
Flashback
Saat Ibu Winda merasakan perasaan yang tidak nyaman usai kejadian dirinya yang menjatuhnya gelas tadi pagi, Ibu Winda segera menghubungi nomor ponsel milik Valen. Dan ia semakin panik saat mendapatkan nomor ponsel putrinya itu tidak dapat dihubungi. Ibu Winda segera memberitahukan hal ini pada Ayah William.
Ia berjalan tergesa-gesa kembali ke arah taman belakang dimana suaminya berada.
"Will, nomor ponsel Valen tidak bisa dihubungi. Bagaimana ini? Aku takut sesuatu terjadi padanya," ucap Ibu Winda panik.
Saat itu Ibu Winda sudah berada di kejauhan taman belakang. Dan jelas William bisa mendengar ucapannya.
"Mungkin ponsel Valen lowbat Win," tanggap William tenang.
"Kamu ini bagaimana sih Will? Anakmu tidak bisa dihubungi kamu malah setenang ini. Aku sungguh tak habis pikir dengan kamu Will,"
Jelas Winda sontak marah mendapati ekspresi yang begitu santai dari William. William memang selalu berpikiran positif. Toh selama ini semua hal berjalan dengan sangat lancar. Tidak ada satu pun orang yang berani mengusik kehidupan keluarga mereka karena kekuasaan yang mereka miliki. Walaupun kadang-kadang ulah sebagian kecil rekan picik memang kerap kali ia dapatkan. Namun jika sampai mengusik keluarganya, itu tidak pernah terjadi.
"Terus aku harus bagaimana Win?"
William menegakkan kembali tubuhnya yang sebelumnya terbaring santai.
"Ya, kamu ikut menghubungi dia kek, atau apa kek," cecar Winda.
"Kamu ini bagaimana sih Win? Kamu sudah menghubunginya kan? Dan ponselnya tidak aktif. Lalu aku harus menghubungi dia di mana?"
Benar juga yang ia katakan itu.
Walaupun Winda mengakui kebenaran itu, ia juga tidak menyerah begitu saja.
"Tapi setidaknya kamu harus berusaha Will. Oh iya, mungkin kamu bisa menghubungi kekasihnya itu. Barangkali mereka sedang bersama," ucap Winda sumringah.
"Memangnya kamu tahu nomor ponsel laki-laki itu?" tanya William mengangkat alisnya.
William sangat yakin Winda tidak mungkin mengetahui itu. Dirinya juga tidak sempat meminta nomor ponsel kekasihnya Valen itu.
Dan lagi-lagi tentu Winda kalah telak dalam hal ini.
"Baiklah, aku coba hubungi Vano saja deh," ucap Winda akhirnya.
Winda kemudian melangkah pergi begitu saja. Ia ingin mengambil ponselnya yang ia tinggalkan di dalam kamar tadi karena panik.
Setelah meraih ponselnya dia segera memanggil nomor ponsel milik Elvano. Dan Winda melakukan itu sambil berjalan. Dia ingin kembali ke taman belakang.
Jujur saja pada saat ibunya mengatakan nomor ponsel Valen tidak dapat dihubungi, Elvano cukup kaget. Dan dia sudah bisa mengira pasti sedang terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terhadap adiknya itu. Dia pun mencari alasan yang paling tepat supaya ibunya itu tetap tenang.
"Oh iya, maafkan Vano ya Bu, Vano tidak bisa menepati janji Vano. Sepertinya kami akan menginap agak lama di tempat ini. Jadi Ibu tidak perlu menunggu kami."
Demikianlah yang diucapkan oleh Elvano saat itu. Setelahnya ia juga dengan sigap mematikan panggilan itu untuk menghindari pertanyaan dan ocehan yang sudah pasti akan ia dapatkan jika masih terus melanjutkan panggilan itu.
Dan memang benar itulah yang terjadi. Winda berjalan sambil menghentakkan kaki menuju taman belakang. Ia merajuk. Bukan hanya pada Elvano yang tiba-tiba mematikan sambungan telepon, tapi lebih kepada Elvano yang tidak kembali pulang ke rumah. Jelas Winda sangat marah pada putranya itu. Jelas-jelas sebelum pergi dia sudah berjanji akan kembali ke rumah itu.
Alhasil, William lah yang menjadi sasaran empuk kemarahannya.
"Aduh, Winda ... Anak-anakmu itu sudah dewasa. Biarkan mereka yang menentukan kehidupan mereka sendiri."
Demikianlah William berusaha menenangkan Winda yang sedang mengamuk padanya. Dan dia juga mengajak Winda ikut berlibur ke Paris saat itu juga.
Begitulah kedua orang tua itu sama sekali tidak mengetahui apa yang sedang terjadi pada anak-anak mereka saat itu.
