Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Episode 250


Guru Raymon telah tiba di depan ruangan Valen saat ini. Dan terlihat Elvano sedang sangat panik di dekat tempat tidur Valen.


Guru Raymon kemudian melangkah dengan perlahan menuju ke arah tempat tidur Valen.


"Jeong Shu, kamu harus tenang. Jika kamu panik seperti ini juga tak ada gunanya. Yang ada malah membuat Adikmu ikut merasakan perasaan yang sedang kamu rasakan," ucap Guru Raimon sambil menepuk pundak Elvano pelan.


"Eh, Guru? Maafkan Murid. Tapi aku sungguh sangat takut," ungkap Elvano sambil menyeka air matanya yang sudah mulai berjatuhan.


"Guru, atau aku susul saja mereka. Tidak mungkin kan kita terus menunggu seperti ini?" Elvano menambahkan.


"Kamu tenanglah! Aku akan mencoba menyuplai tenaga dalam untuk Valen lebih dulu. Setidaknya akan membantu Valen untuk bisa bertahan," jelas Guru Raymon.


Kemudian Guru Raimon segera menaiki tempat tidur Valen dan memberikan tenaga dalam untuk nya.


"Guru, biar aku bantu ya."


Tanpa menunggu jawaban Guru Raymon, Elvano juga telah ikut menaiki tempat tidur valen yang sudah dalam posisi duduk bersilang memunggungi Guru Raymon.


Sementara Elvano memilih duduk di depan Valen.


Jujur, Guru Raymon sangat ingin menolak bantuan Elvano mengingat diri nya yang baru saja sembuh. Tapi, jika tidak dibantu oleh Elvano, tubuh tua itu juga tak akan sanggup melakukan ini lagi. Sebab kondisi Guru Raymon juga sedikit lemah karena beberapa hari ini telah banyak mengeluarkan tenaga untuk membantu Valen bertahan.


Akhirnya, dengan sangat terpaksa Guru Raymon pun membiarkan Elvano turut membantu dirinya.


Lalu keduanya mulai duduk berhadapan yang terhalang oleh tubuh Valen di depan mereka. Dan mulai melakukan gerakan indah dengan tangan mereka beberapa detik sebelum menbentangkan kedua telapak tangan mereka menghadap tubuh lemah Valen secara bersamaan.


Suasana begitu hening. Hanya ada suara desiran angin dari tenaga dalam yang mereka keluarkan yang memenuhi ruangan tersebut.


Yuka yang sedari tadi juga hadir di sana dalam diam memperhatikan ketiga orang itu dengan perasaan was-was. Dia ikut merasa cemas karena mengetahui jelas bagaimana kondisi kedua orang yang sempat menjadi pasiennya beberapa hari ini.


Dan bagi Yuka, suasana seperti ini malah begitu menegangkan. Apalagi pada saat yang sangat tidak tepat seperti sekarang di luar malah terdengar suara yang sedikit ribut. Entah siapa yang ada di luar sana.


Yuka memilih melangkah pergi dan tak lupa mengunci pintu kamar itu dari luar. Sebab pada saat penyaluran tenaga dalam sedang berlangsung, mereka membutuhkan ketenangan. Dan selain itu, penyaluran juga tidak boleh terputus di tengah jalan. Jika hal ini terjadi maka akan terjadi hal yang sangat fatal terhadap mereka bertiga.


_


_


"Eh, hormat Paman Guru!" ucap Yuka memberi hormat saat melihat siapa yang ada di hadapan dirinya setelah ia tiba di pintu depan kastil.


Ternyata yang hadir di luar tak lain adalah orang yang menolong Cheril. Namun semua tak terlihat baik. Sebab pria dewasa itu terlihat terluka cukup serius. Pria muda di sebelahnya juga terluka lebih parah. Dan satu lagi. Cheril tidak sedang bersama mereka.


"Paman Guru, ayo aku bantu! Apa yang telah terjadi sebenarnya?"


Yuka segera menuntun tubuh pria yang ia sebut sebagai Paman Guru ke atas kursi. Setelahnya ia juga menuntun pria muda itu ke arah tempat duduk yang lainnya.


"Raymon mana, Yuka?" tanya pria yang lebih dewasa.


"Ada di dalam, Paman Guru. Sedang mengobati Valen saat ini," jelas Yuka.


