Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Perdebatan di restoran


Elvano kemudian menarik kursi untuk Cheril dan mendudukkan istri tercintanya di atas kursi, setelah itu dia juga duduk di samping Cheril. Sementara Niko berada di hadapan mereka. Tepatnya berhadapan langsung dengan Elvano.


Acara makan segera dimulai, suasana begitu tenang, sebab hanya ada mereka di sana.


Hingga tiba-tiba Geraldo muncul entah dari mana.


"Wah, kok aku tidak diajak sih? Aku kan juga lapar," ucap Geraldo sambil memperlihatkan senyuman penuh ejekan.


Dia lagi ... Kenapa bisa datang ke sini sih ... Sungguh membuat selera makan ku berkurang.


"Nik, minta pegawai untuk menyiapkan makanan untuk orang itu. Dan siapkan meja terpisah, biar dia bisa makan sendiri di meja itu!" titah Elvano.


Issssh ... Teganya ....


"Aku mau makan di sini saja. Makanan di sini sepertinya sangat banyak, tidak akan habis dimakan oleh kalian bertiga. Lagian perut aku juga sudah sangat lapar. Tidak bisa menunggu lagi," ujar Geraldo yang langsung menarik kursi samping Niko, dan berhadapan tepat dengan Cheril.


Tatapan Cheril dan Niko pun saling bertemu.


"Eh ... KAMU .... " Elvano murka pastinya. Dia sudah dibakar oleh api cemburu saat itu.


"Sudahlah sayang, tak apa, biarkan dia makan bersama kita saja. Lagian benar kata dia, makanan di sini sangat banyak, malah mubasir jika tak habis," bujuk Cheril.


Sudah tau ya wajah Elvano sudah seperti apa saat itu. Apalagi ia belum sempat bersuara, Geraldo sudah lebih dulu bersuara untuk menyiram bensin di atas api itu.


"Tuh, istrimu yang cantik ini saja mengijinkan aku di sini," ejek Geraldo yang juga menatap Cheril lekat. Membuat Cheril menundukan wajahnya.


Murka Elvano pun memuncak.


"Hei, sudah aku katakan berapa kali padamu? Tidak boleh menatap istriku seperti itu. Dan kamu juga Cheril, kenapa malah membela laki-laki ini?" emosi Elvano.


"Sudahlah sayang, jangan marah-marah seperti ini ah ... Biarkan saja dia, yang penting kan aku tidak menginginkan dia lagi, sekarang hanya kamu saja yang ada di hati ini," Cheril mencoba menenangkan Elvano. Selain dengan kalimat tersebut, Cheril juga mengusap punggung Elvano pelan dan menarik tangannya pelan supaya ia duduk kembali.


Dan pastinya itu berhasil. Elvano terbuai dengan kata-kata manis serta usapan lembut yang diperlihatkan oleh Cheril. Sementara Geraldo, tentu terasa sedikit sakit di hatinya mendengar itu . Namun ia tetap bisa bersikap dengan sangat tenang.


"Baiklah kalau begitu. Aku ijinkan kamu makan di sini. Kamu dengar sendiri kan tadi? Kamu sudah tidak ada lagi di hati istriku. Jangan coba-coba merebut dia dari ku ya," ancam Elvano.


Seperti biasa, Elvano berucap dengan memperlihatkan wajah konyol khas yang ia miliki (Mirip dengan pemeran leeminho di drama-drama korea, hehehe), bayangkan seperti itu ya Readers.😅


Sedangkan yang diajak bicara tak terlihat menanggapi Elvano sama sekali. Malah lebih sibuk menatap Cheril dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Wah, Elvano pasti akan mengamuk lagi.


"Kamu sungguh ingin menguji kesabaranku ya?" teriak Elvano.


"Yasudah, begini saja, kamu duduk di tempat aku saja, dan biar aku yang duduk di tempat kamu," akhirnya Cheril lagi yang harus turun tangan membujuk Elvano dengan mengajak nya bertukar tempat duduk.


Lalu kedua orang ini pun bertukar tempat duduk. Sekarang yang berhadapan langsung dengan Geral adalah Elvano. Sedangkan Cheril berhadapan dengan Niko.


"Eh, Nik ... Peraturan ini juga berlaku untukmu ya, kenapa kamu ikut memandang Cherilku?"


Ok, sekarang masalah baru. Niko memang sedang menatap Cheril saat itu. Sebab ia sedang kebingungan, apa yang terjadi sebenarnya. Apalagi mendengar Cheril berkata; "yang penting kan aku tidak menginginkan dia lagi, sekarang hanya kamu saja yang ada di hati ini," kalimat tersebut terus terngiang dalam pikiran Niko. Terlibat masalah seperti apa ketiga orang ini? Seperti itulah yang sedang dipikirkan oleh Niko. Niko memang sudah mengenal Geraldo ketika baru tiba di Villa tadi, Geral sudah mengenalkan diri pada Niko. Namun jelas dia tidak tau tentang hubungan cinta segitiga yang sedang terjadi itu.


