
Kehidupan seseorang memang tidak ada yang tau. Hari ini bisa saja kehidupan kita kurang beruntung, namun percayalah, hari esok bisa saja semuanya sudah berubah.
Yang terpenting kita tetap berjuang dan berjuang.
Seperti yang dapat kita petik dari cerita ini, Elvano yang sebelumnya hidupnya harus begitu menyedihkan, menjadi yang terbuang. Namun pada akhirnya semua berubah bahagia.
Kehidupan baru pun telah dimulai.
Satu Minggu pertama, Elvano melewati hari-harinya dengan santai.
Ia sengaja diberi waktu oleh ayahnya untuk mengakrabkan diri dengan anggota keluarganya. Elvano juga sudah dikenalkan pada seluruh penghuni rumah ini, termasuk para pengawal dan para pegawai yang bekerja untuk keluarga ini. Ia hanya belum dikenalkan pada para karyawan di Astra Investama Group.
Elvano memang akan segera mewarisi semua aset yang dimiliki oleh keluarga ini, termasuk Astra Investama Group yang sudah terbang tinggi di atas puncak. Ia akan menjadi Direktur Utama di perusahaan itu yang rencananya hari senin besok akan diumumkan oleh ayahnya.
Hari ini merupakan hari Minggu, jadi mereka memiliki lebih banyak waktu untuk berkumpul kembali.
Sebelum hari sibuk itu datang, Tuan William memutuskan untuk mengajak Elvano dan yang lainnya berziarah ke kuburan kakek dan nenek mereka.
Elvano memang sudah tau tentang neneknya yang juga sudah meninggal sekitar 6 bulan yang lalu setelah kepergian kakeknya.
Nenek juga selalu membicarakan tentang Elvano. Ia juga merasa bersalah karena telah ikut berkompromi dengan kakek untuk menyembunyikan rahasia besar itu selama bertahun-tahun lamanya. Nenek sangat merindukan Elvano dan berharap bisa bertemu dengan cucunya itu.
Namun takdir berkata lain, sebelum cucunya kembali, ia yang lebih dulu kembali pada Sang Pencipta.
Jadilah hari itu mereka berziarah ke pemakaman kakek dan nenek mereka.
-----------------------
Kurang lebih 1 jam mobil melaju mereka telah tiba di tempat pemakaman.
Mobil pun terparkir dengan rapi di gerbang masuk, semua yang ada di dalam mobil ikut turun menuju ke dalam perkarangan pemakaman termasuk Sang supir.
Ketika tiba di depan rumah masa depan milik kakek dan nenek, mereka pun menghentikan langkah mereka.
Tuan William berjongkok di depan kuburan dengan meletakkan 2 ikat bucket bunga yang masih sangat fresh di depan kuburan kakek dan nenek, sedangkan yang lainnya menaburkan bunga tabur pada kedua kuburan yang saling berdekatan itu, Vano juga ikut menaburkan.
"Vano, kemarilah!" pinta ayahnya ketika Vano sudah selesai menaburkan bunga.
Elvano pun melangkah mendekati ayahnya dan berjongkok bersama ayah.
pada saat yang bersamaan yang lainnya juga sudah berdiri di depan kuburan nenek dan kakek tepatnya di belakang kedua orang yang sedang berjongkok itu.
"Vano, ini adalah kuburan Kakek, dan yang ini kuburan Nenek," jelas Tuan William sambil menunjukkan jari telunjuknya memberitahukan pada Elvano.
"Ayah, Ibu, ini cucu kalian, Elvano Setiono. Dia sudah di sini saat ini. Dia sudah pulang kerumah kita. Kalian pasti senang kan?" Ayah Elvano berkata-kata di depan kuburan kakek dan nenek, wajahnya terlihat sedikit bersedih.
"Ayah, Ibu ... Sekarang kami sudah berkumpul kembali. Willi berjanji, Willi akan memberikan yang terbaik untuk putra kami ini, cucu kalian, cucu yang kalian cintai,"
air mata Tuan William mulai menetes membasahi wajahnya.
Yang lainnya juga terlihat bersedih melihat William yang meneteskan air mata, walaupun mereka memang tidak ikut meneteskan air mata sih.
Sedangkan Elvano masih diam seribu bahasa. Walaupun ia memang sudah lebih bisa menerima semua kejadian yang menimpa nya.
Kakek, Nenek ... Elvano sudah memaafkan Kakek dan Nenek. Vano juga meminta maaf karena tidak pulang lebih cepat untuk melihat Kakek dan Nenek. Hari ini Vano hanya bisa mengunjungi kalian di sini.
Elvano hanya berkata-kata di dalam hatinya. Dimana semua orang tidak dapat mendengarkannya.
Ibu Anita juga maju mendekati kuburan dan berjongkok di samping Elvano.
"Tuan Besar dan Nyonya Besar, maafkan saya juga yang sangat tidak peka. Saya sudah menyembunyikan cucu kalian terlalu lama sehingga kalian sangat sulit menemukan kami," sesal Ibu Anita sambil sesekali mengusap air matanya yang mulai berjatuhan.
