Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Pengganti bulan madu


Sekitar satu jam kemudian, Elvano dan Cheril sudah siap dengan penampilan mereka.


Mereka memilih pakaian yang santai saja mengingat hari ini kegiatannya adalah jalan-jalan. Elvano yang biasanya selalu tampil dengan penampilan formal, kali ini juga lebih memilih mengenakan pakaian santai, membuat Cheril pangling melihat penampilan nya. Sebenarnya bukan tanpa alasan. Elvano lebih memilih mengenakan pakaian santai karena perjalanan mereka hari ini memang agak jauh. Selain itu Elvano juga menyetir sendiri. Karena itulah Elvano lebih memilih mengenakan pakaian yang santai saja.


"Kenapa melihatku seperti itu? Ada yang aneh?" tanya Elvano heran.


"Ehm, ng-nggak! Heran aja melihat kamu mengenakan pakaian seperti ini?" tanggap Cheril santai.


"Memangnya kenapa? Nggak boleh?"


"Bukan begitu, biasanya kan kamu lebih memilih pakaian formal kemanapun kita pergi. Aneh aja melihatmu mengenakan kaos oblong seperti ini,"


"Eh, jadi kamu bilang aku aneh? Berani ya sekarang bilang aku aneh. Aku batalin nih!" ancam Elvano dengan ekspresi jahil.


"Ja-jangan dong Sayang. Aku nggak bilang kamu aneh kok. Kan kamu sendiri yang bicara seperti itu," protes Cheril.


"Jadi kamu menyalahkan aku? Baiklah, aku batalin ya!"


Ah, salah lagi. Memang paling susah bicara sama Tuan Muda Elvano Setiono. Huuh.


"Enggak Sayang, enggak kok. Bukan itu maksudnya, aku tidak menyalahkan kamu. Aku minta maaf deh! Kita tetap pergi ya, jangan dibatalin. Please! Nanti Baby G nya ngambek loh,"


"Eh, sekarang malah mengancam? Wah, sepertinya memang harus aku batalin nih!"


"Ya, salah lagi deh. Huuh!" Cheril bergumam pelan.


"Jadi aku itu harus bagaimana?"


Cheril sudah mulai kehilangan kesabaran. Kadang-kadang wanita hamil itu memang lebih sensitif dan mudah marah. Katanya pengaruh hormon gitu deh.


"Aku mau kamu c*um aku!" ucap Elvano sambil memegang pipinya membuat Cheril membulatkan matanya.


"Ayo ci*m! Kalau tidak kita enggak jadi pergi!" ancam Elvano masih sambil pipinya.


Dasar Tuan Muda muka mesum. Aku gigit sekalian nanti.


Gumam Cheril kesal. Wanita itu memasang wajah cemberut.


Dengan sedikit agak ogah-ogahan Cheril tetap memberikan sentuhan lembut di pipi Elvano dengan bibirnya.


Cup!


Sambil berharap suaminya itu tidak meminta dic*um di bagian lain lagi. Ya, biasanya Elvano memang selalu seperti itu kan?


Dan Untungnya kali ini apa yang ditakutkan oleh Cheril tidak terjadi. Elvano sudah puas hanya dengan satu kali sentuhan bibir dari Cheril saja.


Pria itu tersenyum puas seperti biasanya.


Setelah itu, kedua orang ini pun segera melangkah keluar dari kamar menuju mobil.


Elvano akan mengajak Cheril pergi ke suatu tempat yang sangat indah. Dan mereka akan menginap di sana. Sebagai ganti dari kegiatan bulan madu yang tertunda.


"Sayang, kita mau ke mana sih?" tanya Cheril penasaran.


Saat ini mereka masih di dalam mobil.


"Ada deh ... Nanti kamu juga akan tahu kok. Lebih baik kamu beristirahat saja dulu soalnya perjalanan kita kali ini agak jauh. Aku tidak mau nanti anak kita kenapa-napa," nasehat Elvano.


"Tapi kita mau kemana?"


Cheril masih mencoba mencari tau kemana Elvano akan mengajak nya.


"Kenapa terus bertanya? Aku kan sudah bilang nanti juga kamu akan tahu. Jangan bertanya lagi, aku tidak akan memberitahukan padamu. Sekarang lebih baik kamu istirahat. Ok!? Atau mau aku putar balik? Kita enggak jadi per ...,"


"Eh, baiklah! Aku tidak akan tanya lagi," potong Cheril cepat.


