Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Extra part 1


Selama beberapa hari lagi Elvano dirawat di rumah sakit tersebut. Dan selama beberapa hari ini juga penuh dengan kejadian dramatis yang terjadi. Seperti Gerald yang terus datang menggoda Cheril di depan Elvano dan pastinya membuat Elvano begitu murka. Hal ini dilakukan oleh Gerald bukan lagi karena rasa sukanya pada Cheril. Melainkan lebih kepada rasa ingin mengerjai Elvano saja.


Hari terakhir di rumah sakit, Elvano kedatangan tamu spesial dari kota XX.


Siapa lagi jika bukan Erik? Selain itu juga ada Tania dan Nikita.


Niko yang beberapa hari ini tak terlihat karena ikut terbaring lemah di rumah sakit ini juga ikut hadir hari ini.


Jadilah mereka berkumpul bersama di dalam ruangan Elvano.


Semua peralatan yang melekat pada tubuh Elvano kini juga sudah dilepaskan oleh pihak rumah sakit, karena seharusnya siang ini Elvano memang sudah diperbolehkan pulang.


"Ehem ... Nik, kalian berdua kapan menjalin hubungannya? Tiba-tiba sudah sedekat ini. Langkahmu sungguh terlalu cepat," ejek Elvano dengan ekspresi datar.


Elvano sedang mengomentari hubungan Niko dan Nikita. Saat itu mereka berdua sedang duduk saling berdampingan mesra. Niko merangkul bahu Nikita di depan mereka semua.


Dan Niko sama sekali tak terlihat hendak menjawab pertanyaan Elvano yang tidak terlalu penting baginya itu. Sementara Nikita, wajahnya merona merah karena malu.


Sepertinya Elvano juga tidak menunggu jawaban Niko, dia malah sudah kembali bersuara tanpa menunggu jawaban dari pertanyaan pertamanya tadi.


"Saran aku, kamu sama Erik menikah barengan saja nanti. Pasti seru," tambah Elvano.


Mereka semua saling melirik satu sama lain saat mendengar ide gila yang dilontarkan oleh Elvano. Namun juga tak memungkiri bahwa ide ini juga sangat cemerlang.


"Menurut aku ini ide bagus. Kalau kalian menikah bersama pasti akan seru sekali," timpal Cheril mendukung ide Elvano.


"Ah, kenapa kalian berdua bisa sekompak ini?" protes Geraldo.


"Kenapa? Apa kamu mau juga? Sana cari istri. Biar kalian menikah ber-6 sekalian. Wah, bakal tambah ramai. Pasti keren banget," ujar Elvano semangat.


"Ya, tentu saja aku mau. Tapi sama Cheril ya," goda Geral.


Seperti biasa, mata Elvano membulat seketika, emosinya langsung memuncak.


Aku jadi curiga, selama aku tidak ada di samping Cheril beberapa waktu yang lalu, hal apa saja coba yang sudah kamu lakukan terhadap Cherilku? Katakan!"


Senyuman licik terbit dari sudut bibir Gerald. Tentu dia kan meladeni Elvano. Entah kenapa sekarang ini dia begitu tergelitik sangat bersemangat dalam hal membuat Elvano murka.


Sedangkan Cheril hanya bisa membatin lelah dengan pertengkaran kedua laki-laki yang ada dihadapannya ini.


Ya Tuhan, kenapa suamiku harus berteman dengan mantanku? Sungguh sangat ironi.


Cheril terlihat menghela nafas panjang sebanyak beberapa kali.


"Wah ... sangat banyak. Kenapa tidak kamu tanyakan pada istrimu yang cantik itu saja? Dia begitu manis dan seksi, bagaimana aku bisa tidak melakukan apapun terhadap dia?" cibir Gerald.


Gerald memulai perang dingin yang sudah pasti akan menjadi sangat panjang.


Bagaimana tidak? Lihat saja wajah itu, wajah Elvano memerah seketika mendengar kalimat yang diucapkan oleh Geraldo saat itu.


"Sayang, apa yang dikatakan oleh laki-laki ini benar? Katakan padaku hal apa saja yang sudah dia lakukan terhadap mu? Aku harus memberi nya pelajaran." Elvano mulai terpancing dengan umpan yang Geral pasang untuknya.


Sekali lagi Cheril hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat ini. Pusing? Sudah pasti. Emosi Elvano begitu mudah menyurut. Cheril benar-benar sangat kualahan menghadapi Elvano yang seperti ini. Bayangkan saja, ini bukan pertama kali terjadi. Namun sudah berulang kali sejak Elvano sadar dari komanya.


"Kamu ini kenapa selalu marah? Nanti kamu cepat tua Sayang," tanggap Cheril sambil mengelus-elus lengan Elvano mencoba menenangkan suaminya itu?


Posisi mereka saat itu Elvano sedang duduk merangkul Cheril mesra di sofa bed. Sekalipun dia emosi, rangkulan itu juga tidak terlepas. Sedangkan mata Elvano tertuju pada Gerald yang berada di hadapan mereka. Dan tentu saja jawaban dari Cheril ini tidak akan membuat Elvano puas.


"Kamu ini, kenapa aku bertanya soal lain, kamu malah menjawab yang lannya? Apa otakmu ini begitu lemot?"


Dan begitulah seterusnya. Mereka berdua akhirnya malah terlibat di dalam perdebatan yang sangat panjang seperti biasa hanya dikarenakan oleh api yang dinyalakan oleh Geraldo.


Hingga Dokter Alvin yang datang melakukan kontrol terakhir pun mendapatkan imbasnya.