Ada sedikit penyesalan di dalam hatinya karena tidak bisa mempertemukan cucu dengan kakek dan neneknya. Namun nasi sudah menjadi bubur, apa yang bisa diperbuat, semua yang sudah terjadi memang sudah tidak mungkin bisa diperbaiki lagi.
Melihat Ibu Anita menangis Winda segera menghampiri nya. kini hanya meninggalkan Flo dan Valen yang masih tetap berdiri di belakang mereka. Dan Bapak sopir yang berdiri agak jauh.
"Terimakasih ya An ... Entah bagaimana kami akan membalas budimu,"
ucap Winda sambil merangkul Ibu Anita di depan kuburan kakek dan nenek dengan posisi berjongkok bersamanya.
"Iya, benar kata Winda, kami sudah berhutang budi padamu An...," sambung Tuan William.
"Eh, tidak Tuan dan Nona Muda ... Jangan berkata begitu, saya sudah merasa senang bisa mendapat amanah ini. Saya yang harus berterimakasih karena sudah diberi penghormatan ini," tanggap Ibu Anita merendah.
"An, kamu memang orang yang baik, beruntung kami bisa memiliki mu," puji Winda setelah mendengar apa yang diucapkan Ibu Anita. Ia semakin mempererat rangkulannya.
"Ini sudah menjadi kewajiban saya Nona," Ibu Anita masih merendahkan hati.
Kali ini giliran Elvano yang mengeluarkan suara.
"Bu, terimakasih selama ini Ibu sudah memberikan yang terbaik untuk Vano ... Sekalipun Vano bukan anak kandung Ibu, tapi Ibu selalu memperlakukan Vano penuh kasih sayang layaknya anak kandung Ibu sendiri. Sekali lagi terimakasih Bu!" ucap Elvano sambil melingkarkan tangannya di leher Ibu Anita membuat tangannya bertemu dengan tangan ibu kandungnya karena ia juga masih merangkul Ibu Anita.
Ibu Anita yang sudah berhenti menangis kembali berkaca-kaca mendengar apa yang diucapkan Elvano. Ia merasa terharu karenanya.
Vano, kamu memang sudah Ibu anggap sebagai anak Ibu sendiri.
Ibu Anita berkata dalam hati.
Kurang lebih 40 menit mereka berada di tempat peristirahatan terakhir kakek dan nenek setelahnya Tuan William pun mengajak mereka pulang.
Sebelum pulang kerumah, mereka mampir terlebih dahulu di sebuah mall besar untuk berbelanja sekaligus jalan-jalan.
Mungkin bisa dikatakan ini merupakan perayaan kecil-kecilan untuk menyambut pewaris Astra Investama Group yang sudah pulang ke rumah.
"Vano, kamu lihat mall ini?" tanya Tuan William sambil melirik ke arah Elvano pada saat mereka sedang berjalan menelusuri mall itu.
Elvano menatap ayahnya sesaat tidak mengerti dengan maksud Ayahnya.
"Ini adalah salah satu aset milik keluarga kita," jelas Tuan William.
Dan membuat Elvano sedikit mengangkat alisnya.
Pantas saja tadi satpam yang menjaga di depan membungkukkan badannya.
Batin Elvano dalam hati.
" Vano, Ayah ingin memberitahukan padamu, besok kamu akan Ayah kenalkan pada seluruh staff Astra Investama Group, Ayah juga akan memperkenalkan kamu pada beberapa klien penting kita," Ujar William masih sambil terus melangkahkan kakinya.
"Mulai besok Ayah juga akan mengumumkan penggantian Presdir Astra Investama Group atas namamu," tambahnya lagi.
"Kamu sudah siap kan ikut Ayah ke kantor mulai besok?"
Elvano menghentikan langkahnya, membuat semua yang berjalan bersamanya juga menghentikan langkah mereka.
"Ayah, bagaimana dengan kuliah Vano?" tiba-tiba Elvano baru ingat dengan kuliahnya.
Tuan William tersenyum kecil mendengar itu, ia berpikir Elvano akan menolaknya, ternyata hanya menanyakan soal kuliahnya.
"Vano, Ayah akan mengirimkan dosen khusus untuk membantu mu menyelesaikan kuliahmu, jadi kamu tidak perlu mengikuti pendidikan formal di kampus. Setidaknya kamu bisa lebih fokus mempelajari tentang perusahaan kita."
"Oh iya, Ayah ingin bertanya, kamu kuliah di bidang apa?"
" Management bisnis Yah ...," jawab Elvano singkat.
Mendengar jawaban Elvano Tuan William kembali tersenyum tipis.
"Baguslah Vano, Ayah yakin kamu tidak akan mengalami banyak kesulitan untuk mempelajari tentang perusahaan kita karena kamu sudah berada di bidang kuliah yang tepat selama ini." tanggap Tuan William kemudian sekaligus menutup pembicaraan yang cukup formal itu.