
Beberapa saat setelah mobil mewah yang ditumpangi Elvano melaju, mereka pun tiba di depan mall Z. Elvano terlihat melirik sana sini melalui jendela mobil, ia sedang mencari mobil angkutan umum milik Niko. Setelah menemukannya, Elvano meminta sopirnya menghentikan mobil tersebut.
"Pak, Berhenti di situ, di belakang mobil yang itu!" perintah Elvano sambil menunjuk ke arah mobil Niko yang di hadapan mereka.
Pak sopir pun menghentikan laju mobil mereka ketika mereka sudah berada tepat di belakang mobil yang ditunjuk Elvano.
Kemudian Elvano turun dari mobil setelah pintu mobil dibukakan oleh pak sopir dan melangkah ke arah mobil Niko.
Niko yang sedari tadi sedang memperhatikan mobil mewah yang berhenti tepat di belakang mobilnya dari spion kaget luar biasa, ternyata yang keluar dari mobil mewah itu adalah Elvano.
"Eh, itu ... Elvano?" Niko pun membalikkan badannya melirik ke arah Elvano yang sedang berjalan ke arahnya untuk meyakinkan dirinya bahwa itu memang Elvano.
Elvano sudah semakin mendekat, dan sekarang sudah tiba tepat di hadapan Niko.
"Hei, Bro ... Malah bengong ...," sapa Elvano sambil menepuk pundak Niko.
Hahaha
"Bagaimana aku tidak pangling coba, penampilanmu ini sungguh menawan," ejek Niko yang juga menatap Elvano dari atas ke bawah berulang kali.
Dan sesekali ia melirik ke arah mobil mewah yang terparkir di belakang mobil miliknya. Terlihat sopir keluarga Elvano mengangguk ke arahnya, dan Niko pun membalas mengangguk ke arah sopir itu.
"Ah, kamu Nik. Bisa saja," tanggap Elvano yang sedikit salah tingkah.
"Oh iya, Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu. Kita bicara di sana saja ya," ajak Elvano sambil menunjuk sebuah cafe yang berada di luar Mall Z.
"Ehm? Mau bicara soal apa? Kenapa tidak di sini saja?" protes Niko.
"Tidak, Kita ke sana aja ya," pinta Elvano ngotot.
"Ehm, baiklah!" tanggap Niko akhirnya.
Kedua sahabat ini kemudian melangkah menuju ke arah cafe dengan gagah.
Sesampainya di sana, terlihat seorang wanita cantik ag merupakan pegawai cafe segera menghampiri mereka, dan menuntun mereka ke arah meja yang masih kosong. Kebetulan saat ini keadaan cafe lumayan padat.
Setelahnya pegawai itu juga memberikan daftar menu pada kedua orang itu.
Untuk sejenak, Niko dan Elvano terlihat sibuk memilih menu yang ingin mereka pesan.
Sesaat kemudian, Elvano sudah menemukan menu pilihannya, dia hanya memesan segelas minuman dingin dan kentang goreng mengingat dirinya memang baru saja selesai makan siang di rumah tadi.
"Jus alpukat dan kentang goreng Mbak," ucap Elvano. Dan langsung dicatat oleh pegawai cafe.
"Jadi kamu mau pesan apa Nik?" tanya Elvano setelah pegawai cafe itu selesai menulis menu yang ia pesan.
"Samain aja No, aku juga baru selesai makan tadi," tanggap Niko.
Setelah menulis pesanan Niko dan Elvano serta memastikan yang ditulisnya sudah benar, pegawai cafe pun berlalu menuju ke arah dapur untuk memberikan menu itu pada koki cafe.
"Oh iya, apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Niko penasaran.
Elvano kemudian memulai pembicaraannya. Wajahnya berubah menjadi sangat serius membuat Niko semakin penasaran.
"Nik, aku mau tanya, apa kamu pernah bertemu Cheril setelah acara pertunangan kemarin?" tanya Elvano.
"Eh ....
Jadi Vano masih memikirkan wanita itu ...
"Jawab saja yang jujur Nik, apa kamu pernah secara tidak sengaja bertemu dengan nya?"
