Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Lagi dan lagi.


Saat di dalam mobil, Elvano segera menjawab panggilan dari Niko yang masih aktif.


"Informasi apa yang kamu dapatkan Nik?" tanya Elvano.


"Begini No, dari hasil laporan orang yang aku utus, selama 2 minggu ini mereka berdua setiap hari masih bertemu," jelas Niko.


"Kenapa kamu baru memberitahukan padaku sekarang?" protes Elvano.


"Aku juga baru mendapat laporan. Apa kamu lupa selama 2 minggu ini kita terus sibuk bergelut dengan pekerjaan di kantor?"


"Eh, benar juga ya? Jadi seperti apa hubungan mereka saat ini?" tanya Elvano penasaran.


"Sepertinya masih cukup dekat. Dari foto yang berhasil didapat oleh orang utusanku, mereka cukup mesra," jelas Niko.


Tentu saja Elvano membulatkan matanya.


"Kurang ajar! Ternyata Dirly sama sekali tidak mengindahkan ucapanku. Valen juga, anak ini sama sekali tidak mendengar nasehat dari Kakaknya,"


Cheril yang sedari tadi menyimak dalam diam sangat mengerti semua yang dibicarakan oleh Niko dan Elvano. Dia hanya bisa turut prihatin saat melihat Elvano begitu kesal dengan sifat Valen yang tidak begitu menurut.


"Sekarang masalahnya, dia sudah tau aku mengirim orang untuk membuntutinya. Kemarin orang yang aku utus itu diancam oleh Dirly. Jika masih mengikutinya, dia akan bertindak lebih. Jadi sekarang orang itu mengundurkan diri," jelas Niko.


Elvano sama sekali tidak merasa heran jika Dirly bisa mengetahui semuanya. Mungkin sejak awal juga Dirly sudah tau tentang itu. Elvano tau jelas siapa Dirly, dan seperti apa kemampuannya.


"Jadi apa rencanamu selanjutnya?"


"Aku akan mencoba turun tangan secara langsung. Aku sudah berhasil menyadap panggilan mereka, dan aku mendapatkan kabar siang ini mereka akan melakukan pertemuan di salah satu kafe. Aku akan ke sana nanti,"


"Baguslah! Aku percayakan semuanya padamu, Nik. Kamu memang selalu bisa diandalkan. Terima kasih ya," puji Elvano.


Pembicaraan mereka berdua pun berakhir.


Seperti dugaan Elvano, Dirly sebenarnya memang sejak awal sudah tahu dirinya diikuti oleh orang suruhan Elvano. Dirly begitu hebat, tidak mungkin tidak tahu tentang hal ini. Karena itulah ia bertindak dengan cukup hati-hati. Ia juga sedikit bersandiwara supaya terlihat sangat mesra dengan Valen untuk sekedar membuat Elvano kesal.


Setelah mengakhiri panggilan tadi, Niko juga mengirimkan beberapa foto yang didapat oleh orang utusannya pada Elvano.


Mata Elvano hampir meloncat dari tempatnya saat melihat mereka berdua memasuki sebuah tempat penginapan.


"Apa yang mereka lakukan di dalam sana? Kenapa orang utusan Niko begitu bodoh membiarkan mereka tetap masuk? Ya Tuhan, Valen kenapa sebodoh ini sih?"


Elvano menghela nafas panjang beberapa kali. Dia terlihat sangat kesal saat itu.


Melihat itu Cheril segera bersuara.


"Ada apa Sayang?" tanya Cheril mengerutkan dahi.


"Kamu lihat ini! Kenapa gadis ini begitu bodoh?"


Elvano menyodorkan ponselnya kepada Cheril.


Dan Cheril ikuti kaget melihat itu.


"Kamu jangan terlalu berpikiran negatif dulu ya, No. Mungkin mereka tidak melakukan apapun," ucap Cheril berusaha menenangkan Elvano.


"Memangnya hal apalagi yang bisa dilakukan oleh sepasang kekasih saat memasuki tempat seperti ini?"


Elvano masih sangat yakin dengan apa yang terjadi di sana.


Sepertinya Dirly benar-benar sukses membuat Elvano kesal dengan mengajak Valen memasuki tempat tersebut.


"Ya, mungkin saja mereka tidak sempat melakukannnya Sayang. Jangan berpikiran negatif dulu,"


Lagi-lagi Elvano hanya bisa menghela nafas kasar. Ia masih sangat yakin Dirly dan Valen pasti sudah melakukan hal yang tidak senonoh. Dan Elvano sedang berpikir, Mungkin Dirly akan mengancamnya dengan menggunakan trik ini supaya mendapatkan peta itu.


