
Pagi telah tiba, tepat pukul 6 pagi Cheril dan Elvano terbangun kembali. seluruh tubuh Cheril terasa hampir remuk, akibat dari keganasan Elvano semalam.
"Lelah sekali." Gumam Cheril pelan sambil meluruskan tubuhnya dan merenggangkan otot-ototnya dengan menengadah kedua tangannya ke atas.
Krep krep!
Begitulah kira-kira bunyinya.
Elvano yang dapat mendengar ucapan Cheril tersenyum kecil, dan membatin.
Terimakasih sayang, sudah memberikan pelayanan terbaik semalam.
"Kamu sangat lelah ya? Maafkan aku ya," tanggap Elvano tiba-tiba. Tangan Elvano sendiri sudah melingkar di pinggang Cheril. Membuat Cheril yang sudah duduk terbaring kembali.
"Tidak apa-apa kok," jawab Cheril sambil tersenyum kecil.
Bahagia, itulah yang mereka rasakan saat itu.
"Sayang, hari ini hari terakhir kita berada di kota ini, besok kita akan kembali ke kota X, apa masih ada tempat yang ingin kamu kunjungi?" tanya Elvano.
"Ehm? Begitu ya? Kemana lagi ya?" Cheril berusaha berpikir keras mau kemana lagi.
Dan Elvano juga memberi Cheril waktu untuk itu.
"Ehm, aha! Bagaimana jika kita mengajak Niko, Erik, Niki, dan Tania untuk nonton bareng kayak waktu itu?" ucap Cheril penuh semangat.
"Ehm? Boleh juga. Baiklah, aku akan meminta Niko menghubungi mereka semua. Ya hitung-hitung, kita bisa mendekatkan Niko dan Nikita," tanggap Elvano tersenyum lebar.
Ia juga merasa ide istrinya itu sangatlah bagus.
Kemudian Elvano mengambil ponselnya, dan menghubungi Niko, memintanya untuk menghubungi semua sahabat-sahabat mereka itu mengajak mereka nonton bersama siang ini. Sekaligus juga meminta Niko memesan tiket nonton untuk mereka semua.
"Ayo kita siap-siap sekarang," ajak Cheril.
"Kenapa buru-buru? Nontonnya masih nanti siang sayang, kedua sahabatmu itu kan masih kuliah," jelas Elvano.
"Oh, iya ya ... Bicara soal kuliah, aku baru ingat soal kuliah aku," wajah Cheril pun berubah lirih.
"Tenang saja, saat kita pulang ke kota X nanti, aku akan mengirimkan guru privat untukmu seperti yang Ayah lakukan dulu padaku. Dalam waktu beberapa bulan saja sudah bisa mendapatkan gelar S1 kok," ujar Elvano.
"Oya? Tapi kan suasananya pasti sangat berbeda," protes Cheril.
"Apa maksudmu? Jangan berharap ya kamu bisa kembali ke kampus lagi. Aku tidak akan mengijinkan mu. Aku tidak mau nanti malah ada orang yang akan jatuh cinta padamu. Lagian di kampus juga begitu banyak orang. Mereka semua akan menikmati kecantikanmu, pokoknya, aku tidak mau!" tegas Elvano yang membuat Cheril memanyunkan wajahnya.
Saat itu Elvano masih memeluk istrinya lekat saling berhadapan. Elvano tentu bisa melihat ekspresi Cheril yang sangat masam.
"Jika kamu masih memperlihatkan wajah itu lagi, kamu akan bekerja lebih keras lagi dari yang semalam," ancam Elvano.
"Ha? Ah baiklah, aku tidak apa-apa kok, kuliah dimana saja boleh, terserah padamu saja ya sayang, aturlah sebaik-baiknya, aku akan ikut perintahmu," tanggap Cheril cepat sambil berusaha tersenyum yang sedikit ia paksakan.
Dan Elvano pun tersenyum puas melihat ekspresi Cheril yang sangat menggemaskan itu.
Cup!
Satu kecupan lembut mendarat di kening Cheril.
"Jadilah istri yang penurut!" ucap Elvano kemudian sambil mengusap rambut Cheril pelan.
Sreg sreg!
Demikianlah bunyi gesekan tangan yang mengenai rambut.
Sekitar 1 jam, pasangan ini masih saling berpelukan di tempat tidur. Obrolan santai juga menghiasi kebersamaan itu.
Hingga tiba-tiba mereka dikejutkan dengan ketukan pintu yang sangat keras.
"Sayang, itu siapa? kenapa mengetuk begitu keras? Tidak mungkin Niko kan?" Cheril melemparkan pertanyaan bertubi-tubi pada Elvano.
"Aku juga tidak tau sayang, sepertinya tidak mungkin Niko. Dia tidak mungkin melakukan hal sekasar itu. Kamu tunggu di sini ya, biar aku yang lihat," tanggap Elvano dan langsung beranjak dari tempat tidur menuju pintu.