Selalu saja begitu.


"Good girl! Begitu dong istriku yang cantik. Aku kan jadi semakin cinta!" rayu Elvano.


"Ih, dasar gombal!" tanggap Cheril datar.


"Tapi kamu suka kan? Tuh lihat saja wajahmu itu, sudah kesenangan banget tuh!" ledek Elvano.


"Apaan sih? Mana ada. Biasa aja kok," sangkal Cheril.


"Sudah ah, aku mau memejamkan mata sejenak," alih Cheril.


Cheril yang sedang malas berdebat dengan Elvano memilih mengakhiri pembicaraan mereka. Karena berdebat dengan Elvano bagi Cheril tidak akan ada habisnya. Lagian juga mau Cheril bertanya seperti apapun jika Elvano sudah berkata tidak, maka ia tidak akan memberitahukan jawabannya. Yang ada juga Cheril yang bakal mendapat masalah jika perdebatan terus berlangsung.


Setelah itu suasana pun kembali tenang. Sangat tenang. Hanya ada suara musik yang memenuhi ruangan mobil. Jenis musik instrumental menjadi pilihan Elvano. Ia sengaja memutar tombol volume sedikit ke kanan supaya Cheril bisa beristirahat dengan baik.


Perjalanan mereka memang agak panjang, karena itu Elvano berharap Cheril bisa beristirahat. Elvano tak ingin terjadi apa-apa terhadap bayi yang sedang dikandung oleh Cheril akibat terlalu kelelahan.


Perjalanan mereka kali ini akan memakan waktu sekitar 2 jam untuk tiba di tempat yang ingin mereka tuju.


Waktu berlalu dengan begitu cepat,


dari detik menuju ke menit, dari menit menuju ke hitungan jam,


tak terasa waktu 2 jam pun telah dihabiskan oleh pasangan ini di dalam perjalanan.


Keindahan musik yang menemani perjalanan mereka membuat suasana hati begitu tenang.


Kebahagiaan pun meliputi hati mereka.


Elvano yang sangat fokus dengan perjalanan, tak lupa juga sesekali menyempatkan waktu untuk melirik ke arah istrinya yang sedang tertidur pulas. Betapa indahnya wajah istrinya itu, membuat hatinya semakin tenang ketika menatap wajah istrinya sedang tertidur. Sesekali, senyuman manis juga mengembang di pipi Elvano. Apalagi ketika ia mengingat istrinya yang sedang mengandung anaknya, buah dari hasil cinta mereka. Rasanya Elvano begitu bahagia, sungguh tak ada lagi yang lebih berarti di dunia ini, selain istri dan anak yang ada di dalam kandungan Cheril saat ini.


Kini mobil yang dikendarai oleh Elvano telah memasuki kawasan wisata yang ingin dikunjungi oleh pasangan ini.


Saat ini Elvano sedang mencari tempat untuk memarkirkan kendaraan mereka.


Setelah mobil benar-benar berhenti, Elvano pun mematikan mesin mobilnya. Dan membangunkan Cheril yang masih tertidur pulas.


"Sayang, Sayang, bangun!" panggil Elvano pelan.


"Ehm?"


Tanggap Cheril menggeliat dan perlahan membuka matanya. Ia juga mengucek-ngucek matanya yang indah itu.


Jujur saja, Elvano sangat gemas melihat istrinya yang seperti itu.


Cup! cup! cup!


Dan benar saja, Elvano sudah mendaratkan c**man bertubi-tubi di wajah Cheril.


"Ehm ... Kamu ini!"


Cheril berusaha menjauhkan wajah Elvano dari wajahnya.


"Makanya bangun! Kita sudah sampai nih, ayo turun!" ajak Elvano.


"Sudah sampai ya? Ini dimana, Sayang?" tanggap Cheril sambil melirik ke luar jendela.


"Ayo turun! Kita lihat-lihat ke dalam sana," ajak Elvano sembari menunjuk ke arah sebuah bangunan yang ada di hadapan mereka.


Dari luar memang terlihat hanya seperti sebuah gedung biasa saja. Dan sepertinya tempat itu juga sangat sepi. Cheril semakin penasaran, "tempat apa itu?" pertanyaan inilah yang muncul di benak Cheril.