
Saat merasa suasana yang mulai mencair, Cheril mencoba menagih jawaban dari Elvano atas pernyataannya yang tadi. Yang pastinya juga akan membawa dirinya masuk ke dalam sebuah masalah.
"Sayang, memangnya tadi aku mengucapkan janji apa padamu?"
Hem ....
"Bukannya tadi kamu bilang tidak ingin mengetahui itu?" sindir Elvano.
Hehehe ....
"Itukan tadi, sekarang beda lagi,"
"Begitu ya? Kamu sungguh sudah siap? Aku akan langsung menagih janji itu sekarang loh," ancam Elvano.
Cheril mulai bingung mendengar itu. Antara sangat ingin tau, tapi juga merasa takut.
Untuk beberapa detik Cheril terdiam, dan Elvano memberi nya ruang untuk berpikir. Elvano memang sengaja membuat Cheril berlarut dalam kebingungan, karena wajah Cheril yang seperti itu sangat menggemaskan bagi dia.
Saat mata kedua orang itu saling bertemu, Elvano tau apa arti tatapan dari Cheril itu, dia pasti sedang berpikir keras, harus memberikan jawaban apa padanya. Laki-laki ini pun memainkan alisnya atas bawa membuat Cheril semakin bingung harus menjawab apa. Dan Elvano sudah pasti merasa sangat puas.
Hahahaha
Dia tertawa keras di dalam hati.
Melihatmu seperti ini sungguh sangat menggemaskan ... Rasanya aku ingin segera memakanmu.
"Bagaimana? Kok belum dijawab juga?" desak Elvano.
"Kamu ini selalu saja begini. Iya, aku memang ingin mengetahui itu. Tapi tidak pakai acara ancam-mengancam. Paham?"
"Wah .... Ternyata kamu sungguh sudah sangat berani ya sama aku sekarang. Baiklah, aku akan katakan padamu,"
Elvano kemudian mendekat mulutnya ke arah kuping Cheril, lalu mengucapkan kalimat yang dianggap Elvano sebagai sebuah janji yang sudah Cheril ucapkan di acara konferensi pers tadi.
"Tentang dirimu yang mau memberikan keturunan untukku!" bisik Elvano tepat di kuping Cheril yang membuat wanita itu merinding.
Baru merasakan deru nafas Elvano saja sudah membuat Cheril merinding, apalagi mendengar isi dari kalimat yang diucapkan laki-laki itu, wajah Cheril pun sudah seperti tomat saja.
"Dasar Tuan Muda muka mesum!" Pekik Cheril sambil mencubit pinggang Elvano.
"Aaaaauu .... Sakit Cheril .... Kamu sudah benar-benar nakal ya sekarang. Sudah sangat berani rupanya. Jadi apa aku boleh menagih janji itu sekarang?" tanya Elvano dengan nada mengejek.
Sebenarnya ia sendiri sudah tidak dapat lagi menahan diri lebih lama melihat wajah istrinya yang sangat menggemaskan itu, tapi ia juga masih sangat ingin menggoda Cheril.
Mendengar Elvano melakukan negoisasi dengannya, Cheril seperti mendapat kesempatan untuk menolak. Tentu ia harus memanfaatkan kesempatan itu dengan sangat baik.
"Sebenarnya aku tidak merasa itu adalah sebuah janji, itu kan hanya sebuah ucapan," elak Cheril berharap Elvano membatalkan keinginannya yang sudah sangat haus akan janji itu.
"Enak saja. Ucapan adalah janji. Pokoknya apa yang sudah kamu katakan adalah sebuah janji yang harus kamu bayar," tuntut Elvano.
"Sejak kapan ucapan adalah janji? Setau aku yang benar itu, ucapan adalah doa," bela Cheril yang tanpa sengaja malah membuat Elvano semakin mendapatkan angin segar.
"Nah, berarti doa juga harus dikabulkan. Ayo sekarang kita mulai! Aku akan menjawab doamu itu." ucap Elvano penuh semangat dengan senyuman kepuasan di wajahnya.
"Eh .... Tapi yang mengabulkan doa adalah Tuhan, bukan kamu," pendapat Cheril.
"Wah .... Ternyata nyalimu sudah sejauh ini ya. Aku sungguh sudah meremehkanmu. Baiklah, sekarang kita lihat, siapa yang lebih hebat."
Setelah selesai dengan perdebatan mesra, kedua orang ini sudah tidak lagi bersuara. Karena Elvano sudah segera melancarkan aksinya dalam menuntut janji yang diucapkan oleh Cheril. Juga sekaligus Menuntut haknya sebagai seorang suami. Apalagi setelah acara resepsi kemarin, Elvano memang belum menyentuh istrinya sama sekali.
