Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Kemesraan yang dimulai oleh Cheril


Setelah merasa puas menggoda istrinya yang kini sudah ia anggap sah, Elvano tiba-tiba beranjak dari tempat tidur dengan berbalut jubah handuk yang berada tidak jauh dari tempat tidur. Cheril sedikit kaget karena ternyata Elvano tidak melanjutkan aktivitas nya usai menghujani wajahnya dengan ciuman.


"Eh, kamu mau kemana?" tanya Cheril ketika melihat Elvano turun dari tempat tidur.


"Mau mandi ... Kenapa? Kamu mau ikut?" goda Elvano.


"TIDAK!" jawab Cheril setengah berteriak dengan wajahnya yang memerah.


Sepertinya seru juga jika aku mengajaknya mandi bersama ....


Gumam Elvano di dalam hati. Pikiran liar kembali menghampiri kepalanya.


Kenapa dia menatapku seperti itu ... Pasti dia sedang berpikiran yang tidak-tidak.


Cheril juga berkata-kata di dalam hati karena melihat Elvano menatapnya dengan tatapan jahil.


Hmmmm


"Heh, kemari!" perintah Elvano kemudian sambil menggerakkan jemari telunjuknya. Juga dengan senyuman sinis dari sudut bibirnya. Membuat Cheril semakin yakin, bahwa Elvano memang memiliki niat jahil.


"Eh ....


Benar kan yang aku pikirkan ... Ah, Cheril ... Lagian kenapa kamu menanyakan hal itu tadi ... Harusnya kamu membiarkan dia beranjak.


Cheril menyesali dirinya karena sudah menanyakan Elvano mau kemana waktu ia beranjak dari tempat tidur tadi.


"Heh! Kenapa masih diam saja? Mau aku gendong?" ujar Elvano lagi. Saat itu Cheril memang hanya berdiam diri di atas tempat tidur. Dan tentu saja segera beranjak. Karena Cheril tau Elvano tidak pernah bermain-main dengan ucapannya. Jika ia tidak beranjak, laki-laki itu akan sungguh-sungguh melakukan hal yang ia ucapkan.


"Eh ... i-iya ... Aku ke sana,"


Dengan sigap Cheril pun segera beranjak melangkah ke arah Elvano. Tak lupa ia juga membalut tubuhnya dengan selimut.


"Sayang, yang benar saja kamu mau mandi dengan selimut ini?" tanya Elvano dengan raut wajah bingung. Ia mengerutkan dahinya. Selain bingung, sebenarnya Elvano juga merasa sedikit lucu.


"Ng-nggak ....


"Terus kenapa kamu membalut tubuhmu dengan itu?"


Elvano masih berusaha mengucap pelan. Suasana hatinya saat itu memang sedang sangat baik.


"Ini, aku akan mengenakan pakaian ini," hehehe.


jawab Cheril cengengesan sambil memperlihatkan pakaian yang ia pegang.


"Yasudah, ganti pakaian itu sekarang!"


Ehm, yang benar saja ...


"Kenapa? Kamu masih malu dengan ku? Aku bahkan sudah mendapatkanmu seutuhnya," racau Elvano membuat wajah Cheril yang sudah merah bertambah merah.


Akhirnya dengan sangat terpaksa Cheril pun harus mengenakan pakaian yang sedang ia pegang di hadapan Elvano. Hanya saja ia tetap menutup tubuhnya dengan selimut sebelum pakaian itu sudah benar-benar menempel ditubuhnya.


Lalu setelah itu mereka berdua menuju ke dalam kamar mandi saling berdampingan. Dengan tangan Elvano yang melingkar di leher Cheril dan tangan Cheril yang dipaksa Elvano untuk melingkari pinggangnya.


Ketika berada di dalam kamar mandi Elvano menyalahkan air hangat untuk mengisi bathtub, dan setelahnya ia pun masuk ke dalam bathtub itu. Sementara Cheril hanya berani berdiri di kejauhan sambil menatap Elvano yang terlihat memejamkan matanya sejenak.


"Cheril, Kenapa kamu berdiri di situ? Ayo kemari!" perintah Elvano pelan ketika ia membukakan kembali matanya dan mendapati Cheril berdiri begitu jauh dari nya.


"Eh ... Ba-baiklah," jawab Cheril gugup.


