Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Perihal gaun malam


Seperti biasanya, sehabis dari kampus Cheril mampir ke Butik milik nya, tidak lupa ia juga mampir ke Restoran membelikan makanan untuk karyawannya yang ada di sana dan untuk nya sendiri.


Cheril tiba di Butik kurang lebih pukul 2 siang, ia kemudian memarkirkan mobilnya didepan Butik dan masuk ke dalam butik. Ketika membuka pintu Cheril sudah disambut oleh Devi, karyawan seniornya.


"Selamat siang Non Cheril !" Devi menyapa nya dengan Sopan.


Melihat bos mereka didepan pintu Butik kedua karyawannya yang lain Filly dan Lia juga menghampiri nya.


"Selamat siang Mba Cheril !" Ucap kedua karyawannya bersamaan.


"Eh iya Selamat siang semua nya ! Ini aku bawain kalian makanan." Kata Cheril membalas ucapan selamat siang para karyawannya sekaligus menyodorkan makanan yang sudah ia bawakan untuk para karyawannya tersebut.


Tersisa satu kantong lainnya yang kemudian ia bawa ke lantai atas untuk jatah makan siang nya sendiri.


Cheril kemudian naik ke atas menuju ruangan istirahat nya.


Hari ini ia merasa sangat kelelahan, mungkin efek dari tidur yang tidak cukup semalam. Setelah makan siang selesai ia pun menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur yang ada diruangan itu.


Bruk


"Ah... Aku belum pernah merasakan senyaman ini berbaring dikasur ini !"


Hooooam ( Cheril menguap)


Tidak membutuhkan waktu lama dan tidak ia rencanakan juga, tiba-tiba che6ril terlelap dengan sendiri nya.


Pukul 5 tepat Cheril terbangun dari tidurnya, ia mengusap matanya yang masih mengantuk, dan memaksakannya untuk terbuka lalu melemparkan matanya ke arah jam yang tergantung didinding ruangannya.


"Eh, ternyata aku tertidur ya?" Hooooam ( kembali menguap )


Cheril membentangkan kedua tangannya diatas kepalanya merenggangkan otot yang terasa pegal sambil berkata pelan,


"Nyaman sekali tubuhku rasanya setelah tidur tadi."


Disaat ia masih sangat menikmati kenikmatan tubuhnya yang sudah kembali fresh, Cheril tiba-tiba teringat dengan tugas prakteknya siang tadi di kampus, Yaitu tentang gaun malam yang tidak bisa ia kerjakan. Ia pun segera bergegas.


"Aku harus ke kantor Ayah lebih awal, supaya punya banyak waktu untuk belajar sama Cindi untuk membuat gaun malam tadi !" Gumam Cheril pelan.


Setelah merasa siap, Cheril kembali turun ke lantai dasar dan berpamitan pada karyawannya untuk pulang. Ia lalu menuju tempat parkir dan masuk dalam mobinya. Mobil pun melaju ke arah Perusahaan Indos Perkasa.


Tak lama kemudian Cheril sudah tiba didepan Perusahaan milik keluarganya, Setelah mendapat tempat parkir ia pun segera masuk ke dalam gedung Indos Perkasa.


dipintu masuk, Cheril disambut Satpam dengan sopan.


"Selamat sore Nona Cheril !" Bapak Satpam mengucap salam sopan


"Selamat sore Pak !" Jawab Cheril sambil terus melangkahkan kakinya ke arah lift untuk naik ke lantai 11.


Saat itu Elvano juga sudah berada di kantor, ia sudah masuk kedalam ruangannya saat ini.


Ketika di dalam lift, Cheril teringat dengan pria itu, ia masih merasa sedikit kesal pada laki-laki itu, akhirnya ia pun memutar jalannya menuju ruangan Desainer yang seharusnya jalan yang paling dekat menuju ruang Desainer harus melewati ruangan Elvano, kali ini Cheril memilih memutar agak jauh.


Lagian Cheril juga masih sedikit bingung, apa yang harus ia lakukan jika bertemu dengan Elvano saat ini, ia masih sedikit gugup karena kejadian semalam.


"Hai kak Cindi !" Cheril menyapa Cindi, kebetulan sekali ternyata Cindi juga Melewati jalan yang memutar itu


"Hai Cheril ! Kamu kok lewat sini?" Cindi menjawab sapaan Cheril Skaligus melemparkan pertanyaan.


"Kakak sendiri kenapa melewati jalan yang memutar ini?" Bukan nya menjawab Cheril justru balik bertanya


Dalam hati nya ia berkata;


Tolong jangan katakan kakak juga sedang menghindari kepala gudang gila itu.


"Oh, aku tadi mampir ke ruangan penyimpanan, biasa ngambilin stok kain Cher." Jawab Cindi santai.


"Oh..."


Fiiiiiuh


'Syukurlah jika itu alasannya.'