Sesaat kemudian, Elvano dan Cheril sudah tiba di depan rumah sakit.


Ketika melihat mobil Elvano, staff dan 2 orang perawat yang melihat mobil mereka berhenti di depan rumah sakit segera menghampiri mereka. Salah satu staff keamanan mengambil alih memindahkan kendaraan mereka yang terparkir tepat di depan rumah sakit setelah kedua orang ini telah turun dari mobil.


Tak hanya perawat dan staff yang memang sengaja menunggu kedatangan mereka. Manager Jill yang juga ada di depan rumah sakit segera datang meenghampiri mereka.


Sebelum menuju ke rumah sakit, Elvano memang sudah menelepon rumah sakit lebih dulu supaya mereka mempersiapkan diri. Elvano tak ingin menunggu lagi seperti waktu itu.


"Selamat pagi Tuan Muda, selamat pagi Nona!" sapa Manager Jill lembut.


"Selamat pagi Manager Jill!" balas Cheril.


Sementara Elvano hanya memperlihatkan wajah datarnya saja. Setelahnya mereka bertiga beserta 2 perawat lainnya segera berlalu dari sana menuju jalur khusus yang langsung terhubung dengan ruang pemeriksaan yang akan dilakukan khusus untuk Cheril.


Tak ada yang mereka bicarakan selama di dalam perjalanan. Apalagi suasana hati Elvano juga terlihat tidak begitu baik. Manager Jill sama sekali tidak berani bersuara.


Tiba di ruang pemeriksaan salah satu perawat tadi membukakan pintu untuk ketiga orang ini. Manager Jill juga ikut memasuki ruangan bersama 2 perawat lainnya. Dokter Johnson yang berada di dalam ruangan segera beranjak dari kursi kebesarannya saat melihat sosok Elvano dan Cheril berdiri di hadapannya. Lalu dokter itu juga menyapa mereka berdua dengan mengucap salam.


Elvano memilih menjatuhkan tubuhnya di atas sofa yang berada di dalam ruang pemeriksaan khusus itu. Dan Cheril ikut merebahkan diri disamping Elvano. Sedangkan Manager Jill masih dalam posisi berdiri.


Elvano memandang Dokter Johnson lekat. Membuat dokter itu membuang wajahnya ke arah lain karena tak berani menatap Elvano.


"Manager Jill, kenapa masih belum mencari dokter wanita profesional untuk dipekerjakan di rumah sakit ini? Kamu sungguh ingin membiarkan dokter mesum ini memeriksa Cherilku hingga 9 bulan lamanya? Kenapa nyalimu sebesar ini?" sergah Elvano.


Ya ampun, kenapa dia mulai lagi sih.


Cheril membatin malu. Ia juga berusaha menenangkan Elvano dengan mengusap-usap bahu Elvano. Seolah-olah sedang berkata, "sudah dong Sayang, tolong jangan mempermalukan dirimu lagi!"


Sementara Manager Jill segera memberikan tanggapan. Sebenarnya dia sedikit kaget mendengar ucapan Elvano ini.


"Maaf Tuan Muda, anda belum memberikan perintah itu untukku. Saya mana berani merekrut dokter baru tanpa perintah dari Tuan Muda?" Manager Jill membela diri.


"Hei! Jawaban seperti apa itu? Seharusnya kamu yang bertanya padaku, bukan aku yang harus bertanya padamu," sergah Elvano.


Manager Jill sangat sadar dengan aturan yang ia batinkan itu.


"Maafkan saya Tuan Muda! Bulan depan saya akan mencarikan Dokter wanita khusus untuk memeriksa Cheril," jawab Manager Jill akhirnya.


Sekarang Elvano kembali fokus pada Dokter Johnson. Saat itu kebetulan Dokter Johnson sedang melirik ke arah Cheril. Jelas Elvano sontak naik pitam.


"Hei Dokter mesum! Kenapa melihat istriku seperti itu? Nyalimu juga begitu besar ya?" murka Elvano.


"Sudah dong Sayang! Jangan begini terus ah," bujuk Cheril.


"Jadi kamu membela Dokter itu?"


Bukannya luluh Elvano malah bertambah murka.


"Tidak Sayang, tidak. Aku hanya tak ingin kamu cepat tua marah-marah terus. Sudah ya, Sayang!" ucap Cheril sambil mengusap-usap bahu Elvano lembut.


