
Usai mengunjungi kebun kopi, Elvano mengajak Cheril berkeliling sebentar lagi di sekitaran desa bagian lainnya. Mereka juga melewati jembatan yang pernah diceritakan oleh Pak Jono pada Cheril, sekolahan yang baru selesai di renovasi dan beberapa bangunan lainnya yang sedang di bangun entah itu bangunan apa. Elvano sama sekali tak menjelaskan secara detail pada Cheril. Setelah itu mereka pun kembali ke Villa.
Siang menjelang, Elvano memutuskan untuk pergi menemui Shinta atas saran dari Cheril. Ia ingin menjelaskan semua kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka selama ini, agar wanita itu tak terluka lebih dalam lagi.
Tepat jam makan siang, Elvano mengajak wanita itu bertemu di sebuah warung makan yang terletak di tengah-tengah desa ini.
"Ayam bakar pedes manis 1porsi lengkap dengan potongan timun tanpa tomat dan daun kemangi ya, Bu Somat!" ucap Elvano saat Shinta baru hendak memesan menu miliknya.
"Jadi kamu masih mengingat menu kesukaanku ya?"
Shinta menundukkan wajahnya sesaat setelah mengucapkan kalimatnya itu.
"Tentu saja aku akan selalu mengingatnya,"
Elvano menanggapi ucapan Shinta sambil memperlihatkan senyuman paling manis yang ia miliki.
"Untuk apa? Kenapa masih bersikap semanis ini padaku? Kamu sendiri sudah memiliki istri," lirih Shinta.
"Sudahlah! Makanlah lebih dulu. Setelah ini baru kita bahas tentang itu,"
Elvano tak ingin mood makan Shinta menghilang, karena itu ia meminta Shinta untuk menikmati lebih dulu makanan miliknya.
Sekitar 5 menit kemudian Bu Somat kembali ke meja Elvano dan Dokter Shinta dengan membawakan 2 porsi makanan untuk mereka. 1 porsi ayam bakar yang dipesan oleh Elvano untuk Shinta, juga satu porsi kecil lainnya hanya berupa 2 potong pisang goreng beserta 2 gelas teh hangat. Elvano memang sudah selesai menunaikan makan siang bersama Cheril di Villa tadi, jadi ia hanya memesan camilan saja untuk dirinya.
Tanpa menunggu lama, Dokter Shinta yang sudah merasa lapar segera melahap makanan miliknya hingga bersih, hanya menyisahkan tulang ayam saja di atas piring.
Usai dengan acara makan siang, Elvano pun mengajak Shinta berbicara secara serius.
"Shin, aku ingin tau, selama ini kamu menganggap hubungan kita ini seperti apa?" tanya Elvano.
"Ehm?
Dokter Shinta sedikit tersentak dengan pertanyaan Elvano.
"Aku dengar, kamu menolak lamaran dari Tedi. Bukankah awalnya kamu dan dia memang sudah dekat sebelum mengenal aku?"
Kali ini Shinta memilih menundukkan wajahnya. Shinta memang pernah beberapa kali menceritakan tentang Tedi pada Elvano. Karena itulah, Elvano mengetahui Shinta memiliki hunbungan yang cukup dekat dengan pria itu.
"Shin, aku tau, kamu pasti mengharapkan sesuatu dariku kan? Padahal kita belum lama kenal. Kenapa kamu bisa memiliki perasaan seperti itu terhadapku?" tanya Elvano sambil menatap lekat pada Sinta yang masih menunduk.
Sesaat kemudian, Shinta pun mngangkat wajahnya dan mejawab pertanyaan Elvano.
"Karena cinta itu datang tidak mengenal waktu, Vano!" lirih Shinta.
Elvano tersenyum kecil mendengar apa yang dikatakan oleh Shinta.
Jelas kata-kata yang diucapkan oleh Elvano membuat Shinta murka seketika.
"Aku bukan anak kecil. Kenapa terus mengatakan aku ini anak kecil?" protes Shinta dengan nada tinggi.
"Karena kamu memang akan selalu menjadi adik kecil buat aku, Shin. Sekarang kamu paham?"
Saat ini Elvano dan Shinta saling bertatap.
