
Sesaat kemudian acara makan pun telah selesai. Makanan ketiga orang itu sudah benar-benar bersih tak bersisa. Yang tersisa hanya tulang ayam pada bungkusan nasi milik Cheril juga Niko. Sepertinya tidak hanya Cheril yang kelaparan, tapi kedua pria itu juga kelaparan.
Setelah makan siang itu usai Niko lebih memilih keluar dari rumah sewa itu, meninggalkan Elvano dan Cheril berada didalam. Membuat para pengawal sedikit mengerti apa yang sedang terjadi sebenarnya.
Terutama dengan penampilan Tuan Muda mereka yang sudah seperti salesman itu.
Elvano memilih berpindah tempat duduk dari meja makan ke arah sofa, Cheril pun juga mengikuti langkahnya.
Kedua orang itu kemudian duduk diam diatas sofa ruang tamu. Cheril kemudian meraih remot dimeja tamu dan menyalakan televisi yang ada dihadapan mereka berdua.
"Bagaimana kamu bisa sampai ditempat ini?" Ucap Elvano membuka pembicaraan.
Eh, apa ia memang tidak tau apa yang terjadi padaku sebenarnya ya. Ternyata aku yang terlalu senang mengira dia yang meminta Niko untuk menolongku.
"Ceritanya panjang !" Jawab Cheril singkat.
"Ceritakanlah !" Ujar Elvano.
"Hmm.. Jadi ceritanya begini...."
Cheril pun menceritakan semuanya pada Elvano, dari awal hingga ia bisa sampai ke tempat itu.
Padahal Elvano juga sudah tau apa yang terjadi sebenarnya. Hanya saja ia ingin mendengar dari mulut Cheril langsung.
"Kamu sendiri yang salah !" Ucap Elvano menganggapi apa yang telah disampaikan oleh Cheril.
"Eh, maksud kamu?" Tanya Cheril
"Ya, kan kamu sendiri yang memilih pria itu." Ujar Elvano lagi.
Kalimat Elvano kali ini membuat Cheril terdiam seribu bahasa. Elvano memang tidak salah, ia malah sudah menjadi korban.
"Maaf !" Ucap Cheril kemudian.
"Untuk apa?" Tanya Elvano
"Soal pertunangan itu." Jawab Cheril sambil menundukkan wajahnya. Sesaat kemudian ia kembali mengangkat wajahnya.
"Tapi aku bisa menjelaskan semuanya !" Lanjut Cheril lagi.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan !" Jawab Elvano dengan wajah yang sangat dingin.
"Eh.." Cheril kembali tertunduk.
"Aku ingin kamu membayarnya sekarang !" Ujar Elvano lagi. Membuat Cheril kembali mengangkat wajahnya dan menujukan pandangannya ke arah Elvano.
"Maksud kamu?" Tanya Cheril penuh penasaran.
"Menikahlah dengan ku !" Ucap Elvano lantang masih dengan ekspresinya yang dingin.
Sementara Cheril, ia sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Semua rasa sudah bercampur menjadi satu.
"Jangan senang dulu, aku hanya ingin kamu membayar semua kebaikanku. Karna sudah menolong mu dari tempat itu." Lanjut Elvano tiba-tiba.
'Jadi dia tau tentang itu, jadi memang dia yang meminta Niko menolong ku? Untuk apa dia masih memintaku untuk menceritakan semua itu tadi?'
Huuuuuuuuh
"Ini bukan sebuah pertanyaan tapi sebuah keharusan. Mau tidak mau kamu harus tetap mau !" Tambah Elvano lagi.
"Eh...."
Cheril sungguh tidak mengerti dengan pria yang ada dihadapannya ini. Ia selalu berucap dan melakukan apapun sesuka hatinya.
"Baiklah ! Aku sudah selesai dengan urusanku. Besok pagi aku akan meminta Niko mengirim supir untuk menjemput mu menuju ke acara pernikahan kita." Ujar Elvano lagi yang membuat Cheril kembali tersentak.
"Apa katamu? Besok pagi? Menikah? Apa kamu pikir pernikahan itu adalah sebuah permainan?" Cheril akhirnya melempar pertanyaan bertubi-tubi.
"Iya.. Memangnya kamu menganggap sebuah pernikahan itu seperti apa?" Elvano kembali melempar pertanyaan.
"Eh, Tentu saja pernikahan itu adalah hal yang sangat istimewa !" Jawab Cheril
"Jika memang pernikahan itu sangat penting kenapa kamu ada disini sekarang? Bukannya laki-laki itu seharusnya menjaga mu dengan baik?" Elvano kembali melempar pertanyaan yang membuat Cheril kembali diam seribu bahasa.
"Kenapa diam saja Nona? Jawab !" Ucap Elvano dengan nada yang agak keras. Cheril yang sebelumnya diam sedikit tersentak mendengar suara Elvano itu.
"Nona, kamu tidak bisa menjawab kan? Bukankah pernikahan itu memang hanya sebuah permainan?"