"Apa yang kamu takutkan lagi? Sekarang aku sudah menganggap mu sebagai istriku yang sah," tanya Elvano sambil membelai kepala Cheril ketika Cheril sudah berjongkok mendekati dirinya.


Saat itu perasaan Cheril sangat senang. Ia juga merasa sangat terharu hingga matanya juga sudah berkaca-kaca.


Cheril memang tidak pernah menyangka, akan bersatu kembali dengan Elvano. Bahkan hanya untuk bermimpi saja dia tidak berani melakukannya.


Sesaat kemudian Elvano kembali melanjutkan pembicaraannya.


"Cheril, aku sungguh sangat mencintaimu .... Lebih dari apapun yang ada di dunia ini. Kamu tau? Saat aku hampir kehilangan mu untuk yang kedua kalinya, aku benar-benar merasa sangat putus asa. Mungkin jika kamu benar-benar pergi waktu itu, aku pun tau apa aku masih bisa hidup atau tidak,"


"Aku masih bisa mengingat dengan sangat jelas kejadian waktu itu. Dimana jiwamu sudah terlepas dari ragamu dan berpamitan padaku. Juga ketika dokter sudah mengangkat tangan,"


Elvano terdiam sejenak, ia sedikit terisak karena ia benar-benar bisa merasakan kembali momen yang sangat menyedihkan itu. Walau Cheril sedikit kaget melihat Elvano menangis di hadapannya, namun ia juga ikut masuk dalam suasana haru yang ditampilkan Elvano.


"Pada saat itu juga aku merasa ingin segera menyusul mu ... Aku tidak dapat hidup tanpa mu. Namun, entah kekuatan darimana yang tiba-tiba mendorong ku untuk memberi mu kekuatan. Dan benar saja, ketika aku melakukan hal itu, jantungmu kembali berdetak,"


Terdiam sejenak lagi, kali ini Elvano memutar wajahnya menghadap Cheril.


"Apa kamu tau Cheril? Pada saat itu, aku sudah sangat ingin berteriak kegirangan. Aku merasa sangat senang. Aku bahagia... Sangat bahagia... Aku mendapatkan kebahagiaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Pada saat itulah aku baru menyadari, ternyata cintaku padamu sungguh sangat besar. Lebih besar dari segalanya," tambah Elvano sambil menatap Cheril lekat. Ia sengaja membiarkan Cheril melihat wajahnya yang sudah basah dengan air mata saat itu.


Sedangkan Cheril juga sudah ikut meneteskan air matanya. Ia merasa semakin terharu dengan semua pengakuan Elvano. Cheril juga tidak menyangka, ternyata Elvano memiliki cinta yang sebesar ini padanya. Rasa bahagia juga menyelimuti hatinya saat itu. Kebahagiaan yang selama ini ia nantikan dalam penantian yang begitu panjang.


"Cheril, Terimakasih .... Terimakasih karena kamu masih mau bangun untukku. Aku sangat mencintaimu Cheril." ucap Elvano sekali lagi. Lalu mengangkat tangannya untuk mengusap air matanya, juga mengusap air mata Cheril. Pada saat yang bersamaan, tiba-tiba Cheril mengecup Elvano tepat di bibir Elvano. Membuat laki-laki itu merasa sangat kaget, tapi juga senang.


Lalu keduanya pun kembali bermesraan di dalam kamar mandi.


Terimakasih Vano ... Terimakasih karna kamu sudah mencintaiku sebesar ini. Sekali pun aku sudah pernah menyakitimu waktu itu ...


Taukah kamu ... Bahwa aku sangat menyesali hal itu.. Maafkan aku Vano ... Sama halnya dengan cintamu padaku, aku pun akan mencintaimu dengan segenap hatiku mulai hari ini ... Mulai detik ini ... Dan seterusnya ... Dan seterusnya ....


Demikianlah ini hati Cheril saat itu.


Walaupun Elvano tak dapat mendengar apa yang dikatakan oleh Cheril di dalam hati, namun ia tetap bisa merasakan jawaban Cheril melalui tindakan Cheril yang begitu nyata. Melalui kemesrasn itu. kecupan mesra yang untuk pertama kalinya, yang dimulai oleh Cheril. Tentu saja Elvano sangat bahagia. Ia merasa bahagia karena mengetahui cintanya dibalas oleh Wanita yang juga sangat ia cintai itu.