik kejadian pada hari itu. Tepatnya hari sabtu dalam minggu pertama di bulan yang ke 3 tahun tersebut. Dirly mencoba menghubungi Elvano berulang kali. Namun semuanya sia-sia belaka. Sejak keluar dari ruangan penyekapan Niko dan Valen ia mulai menghubungi Elvano, hingga hari menjadi gelap. Dan Dirly pun merasa gusar. Dia tak bisa hanya berdiam diri dengan benda mati berbentuk persegi panjang itu saja. Dirly berpikir perlu melakukan hal lebih. Dan satu-satunya cara adalah menghampiri tempat persembunyian Elvano, yaitu Kastil Red Rose.
Tepat pukul 9 malam Dirly bersama beberapa anggota Blood team tiba di kastil itu. Dan mata Dirly membulat seketika saat melihat banyaknya tubuh-tubuh yang tergeletak di halaman kastil. Tubuh-tubuh itu rata-rata sudah tak bernyawa. Adapun beberapa yang masih bernafas, jika tak kunjung mendapat pertolongan, sebentar lagi juga akan ikut menghembuskan nafas terakhir. Ya, mereka sekarat.
Kemudian Dirly melangkah masuk ke dalam kastil yang pintunya sudah hancur berkeping-keping. Beberapa orang yang datang bersamanya mengikuti langkah Dirly dari belakang.
Dan jelas, saat mereka tiba di dalam, tempat itu sudah porak poranda tak beraturan.
Sama halnya dengan yang tadi, hanya saja tak sebanyak yang di luar, di dalam kastil juga terdapat puluhan tubuh tak bernyawa yang tampak masih lemas. Artinya mereka baru saja meninggal. Bayangan Dirly sudah pasti buram seketika. Dia jelas tau apa yang terjadi di sana. Pasti mereka semua terlibat di dalam pertikaian hanya untuk memperebutkan benda penting yang ada di dalam kastil itu. Namun, Dirly juga tak menyerah begitu saja. Dia masih berusaha meyakinkan dirinya, mungkin saja benda itu masih ada di dalam tempat ini. Dirly pun memutuskan untuk membagi beberapa team dari orang-orang yang ada bersamanya. Jumlah mereka ada belasan, dan Dirly membentuk 6 team saat itu. Mereka memiliki tugas untuk memasuki dan memeriksa setiap ruangan dengan tujuan mencari peta tersebut.
Satu per satu ruangan yang ada dimasuki oleh mereka. Berharap masih ada secercah harapan bagi mereka.
Setelah kesekian menit kemudian, mereka pun berkumpul kembali di satu titik untuk membahas apa saja yang mereka temukan. Sekaligus untuk memastikan mereka menemukan sesuatu yang mereka cari.
"Apa kalian menemukan sesuatu?" tanya Dirly.
Mereka semua saling melempar pandangan sejenak sebelum memberi jawaban. Dan lalu mereka menjawab serentak.
"Tidak Tuan!"
Terlihat wajah pitih Dirly tampak memerah seketika. Dia marah. Ya, tentu saja laki-laki itu marah. Dia sudah berusaha melakukan banyak hal untuk ini. Tapi hasilnya malah seperti ini.
PRANG! BRAK! BUG! SRAG!
Berbagai bebunyian menyatu dalam satu kesatuan pada saat Dirly mulai melampiaskan kemarahannya pada benda-benda yang ada di sekitarnya. Keadaan kastil yang sudah berantakan, tentu saja bertambah berantakan akibat ulahnya.
Dirly tampak sangat gusar. Beberapa kali ia menjambak rambutnya kuat. Dia juga mengusap wajahnya kasar. Lalu juga berteriak seperti orang kesetanan. Meneriakan kata-kata yang sangat kasar dan tak pantas untuk diucapkan. Dia kalap di dalam emosinya sendiri.
Lalu apa gunanya Valen dan Niko yang ia sekap sekarang? Bukankah hanya akan merugikan dirinya saja karena setidaknya ia masih harus memberi makan kepada kedua orang ini?
Tidak! Dirly memang kalap, tapi otaknya masih bekerja.
Dirly melangkah menuju ke arah ruang kerja yang ia masuki tadi. Saat memasuki ruang itu tadi, dia dapat melihat adanya sebuah layar yang menampilkan titik-titik CCTV yang ada di kastil itu. Dan sekarang Dirly memutuskan untuk kembali ke sana. Ada yang harus ia lakukan dengan itu.
Tiba di sana Dirly membuka kembali CCTV di kastil itu. Setidaknya ia ingin memastikan siapa yang telah membawa kabur peta tersebut. Dan dia juga ingin memastikan, kedua orang yang ia sekap masih ada gunanya.
Detik-detik pertama Dirly dapat melihat beberapa kelompok mafia mendatangi tempat itu. Ya, tak hanya satu kelompok saja, tapi ada sekitar 5 kelompok mafia dari berbagai team yang mendatangi tempat itu. Dirly dapat mengenali dengan baik lambang-lambang yang melekat pada bagian-bagian tertentu dari tubuh mereka saat ia memperbesar gambar CCTV tersebut. Salah satu yang paling terakhir mendatangi tempat itu adalah kelompok naga putih.