Cheril yang hendak memberontak juga tidak dapat melawan kekuatan dari laki-laki perkasa itu. Jadilah malam ini mereka habiskan berdua di dalam kamar khusus hotel Belle. Hotel terbesar yang ada di kota XX.
_
_
Saat itu Cheril dan Elvano dalam posisi saling berhadapan. Ketika mata terbuka, kedua orang ini saling bertatapan lekat, sambil mengingat kembali apa yang sudah terjadi semalam.
Cheril merasa sangat malu saat itu, apalagi ketika ia menyadari dirinya yang masih belum berbusana. Cheril sudah hendak beranjak mencari baju handuk yang ia kenakan semalam sambil menarik selimut untuk membalut tubuhnya.
"Heh! Kenapa menarik selimutnya? Mau melihat anu aku?" ucap Elvano ketus
"Eh .... Apaan sih? Dasar mesum," balas Cheril dengan wajahnya yang memerah seketika. Dan menghentikan aktivitas tangannya yang sedang menarik selimut.
"Kamu yang mesum. Jika tidak kamu kenapa menarik selimut ini?" ejek Elvano
"Aku kan tidak tau kamu tidak mengenakan pakaian," Cheril mencoba membela diri.
Namun sehebat apapun Cheril, Elvano tetap saja mendapatkan kemenangan.
"Masih tidak mau mengaku juga? Apa mau aku .... "
"Baiklah. Aku yang salah. Aku minta maaf!" seru Cheril cepat sebelum Elvano menuntaskan ucapannya.
"Minta maaf yang benar. Tentang apa? Sebutkan!" cecar Elvano meminta Cheril menjabarkan maksud dari permintaan maaf yang ia ucapkan itu.
"Eh .... Kamu sungguh keterlaluan ya .... " Pekik Cheril kesal.
Yang benar saja aku harus mengatakan padanya bahwa aku sengaja menarik selimut itu karena ingin melihat .... Aaaah .... Dasar laki-laki GILA ....
Umpat Cheril kesal.
"Ayo, apa yang sedang kamu pikirkan?" ucap Elvano sambil mencubit kedua pipi Cheril gemas.
"Aaaauu .... Sakit Vano .... " teriak Cheril dengan wajah cemberut.
"Siapa suruh kamu menggemaskan seperti ini. Ayo katakan padaku, apa yang sedang kamu pikirkan?" desak Elvano.
"Tidak mau!" tolak Cheril.
"Eh .... Aku ci ....
"Cium tu bantal!" Hahaha ....
ujar Cheril setelah berhasil meraih sebuah bantal dan meletakkannya tepat di wajah Elvano sebelum Elvano menyelesaikan kalimatnya.
"Cheriiiil .... Kamu sungguh ingin melihatku marah ya?" kali ini Elvano kesal sunghuhan, wajahnya berubah menjadi sangat serius dan juga merah. Terlihat begitu dingin. Dia marah.
Eh, dia sungguh-sungguh marah ya ....
Kenapa hanya meletakkan bantal di wajahnya begini bisa membuatnya semarah ini ....
"Ma-maaf!" ucap Cheril gugup.
Cheril tidak menyangka, candaannya ini malah membuat Elvano semurka itu.
Elvano memang seperti satu orang yang memiliki 2 kepribadian bagi Cheril. Ia bisa berubah hanya dalam sekejap saja, bahkan hanya karena hal yang sangat sepele. Cheril merasa dirinya harus lebih banyak lagi mengenal orang ini. Masih terlalu banyak yang belum ia ketahui tentang kepribadian Elvano. Sebab selain ia bisa menjadi sangat romantis, ia juga bisa berubah menjadi singa yang sangat ganas.
"Tidak apa-apa, maaf sudah membuatmu kaget dengan kekhilafanku tadi. Kamu harus tau, aku paling tidak suka ada orang yang berani meletakkan bantal di wajahku. Aku memiliki pengalaman yang sangat buruk tentang ini." jelas Elvano panjang lebar. Lalu tangannya meraih tubuh Cheril memeluknya erat. Satu kecupan lembut ia berikan di kening Cheril.
Oh, jadi begitu .... Memangnya pengalaman seburuk apa sih yang bisa membuat dia semarah ini ....
Gumam Cheril penasaran. Namun ia juga tidak berani menanyakan apapun pada Elvano lagi. Setelah kejadian tadi Cheril lebih memilihkan diam saja. Bahkan hanya sekedar mau beranjak pun ia urungkan. Membiarkan Elvano memeluknya dan sesekali tangan nakal Elvano berada di tempat favoritnya. Hingga tiba-tiba Telepon genggam milik Elvano berbunyi dan itu adalah panggilan dari Niko.