
Sedikit ketegangan tercipta saat ini. Elvano dan Calon suami Valen masih saling beradu tatap membuat semua yang ada di sana merasa kebingungan.
"Oh iya, kenalkan Kak Vano, ini Fransico, pacar aku. Dan Kak Frans, ini Kakak aku, Vano. Dan itu istrinya, Kakak iparku," ucap Valen mengenalkan kekasihnya pada Elvano dan Cheril, juga sebaliknya mengenalkan Cheril dan Elvano pada kekasihnya.
Ada maksud apa dia mendekati Valen ... Ia bahkan memalsukan namanya. Aku yakin ini tidak kebetulan, dia pasti merencanakan sesuatu.
Pria yang ada di hadapan Elvano saat ini bernama asli Dirly Carles. Elvano mengenal jelas laki-laki ini. Elvano dan Dirly merupakan saudara seperguruan. Tentu saja karena alasan ini laki-laki itu mengetahui nama kecil Elvano yang diberikan oleh guru Raymon padanya.
Sepertinya aku harus mengikuti permainannya dengan baik.
Elvano berusaha membaca situasi dan mengikuti arus permainan yang dimulai oleh Dirly.
"Ayo kita mulai acara makannya, aku sudah sangat lapar," ujar Elvano.
Elvano sudah merubah ekspresi dinginnya yang tadi ke ekspresi yang bersahabat.
Tentu saja Dirly tau Elvano sedang merencanakan sesuatu. Ia menyunggingkan senyuman sinis dari sudut bibirnya pada saat merasa tak seorang pun yang sedang memperhatikan dirinya.
"Iya benar katamu Vano. Ayah juga sudah lapar. Ayo kita makan!"
"Nak Frans, kamu jangan sungkan ya, makan yang banyak ya," sambung Ibu Winda.
"Eh, iya Tante. Terima kasih!" ucap Dirly canggung.
Setelahnya, acara makan pun berlangsung dengan tenang. Seperti biasa tak ada yang bersuara sama sekali pada saat acara makan sedang berlangsung. Rasa penasaran yang ada pada setiap insan yang ada di sana tersimpan rapat di dalam hati mereka.
Usai perjamuan makan, Ayah William mengajak mereka semua mengobrol santai di ruang tengah. Dan di sanalah mereka berbicara banyak hal.
"Nak Frans, apa makannya kenyang tadi?" tanya Ibu Winda mengawali pembicaraan.
Namun belum sempat Dirly menjawab, Elvano sudah lebih dulu bersuara.
"Ibu ini bagimana sih? Vano tidak ditanyakan kenyang atau tidak, malah orang lain yang ditanyakan," protes Elvano.
Haha ... Sandiwara macam apa yang sedang ia mainkan itu.
Dirly membatin geli mendengar aksi protes yang dilayangkan oleh Elvano.
Sementara yang lainnya hanya tersenyum kecil karena menganggap Elvano sedang bercanda.
"Ah kamu ini Vano. Kamu kan bukan tamu, kamu pasti akan makan dengan kenyang,"
"Tidak juga. Bisa saja kan Vano tidak makan dengan baik karena malu ada tamu yang ikut makan dengan kita,"
Berdebat dengan Elvano pasti akan menjadi sangat panjang. Akhirnya Ibu Winda pun mengalah.
Dan memilih menanyakan dirinya kenyang atau tidak. Setelahnya Elvano barulah merasa puas. Pertanyaan basa-basi yang Ibu Winda lemparkan pada Dirly juga terlupakan begitu saja. Dan berganti pada topik yang baru saat Ayah William membuka suara.
"Vano, apa kamu dan Frans saling mengenal?" tanya Ayah William.
Frans apaan ... Nama laki-laki itu Dirly.
Ingin sekali Elvano meneriaki hal ini.
"Iya Yah, kami memang saling mengenal. Kami pernah satu sekolah waktu SMA dulu," bohong Elvano.
Tentu saja Cheril tau mengenai ini. Selain nama jeong Shu yang disebutkan oleh Dirly, Cheril juga sangat yakin tak pernah sekalipun melihat pria itu di bangku SMA dulu. Cheril memang mengenal hampir semua laki-laki yang ada di SMAnya dulu. Mau itu kakak kelas ataupun adik kelasnya. Pasalnya, selain kecantikannya yang membuat hampir semua laki-laki mencoba mendekati Cheril, Cheril juga merupakan anggota osis di sekolah menengah atas dulu. Jadi wajar jika Cheril mengenal semua murid yang ada di sekolahnya dulu, terutama untuk murid dengan jenis kelamin laki-laki.