"Oh iya, mengenai hal ini Cheril sudah bercerita. Obat apa yang dimasukkan anak kurang ajar itu ke dalam minuman Valen sehingga wanita itu mengalami masalah sebesar ini?


Paman Guru itu terlihat sedikit terkejut ketika mendengar Yuka berbicara seperti ini. Seolah-olah wanita itu sedang mengalami kondisi yang lumayan gawat. Padahal kejadian dimana tragedi tersebut terjadi sudah berlalu 1 minggu lamanya. Jika hanya sekedar obat perangsang maupun obat tidur, bukankah seharunya efek dari obat tersebut sudah hilang? Dan seharusnya juga tidak akan terdengarsegawat ini.


"Racun, Paman Guru. Dari campuran bunga Brumansia hitam," jelas Yuka.


"APA?"


Dan pada saat yang bersamaan, Dirly beserta ketiga pengawal khusus itu juga telah kembali dari pejalanan mereka.


Mereka sedang berdiri di depan pintu saat ini.


"Ketua?" panggil Rein.


Lalu ketiga pengawal khusus Elvano segera menghampiri pria dewasa ini untuk memberikan hormat mereka.


"Selamat malam, Ketua! Homat kami pada Ketua!" ucap mereka bertiga bersamaan.


Yup, pria dewasa ini juga merupakan pimpinan Blood team putih. Dan beliau lah yang mengirimkan ketiga pengawal ini untuk Elvano.


Sementara saat ini, mata Ketua Blood team putih itu malah tertuju kepada Dirly yang masih berdiri di depan pintu.


"Ternyata kau juga ada di sini? Kebetulan sekali, aku harus memberikan sedikit pelajaran bagimu. Dasar anak kurang ajar!" sergahnya kemudian.


Dirly tidak dapat berkata apapun. Dia hanya bisa menundukkan wajahnya. Dirly tahu dan sangat mengerti kemana arah pembicaraan Paman Gurunya itu. Dan saat itu Dirly memang sudah menyesali perbuatannya.


"Nona Yuka, Apakah Tuan Muda sudah sadar?" tanya Rein mengalihkan topik.


Sekarang mata Ketua Blood team putih itu meolotot seketika.


"Apa sesuatu juga terjadi pada Elvano?"


Beliau ikut melemparkan pertanyaan pada Rein. Ketua Blood team putih itu melirik ke arah Yuka dan Rein secara bergantian.


"Ceritanya panjang Ketua. Nanti akan kami jelaskan semuanya," jawab Rein menjeda.


"Nona Yuka, anda masih belum menjawab, apa Tuan Muda sudah sadar?" Rein mengulangi pertanyaannya.


"Iya Tuan, dia sudah bangun tadi siang. Dan sekarang sedang menyalurkan tenaga dalam pada Valen bersama Guru."


"APA?" teriak mereka serentak.


Yup, mereka semua yang ada di sana kecuali Yuka. Gadis itu sampai reflek menutup kedua kupingnya.


Tentu saja mereka sangat terkejut. Elvano baru sadar sudah melakukan hal seberat ini. Bisa-bisa kondisinya malah memburuk kembali.


"Emh, seharusnya sekarang sudah selesai. Lebih baik kita periksa keadaan mereka. Oh, iya, kalian membawa penawar itu kan?"


Yuka mengucap sambil melirik ke arah Dirly yang sudah mendekat dan ketiga pengawal khusus itu bergantian.


"Ya. Kami mendapatkannya." Dirly memperlihatkan bunga teratai putih bercahaya yang ada ditangannya.


Teratai putih yang satu ini berbeda dengan teratai pada umumnya. Jenis ini hanya tumbuh di bebatuan dekat pulau Luminous Shining. Sebuah pulau rahasia yang selama ini diburu dan dicari keberadaannya. Dan Bunga itu hanya ada 1 tangkai saja di sana.


"Baguslah! Valen sangat membutuhkan itu. Kondisinya memburuk hebat tadi. Ayo kita ke ruangan Valen sekarang!" ajak yuka sekali lagi.


Yuka kemudian memimpin langkah mereka. Sementara ketiga pengawal khusus Elvano yang baru saja tersadar akan luka pada tubuh ketua mereka sedikit tersentak dan segera membopong nya ikut menuju ke ruangan Valen. Lelaki muda yang mereka sebut sebagai kakak juga ikut dibopong oleh mereka bertiga karena memaksa ingin ikut.