
Sesaat setelah selesai sarapan Elvano mengajak ibu dan ayahnya keluar dari ruangan dan berbicara. Ia menceritakan semuanya pada kedua orangtuanya sekaligus meminta ijin agar Cheril boleh tinggal di rumah mereka.
Tentang Cheril yang sudah pernah menikah memang tidak ia ungkit. Cukup dirinya saja yang tau soal itu. Ia tidak ingin Cheril merasa tak nyaman berada di keluarga ini. Termasuk juga tujuan awalnya yang hanya ingin bermain-main dengan Cheril juga tidak ia ceritakan.
Setelah mendengar semua penjelasan dari Elvano, Ibu Winda terlihat tetap tidak bisa menerima karena Elvano hanya melakukan kegiatan prewedding saja tanpa adanya perayaan.
"Vano .... Apa kamu tidak ingin merayakan pernikahan ini?" Tanya Ibu Winda.
Sementara Elvano sepertinya masih mencerna apa yang dikatakan oleh ibunya. Ia sama sekali tidak menjawab pertanyaan itu.
"Vano .... Kamu menyebut Cheril adalah istrimu, tapi kamu bahkan belum bertukaran cincin kan dengan dia?"
Ibu Winda kembali berbicara dan kalimatnya kali ini benar-benar membuat Elvano tersentak.
Benar juga kata Ibu ....
Elvano memang tidak memikirkan hal ini sebelumnya. Ia kan memang awalnya hanya ingin bermain-main saja.
"Vano ... Sebuah pernikahan itu bukan permainan. Jika kamu memang ingin Cheril menjadi istrimu yang sah, kamu harus mengikatnya secara serius. Setidaknya kalian juga harus meminta restu pada kedua orangtua Cheril. Barulah pernikahan kalian bisa berjalan bahagia.." Tambah Ibu Winda panjang lebar.
Sekali lagi Elvano tersentak mendengar penjelasan yang disampaikan oleh ibunya. Semua ucapan ibunya memang benar, bukankah aturannya memang harus begitu?
Namun ntah kenapa ketika Elvano mendengar kata meminta restu membuat dirinya sangat ketakutan. Ia takut kedua orangtua Cheril tidak merestui hubungan mereka, mengingat Cheril yang sepertinya masih menjadi istri sah dari Jimmy.
Dan Elvano juga takut kedua orangtuanya mengetahui tentang status Cheril yang sudah pernah menikah itu.
"Vano, apa yang diucapkan oleh ibumu memang benar. Pernikahan kalian tidak akan bahagia jika kalian tidak meminta restu pada kedua orangtua Cheril." Tambah Ayah William ikut menasehati Elvano.
Saat itu Elvano hanya menundukkan wajahnya. Sambil mencerna apa yang diucapkan oleh kedua orangtuanya. karna Elvano hanya diam saja, Ayah William kembali bersuara.
"Jadilah laki-laki sejati, Vano!" Ucap Ayah William sembari menepuk pundak Elvano pelan. Membuat Elvano yang sejak tadi menundukkan wajahnya kembali mengangkat wajahnya lalu menatap ayahnya lekat dengan tatapan yang tak dapat diartikan selama beberapa detik.
"Baik Ayah! Vano akan melakukannya! Vano akan menjadi laki-laki sejati." Ucap Elvano Akhirnya.
Ayah William dan Ibu Winda pun tersenyum, mereka merasa sangat senang putra mereka sudah mau mendengarkan nasehat mereka.
"Tapi, dengan satu syarat!" Tambah Elvano tiba-tiba. Membuat senyuman keduanya kembali memudar.
"Syarat apa Vano?" Tanya Ibu Winda.
"Cheril tidak boleh tau tentang semua ini!" Ucap Elvano kemudian.
"Maksud kamu?"
Ibu Winda kembali bertanya.
"Vano ingin memberikan kejutan untuk nya Bu!" Jawab Elvano sambil tersenyum.
Fiiiiiiuhh
Ayah William dan Ibu Winda yang sebelumnya sedikit tegang ikut tersenyum mendengar jawaban Elvano.
"Begitu ya? Ternyata kamu romantis juga ya Vano! Tidak seperti Ayahmu ini ... Dia sama sekali tidak tau caranya bersikap romantis.." Ujar Ibu Winda kemudian sembari mengejek suaminya.