Saat itu Elvano sedang merangkul Cheril erat di atas sofa.


Mendengar ucapan Cheril yang terkesan bercanda itu tentu membuat mereka semua yang berada di ruangan tergelitik. Mereka semua sangat ingin tertawa keras. Namun pastinya mereka tidak memiliki nyali yang sebesar itu. Akhirnya mereka semua hanya bisa mengulum senyuman mereka.


Dan tentu saja Elvano tahu mereka sedang menertawakan dirinya.


"Hei! Apa yang kalian tertawakan? Apa yang lucu?" sergah Elvano dengan ekspresi konyolnya seperti biasa.


Mereka semua segera memperbaiki sikap dan berusaha mengembalikan ekspresi serius yang mereka miliki.


"Sayang, mereka menertawakan suamimu ini. Apa kamu tidak ingin menghukum mereka?" tutur Elvano kemudian.


"Ehm?"


Cheriil sedikit tersentak mendengar itu.


"Kekonyolan macam apa lagi ini yang sedang dia mainkan?" batin Cheril saat itu.


"Iya Sayang. Mereka itu layak mendapat hukuman. Ayo berikan hukuman pada mereka!" cecar Elvano.


"Maksudmu apa sih Sayang?" tanya Cheril bingung.


Semua yang berada di dalam ruangan juga sedikit kebingungan dengan apa yang diucapkan oleh Elvano.


"Kalau kamu tidak ingin menghukum mereka, aku yang akan menghukum mereka!" tegas Elvano.


"Memangnya apa yang ingin kamu lakukan terhadap mereka Sayang?"


"Ehm ... Apa ya? Mungkin belari keliling rumah sakit ini? Bagaimana menurutmu?"


Ekspresi Elvano yang sebelumnya dingin sudah berubah ceria.


Ehem ....


Dia sungguh sedang memainkan sebuah lelucon.


Batin Cheril mengerutkan dahi.


Sedangkan batin yang lainnya hampir mirip,


Sepertinya Tuan Muda sedang ingin bermain sekolah-sekolahan. Jika murid salah, guru matematika akan menghukum mereka.


Manager Jill dan Dokter Johnson hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mereka.


Sedangkan 2 perawat itu hanya menundukkan wajah mereka.


Cheril lebih dulu melirik mereka semua sebelum menjawab Elvano. Cheril dapat melihat ekspresi mereka yang merasa Elvano sangat tidak masuk akal. Dan dirinya juga berpikir demikian.


"Sayang, apa kamu kira kita sedang bermain sekolah-sekolahan?"


Cheril memilih melempar pertanyaan.


Sama dengan pikiran yang lainnya, Cheril juga memiliki pendapat yang sama dengan yang mereka pikirkan.


Hahahaha


Hal yang di luar dugaan terjadi begitu saja. Elvano malah tertawa keras mendengar apa yang diucapkan oleh Cheril. Cheril dan yang lainnya pun menatap Elvano heran.


Saat itu Elvano sedang membayangkan betapa lucunya jika orang-orang itu memang mendapatkan hukuman tersebut. Persis seperti yang dikatakan oleh Cheril, mereka pasti seperti anak murid yang mendapatkan hukuman dari guru matematika.


"Pasti lucu sekali. Membayangkannya saja sudah membuatku tertawa." Gumam Elvano pelan.


"Apa yang sedang kamu bicarakan Sayang?"


Cheril memang dapat mendengar Elvano. Hanya saja ia tidak mengerti maksudnya.


"Sudahlah, tidak perlu dibahas lagi. Ayo mulai pemeriksaannya. Jika tidak aku sungguh-sungguh akan melakukan itu untuk kalian nanti," ancam Elvano memperlihatkan senyum konyolnya.


Suasana hati Elvano yang sebelumya sangat tidak baik akhirnya berubah ceria kembali. Walaupun mereka semua merasa sangat kebingungan dengan sikap Elvano yang seperti orang yang tidak begitu waras ini, mereka juga tidak berani berkomentar lagi.


"Lebih baik segera melaksanakan pemeriksaan saja seperti yang diperintahkan Tuan Muda, atau dia sungguh-sungguh dengan ucapannya."


Begitulah yang mereka pikirkan.


Jangan pernah berpikir Tuan Muda yang tidak bisa ditebak itu tidak berani melakukan hal konyol ini. Lebih baik mencari aman saja.


Memang hal inilah yang sebaiknya diterakan.