
"Di sini, sayang. Di taman belakang," jawab Cheril yang juga setengah berteriak.
"Aku sedang melihat bunga. Indah sekali, sayang. Kenapa kamu tidak memberitahukan padaku tentang taman indah ini?" lanjut Cheril melemparkan kalimat protes.
"APA? Gawat!" bukannya menanggapi Cheril, Elvano malah terlihat begitu panik.
Elvano sudah segera berlarian dengan sangat terburu-buru ke arah taman belakang.
Ketika Elvano tiba di taman belakang ia melihat Cheril yang sudah hendak berjalan mendekati bunga-bunga mawar yang sangat banyak itu. Sontak Elvano pun meneriaki nya dengan sangat kencang.
"Hei ... Kamu mau cari mati ya? Mau berapa kali aku katakan padamu tidak boleh berjalan di luar sendirian?" Elvano berkata dengan nada yang sangat tinggi seperti seserorang yang sedang marah besar. Jauh lebih parah daripada yang pertama tadi. Dan pasti ia berhasil membuat Cheril sangat ketakutan hingga irama jantungnya berdegub dengan sangat tak beraturan.
Kenapa dia semarah itu ... Padahal aku kan hanya melihat bunga yang indah ini ...
Pada saat itu juga Cheril yang sebelumnya menghadap ke arah taman sontak membalikkan badannya.
Sedangkan Elvano yang sebelumnya berada di kejauhan segera mendekati Cheril. Ia bisa melihat raut ketakutan yang ditampilkan oleh Cheril karena teriakannya tadi, karena itu ia pun meminta maaf.
"Maafkan aku Cheril sudah membuat mu ketakutan," ucap Elvano sambil menampilkan wajah sesalnya.
Sementara Cheril ia hanya terdiam tanpa merespon selain hanya memandang wajah suaminya itu dengan tatapan lekat.
Sesaat setelah terdiam sejenak, Elvano kembali melanjutkan pembicaraannya.
"Aku hanya tak ingin kamu terluka karena aku sangat mencintaimu. Kamu harus tau itu," jelas Elvano sambil menatap Cheril lekat.
"Tapi kenapa aku bisa terluka? Aku kan hanya melihat bunga saja. Apa yang bisa melukaiku?" tanya Cheril bingung.
"Kamu tidak tau tentang apapun, Cheril. Di kastil ini terlalu banyak jebakan yang aku pasang. Itulah sebabnya kenapa aku menyembumyikan mu di tempat ini,"
Elvano mengambil nafas sejenak sebelum melanjutkan penjelasannya, sedangkan Cheril menyimak dengan seksama dalam kebingungan.
"Dan tentang kebun mawar ini. Memang salahku belum sempat memberitahukan padamu tadi. Semua bunga yang indah itu memiliki racun. Kamu tidak boleh menyentuhnya. Apa sekarang kamu paham?"
Bukannya menjawab, yang ada juga Cheril semakin kebingungan. Siapa Elvano ini sebenarnya? Kenapa dia begitu misterius? Kenapa di kastil ini sepertinya begitu berbahaya? Untuk apa sebenarnya semua jebakan itu? Itulah yang ada dipikiran Cheril saat itu.
"Berjanjilah padaku, setelah ini jangan bertindak gegabah lagi ya!" pinta Elvano yang langsung mendekap Cheril erat.
Suasana hening tercipta hingga hitungan menit selama pelukan itu berlangsung.
Sesaat setelahnya, Elvano pun melepaskan tangannya dari tubuh Cheril. Dan kedua orang ini juga memutar tubuh mereka menghadap ke arah bunga yang sangat banyak itu.
"Sayang, mawar-mawar ini sungguh sangat indah ... Sangat disayangkan jika hanya dapat menatap mereka dari kejauhan," ujar Cheril sambil menatap bunga-bunga tersebut dengan tatapan kagum.
"Ya, mereka memang cantik. Dan kamu harus tau, semua yang indah dan cantik itu tak selalu begitu baik,"
Ungkapan Elvano di atas sebenarnya mengandung arti yang sangat dalam. Namun sayangnya Cheril tidak menaruh curiga sama sekali.
Seperti diriku yang tak sempurna ini ... Kau sungguh belum mengenal siapa aku sebenarnya, Cheril.
"Ayo kita ke sana!"
Kemudian Elvano mengajak Cheril menuju ke sudut lain dari taman belakang. Dan ternyata di sana juga dipenuhi dengan mawar merah yang sangat indah. Bahkan tak hanya mawar merah saja, terdapat juga warna laiinnya, seperti ungu, putih, pink, kuning, hijau dan jingga.
Tentu saja Cheril sangat terpana.
"Sayang ini sungguh sangat indah ... Lebih indah dari yang tadi. Apa mereka juga beracun?"
Sebelum menjawab Elvano tersenyum lebih dulu.
"Tidak. Kamu boleh menyentuh mereka. Tapi berhati-hatilah, duri mereka mungkin bisa melukaimu,"
Mendengar itu tentu saja Cheril merasa sangat senang. Dan ia segera melangkah mendekati bunga-bunga yang sangat indah itu. Elvano sengaja membiarkan Cheril melangkah sendiri.
Setelah melihat Cheril sedikit menundukkan wajahnya mencium salah satu dari bunga mawar itu, barulah ia menghampiri Cheril.
