
Beruntung Dirly tidak berlama-lama berada di dalam ruangan penyekapan Elvano dan ketiga pengawalnya. Setidaknya Dirly tidak semakin membuat Elvano terpuruk. Dan setidaknya ketiga pengawalnya memiliki waktu untuk menyemangati Elvano.
Tap tap tap
Brak!
Dirly melangkah pergi meninggalkan ruangan dan menutup pintu sedikit kasar.
Usai kepergian laki-laki itu, ketiga pengawal Elvano mulai bertindak. Rein yang mewakili mereka.
"Tuan, anda tidak apa-apa kan?"
Rein memulai dari pembicaraan yang paling ringan.
Dan Elvano tidak menanggapi apapun. Membuat Rein melanjutkan kembali pembicaraannya.
"Apa Tuan kesakitan?" tanya Rein lagi.
Seketika mata Elvano terlihat berkaca-kaca.
"Iya Rein. Sakit. Sangat sakit. Aku telah mencelakai mereka. Aku telah mencelakai keluargaku. Tak hanya Valen, sekarang aku juga sudah mencelakai istriku.
Rein, apa aku masih pantas hidup?"
Buliran bening mulai berjatuhan membasahi wajahnya. Perih. Tentu saja perih. Wajah Elvano penuh dengan luka. Namun rasa perih pada fisiknya sama sekali tak sebanding dengan rasa sakit pada hatinya. Jika rasa sakit pada fisik masih dapat ia tahan, maka berbeda dengan rasa sakit di hatinya. Elvano lemah dengan ini. Walau hanya 1 goresan luka saja bahkan dapat membuat Elvano tenggelam dalam lautan dalam, apalagi luka yang ditorehkan oleh Dirly saat ini. Sungguh terlalu sakit untuk ia rasakan. Rasanya Elvano sangat ingin mengakhiri hidupnya.
Rein mengedarkan pandangannya ke arah Zum dan Jack secara bergantian. Rein tahu, saat ini Elvano sangat lemah. Begitu juga dengan Zum dan Jack. Apalagi laki-laki yang mereka kenal begitu tegas, cerdas, penuh dengan kuasa, sekarang malah menangis. Tentu mereka menyadari, ada luka yang teramat dalam di hati Elvano saat ini.
Sesaat kemudian, Rein pun memutuskan menanggapi Elvano. Ya, dia harus menjadi penghibur Tuannya itu. Serta menjadi penyemangat bagi Elvano.
"Tentu saja Tuan. Tuan sangat layak untuk hidup," jawab Rein semangat.
Elvano menundukkan wajahnya sejenak sebelum kembali menanggapi.
"Tidak Rein. Kamu salah. Aku seperti seorang penjahat bagi keluargaku sendiri. Aku sudah membuat mereka celaka. Bagaimana kamu masih bilang aku pantas hidup? Aku tahu, kau pasti sedang menghiburku,"
Senyuman pias terlihat mehampiri wajah Elvano sesaat.
"Tidak Tuan. Yang saya katakan tidak hanya sekedar hiburan. Tapi lebih daripada itu. Tuan memang layak untuk hidup. Dan malah harus tetap hidup," jabar Rein.
"Rein, apa kamu mengerti? Aku bahkan sudah menjadi seorang penjahat besar bagi keluargaku sendiri,' jelas Elvano menjeda, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya kasar.
"Sekarang, aku juga melibatkan kalian. Aku sungguh tidak pantas untuk hidup lagi. TIDAK PANTAS! Hik!"
Elvano melanjutkan kembali kalimatnya dengan nada tak beraturan. Dari yang sangat rendah, dan malah mengakhirinya dengan nada tinggi. Juga disertai isak tangis yang semakin menjadi.
"Tuan, anda justru salah jika berpikiran seperti itu. Jika Tuan meninggal sekarang, nasib kami justru akan semakin tak jelas," sambung Zum.
Mendengar itu Elvano sontak mengangkat wajahnya yang tertunduk.
"Maafkan aku! Maafkan aku sudah mencelakakan kalian. Aku ...,"
"Tuan, anda tidak perlu meminta maaf pada kami. Anda tidak bersalah dalam hal ini. Memang sudah menjadi tugas kami untuk menemani Tuan. Justru kami yang bersalah jika sesuatu terjadi pada anda." Zum memotong pembicaraan Elvano yang belum selesai ia ucapkan.
Dan dia juga tidak memberi kesempatan bagi Elvano untuk menanggapinya. Zum sudah kembali melanjutkan kalimatnmya setelah terjeda sesaat.