***
4 hari telah berlalu. Elvano dan ketiga pengawalnya masih terjebak di kaki bukit. Persediaan makanan mereka pun sudah hampir habis. Dan jujur saja Elvano sedang mengkhawatirkan keadaan Valen yang akan segera memburuk di hari esok.
Walaupun ketiga pengawalnya terlihat begitu putus asa, Elvano tidak akan pernah menyerah. Selama beberapa hari ini dia memang yang paling optimis dalam hal ini. Elvano yang saat itu sedang beristirahat usai berkeliling mencari jalan keluar bersama ketiga pengawalnya itu kembali bangkit. Ia sangat yakin pasti ada jalan keluar di sekitar sana. Tidak mungkin kan sebuah jebakan tidak ada jalan keluarnya?
Elvano kemudian menujukan matanya ke arah pohon anggur itu. Akalnya mulai bekerja. Rasanya keberadaan pohon tersebut begitu janggal baginya. Bagaimana tidak? Itu adalah satu-satunya pohon di sana. Yang lainnya juga hanya berupa rerumputan saja. Pasti ada sesuatu yang tersebunyi di sana pikir Elvano.
Elvano melangkahkan kakinya ke arah pohon anggur itu. Sementara ketiga pengawalnya menatap punggungnya lekat. Sesaat kemudian mereka juga ikut bangkit dan mengikuti Elvano dari belakang. Sepertinya mereka mulai memikirkan hal yang sama dengan apa yang dipikirkan oleh Elvano saat itu. Yup, pohon itu memang satu-satunya kunci dari tempat ini.
Saat mendekat, mereka dapat melihat ada sebuah lambang yang berkedip. Sebuah lambang khas milik Blood team. Mereka semua saling pandang saat melihat itu.
Jack kemudian melangkah maju. Dan memperhatikan lambang itu. Lambang tersebut sama persis dengan lambang miliknya yang menyerupai tato dekat pergelangan tangannya. Pada saat Jack mengangkat tangannya itu, ternyata lambang miliknya bersinar seketika membuat satu penyatuan dengan lambang yang ada di pohon itu. Kemudian pohon itu tba-tiba bergeser begitu saja membentuk sebuah jalan. Jelas hal ini membuat mereka semua kembali saling berpandangan.
"Ternyata memang itu jalan keluarnya."
Mungkin kalimat itu yang sedang mengisi pikiran mereka saat itu.
Dengan tawa sumringah, meraka pun berjalan memasuki jalan itu. Tentu ada sedikit penyesalan yang menghampiri mereka kenapa baru sekarang kepikiran tentang keberadaan pohon aneh itu. Terutama Elvano.
Hal yang dilakukan oleh Jack tadi ternyata tak hanya sekedar membuka pintu masuk bagi mereka menuju markas Blood team saja. Namun juga sekaligus menjadi kode orange yang terhubung langsung ke markas. Yang artinya, ada mala bahaya yang sedang menanti Elvano dan ketiga pengawalnya itu di depan sana.
Pada saat itu juga, ketika mendapatkan kode orange dari pintu masuk, mereka dapat menyimpulkan ada penyusup yang sedang melangkah masuk ke dalam area markas mereka. Sebab kode masuk yang digunakan oleh Jack jelas berbeda dengan kode pada lambang Blood team yang lainnya. Jika kode pada Blood team lainnya tidak akan membuat kode orange menyala, berbeda jelas dengan kode lama yang digunakan oleh Jack saat ini. Semua pengawal pun mendapatkan perintah untuk bersiaga. Pemimpin tertinggi jelas tau siapa di balik semua itu. Sebuah kode sinyal yang dikirimkan ke markas adalah kode lama Blood team. Dan lengkap dengan id Jack yang terkirim ke markas. Tentu saja beliau ini tau siapa yang membuka kode rahasia itu. Dan dia sedikit kaget saat mengetahui ternyata orang yang bersama dengan Jack saat itu adalah orang yang mereke cari selama beberapa hari ini.
Dirly yang sebelumnya sangat marah karena Elvano tidak dapat dihubungi selama beberapa hari ini pun ikut tersenyum puas, saat melihat layar yang ditunjukkan oleh pemimpin Blood team padanya. Dirly melihat di layar itu Elvano sedang melangkah menapaki jalan yang akan tersambung ke dalam markas tempat mereka berada saat itu. Saat mengetahui ternyata orang yang ia tunggu-tunggu datang sendiri padanya, jelas ada sebuah perasaan yang tidak dapat dijelaskan yang menghampiri hatinya.
Selama beberapa hari ini memang tidak ada satupun dari mereka yang menyadari Elvano dan ketiga pengawalnya itu terjebak ke dalam formasi yang meraka buat. Dikarenakan selama beberapa hari ini mereka terlalu sibuk mengurusi urusan Valen dan Niko, dan juga bagaimana caranya agar bisa menghubungi Elvano yang saat itu tidak dapat dihubungi sama sekali.