Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Ibu ingin bertemu dengan calon suami Cheril


Setelah dari ruang makan, Cheril memutuskan untuk pulang. Sedangkan Elvano menuju keruangannya yang berada di lantai 11.


Cheril dan Elvano berpisah di lantai dasar mendekati ruang resepsionis.


Elvano hari ini jauh lebih bersemangat setelah berhasil menyapa Cheril dan sukses mengajak nya makan bersama. Ia pun memiliki banyak sekali tenaga baru. Karna itulah ia memutuskan menyelesaikan setumpuk data yang dibawa Jenika kemaren malam yang belum disentuhnya sama sekali.


Elvano memilih merapikan semua file itu dan memasukkannya ke dalam lemari yang ada dibelakang tempat duduknya.


Setelah pekerjaan nya selesai, waktu sudah menunjukkan pukul 21.00, yang arti nya jam kerja pun usai.


Dengan demikian, hari kedua Elvano berjalan dengan sangat baik.


Dan sejak kejadian hari kedua, hari berikutnya semua sudah berjalan lumayan lancar.


Elvano sudah mulai terbiasa dengan semua tugasnya, dan ia pun bisa menguasainya dengan sangat baik.


Satu hal yang masih tetap menjadi PRnya, yaitu ruang Desainer. Ia masih belum menemukan cara terbaik untuk menghadapi para desainer di sana. karna setiap kali memasuki ruangan itu para Desainer masih akan merasa sangat canggung dengan keberadaan Elvano.


Dan sejak kejadian hari kedua kerja Elvano itu, Cheril juga tidak pernah lagi menampakkan dirinya di gedung Indos Perkasa. Itu dikarenakan Cheril sangat sibuk dengan kegiatan kampus nya dalam hal membuat gaun malam. Ia juga sudah mengerti dengan pola yang membuat dia bingung waktu itu, berkat penjelasan Cindi tempo hari, jadi ia pun memilih mengerjakan kegiatannya di Butik miliknya.


*************************


Beberapa hari kemudian


Pagi ini adalah akhir pekan, baik Cheril maupun Elvano, mereka sama-sama tidak memiliki aktivitas yang terlalu berarti. Mereka tidak kuliah hari ini. Perusahaan Indos Perkasa juga libur sedangkan Cheril juga jarang ke Butik diakhir pekan seperti ini, kecuali jika ada pekerjaan mendesak barulah ia harus hadir di sana.


Pagi ini Cheril bangun agak siang, ia sebenarnya sudah bangun sejak pukul 6 pagi, tapi ia memilih bermalas-malasan hingga pukul 10.00 pagi baru ia beranjak dan keluar dari kamar nya menuju lantai bawah untuk makan pagi.


Cheril menuruni anak tangga satu per satu dengan perlahan, terpancar dari raut wajahnya ia masih belum rela meninggalkan kamar nya, langkah kakinya pun terasa sangat berat ketika berjalan.


Dari ketinggian Cheril sudah bisa melihat pemandangan yang ada diruang santai. Disana sudah ada Ayah dan Ibunya yang sedang duduk santai. Ayahnya sedang membaca koran, sedangkan Ibunya sedang memainkan handphone yang ada ditangannya.


Sesampainya Cheril di bawah ia pun memilih melangkah menuju ke ruang santai untuk menyapa Ayah dan Ibunya terlebih dahulu sebelum menyantap makan paginya.


"Selamat pagi Ayah, Ibu !" Cheril mengucap salam pada kedua orangtuanya.


"Eh, Selamat pagi Cheril !" Ayah dan Ibu menjawab bersamaan.


"Duduk sini Cheril !" Tambah Ibu Cheril yang bernama Berliana Febrianti Senjaya istri dari Dedi Senjaya Ayah Cheril sambil menepuk sofa empuk tepat disebelahnya.


"Baik Bu !" Jawab Cheril lalu merebahkan tubuhnya diatas sofa yang ditunjuk oleh Ibunya itu.


Percakapan santai pun terjadi di kumpul keluarga itu. Jarang sekali memang keluarga ini bisa berkumpul seperti ini. Dalam satu Minggu ini saja Cheril mungkin baru 3x bertemu dengan Ayah dan Ibunya, itupun hanya sekilas lewat saja. Baru hari ini mereka bisa berkumpul sambil bercengkrama seperti ini.


"Oh iya, Cheril, ada yang ingin Ayah tanyakan pada mu."


"Apa yah? Tanya saja."


