
~ Ruang operasi ~
Cheril terduduk lesu di salah satu kursi yang tersedia pada bagian luar ruangan operasi sambil meletakkan kedua tangannya yang terlipat di atas dada. Sedangkan Elvano terlihat mondar-mandir di depan pintu operasi. Sesekali ia juga berjalan menghampiri Cheril untuk menenang istrinya. Padahal sebenarnya dia sendiri juga sedang merasa cemas.
Walaupun Geral memiliki niat ingin merebut Cheril dari Elvano, setidaknya kali ini Geral sudah menyelamatkan hidup Elvano. Jadi wajar jika mereka berdua merasa cemas ketika Geral masih berada di dalam masa kritis saat ini.
Lampu berwarna merah yang terletak di atas pintu operasi masih menyala hingga sekarang, yang menandakan tindakan operasi masih berlangsung. Padahal sudah 2 jam 20 menit Geral ditangani di dalam ruangan itu.
Saat tiba di rumah sakit tadi, Geral sudah langsung mendapatkan pertolongan dari tim medis. Dan dalam waktu singkat, mereka segera mempersiapkan ruang operasi untuk menolong nyawa Geral yang disetujui oleh Elvano. Laki-laki yang berstatus sebagai suami Cheril ini terpaksa harus mengambil alih menandatangani surat yang diajukan oleh Dokter mengingat kondisi sahabatnya itu yang tidak mungkin menunggu lebih lama jika harus menunggu kedatangan keluarganya.
Sejujurnya keadaan seperti ini membuat Elvano agak trauma, karena teringat kembali pada kejadian beberapa bulan yang lalu. Yaitu mengenai Cheril yang mengalami koma. Hanya saja bedanya, kali ini Elvano tidak secemas waktu itu.
Sekitar 35 menit kemudian akhirnya salah satu Dokter keluar dari ruangan tersebut. Elvano dan Cheril segera berlarian kecil menemui Dokter itu.
"Dokter, Apa operasinya berjalan lancar?" tanya Elvano panik
"Maaf Tuan Muda! Keadaan pasien sedikit kurang baik ... Pasien mngalami koma saat ini!" jawab Dokter lirih.
"Ya, Tuhan!"
Kenapa kejadian ini sungguh terulang ...
Elvano menarik nafas panjang dan membuangnya pelan, serta juga mengusap wajahnya gusar. Kejadian hari ini benar-benar mengingatkan Elvano akan waktu itu ketika mendengar kata koma yang terucap dari mulut Dokter tadi. Walaupun bukan Cheril, tetap saja rasa trauma itu masih menghantui Elvano dengan jelas.
"Kamu yang tenang ya, sayang ... Semua pasti akan baik-baik saja!" hibur Cheril sambil mengusap lembut pundak suaminya.
Cheril sepertinya mengetahui kegundahan yang dirasakan oleh Elvano. Pada akhirnya bukan dia yang menenangkan Cheril, malah Cheril yang harus menenangkan Elvano.
Kini Dokter telah berlalu dari hadapan mereka. Meninggalkan Cheril dan Elvano yang kembali terduduk lesu di depan ruangan operasi. Sementara beberapa Dokter dan perawat masih tertinggal di dalam ruangan untuk bersiap memindakan Geral dari ruang operasi menuju ICU.
Luka tembak yang dialami oleh Geral memang hampir merenggut nyawanya. Karena timah panas itu hampir bersarang di jantung Geral. Untungnya masih sedikit meleset, jika tidak Geral sudah pasti akan kehilangan nyawanya.
Selain itu, Geral juga kehabisan banyak darah. Dan hal inilah yang menyebabkan Geral koma saat ini.
Hari semakin gelap, pertanda malam telah tiba. Elvano dan Cheril belum juga beranjak dari rumah sakit. Dan ada satu hal yang sangat menggangu pikiran mereka saat itu, yakni mengenai keluarga Geral.
Bagaimana caranya menghubungi keluarga Geral? Inilah yang sedang mereka pikirkan saat itu.
Namun hal ini tidak berlangsung terlalu lama sih, sebab ayah Geral sudah mendapatkan kabar dari anak buahnya mengenai Geral yang tertembak oleh Bloods team. Ia bahkan sudah memerintahkan pada anak buahnya supaya mencari team itu untuk membalaskan dendam.
Kurang lebih 15 menit Geral didorong ke ruang ICU, ayah Geral telah tiba di rumah sakit.
"Maafkan saya Om! Ini salah saya!" sesal Elvano.
"Sudahlah! Kamu tidak bersalah! Saya sudah mengirim orang untuk mencari orang yang menembak Geral," tegas ayah Geral yang dikenal sebagai El Montana Guzman.
Pembunuh bayaran yang paling ditakuti di dunia mafia pada saat itu.
Elvano sediikit tersentak saat mengetahui ternyata ayah Geral adalah orang ini.