"Shin, cinta itu tak semudah yang kamu kira. Apa kamu begitu yakin dengan perasaanmu padaku? Kamu bahkan tidak mngenal siapa aku sebenarnya. Kamu hanya melihatku dari kelebihanku saja. Kekurangannku yang sangat banyak jika kamu mengetahuinya, aku yakin kau akan membuang semua rasa cintamu itu padaku. Hanya Kakak iparmu yang bodoh itulah yang mau menerima laki-laki sepertiku,"
Shinta terlihat berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh Elvano dengan seksama. Ada sedikit perasaan aneh yang muncul di dalam hatinya saat Elvano mengatakan hal ini.
"Aku dan Kakak iparmu itu sudah mengalami banyak sekali kesusahan barulah sampai ke tahap sekarang ini. Aku bahkan tak tau, hari esok akan ada bahaya apalagi yang akan menimpa kami. Aku bukan laki-laki sebaik yang kamu pikirkan Shin,"
Kali ini Shinta menatap Elvano jauh lebih lekat.
"Percayalah, cinta itu sungguh sangat rumit. Aku rasa, selama ini perasaan yang kamu miliki terhadapku hanya sebatas mengagumi saja bukan cinta yang sebenarnya,"
Setelah memberikan sedikit jeda, Elvano kembali melanjutkan pembicaraannya yang sekaligus menjadi kalimat penutup dari pokok pembahasan mereka.
"Aku harap kamu pertimbangkan lagi tentang lamaran dari Tedi. Dari semua yang pernah kamu ceitakan padaku, sepertinya laki-laki itu adalah pria yang baik. Dan dia pasti akan mampu membahagiakanmu."
Tentu saja Elvano tak sembarangan berucap.
Ia sudah lebih dulu mencari tau tentang laki-laki yang bernama Tedi itu seperti apa, barulah ia berani mengatakan hal ini pada Shinta. Elvano bertanya banyak pada Pak Jono mengenai Tedi. Ternyata Tedi masih memiliki ikatan persaudaraan dengan Pak Jono. Tedi adalah anak dari kakak Pak Jono. Dan Pak Jono tau persis seperti apa watak dan sifat dari laki-laki itu. Ia menceritakan semuanya pada Elvano tentang Tedi yang memang sangat mencintai Shinta. Pak Jono juga berkata, jika Shinta menikah dengan Tedi, maka bisa dipastikan Shinta pasti akan mendapatkan kebahagiaan yang seutuhnya.
Selesai mengucapkan kalimat tersebut Elvano segera beranjak dari tempat duduknya menuju ke meja kasir untuk membayar menu makan siang mereka dan berlalu begitu saja dari warung itu meninggalkan Shinta yang masih duduk terbengong.
-----
Di pertengahan jalan pulang menuju Villa, Elvano kembali mendapat telepon dari Ibu Winda yang menanyakan apakah Elvano dan Cheril jadi pulang ke rumah atau tidak. Ibu Winda juga menceritakan tentang Valen yang ingin mengenalkan calon suaminya kepada keluarga besar Setiono. Jadi Ibu Winda sangat berharap mereka bisa pulang ke rumah.
"Iya Bu, sore ini kami akan ke sana."
Demikianlah yang dijawab oleh Elvano.
Tentu saja Elvano tak akan melewatkan momen sepenting itu. Mengenai Valen yang ingin memperkenalkan calon anggota baru bagi keluarga besarnya. Elvano juga ingin turut mengambil andil dalam memilih pasangan terbaik bagi adiknya. Jelas, Elvano tak ingin adik perempuan kandungnya itu sampai salah pilih.
Sesampainya di Villa, Elvano segera bergegas menuruni mobil menuju ke dalam kamar. Dan ia mendapatkan Cheril sedang tertidur pulas.
Elvano tersenyum kecil melihat istrinya tertidur dengan begitu nyenyak. Bahkan dirinya yang membuka pintu kamar sedikit keras itu tidak membuat Cheril terusik sama sekali.
Cukup lama Elvano berdiam diri di dekat tempat tidur, menatap wajah Cheril yang begitu indah dan damai. Saat tidur wajah Cheril begitu polos seperti bayi, membuat Elvano semakin terpesona.