"Perihal karyawan baru Ril." Jawab Ayah singkat


Deg


Cheril sangat paham kemana arahnya.


Ayah pasti sudah bertemu dengan Elvano.


"Eh, i-iya Ayah ! Cheril yang menyuruh Billy menerima nya, tapi Cheril tidak menyuruh Billy memberinya jabatan itu." Jawab Cheril sedikit gugup


"Oh.. Kalau dipikir-pikir dia lumayan juga, kemampuannya cukup baik, orangnya juga sangat sopan. Ayah suka pada nya." Ucap Ayah Cheril lagi membuat Cheril sedikit lega.


"Syukurlah kalau begitu.." Kata Cheril menanggapi pernyataan Ayahnya yang merasa puas dengan orang yang telah ia rekomendasikan.


Sedangkan Ibu Cheril hanya menyimak percakapan kedua orang yang berada dihadapannya itu tanpa berkomentar apapun.


Setelah percakapan Ayah dan anak itu selesai barulah Ibu Cheril bersuara dengan melemparkan sebuah pertanyaan sekaligus menjadi sebuah pernyataan yang membuat Cheril tersentak.


"Cheril, kebetulan besok Ayah dan Ibu tidak ada kegiatan apapun, bagaimana kalau besok kamu memperkenalkan calon suami mu kepada Ayah dan Ibu?"


Seketika wajah Cheril pun berubah, ekspresinya sama sekali tidak bisa diartikan dengan kata-kata, ia benar-benar bingung harus bagaimana.


Bagaimana ini? Apa reaksi ayah jika melihat calon suami pilihan aku adalah Elvano? Dan bagaimana juga reaksi Ibu jika mengetahui calon suami aku adalah orang yang baru saja Ayah sebut.


"Cheril, kamu kok malah bengong? Jawab pertanyaan Ibu !" Ibu kembali menuntut jawaban dari Cheril karna ia masih belum mendapatkan itu, Ibunya memang sudah tidak tahan lagi ingin bertemu dengan calon menantu keluarga Senjaya.


"Eh, i-iiya Ibu, baik lah !" Jawab Cheril keceplosan.


Aduh,kenapa aku malah menjawab iya sih?


Aaaaaaaaaahhh.


Cheril mencakar kepala bagian depannya gusar.


Lain halnya dengan Ibu Berliana, ia malah sangat senang mendengar jawaban Cheril. Ia memang sudah sangat menantikan hari itu.


Sedangkan Dedy Senjaya Ayah dari Cheril hanya diam tidak mengeluarkan sepatah kata pun.


"Yasudah sekarang kita makan pagi dulu yuk, jarang-jarang bisa makan bersama seperti ini." Ibu akhir mengajak anak dan suaminya untuk makan bersama.


Kemudian mereka pun beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke arah meja makan untuk makan pagi bersama-sama. Makan pagi pun di akukan bersama pagi ini.


Cheril mengambilkan nasi untuk Ayah dan Ibunya diatas meja makan juga untuk nya sendiri. Mereka sangat menikmati menu yang sudah disediakan oleh asisten juru masak dikeluarga mereka. Mungkin hanya Cheril yang tidak begitu menikmati cita rasa dari menu yang telah disediakan itu, karna saat ini pikirannya justru sedang tidak ada disana.


"Cheril, kamu kok tidak makan?" Tanya Ibu heran melihat makanan Cheril yang ia ambilkan sendiri masih utuh di atas piringnya.


"Eh, i-iiya Bu, Cheril makan kok. Liat nih !"


Hup !


Satu sendok nasi beserta lauk nya mendarat dengan sempurna didalam mulut Cheril sambil berusaha tersenyum manis yang ditujukan ke arah Ibunya, membuat Ibu Berliana pun ikut tersenyum.


Seperti biasa, Ayah hanya menyimak saja sambil terus menikmati makanan nya tanpa berkomentar apapun.


Setelah 3 sendok nasi mendarat dengan sangat lancar, setelah itu Cheril pun kembali melamun ketika melirik ke arah Ibunya yang tidak lagi memperhatikannya.


padahal tentu saja Ibu menyadari anaknya yang kembali bengong diatas meja makan.


Ibu Berliana memang masih sedikit heran melihat anaknya lebih banyak melamun pagi ini, tapi ia tidak begitu menghiraukan masalah yang menurutnya sangat sepele itu, jadi ia pun sudah tidak melemparkan pertanyaan apapun lagi dan membiarkan anaknya itu tenggelam didalam pikirannya sendiri.