
Sebelumnya:
Dan keributan pun kembali terjadi hingga Cheril kembali bersuara.
"Sudahlah Sayang! Sudah! Aku pusing banget deh dengan suara kalian ini," sergah Cheril.
Dan kali ini Elvano dan Shinta melemparkan pandangan mereka ke arah Cheril secara bersamaan.
Pada saat yang bersamaan Pak Jono juga sudahyg berdiri di depan pintu kamar Villa yang sedang terbuka.
----
"Kenapa kalian berdua melihat aku seperti itu? Tuh lihat Pak Jono saja sampai datang kemari mendengar suara kalian itu. Kalian itu sangat berisik tau nggak?" kata Cheril sambil memancungkan mulutnya ke arah pintu.
Saat Cheril mengucapkan kalimat itu Elvano dan Shinta yang sebelumnya sedang menatap Cheril melemparkan pandangan mereka ke arah pintu secara bersamaan. Membuat Pak Jono merasa sedikit salah tingkah.
"Eh, Maafkan saya Tuan Muda, saya sudah lancang!" ucap Pak Jono lalu menundukkan kepalanya.
"Tidak apa-apa kok Pak Jono, mereka memang sangat berisik. Bukan salah Pak Jono," tanggap Cheril.
Pak Jono yang merasa dibela oleh Cheril tersenyum tipis.
Sementara Elvano dan Shinta masih terlibat di dalam perdebatan melalui adu tatap yang mereka lakukan. Mulut mereka berdua juga masih komat-kamit.
"Kamu tuh yang mulai duluan."
"Kamu yang salah."
"Kamu ... Kamu ... Kamu ...."
Bisikan tersebut terdengar samar dari mulut kedua orang ini.
"Ya ampun, masih berlanjut ternyata. Sampai kapan mereka akan berdebat seperti ini?" gumam Cheril pelan.
Cheril yang mulai merasa kewalahan mendengar perdebatan kedua orang ini, akhirnya memilih meninggalkan mereka berdua.
Perlahan Cheril menuruni tempat tidur dan melangkah pelan meninggalkan kamar Villa tanpa sepengetahuan Elvano.
Pak Jono yang masih berdiri di depan pintu kamar Villa tersenyum kecil melihat tingkah Cheril yang menjahili Elvano.
"Sssttt!"
Cheril meletakkan jari telunjuknya di tengah bibirnya sambil berdesis supaya Pak Jono mau bekerja sama dengannya untuk tetap diam agar dia berhasil keluar dari kamar tersebut tanpa sepengetahuan Elvano.
Dan Pak Jono pun mengangkat kedua tangannya untuk menutup mulutnya rapat.
Dan benar saja, Cheril berhasil melakukan aksinya itu.
Fiiiiuh
Cheril bernafas lega karena dapat menghindari Elvano dan Shinta yang sudah melanjutkan kembali perdebatan mereka.
Di luar kamar Villa, Cheril mencoba mencari tahu informasi tentang hubungan Shinta dan Elvano melalui Pak Jono. Sekaligus ia juga ingin menanyakan tentang hubungan Pak Jono dengan Elvano.
"Pak Jono, apa aku boleh bertanya sesuatu kepada bapak?"
Cheril memulai percakapan.
Yup, Pak Jono memang sudah bisa menebak apa yang ingin ditanyakan oleh Cheril.
"Eh, Ternyata Pak Jono hebat ya, bisa tahu apa yang ingin aku tanyakan," puji Cheril.
"Nona bisa saja. Tentu saja semua orang bisa menebak dengan tepat," tanggap Pak Jono merendah.
Setelah memberi sedikit jeda di antara kalimat pertamanya, Pak Jono kembali melanjutkan kalimat berikutnya.
"Baiklah, saya akan menceritakan pada Nona mengenai hubungan Tuan Muda dengan Dokter Shinta. Tetapi saya berharap Nona Muda jangan salah paham terlebih dulu," ucap Pak Jono sambil menatap Cheril.
Dan Cheril mengangguk pelan. Tentu saja Cheril sudah menyiapkan hatinya untuk menerima semua kenyataan. Dari sikap yang ditunjukkan oleh Shinta, Cheril dapat menyimpulkan wanita itu sepertinya menyimpan perasaan terhadap Elvano. Hanya saja, Cheril masih belum begitu jelas dengan perasaan Elvano terhadap gadis itu.
Sesaat setelahnya, Pak Jono mulai menceritakan semuanya pada Cheril.
"Elvano dan Dokter Shinta bisa saling mengenal adalah dari saya. Hubungan mereka berdua memang lumayan baik. Dan Dokter Shinta diam-diam menyimpan perasaan terhadap Tuan Muda."
Pak Jono menatap Cheril sesaat setelah selesai dengan paragraf awalnya. Ia ingin memastikan semuanya baik-baik saja.
Walaupun ada sedikit rasa aneh yang muncul di hati Cheril, namun ia tetap menyimak apa yang diucapkan oleh Pak Jono secara seksama. Dan membiarkan Pak Jono meneruskan pembicaraannya tanpa memotong pembicaraan sama sekali.