"Sayang, apa aku boleh memetiknya?" tanya Cheril.
"Tentu saja boleh. Kau bisa meminta Pak Teo mengambilkan itu ntukmu,"
"Tapi aku mau memetiknya sendiri,"
"Jangan bodoh ... Mereka penuh dengan duri. Aku tak ingin kamu terluka,"
"Aku akan berhati-hati, sayang,"
"Hei, kamu ini sungguh sangat suka membantah ya?! Aku bilang minta Pak Teo mengambilkan untukmu!" Elvano mulai murka.
Setelah itu, Elvano juga mengajak Cheril untuk mengelilingi sudut lain dari taman belakang. Sekaligus menjelaskan pada Cheril dimana saja letak formasi yang ada, supaya istri yang sangat ia cintai itu bisa lebih berhati-hati.
Tak hanya taman belakang, Elvano juga memberitahukan formasi yang ada di halaman bagian depan. Elvano sudah merasa cukup kapok dengan kejadian tadi. Dirinya tau, sepertinya Cheril tidak akan mendengar begitu saja. Saat dia tak ada di kastil, mungkin wanita itu akan keluar mengelilingi taman. Karena itulah, Elvano tak ingin mengambil resiko yang terlalu membahayakan itu.
Puas dengan penjelajahan yang sudah mereka lalukan, pasangan ini kemudian masuk ke dalam kastil dengan 7 tangkai bunga mawar aneka warna di tangan Cheril yang sudah diambilkan oleh Pak Teo tadi.
"Bi Nois, ini tolong letakkan di pot ya!" perintah Cheril.
"Baik Nyonya!"
"Jangan panggil aku Nyonya, panggil saja Nona ... Sungguh tak enak didengar, aku kan masih sangat muda," protes Cheril yang membuat laki-laki di sampingnya itu terkekeh geli.
"Maafkan saya Nyo ... Maksud saya maafkan saya Nona! Mulai sekarang saya akan merubah panggilan itu,"
"Oh iya, sarapan pagi sudah tersedia, Tuan Muda dan Nona sudah bisa menikmatinya sekarang!" tambah Bibi Nois setelah meraih bunga mawar yang ada di tangan Cheril.
"Terimakasih Bibi Nois, mungkin kami akan telat sarapan. Sepertinya aku ingin menyantap istriku yang cantik ini lebih dulu," ujar Elvano sambil memperlihatkan wajah genitnya.
Jelas perkataan Elvano berhasil membuat wajah Cheril semerah tomat. Bibi Nois yang mendengar itu saja wajahnya ikut tersipu malu.
Tuan Muda ini kenapa begitu jujur ...
Demikianlah yang Bibi Nois batinkan.
"Dasar kamu ini ... Kenapa mengatakan ini di hadapan orang lain? Ini sangat memalukan," protes Cheril pelan.
Dan dengan sigap Cheril sudah mendorong Elvano meninggalkan tempat dimana Bibi Nois masih berdiri menuju ke arah kamar.
Bibi Nois pun hanya bisa tersenyum kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Dasar anak muda jaman sekarang .... " Gumamnya pelan sebelum benar-benar beranjak dari tempat tersebut untuk mencarikan pot bunga seperti yang diminta oleh Cheril tadi.
_
_
~ Keadaan di kamar ~
"Kamu mau apa? Kenapa melihatku seperti itu?"
"Apalagi? Aku mau sarapan ... Kan tadi sudah ku katakan. Aku ingin menyantap mu,"
Jadi dia serius dengan ucapannya tadi ...
"Tidak boleh!" tolak Cheril lantang.
"Hei, Kamu sudah berani menolak ku?" Elvano mulai murka. Kali ini ia bahkan sudah berjalan mendekati Cheril.
Pada saat tubuh Elvano dan Cheril sudah tak berjarak lagi, dan ketika Elvano sudah bersiap menerkam bibir Cheril, Cheril segera menahan nya. Lalu mendorong tubuh Elvano dengan sekuat tenaga membuat pria perkasa tersebut menghentikan perlakuannya itu.
"Kamu ini kenapa sih? Kamu sungguh ingin menolak ku?" kesal Elvano.
"Bukan begitu, sayang. Aku masih datang bul*n," jawab Cheril dengan wajah yang kembali memerah. Entah kenapa rasanya begitu malu mengucapkan itu pada suaminya sendiri.
"APA? Kenapa begitu lama? Bukannya sudah sejak kemarin?" protes Elvano kaget.
"Siklus menstruasi itu biasanya berlangsung hingga 4-7 hari, sayang,"
Penjelasan Cheril ini tentu membuat laki-laki itu semakin kaget.
"APA? Apa sungguh harus selama itu?"
"Tentu saja sayang ... Semua wanita normal akan mengalami hal yang sama,"
Huuuuh!
"Baiklah kalau begitu. Sana, bersihkan dirimu! Setelah ini kita pergi sarapan," ucap Elvano sedikit kecewa.
Cup!
Satu kecupan lembut juga ia daratkan di kening Cheril.
Setelahnya mereka berdua memang membersihkan diri secara bergantian sebelum menuju meja makan untuk sarapan.
Elvano adalah seorang pria tangguh dan hebat. Namun jika berbicara tentang wanita, Elvano memang tidak tau banyak. Apalagi mengenai menstruasi. Dia memang tidak tau tenatang itu.