
Geraldo, Elvano dan Erik berteman sejak masih kecil. Hubungan persahabatan mereka bisa dikatakan sangat baik. Dan tak disangka, ternyata ketiga pria ini malah mencintai gadis yang sama. Masih ingat kan? Erik juga pernah mencintai Cheril dulunya?
Wah, ternyata mereka benar-benar sehati.
Setelah pembicaraan tadi, Elvano memilih mengajak Cheril kembali ke Villa untuk beristirahat sebentar. Tepatnya Elvano sangat ingin bermesraan dengan istrinya di Villa. Memang dasar Elvano ini, maunya itu nempel terus kayak perangko.
Sementara Niko dan Geral memilih tetap di restoran itu. Rencananya, Niko ingin bertanya banyak hal pada Geral. Ia merasa segan bertanya pada Elvano, jadi memilih menanyakan semuanya pada Geral. Ternyata Niko juga sangat aneh, jelas-jelas hubungan dirinya dengan Elvano sangat baik, bukannya bertanya pada Elvano, malah merasa segan. Dan parahnya dia justru tidak merasa segan pada Geral yang baru ia kenal itu. Sungguh tak masuk akal. Elvano pasti akan sangat marah jika tau tentang ini.
Saat Cheril dan Elvano sudah kembali ke Villa, Niko dan Erik pun terlibat dalam pembicaraan. Niko melempar pertanyaan bertubi-tubi dan sangat banyak pada Geral. Dan Geral juga menjawab dengan jujur.
"Jadi maksud kamu, Cheril dan kamu pernah menjalin hubungan?" tanya Niko kaget.
"Iya, begitulah," tanggap Geral singkat.
"Dan kamu, Elvano dan Erik bersahabat sejak kecil?"
"Iya, kenapa kamu terlihat begitu kaget?" Geral merasa heran.
"Ya ampun, bagaimana aku tidak kaget, Erik juga pernah mencintai Cheril, kamu juga mencintai Cheril, kenapa kalian bertiga bisa mempunyai hati yang begitu kompak?" jelas Niko terpanah.
"Oya? Kebetulan sekali ya," tanggap Geraldo sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia juga sedikit tersentak ketika mendengar penjelasan dari Niko.
Jadi kami bertiga juga mencintai gadis yang sama ....
"Ya, pada akhirnya Elvano yang mendapatkan hati Cheril, Erik memilih mengalah. Jadi sekarang kamu juga harus mengalah, apalagi mereka sudah menikah," ujar Niko
"Kenapa aku harus mengalah? Dalam hidupku itu tidak ada kata mengalah," tegas Geral.
"Hah? Jadi kamu sungguh mau merebut Cheril dari Elvano?" mata Niko melotot seketika.
"Ehm ... Lihat saja nanti," tanggap Geral yang juga memperlihatkan senyuman jahil miliknya. Niko terlihat tertegun mendengar itu. Ia menelan salivanya.
"Hei, kalau kamu mengganggu hubungan mereka, jangan salahkan aku ya jika aku akan menghalangi itu. Aku tidak mungkin membiarkan dirimu menggangu Tuan Muda kami," peringat Niko.
"Ehm? Begitu ya, ternyata Elvano sekarang dilindungi oleh banyak orang," Geraldo masih memperlihatkan senyuman jahil itu.
Selain Cheril, masih ada hal yang sangat penting, jika begini banyak orang yang ada di samping Elvano, pasti akan sedikit sulit.
Gumam Geraldo di dalam hati.
"Oh iya, apa kamu tau tentang laki-laki yang menggedor pintu Elvano tadi? Dan apa laki-laki itu meninggalkan semacam benda untuk Elvano?" Geraldo berusaha mencari informasi dari Niko.
"Maaf, kalau yang ini aku sungguh tidak tau. Saat aku tiba laki-laki itu sudah terkapar tak sadarkan diri," keterangan Niko.
Niko memang berkata jujur, Geral pun bisa melihat dari ekspresi yang ditampilkan oleh Niko. Ia sangat pandai dalam menilai orang. Geral bukan laki-laki biasa.
"Baiklah kalau begitu, lupakan saja! Oh iya, kita akan pergi kemana nanti?" tanya Geral mengalihkan topik.
"Nonton, di bioskop Mall Z," jawab Niko apa adanya.
"Oh iya, untung kamu membicarakan hal ini, aku baru ingat belum memesan tiket untuk mu. Yasudah, aku kembali ke Villa dulu ya, ponselku ada di sana," pamit Niko.