Setelah merasa Cheril siap menerima semua penjelasan darinya, Pak Jono pun melanjutkan kembali penjelasannya masih sangat panjang itu.
"Dokter Shinta terus menunggu kedatangan Tuan Muda yang sudah lumayan lama tidak berkunjung kemari. Mereka berdua memang sudah cukup lama tidak bertemu setelah pertemuan terakhir pada saat anak saya masih dirawat oleh Dokter Shinta sekitar 6 bulan yang lalu. Bahkan terakhir kali Tuan Muda mengunjungi tempat ini, ia malah tidak menemuimu Dokter Shinta."
"Dari situ saja saya sudah bisa menilai, Tuan Muda pasti tidak memiliki perasaan apapun terhadap Dokter Shinta."
"Saya juga berpikir, secara fisik, Tuan Muda Elvano begitu tampan. Tidak mungkin dia tidak memiliki pilihannya sendiri di kota. Dan benar saja ternyata Tuan Muda malah sudah menikah dengan Nona."
"Sejak kejadian yang menimpa anak bungsu saya, dan sejak Dokter Shinta mengenal Tuan Muda Elvano, ia memang sangat sering datang ke rumah saya untuk mencari tahu informasi tentang Tuan Muda melalui saya."
"2 bulan yang lalu, Dokter Shinta pernah dilamar oleh salah satu pemuda di kampung ini. Dan gadis itu menolak hanya karena menunggu Tuan Muda Elvano. Dia begitu yakin Tuan Muda akan membalas perasaannya dan kembali untuknya.
Padahal, sudah berulang kali saya menasehati dia supaya tidak menunggu dan berharap terlalu banyak dari Tuan Muda. Tapi gadis itu terlalu keras kepala. Ia sama sekali tidak mau mendengarkan penjelasan dari saya."
"Mungkin saat ini Dokter Shinta merasa kecewa. Perasaannya juga pasti sedang terluka.
Dan mungkin karena alasan inilah dia terus mencari keributan dengan Tuan Muda Elvano waktu di kamar tadi."
Pak Jono kemudian juga menceritakan mengenai kondisi anak bungsunya yang terjatuh dari pohon mangga beberapa waktu yang lalu yang merupakan awal dari pertemuan Elvano dengan Dokter Shinta. Dan Pak Jono juga menceritakan Bagaimana waktu itu Elvano yang telah menolong anaknya itu. Pak Jono menceritakan semuanya secara detail dan jelas. Sebab, Pak Jono tak ingin terjadi kesalahpahaman diantara Elvano dan Cheril. Jadi Pak Jono pun memilih menceritakan semuanya tanpa ada satu pun yang ia sembunyikan.
Setelah mendengarkan apa yang dijelaskan oleh Pak Jono, Cheril pun mengerti. Tak hanya tentang hubungan Elvano dengan Dokter Shinta saja, tetapi ia bahkan tak perlu lagi menanyakan perihal hubungan Elvano dengan Pak Jono karena penjelasan yang disampaikan oleh Pak Jono tadi juga sekaligus menjawab pertanyaan tersebut.
Selain perihal anak bungsu Pak Jono yang ditolong oleh Elvano, Pak Jono juga menceritakan bagaimana pentingnya seorang Elvano di desa Semut Merah itu.
Elvano turut bekerja keras dalam membangun desa itu. Dari fasilitas umum seperti jembatan yang terletak di pinggir desa yang menghubungkan desa Semut Merah dengan salah satu desa lainnya yang selama ini tak pernah terhubung karena tak adanya akses jembatan di antara kedua desa tersebut, juga termasuk pembangunan sekolah yang lebih layak di desa ini. Dan salah satu proyek terbesar yang dilakukan oleh Elvano adalah mengenai pembangunan pantai ini, yang diharapkan dapat menjadi penunjang ekonomi masyarakat setempat.
Peran dari seorang Elvano memang amat penting bagi desa Semut Merah ini. Jadi wajar jika Dokter Shinta sangat mengagumi sosok Elvano.
Setelah mendengar apa yang diceritakan oleh Pak Jono padanya, Cheril juga ikut merasa terharu dan mengagumi sosok Elvano yang sangat baik itu. Selama ini Cheril tak pernah menyangka, ternyata laki-laki yang ia nikahi itu adalah seorang laki-laki sesempurna ini.
Ternyata kamu adalah seorang manusia yang berhati malaikat. Aku sungguh sangat beruntung bisa memilikimu. Hatimu bersih bagaikan awan putih yang tak bernoda. Jiwamu bersinar menerangi kegelapan malam. Peranmu begitu penting bagi banyak orang di tempat ini. Aku sungguh tak pernah terpikirkan tentang dirimu yang sesempurna ini. Terima kasih Vano. Terima kasih sudah mengajarkanku mengenai pelajaran yang teramat penting ini.
Demikianlah batin Cheril saat itu. Ia ikut merasa bangga akan apa yang sudah dilakukan oleh Elvano.