Kelompok tersebut lengkap dengan senjata. Dan Dirly bisa memastikan dengan jelas, orang itulah yang kemudian mengacungkan pistol tepat di kepala seorang wanita paruh baya yang tidak ia kenal. Ya, itu adalah Bibi Nois. Dan Cheril ada di belakangnya.
Dan pada saat yang bersamaan layar yang menayangkan siaran tersebut hilang seketika.
Penyebabnya adalah karena CCTV di titik tersebut ditembak oleh salah satu dari mereka.
"AARGH! Shit! Shit! Shit! Brengs*k!" umpatnya kesal
PRANG! BUG! BRAK!
suara bebunyian tadi kembali terdengar. Kali ini Dirly mengacak peralatan yang ada di atas meja ruang kerja itu. Salah satu benda yang tak luput dari amukannya adalah sebuah layar di depannya yang sedang menayangkan adegan CCTV tadi. Yup, kini layar itu telah hancur berkeping-keping.
Seperti tadi, laki-laki yang bernama Dirly itu kembali menjambak kuat rambutnya. Ia juga mengusap wajahnya kasar. Sesekali juga berteriak dengan nada tinggi. Dia marah, sangat marah. Wajah putihnya kini memerah padam seperti seseorang yang meminum alkohol terlalu banyak. Perangainya buang buruk keluar seketika.
Apakah Dirly sudah menyerah sekarang? Tidak! Ya, dia tidak menyerah. Dirly bukan orang yang mudah menyerah. Itulah kelebihannya.
Dirly kembali melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut. Langkahnya langsung tertuju keluar halaman. Ya, Dirly ingin melakukan sesuatu di luar sana. Di halaman kastil itu.
"Kalian semua, periksa mereka semua! jika ada yang masih bernyawa, bawa mereka padaku! Sekarang!" teriak Dirly dengan nada tinggi.
Sontak belasan anggota Blood team segera berpencar di halaman tersebut. Mencari mereka yang masih hidup. Dan mereka menemukan ada belasan banyaknya yang masih bernyawa saat itu. Namun hanya ada satu dari mereka yang masih dapat diajak berkomunikasi. Yang lainnya sudah pingsan tak sadarkan diri.
Salah satu anak buahnya membawa orang tersebut mendekat di kakinya. Dan Dirly sedikit tersentak saat melihat wajah itu. Walaupun wajah itu sedikit babak belur, tapi dia masih bisa melihat dengan jelas, sepertinya salah satu dia adalah anggota kelompok Naga Putih yang melakukan penyergapan terhadap Cheril dan Bibi Nois tadi. Dia sedikit heran karena ini. Dirly mulai merasa ada yang janggal dengan ini. Jika memang orang-orang Naga putih yang berhasil membawa kabur peta itu, tak mungkin kan sekarang salah satu dari mereka yang Dirly kenal sebagai kepala team malah tergeletak seperti saat ini? Dirly pun semakin penasaran apa yang terjadi sebenarnya?
Mungkinkah tiba-tiba Elvano muncul dan menolong mereka? Ya, itulah yang ada dipikiran Dirly saat itu.
Sesaat kemudian, Dirly baru saja hendak melemparkan pertanyaan pada orang tersebut, tapi tiba-tiba saja orang itu meninggal begitu saja. Ya, orang itu telah ditembak dengan jarum beracun tepat dilehernya. Dan Dirly berusaha mengejar sang pelaku. Namun hasilnya nihil. Orang itu terlalu cepat menghilangkan diri.
Tentu saja Dirly semakin kesal. Satu-satunya kunci dari semua kebenaran yang akan ia dapatkan kini juga ikut hilang sekarang. Marah? Tentu saja. Tapi kali ini Dirly sudah tidak tahu lagi harus melakukan apalagi.
"Siapa sebenarnya yang ada di balik semua ini? Apa sungguh adalah Elvano?"
Sepertinya Dirly meragukan ini. Tapi juga tidak berani berpikir tidak. Di dalam kebingungan yang membuat Dirly sakit kepala, dia pun memutuskan pergi dari tempat itu kembali ke markas Blood team.
Satu hal yang pasti, Dirly masih menahan Valen dan Niko hingga hari ini karena berpikir, mungkin saja benda yang dia cari itu masih ada pada Elvano.
Setelah dia tahu ternyata Elvano dan ketiga pengawal khususnya itu sudah terjebak di dalam formasi yang dibuat oleh Blood team sejak Sabtu siang, barulah ia dapat mengambil kesimpulan bahwa benda tersebut memang telah di bawa pergi oleh orang lain. Begitu pun dengan Cheril. Dia yakin orang itu juga membawa serta Cheril dari kastil itu karena dia tak melihat dari antara tubuh-tubuh yang tak bernyawa waktu itu ada tubuh Cheril di antaranya.
Setidaknya masih ada sebuah kabar baik, Cheril masih hidup. Sekalipun tidak tahu dimana keberadaannya. Dan Dirly, dia sengaja hanya menceritakan sedikit saja dari yang ia tahu pada Elvano. Ya, dia sengaja melakukan itu untuk membuat Elvano kalut, ketakutan, lemah. Setidaknya Dirly bisa merasa puas karena itu.