Elvano terdiam sejenak, lalu kembali melanjutkan pembicaraannya.
"Nona, kau masih ingat malam itu, aku sudah akan mengembalikan uang yang pernah kau berikan waktu itu. Dan aku memang sudah ingin mengakhiri semuanya waktu itu. Tapi bukannya kamu menolaknya? Bukankah itu artinya kamu sendiri juga masih sangat berharap bisa menikah dengan ku?"
"Kau pikir, kau masih layak untuk ku nikahi? Nona, kamu itu sudah barang bekas !" Tambah Elvano lagi dengan kata yang sangat kasar
Kata-kata Elvano kali ini sungguh mengiris hati Cheril. Elvano sudah sangat keterlaluan kali ini. Mata Cheril saja sampai berkaca-kaca.
"Kamu keterlaluan Vano ! Sangat keterlaluan !" Ucap Cheril kemudian dengan nada yang mulai terisak.
'Eh, dia menangis? Aku harus bagaimana sekarang?'
Yang satu ini memang diluar pikirannya. Ia tidak menyangka Cheril akan menangis setelah mendengar ucapannya itu.
Ah, Elvano memang terlampau polos sih. Masa ia tidak tau perkataannya itu sungguh sangat menyakitkan. Wanita mana coba yang tidak akan tersinggung jika dikatakan sebagai barang bekas seperti itu?
Akhirnya Elvano pun harus menurunkan gengsinya, ia reflek meraih tubuh Cheril dan memeluk nya.
"Sudahlah ! Jangan menangis !" Ucap Elvano sambil mengelus punggung Cheril.
Saat ini Cheril sungguh sangat bingung dengan pria yang ada dihadapannya itu. Sudah seperti memiliki kepribadian ganda saja. Benar-benar tidak bisa ditebak.
Sesaat kemudian Elvano kembali melepaskan pelukannya ketika ia merasa Cheril sudah tidak menangis lagi.
"Bersiaplah ! Aku serius dengan ucapan tadi. Kita akan menikah besok !" Ucap Elvano mengulangi perkataannya yang tadi.
Cheril akhirnya hanya memilih diam. Ia sendiri tidak tau apa alasan Elvano mengajaknya menikah. Yang pasti dia sudah tidak berharap banyak dari laki-laki itu, ia sadar, sudah terlalu dalam luka yang ia tancapkan di hati laki-laki itu. Mungkin Elvano memang sedang berencana untuk membalasnya, pikir Cheril.
Kali ini Cheril tidak berpikir untuk melarikan diri lagi. Ia akan menghadapinya. Tidak tau kenapa Cheril juga merasa senang walaupun jelas Elvano menyebut pernikahan itu hanya sebuah permainan belaka.
Sesaat setelah mengucapkan kalimat terakhirnya, Elvano pun beranjak dari tempat duduknya lalu menuju ke arah pintu untuk meninggalkan rumah sewa itu. Cheril juga ikut beranjak ketika melihat Elvano beranjak.
"Nik, urus dia !" Ucap Elvano pelan ketika ia sudah keluar dari rumah itu dan menghampiri Niko.
Niko hanya mengangguk pelan. Ia sudah mengerti apa yang dimaksudkan oleh Elvano.
Niko kemudian berjalan menghampiri Cheril yang sedang berdiri didepan pintu.
Sebelum ia tiba dihadapan Cheril, Niko lebih dulu memberi perintah pada kedua pengawal itu untuk mengambil pakaian yang sudah ia beli tadi didalam mobil.
"Nona, ini ada sedikit uang, ambillah !" Ucap Niko
"Eh.. Tidak perlu Niko ! Jawab Cheril sungkan.
"Sudah ambillah ! Kamu belum memiliki makanan dan juga minuman kan? Belilah di warung dekat sini. Nanti pengawal akan menemanimu." Tambah Niko lagi.
Cheril masih diam saja membuat Niko kembali mengulangi perkataannya sekali lagi.
"Ambillah Nona !"
"Eh..."
Akhirnya Cheril pun mengangkat tangannya untuk mengambil uang yang disodorkan oleh Niko.
"Makasih ya Niko !" Ucap Cheril kemudian. Niko hanya mengangguk pelan menanggapi ucapan Cheril.
Sesaat kemudian para pengawal juga sudah kembali dengan beberapa kantong dikedua tangannya.
"Itu apa Niko?" Cheril kembali bertanya.
"Oh, ini pakaian ganti mu. Ambillah !" Jawab Niko sambil memberi perintah agar Cheril menerimanya.
Cheril sedikit kaget mendengar apa yang diucapkan oleh Niko.
Ia tidak menyangka ternyata Niko juga membelikan pakaian ganti untuk nya. Sungguh sudah sangat berlebihan rasanya. Cheril sendiri lupa ia memang tidak membawa pakaian sehelai pun selain yang ia pakai saat itu.
"Niko, apa aku boleh bertanya?" Cheril memberanikan diri untuk bertanya.
"Eh, Boleh Nona, Apa yang ingin anda tau Nona?"