"Tuan, garis hidup seseorang memang tidak bisa ditolak. Saat ini keluarga Tuan memang ikut terlibat di dalam masalah yang Tuan buat. Mungkin Tuan bersalah dalam hal ini. Salah karena telah melibatkan mereka. Namun apakah Tuan pernah berpikir? Jika Tuan meninggal sekarang, bagaimana nasib orang-orang yang Tuan cintai itu?"
Ucapan Zum seakan menampar keras wajah Elvano. Isi otaknya yang kusut teruai begitu saja. Perkataan Zum memang benar. Jika ia meninggal sekarang, maka keluarganya akan semakin berantakan. Apalagi saat ini keadaan Valen juga sangat memprihatinkan. Hanya dia seorang yang dapat menolong Valen saat ini.
Zum mengedarkan pandangannya ke arah Rein dan Jack saat melihat ekspresi Elvano. Zum bisa merasakan adanya perubahan di wajah Elvano. Dan sengaja memberikan kode pada Rein dan Jack untuk segera menimpali apa yang ia katakan tadi supaya bisa menjadi bensin untuk menambah besarnya kobaran api.
"Tuan, yang dikatakan Zum memang benar. Tuan harus semangat. Tuan harus tetap hidup. Keluarga Tuan sangat membutuhkan pertolongan saat ini. Dan satu-satunya orang yang dapat menolong mereka adalah Tuan sendiri," timpal Rein.
"Benar Tuan. Tuan yang memulainya. Dan Tuan jugalah yang harus menyelesaikannya!" Jack ikut mengambil andil dengan sebuah kalimat tegas.
Kalimat tersebut sekaligus menjadi bahan bakar yang paling ampuh untuk memperbesar kobaran api yang sudah menyala. Dan tentu saja berhasil membakar semangat Elvano.
"Ya, kalian semua benar. Dan kamu Jack, kamu benar. Aku yang sudah memulainya, karena itu aku juga harus menyelesaikannya."
Elvano mengucap lantang sambil memandang Jack. Lalu juga beralih memandang Rein dan Zum.
Terlihat senyuman tipis di wajah ketiga pengawalnya itu.
Mereka bersyukur Elvano mau mendengarkan nasehat mereka.
Pada saat mereka baru saja menyelesaikan pembicaraan mereka, tiba-tiba Dirly memasuki kembali ruangan itu.
Laki-laki itu tidak sendiri kali ini. Dia membawa serta 2 orang pengawal yang menggiring Valen dan Niko.
Brug! Brug!
Niko dan Valen didorong oleh kedua pengawal itu memasuki ruangan. Dorongan yang sedikit kuat itu membuat mereka berdua terjatuh di lantai. Sebab kedua tangan dan kedua kaki mereka diikat. Mulut mereka juga dilakban.
Elvano menatap kedua tubuh yang terjatuh tepat di bawah kakinya. Hatinya begitu sakit melihat itu. Kondisi mereka begitu menyedihkan bagi Elvano.
"Valen ...," panggilnya.
Valen yang sejak tadi belum menyadari kehadiran Elvano di sana segera menoleh ke atas. Dan dia sangat terkejut melihat Elvano disalibkan seperti itu. Apalagi tubuh Elvano yang atletis berbentuk kotak-kotak itu juga penuh dengan luka. Pakaian Elvano memang dirobek oleh mereka saat melakukan penyiksaan terhadap dirinya tadi. Jadi saat ini Elvano tidak mengenakan atasan.
Mata Valen berkaca-kaca. Tentu saja dia sangat bersedih melihat kondisi kakaknya yang demikian.
Tak hanya Valen yang kaget, Niko yang juga baru menyadari kehadiran Elvano di sana ikut merasa kaget. Niko mendongakkan wajahnya ke atas. Dia tak hanya melihat Elvano di sana. Dia juga dapat melihat Rein Zum dan Jack yang ikut tergantung di atas balok berbentuk tanda plus (+) lainnya saat ia mengedarkan pandangannya.
Sementara Dirly yang sedari tadi masih berdiri di depan pintu merasa tergelitik dengan suasana saat itu. Awalnya dia hanya ingin memberi kesempatan Elvano merasakan siksaan dengan memperlihatkan kondisi Valen dan Niko saat ini pada nya. Namun, sekarang dia berniat merubah skenarionya itu. Dirly merasa sepertinya semua ini tidak terlalu menyakitkan. Dan dia ingin membuat Elvano semakin tersiksa.
Dirly lalu melangkah mendekati Valen. Dia membuka ikatan Valen. Setelah itu ia juga membuka lakban yang tertempel pada mulut gadis itu.
"Mau apa lagi kau?"
Valen melemparkan pertanyaan dengan nada yang ia naikkan. Tubuhnya bergetar hebat. Rasa trauma masih melekat pada pikirannya.