"Eh, kamu kok bisa disini?"


"Oh ya? Memangnya ada perlu apa Cher? Cindi kembali bertanya.


"Yah apalagi, mau menanyakan soal menjahit lah !" Jawab Cheril juga dengan sangat bersemangat.


"Oh, kalo begitu ayo kita menuju meja mu ! Sudah lumayan lama kamu tidak mengunjungi meja mu itu."


Kedua gadis itu tertawa kecil sambil melangkahkan kaki mereka menuju ruang jahit.


Disana para Desainer siff malam juga sudah hadir semua.


Melihat Cheril datang bersama Cindi mereka semua menyapa nya hormat.


"Hai Nona Cheril !"


"Hai nona ! Sudah lama sekali tidak kesini."


Begitulah para karyawan dan karyawati disana menyapa Cheril. Mereka semua sangat menyukai Cheril, Cheril anak yang sangat ceria dan sangat mudah bergaul. Ia juga tidak sombong walaupun ia adalah anak dari pemilik Perusahaan itu.


Setelah membalas semua sapaan anak-anak Desainer Cheril pun menuju mejanya yang berada tepat disebelah meja Cindi. Ia pun segera menanyakan apa yang ingin ia tanyakan.


Kebetulan sekali, ternyata Cindi juga sedang mengerjakan gaun malam.


Akhirnya Cindi pun menjelaskan secara rinci kepada Cheril sambil menyelesaikan pekerjaaannya.


Ketika keduanya sedang asyik mengobrol perihal pola gaun malam, tiba-tiba sesosok pria yang sudah tidak asing muncul dibalik pintu ruang Desainer.


Tepat sekali, Elvano sedang berdiri didepan pintu. Ia baru akan melaksanakan tugasnya dihari kedua mengawasi para Desainer bekerja.


Eh, kenapa dia ada disini?


Cheril bergumam dalam hati ketika melihat Elvano, ia lupa untuk sesaat bahwa salah satu tugas Elvano adalah mengawasi para Desainer.


sedangkan Elvano masih belum melihat Cheril karna mejanya memang agak belakang.


Ruangan Desainer tiba-tiba menjadi sangat ramai, didominasi oleh suara para penggemar laki-laki ganteng itu, mereka menatap Elvano penuh harap dan saling berbisik satu sama lain, kira-kira bisikan nya begini.


"Heh, itu kepala gudang ganteng kita sudah datang !"


"Apakah aku kelihatan cantik?"


"Ah,.gantengnya.. Aku sangat ingin menjadi kekasih nya !"


Ketika Cheril melemparkan pandangan kepada para penggemar Elvano, ia merasa sangat jijik dengan tingkah mereka yang sangat memalukan menurut nya.


Kayak ga ada cowok lain saja untuk dikagumi.


Cheril memasang wajah nya yg sangat menggelikan.


"Kenapa Cheril?"


Melihat wajah Cheril yang seperti itu membuat Cindi melemparkan pertanyaan. Ia masih belum sadar dengan kehadiran Elvano karna masih fokus pada apa yang sedang ia kerjakan.


"Eh, tidak apa-apa kak !"


Cheril menjawab Cindi tapi matanya tertuju pada arah pintu dimana Elvano sedang berdiri. Membuat Cindi pun ikut melirik kearah yang sama dengan Cheril.


"Oh, itu.. Eh,,tunggu ! Kamu kenal dia kan Cher?" Tanya Cindi penasaran, dari tatapan Cheril sepertinya ia memang sudah mengenal laki-laki itu.


"Eh,, Ng-nggak... Aku tidak mengenal nya !"Jawab Cheril dengan wajah jutek.


"Oh... Benarkah? Cindi membalas singkat karna ia sepertinya bisa melihat kebohongan dimata Cheril.


"Itu kepala gudang siff 2 yang baru, aku juga bingung kenapa Billy bisa menambah karyawan dibidang itu, terus juga memberi nya tugas mengawasi para Desainer. Padahal selama ini tanpa diawasi juga tidak pernah ada masalah kan.." Cindi tetap memilih menjelaskan pada Cheril sekali pun ia masih ragu Cheril belum tau tentang itu.


Cheril diam tidak menjawab apapun, ia hanya menundukkan wajahnya. Ia memang sudah tau semuanya dari Billy kemarin. Tepat seperti yang dipikirkan Cindi.


Kemudian Elvano pun mengelilingi para Desainer itu satu per satu, dan ia memang melakukannya dengan sedikit cepat, karena ia tidak ingin membuat para Desainer jadi semakin merasa kurang nyaman jika ia terlalu lama disana untuk mengawasi mereka.


Elvano hampir tiba dimeja bagian belakang, dan ketika ia melemparkan pandangannya ke arah Cindi, ia pun kaget melihat ada Cheril yang sedang duduk sambil menundukkan kepalanya dimeja miliknya yang berada tepat disamping meja Cindi.