Ehm, apa aku harus memberitahukan pada Elvano tentang kebenaran yang ada ....
Niko masih ragu harus menceritakan semuanya atau tidak.
"Kenapa Nik? Tidak perlu ragu, ceritakan saja semuanya. Aku tidak apa-apa kok. Aku hanya ingin tau saja," ujar Elvano meyakinkan Niko.
"Baiklah, aku akan menceritakan semuanya padamu!" tanggap Niko kemudian.
Niko menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan. Dan memulai menceritakan semuanya pada Elvano.
Ia memang sudah mendapatkan semua informasi tentang Cheril dari Erik, yang Erik dapatkan dari Tania yang merupakan dekat dari Cheril.
Dimana saat ini, Cheril sudah menikah dengan Jimmy. Namun pernikahan mereka sama sekali tidak bahagia. Cheril malah sering mendapatkan perlakuan tidak pantas dari Jimmy. Jimmy sering melampiaskan kemarahannya pada Cheril tanpa sebab yang pasti, Jimmy juga sering mempermalukan Cheril yang merupakan istrinya di depan muka umum karena menikahi nya demi harta. Memang tidak bisa dipungkiri memang itulah alasannya. Hanya lebih halus saja, alasannya adalah untuk menyelamatkan perusahaan milik ayahnya.
Ciiiiiih
Elvano merasa jijik mendengar apa yang dijelaskan oleh Niko. Awalnya ia merasa kasihan pada Cheril yang harus menanggung perlakukan kasar dari Jimmy, tapi setelah mendengar kata "Demi Harta" membuat semua belas kasihannya berubah menjadi kebencian.
Sayangnya Cheril tidak menceritakan tentang alasannya menikahi Jimmy pada siapapun. Ia menutupi itu semua demi menjaga nama baik keluarganya. Ia lebih rela menanggung malu walaupun dianggap wanita matre yang lebih melihat harta seseorang daripada semua orang menghujat keluarganya karena menjual anak mereka demi menyelamatkan perusahaan keluarga.
"Nik, aku mau meminta tolong padamu untuk mengatur pertemuan ku dengan Cheril. Apa kamu bisa membantuku?"
Eh, permintaan apa ini ... Kenapa masih ingin bertemu dengan gadis itu ...
Rasanya Niko ingin sekali berteriak pada Elvano yang seenak jidatnya berucap, Lagian Niko juga tidak begitu mengenal Cheril, dia sedikit kebingungan saat Elvano malah memintanya mempertemukan Cheril dengan dirinya.
Namun Niko juga tidak bisa mengatakan itu begitu saja, melihat wajah Elvano yang saat ini yang sudah seperti ingin memakan orang, sudah membuat Niko ketakutan apalagi harus meneriakinya.
"Memangnya kamu mau apalagi, kenapa ingin bertemu dengan perempuan itu lagi?" tanya Niko.
"Aku mau mengembalikan uang nya. Uang yang pernah ia berikan padaku untuk membantu Ibu Anita ketika dirawat di rumah sakit dulu," jelas Elvano.
"Oh ... Jadi dia yang membantu Ibu Anita waktu di rumah sakit waktu itu?"
"Iya Nik. Kamu bisa bantu aku kan?"
"Baiklah, jika hanya itu alasannya aku akan membantumu," ucap Niko setuju setelah mendengar alasan Elvano.
"Oh iya Nik, ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan padamu," sambung Elvano
Deg
Apa lagi ... Tolong jangan yang aneh-aneh ya, Tuan Muda.
"Ada apa lagi No?" Niko memberanikan diri bertanya.
"Kamu mau tidak jika aku tunjuk sebagai Asisten Manager pribadiku?" tawar Elvano yang membuat Niko melototkan matanya seketika.
Pada saat yang bersamaan pegawai cafe sudah membawakan pesanan mereka dan meletakkannya di atas meja.
Niko pun langsung meraih minuman dingin yang ada di depannya dan meneguknya hingga masih tersisa setengah gelas membuat pegawai yang masih berdiri di sana menatap nya heran.
Ini orang kehausan apa keseta*an?
Gumamnya dalam hati.
Lalu memilih berlalu meninggalkan meja Elvano dan Niko.