Sedangkan Dirly yang pastinya juga sangat tau Elvano sedang berbohong lagi-lagi menyunggingkan senyuman sinis dari sudut bibirnya. Ia juga memilih mengikuti sandiwara yang dimulai oleh Elvano.
"Benarkah? Wah kebetulan sekali ya," tanggap Ayah William bersemangat.
"Iya Om, Aku dan Jeong Shu memang saling mengenal. Kami malah sangat dekat dulu," sambung Dirly.
"Oya? Kalau Om boleh tau, kenapa kamu memanggil Vano denagn sebutan Jeong Shu?"
"Oh itu, nama itu adalah pemberian dari guru kesayanagn kami karena ia merasa wajah Vano yang begitu tampan. Elvano sangat mirip dengan artis korea kata guru kami itu. Jadi ia pun memberikan nama itu pada Vano," jelas Dirly.
"Jadi begitu ya,"
Pertanyaan dari Ayah William ini bisa dikatakan pertanyaan yang paling cemerlang karena berhasil menjawab rasa penasaran semua orang yang ada di sana, kecuali Cheril.
"Tapi, Kak Vano memang cocok sih dengan nama itu. Jeong Shu, sebuah nama yang bagus sekali," timpal Flo.
Anggota keluarga yang lain pun ikut setuju. mereka terkekeh kecil mendengar pendapat Flo.
Sedangkan Elvano hanya memasang ekspresi datarnya saja.
Saat melihat Dirly pamit ke toilet, Elvano pun segera menyusul nya. Untung saja Valen mengarahkan Dirly pada kamar mandi yang ada di belakang, jadi Elvano pun memiliki alasan menyusul Dirly. Elvano berkata ingin menunjukkan arah pada Dirly karena takut laki-laki itu nyasar. Padahal ia ingin bebicara dengan laki-laki itu.
Elvano menunggu Dirly di depan pintu kamar mandi karena saat itu Dirly sudah berada di dalam kamar mandi. Saat laki-laki itu keluar dari kamar mandi, Elvano segera memojokkannya Dirly ke tembok.
"Hei! Katakan padaku, apa maksudmu dengan semua ini?" tanya Elvano dengan suara kecil hampir menyerupai berbisik karena tak ingin didengar oleh yang lain.
"Wow wow ... Sabar Bro, sabar ...," tanggap Dirly santai.
"Aku peringatkan kau, jangan coba-coba kau menyakiti adikku! Akan aku patahkan lehermu ini!" peringat Elvano.
Saat itu Elvano masih dalam posisi memojokkan Dirly di tembok sambil memegang kerah bajunya.
"Tenang Bro, adikmu itu sangat cantik. Aku tidak akan menyakiti nya. Justru aku akan membahagiakan dia dengan kenikmatan sur ...,"
"KAU!"
Elvano tak membiarkan Dirly menyelesaikan kalimatnya yang ia sendiri sudah tau kemana arahnya.
Elvano sudah mengarahkan kepalan tangannya di dekat wajah Dirly. Jika bukan karena tak ingin membuat yang lainnya merasa tak nyaman, Elvano sudah pasti akan melemparkan pukulan keras ke wajah Dirly.
Sementara Dirly yang sangat yakin Elvano tak akan melakukan hal itu tersenyum penuh kemenangan.
"Aku peringatkan kau sekali lagi, jika kau berani menyentuh Valen sedikit saja, akan aku habisi kau!"
Sekarang Elvano sudah melepaskan Dirly karena melihat Cheril datang mendekati mereka.
-
-
"Sayang, kenapa kamu datang kemari?" tanya Elvano lembut saat Cheril sudah semakin mendekat.
"Aku mual sekali Vano. Sepertinya tadi makan terlalu banyak,"
"Jadi bagaimana sekarang?" tanya Elvano panik.
"Tidak apa-apa kok. Aku coba minum air hangat dulu, siapa tau berkurang,"
"Baiklah, aku ambikan untukmu ya. Ayo kita kesana!"
Kemudian Elvano dan Cheril menuju ke arah dispenser belakang yang berada di dekat kamar mandi itu. Matanya sesekali masih melirik ke arah Dirly yang menatap dirinya dan Cheril penuh arti.
Dirly tampak sedikit mengagumi perlakuan Elvano terhadap istrinya. Elvano memang terlihat sangat memperhatikan Cheril, dan memperlakukan wanitanya itu dengan penuh kasih.
Setelah Cheril dan Elvano berjalan menjauhi Dirly, Dirly pun memutuskan kembali ke ruang tengah. Tak lupa ia juga merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan karena emosi Elvano tadi.