"Ma-maaf," tanggap Niko yang langsung membuang wajah ke arah lain.


Kalau soal Niko sih tidak terlalu susah bagi Elvano. Niko pasti segera menurut saat dirinya sudah mengeluarkan peringatan.


Setelahnya, acara makan pagi berlangsung dengan damai. Walaupun Elvano masih sesekali beradu tatap dengan sahabat yang juga merupakan rivalnya itu. Setiap kali Geral mencuri pandang ke arah Cheril, Elvano pasti melototi nya. Hahaha ... Jika kalian berhasil membayangkan hal itu, kalian pasti tertawa. Author yang menulis saja tertawa loh. Hehe.


"No, aku dengar, tadi ada seorang laki-laki menemui mu?" tanya Geraldo.


"Ehm? Darimana kamu mengetahui itu?" Elvano sedikit kaget.


"Ya tau lah, jika bukan ada hal itu tidak mungkin kan pantai ini jadi kosong begini? Dan juga dipenuhi oleh para pengawalmu," jelas Geraldo.


"Oh, memang benar sih, Tapi aku tidak mengenal laki-laki itu. Aku saja sangat kaget, orang itu menggedor pintu dengan sangat keras tadi," tanggap Elvano.


"Begitu ya," Geral menanggapi singkat. Namun sesaat setelah itu, ia kembali melempar sebuah pertanyaan yang membuat Elvano bertambah kaget lagi.


"Oh iya, apa pria itu memberikanmu sebuah benda?" tanya Geraldo lagi.


Bagaimana Dia bisa tau laki-laki tadi memberikan sesuatu padaku ....


Elvano sedikit menaruh curiga pada Geraldo, apa mungkin benda tersebut ada hubungannya dengan Geral? Pertanyaan ini yang saat itu muncul di benak Elvano. Dia juga merasa semakin penasaran dengan isi kotak yang belum dia buka tadi.


"Ehm, maksud kamu apa? Aku tidak mengerti," Elvano memilih berpura-pura tidak tau.


"Oh, tidak ada ya? Lupakan saja! Bukan apa-apa kok. Anggap saja aku salah bicara tadi," elak Geraldo.


Sebenarnya Geral tidak percaya begitu saja, ia bisa melihat dari Ekspresi yang ditampilkan oleh Elvano. Hanya saja ia tidak menyangka Elvano malah memilih berbohong pada nya.


Mendapatkan tanggapan demikian dari Geraldo, Elvano semakin merasa curiga pada Geral. Apalagi ketika ia mengingat Geral yang begitu misterius. Pasti ada sesuatu yang tidak beres. Elvano semakin berniat untuk mencari tau apa yang sedang terjadi sebenarnya. Dan Elvano memilih tidak lagi menghiraukan tanggapan Geraldo yang sangat aneh itu. Lalu memilih mengalihkan pembicaraan.


"Nik, kamu sudah menghubungi Erik dan yang lainnya kan?" tanya Elvano pada Niko.


"Ehm? I-iya, sudah kok. Aku juga sudah memesan tiket, dan tiket nonton itu jadwalnya jam 2 siang," jelas Niko.


Sebelumnya Niko sedikit tersentak saat Elvano berbicara padanya, karena ia sedang mencerna pembicaraan Geral dengan Elvano tadi. Belum terpecahkan teka-teki tentang hubungan segitiga mereka, sekarang Niko sudah dibuat bingung dengan pembicaraan misterius tadi.


Dan parahnya, Niko merasa sangat segan untuk menanyakan itu semua. Bagaimanapun rasanya terlalu privasi untuk ia tanyakan.


Sementara Geral yang mendengar nama Erik, dia langsung berantusias.


"Kalian mau kemana? Ada Erik? Aku ikut ya!" Geral menawarkan diri.


Eh, jadi Geral juga kenal Erik ....


Batin Cheril dan Niko bersamaan.


"Ayolah No, Aku sudah lama tidak bertemu Erik, boleh ya aku ikut kalian. Please!" mohon Geral. Dia terpaksa memohon karena Elvano tak terlihat menanggapi nya tadi.


"Ehm, baiklah! Nik, beli 1 tiket lagi ya," titah Elvano akhirnya.


"Begitu dong. Jangan pelit!" tanggap Geral senang.


"Hei, mau mengejek? Bukannya berterimakasih. Aku batalkan lagi nih," ancam Elvano.


"Eh, jangan, baiklah. Terimakasih Tuan Muda Elvano Setiono yang terhormat!" ucap Geral yang memilih mengalah.


Cheril dan Niko tertawa kecil melihat kemesraan mereka. Walaupun Elvano tidak menyukai Geral yang merupakan mantan kekasih dari Cheril, tapi dirinya masih menganggap Geral sebagai sahabat yang sangat ia sayangi. Karena itulah, Elvano mengijinkan Geral ikut dengan mereka.