Jegrek!
BRUK!
"Aaaah!" teriak Cheril dari atas tempat tidur, dirinya langsung menghampiri Elvano saat itu juga.
Tiba-tiba seorang laki-laki dari balik pintu terjatuh di hadapan Elvano ketika ia membukakan pintu. Laki-laki itu kelihatannya sedang terluka, dan memegang sesuatu di tangannya.
"Tu-tuan, ambil ini, berjanjilah padaku untuk simpan ini baik-baik, jangan biarkan benda itu terjatuh ke dalam tangan yang salah!" ucap laki-laki tak dikenal itu terbata-bata.
Kemudian Elvano pun berjongkok untuk mengambil benda yang diberikan oleh laki-laki itu.
Benda apa ini ....
Gumam Elvano dalam hati. Terlihat seperti sebuah kotak kecil, dan mungkin di dalam kotak itu terdapat benda yang sangat berharga.
Baru saja Elvano hendak bertanya lebih jauh, laki-laki tadi sudah tak sadarkan diri. Dan Elvano pun segera menghubungi Niko supaya menyiapkan ambulan.
"Apa yang terjadi? Apa ada yang terluka?" tanya Niko kaget sambil berlari menuju ke arah kamar Cheril dan Elvano.
"Siapa orang ini?" tanyanya lagi ketika melihat ada seorang laki-laki yang terkapar di sana.
"Aku juga tidak tau, dia tiba-tiba menggedor pintu dengan sangat kuat, saat aku membuka pintu, dia sudah terjatuh di hadapanku," jelas Elvano.
Cheril juga terlihat sangat ketakutan menyaksikan semua itu. Dan Elvano mendekap Cheril erat berusahalah memberinya ketenangan.
Sesaat kemudian, ambulan pun datang membawa laki-laki tadi ke rumah sakit, dan tak lama setelah itu Elvano mendapatkan kabar bahwa laki-laki tersebut sudah menghembuskan nafas terakhirnya sebelum tiba di rumah sakit.
Rasa penasaran Elvano pun memuncak.
Apa yang terjadi sebenarnya, dan benda apa yang diberikan oleh laki-laki itu ....
Itulah yang sedang dikatakan oleh Elvano di dalam hati. Namun ia tetap menyimpan pemberian laki-laki itu dengan baik, Elvano berniat akan mencari tau sendiri apa benda itu nantinya.
"Sayang, kamu masih merasa takut ya? Tenang saja, ada aku di sini. Aku akan menjagamu," janji Elvano.
"Iya, aku percaya padamu sayang," tanggap Cheril yakin.
Saat itu Elvano juga sudah mendatangkan belasan pengawal ke kota XX untuk bersiaga di Villa tempat mereka menginap. Penjagaan diperketat, semua penghuni di sana juga sudah dipulangkan. Kini hanya tinggal Elvano, Cheril dan Niko saja yang masih berada di tempat itu. Dan satu lagi. Geraldo. Dia juga masih ada di sana, serta beberapa pegawai lainnya. Semalam Geraldo menginap di salah satu Villa lainnya. Di pantai tersebut memang terdapat beberapa Villa, hanya saja yang dihuni oleh Elvano dan Cheril saat itu adalah Villa terbesar yang mereka punya.
kira-kira 1 jam kemudian Elvano yang sudah mendapatkan kabar dari Niko bahwa tempat yang mereka tempati saat ini telah aman, dia pun ingin mengajak Cheril pergi mencari makan.
"Sayang, apa kamu merasa lapar?" tanya Elvano mengawali pembicaraan setelah beberapa saat yang lalu dimana suasana di antara kedua orang ini begitu hening.
"Iya, sedikit,"
"Kalau begitu, ayo kita sarapan dulu!" ajak Elvano kemudian.
Keduanya lalu menuju tempat makan yang ada di pantai tersebut. Sebuah restoran yang mereka datangi kemarin menjadi pilihan Elvano. Karena makanan di sana lumayan enak, jadi Elvano ingin mengajak Cheril kembali ke tempat itu lagi. Pasalnya kemarin itu mereka juga tidak begitu menikmati acara makan mereka karena suasana hati yang buruk.
Niko juga ada di sana. Dirinya sudah lebih dulu menuju ke arah restoran untuk memesan beberapa makanan atas perintah yang diberikan oleh Elvano tadi.
"Jika kondisi sudah aman, maka siapkan jamuan makan, kita akan makan bersama!" titah Elvano saat itu.
Dan tentu saja Niko melaksanakan semua tugas yang diperintahkan oleh Elvano dengan sangat baik. Ketika Elvano dan Cheril tiba di restoran, semua makanan pun sudah tersaji di atas meja.