"Jika Om boleh tau, kenapa kamu bisa terlibat dengan Blood team? Apa benar yang Geral katakan tentang peta itu?" selidik ayah Geral.
"Jika kamu tidak ingin menjawab juga tidak apa-apa. Om hanya berpesan padamu. Jika kamu memang memiliki peta itu, kamu harus melindungi dirimu dengan baik. Sebab sangat banyak pihak yang menginginkan benda tersebut. Om rasa kamu juga pasti paham tentang ini," nasehat Tuan Guzman.
"Tidak hanya menjaga dirimu saja, tapi juga orang-orang sekelilingmu!" tambah Tuan Guzman sambil menujukan tatapannya ke arah Cheril yang duduk di kejauhan.
Elvano berusaha bersikap senormal mungkin. Ia tak ingin terpancing dengan bujuk rayu Tuan Guzman. Sebab dirinya masih belum bisa memastikan arti dari nasehat yang disampaikan nya. Apa itu mengandung unsur tertentu atau tidak.
"Nak Vano, Kamu tidak perlu menyembunyikan apapun lagi dari Om, sebenarnya Om sudah tau semuanya tentang kamu. Om tau kamu adalah teman Elvano sejak kecil. Geral selalu bercerita banyak hal tentang kamu. Dan ...,"
Tuan Guzman terdiam sesaat sebelum melanjutkan kalimatnya. Ia melirik ke kiri kanan juga ke arah Cheril, untuk memastikan semuanya aman barulah ia berbicara kembali.
"Tentang dirimu yang berkecimpung ke dalam dunia mafia, Om juga sudah tau," sambungnya kemudian.
Elvano tidak merasa kaget sama sekali tentang ini. Walaupun Elvano cukup pandai menyembunyikan jati dirinya dari semua itu, ia tidak mungkin bisa bersembunyi ini dari seorang Guzman.
Elvano memang belum lama berkecimpung di dalam dunia gelap ini, dan usahanya yang melibatkan rumah besar yang waktu itu adalah markas dari usaha mafianya ini.
Sebenarnya tak hanya Tuan Guzman yang sudah mengetahui tentang jati dirinya itu, kini hampir semua kelompok mafia sudah mengetahui tentang Elvano gegara peta yang ada di tangannya itu.
"Ya sudah, apa yang ingin dibicarakan sudah saya sampaikan. Sekarang sudah ada saya di sini. Jika kalian merasa lelah, kalian boleh pulang,"
"Ehm?
Elvano bisa melihat raut kesedihan yang terpancar dari mata Tuan Guzman. Namun Tuan Guzman berusaha menyembunyikan itu dari dirinya. Elvano bisa mengerti tentang hal ini. Seorang mafia hebat seperti Tuan Guzman pasti akan sangatt menjaga harga dirinya supaya tidak terlihat lemah di hadapan orang lain.
"Baiklah! Kami akan pulang! Besok pagi baru kembali berkunjung," tanggap Elvano kemudian.
Dia sangat tau caranya menghargai Tuan Guzman. Ia ingin memberikan waktu bagi ayah perkasa itu untuk melampiaskan semua kesedihan nya. Karena inilah Elvano memilih pergi dari rumah sakit.
Kemudian Elvano melangkah mendekati Cheril.
"Sayang, ayo kita pergi dari sini!" ajak Elvano.
"Ehm? Tapi ...,"
Ayo! Besok kita ke sini lagi!" ucap Elvano sekali lagi sembil mengangguk pelan.
Cheril melirik ke arah Tuan Guzman sesaat sebelum benar-benar beranjak dari tempat duduknya. Tuan Guzman juga membalas menatap Cheril sendu. Entah apa yang ada di dalam pikiran Guzman saat itu.
Sesaat setelahnya, Cheril pun benar-benar beranjak dan melangkah pergi dari rumah sakit tersebut bersama Elvano usai pamit pada Tuan Guzman.
-------
Kini tempat ini benar-benar sepi. Hanya meninggalkan Tuan Guzman seorang yang sedang terduduk lesu di depan ruangan ICU khusus dimana pasien koma hanya ada satu-satunya di dalam ruangan khusus ini.
Perlahan tapi pasti, airmata Guzman mulai mengalir. Tepat seperti yang dipikirkan oleh Elvano, Guzman yang dikenal sebagai pria paling mengerikan itu sangat rapuh saat ini. Ia juga teringat kembali pada kejadian pulahan tahun silam, dimana awalnya istrinya yang tertembak musuh pada saat ia sedang menjalankan sebuah misi penting. Selanjutnya anak bungsunya juga ikut menyusul setelah 2 tahun kemudian. Dan sekarang malah Geral yang terbaring di tempat yang sangat mengerikan ini. Rasa trauma pada diri Guzam ternyata jauh lebih besar ketimbang Elvano ketika melihat ruang ICU dan kata koma yang diucapkan oleh perawat padanya tadi.
Ia sungguh tak menyangka, hal ini akan terjadi pada Geral.