Sementara Dirly tak menjawab apapun.
Laki-laki itu hanya mendekatkan wajahnya ke arah Valen.
"Jangan Dirly. Aku mohon jangan lakukan itu lagi," pinta Valen.
Valen mulai ketakutan saat itu. Valen mulai menangis saat wajah Dirly semakin mendekati dirinya yang melantai. Tak hanya wajahnya, bahkan Dirly sedang berusaha menindih tubuh Valen. Trauma yang gadis itu rasakan 4 hari yang lalu masih belum dapat dilupakan. Jika laki-laki itu mengulanginya lagi, entahlah. Valen mungkin bisa jadi gila saat itu juga. Yup, 4 hari yang lalu Dirly dengan buasnya merampas keperawanan Valen.
Niko memilih membuang wajahnya ke arah lain. Ia tidak mampu melihat itu. Kejadian 4 hari yang lalu sudah cukup menyiksa dirinya. Di mana dia hanya bisa membiarkan Dirly membawa Valen pergi dari ruang penyekapan. Lalu 2 jam kemudian Valen kembali ke ruangan itu dengan penampilan acak-acakan. Dan Valen hanya mampu menangis segugukan hingga sepanjang malam. Keesokan paginya Niko pun mendapatkan kenyataan pahit dari pengakuan mulut Valen yang mengatakan padanya bahwa Dirly telah merampas segalanya. Niko begitu geram mendengar itu. Ia berteriak keras melampiaskan kemarahannya. Ya, memang hanya itulah yang bisa ia lakukan. Hanya dapat meneriakkan kata-kata umpatan atas Dirly saja.
Sedangkan Elvano yang menyaksikan itu tentu saja membuatnya sangat marah.
Wajah laki-laki itu memerah seketika. Elvano memejamkan matanya sejenak dan menggeleng kasar kepalanya. Selain berusaha mencerna kalimat terakhir yang diucapkan oleh Valen tadi, yang Elvano yakin telah terjadi sesuatu pada Valen, membuat dirinya semakin kalut. Suasana hati Elvano sungguh tak menentu saat itu. Rasanya ada sesuatu yang hendak meledak dari dadanya.
"Sudah cukup!" Elvano mengucap dengan nada rendah namun tegas dan indentik dengan ancaman.
Dan Dirly malah tidak mengindahkan itu.
PRANG! PRANG! KRAK!
Dalam sekejap rantai yang menahan tangan dan kakinya terlepas begitu saja. Elvano meloncat turun ke bawah.
"Plan B dilanjutkan!" Tambahnya.
Ketiga pengawal Elvano tersenyum tipis mendengar itu. Mereka juga turut membebaskan diri mereka saat itu juga. Jika Elvano diikat dengan rantai, ketiga pengawalnya hanya ditahan dengan menggunakan seutas tali yang cukup besar ukurannya. Namun itu tidak jadi masalah bagi mereka. Asal bukan rantai, mereka masih bisa mengatasi itu.
BRAK! BRAK! BRAK!
Suasana ketegangan berubah menjadi keramaian. Suara-suara tali beserta kayu yang hancur pada saat ketiga pengawal khusus itu melepaskan diri mereka, seakan membentuk sebuah alunan musik memenuhi ruangan itu.
Dan kedua pengawal Blood team yang datang bersama Dirly terlihat sangat ketakutan menyaksikan semua itu. Mereka berdua segera meraih senjatanya dan melakukan penembakan brutal. Peluru pertama yang keluar tepat mengenai Elvano. Dan dengan sigap Elvano segera melumpuhkan kedua pengawal itu.
Valen yang sudah terlepas dari genggaman Dirly berteriak keras saat melihat Elvano tertembak. Gadis itu segera berlarian menghampiri Elvano. Dan memeluk tubuh tegap itu.
"Kakak tidak apa-apa? Kakak berdarah!" ucap Valen bergetar.
"Tenang saja. Aku tidak apa-apa kok. Ini tidak seberapa," tanggap Elvano sambil menggeleng pelan.
Julukan The lion king memang tidak salah lagi. Satu tembakan yang mengenai dada sebelah kiri atas mendekati area leher Elvano itu tidak mampu menumbangkan dirinya sama sekali.
Sesaat kemudian Elvano melepaskan tangan Valen yang merangkulnya. Dia ingin memberi pelajaran pada laki-laki di hadapannya itu.
"Apa yang sudah kamu lakukan terhadap Valen? Bukankkah aku sudah mengatakan padamu?
Jangan pernah menyentuh adikku!" ucap Elvano pelan namun sarat akan kengerian.
Elvano menatap Dirly dingin tertuju tepat pada mata Dirly. Membuat manik mereka berdua saling beradu tatap.