"Ok!"
Dan kedua orang ini pun berpisah. Sementara saat itu, waktu baru menunjukkan pukul 11.40.
--------
Di kamar Villa
Elvano dan Cheril sedang terlibat dalam perdebatan perihal berpakaian dan berdandan.
"Sayang, kamu sedang apa?" tanya Cheril.
"Memilih baju untukmu," jawab Elvano.
"Untuk apa?"
"Ya, untuk kamu pergi ke bioskop nanti,"
"Ya, untuk kita jalan ke bioskop, kamu ini, apa pendengaran terganggu? Aku bawa ke dokter ya," Elvano mulai emosi.
"Ehm? Bukannya begitu, Aku kan bisa memilihnya sayang. Nanti saja, kan masih 2 jam," Cheril membela diri.
"Enak saja, tidak boleh. Aku yang harus memilihkan pakaian untukmu, dan harus milih sekarang, takutnya tak cukup waktu nantinya," tanggap Elvano yang membuat Cheril semakin kebingungan.
"Loh, memang kenapa?" tanya Cheril akhirnya.
sementara Elvano hanya diam tak menanggapi.
Sesaat kemudian,
"Aaah ... Kenapa pakaianmu semuanya bagus-bagus begini? Niko ini sungguh keterlaluan, kenapa membelikan pakaian sebagus ini?" Elvano tiba-tiba murka.
Cheril sudah tak tahan kali ini. Ia beranjak dari tempat tidurnya dan menghampiri Elvano.
"Memangnya kenapa sayang?" Cheril yang sudah berada di samping Elvano kembali melempar pertanyaan.
"Aku tidak mau kamu mengenakan pakaian sebagus ini. Nanti laki-laki kegatelan itu pasti akan melihatmu tanpa berkedip. Tau tidak?" jawab Elvano dengan nada tinggi.
Jadi itu Alasannya ....
"Ya ampun sayang, kenapa kamu begitu mempermasalahkan hal itu? Sekalipun dia bisa melihat aku, tapi kan tidak bisa memiliki hati aku," jelas Cheril.
"Tidak bisa. Aku tidak akan rela, sekarang aku harus menghubungi Niko memintanya untuk mencarikan pakaian yang jelek untukmu," ucap Elvano dan sudah mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Niko.
Eh, dia sungguh melakukan itu ....
"Sayang, tapi ...,
Elvano tidak membiarkan Cheril meneruskan pembicaraannya dan memilih menutup mulut Cheril dengan kecupan lembut tepat di bibir Cheril. Jelas Cheril merasa kaget dengan tingkah Elvano itu.
"Hallo ..., " Niko menjawab telepon.
Dan Elvano pun melepaskan kecupannya, lalu menanggapi Niko.
"Hei, Nik, kamu belikan pakaian untuk Cheril sekarang juga. Beli pakaian yang jelek," ucap Elvano.
Apa maksudnya coba ....
"Maaf Tuan Muda, apa maksudmu?" tanya Niko tak mengerti.
"Iya, cari pakaian yang jelek. Apa pendengaranmu juga terganggu? Besok periksa ke dokter!" murka Elvano.
Hahaha ... Apalagi ini ....
"Maaf, " tanggap Niko singkat.
"Aku tidak butuh kata maaf darimu. Cepat, beli pakaian yang jelek, ingat ya, yang jelek!" tegas Elvano sekali lagi.
"Baik Tuan Muda Elvano Setiono. Aku akan beli pakaian yang paling jelek untuk Nona Muda," jawab Niko dan kemudian mematikan ponselnya.
Huuuuuuuuuuuuh
Elvano membuang nafas kasar demikian juga dengan Niko.
"Sungguh pria aneh. Apa dia sudah tidak waras ingin membeli pakaian jelek untuk istrinya?" Gumam Niko pelan.
Walaupun merasa bingung, Niko tetap memilih menjalankan tugas aneh yang diperintahkan oleh Elvano.
Sementara di kamar Villa, Cheril sedang membatin.
Apa kamu sungguh-sungguh akan membiarkan aku mengenakan pakaian jelek jika Niko membelikan itu untukku ... Lagian Niko pasti akan merasa kamu itu tidak waras.
Tepat seperti itulah yang dipikirkan oleh Niko. Tidak hanya Niko dan Cheril, pegawai toko pakaian pun akan berpikir hal yang sama. Memangnya ada apa orang yang mendatangi toko pakaian, lalu minta dicarikan pakaian yang jelek?