"Eh .... Siapa bilang Ayah tidak romantis? Kamu mau aku buktikan sekarang? Sini aku buktikan!"
Ayah William tidak terima dengan perkataan istrinya itu dan ia sudah memeluk istrinya saat itu sambil mendekatkan wajahnya ingin mencium istrinya. Membuat Ibu Winda tersentak seketika.
"Heh ! kamu sudah gila ya? Apa yang ingin kamu lakukan?" Ucap Ibu Winda berusaha menjauhkan wajah Ayah William yang sudah semakin mendekat, sekaligus memberontak melepaskan tangan Ayah William yang sudah memeluknya.
"Kan kamu mau aku bersikap romantis? Ya, sekarang aku ingin mencium mu! Sini biarkan aku mencium mu!"
Sementara Ibu Winda sudah berlarian kecil takut Ayah William sungguh-sungguh melakukan hal itu. Alhasil mereka berdua pun sudah bermain kejar-kejaran.
Jegrek
Elvano membuka pintu pelan.
Sementara saat itu Cheril sedang tertidur pulas. Padahal baru saja ia bangun dari tidur panjangnya, namun ia sudah kembali tertidur lagi. Elvano yang melihat itu merasa sedikit khawatir. Ia takut Cheril bukannya tidur, tapi malah pingsan atau kembali koma.
Elvano pun segera mendekati tempat tidur Cheril. Lalu berusaha membangunkan nya.
"Cheril .... Bangun! Bangun Ril!" ucap Elvano lembut sembari menggoyang tubuh Cheril pelan untuk membangunkannya.
"Eh, Kenapa Vano? Aku masih mengantuk!" jawab Cheril dengan suara agak berat, ia hanya membuka matanya sedikit untuk mengintip siapa yang memanggilnya, setelah itu kembali memejamkan mata.
Jadi dia memang sedang tidur ya .... Syukurlah.
Gumam Elvano dalam hati.
Lalu ia juga membiarkan Cheril melanjutkan kembali tidurnya. Sementara dirinya memilih tetap duduk di kursi samping tempat tidur Cheril dan menatap wajah Cheril lekat. Ntah apa yang sedang ia pikirkan saat itu.
Sesaat kemudian, dia malah mendekatkan wajahnya ke arah wajah Cheril lalu membanjiri wanita itu dengan kecupan lembut. Tak satu bagian pun yang ia lewatkan apalagi wanita itu sama sekali tidak terusik tidurnya dengan kegiatan yang dilakukan oleh Elvano. Terakhir Elvano mengecup b*b*r Cheril dan membiarkan b*b*rnya lebih lama di tempat itu.
Pada saat yang bersamaan kedua orangtuanya masuk ke dalam ruangan itu bersama dengan Dokter juga perawat. Elvano malah sama sekali tidak menghiraukan bunyi pintu yang terbuka perlahan. Ia tetap membiarkan b*b*rnya lekat di b*b*r Cheril. Hingga ke 4 orang itu melototkan mata mereka menyaksikan sikap furgal yang ditampilkan oleh Elvano pada mereka.
"Hem ... Vano .... "
Ibu Winda membuka suara dengan memanggil namanya.
Mendengar suara ibunya, Elvano pun segera melepaskan c**man itu. Dan membalikkan tubuh menatap ke 4 orang di belakangnya yang masih menatap ke arah dirinya lekat.
Ia tau ke 4 orang ini pasti kaget dengan tingkah lakunya, namun Elvano sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu dan masih bisa bersikap biasa saja. Ia juga tidak menjawab ibunya.
Ternyata buah jatuh memang tidak jauh dari batangnya. Ayah dan anak sama saja ....
Gumam Ibu Winda dalam hati.
"Eh, Dokter .... Anda mau memeriksa Cheril? Dia sedang tidur Dok!" ucap Elvano santai. Bukannya menjawab ibunya Elvano malah memilih berbicara dengan Dokter.
"Eh, i-iya Tuan Muda." Jawab Dokter itu sedikit gugup. Ia masih kepikiran dengan apa yang dilihatnya tadi.
"Tapi Cheril masih tidur Dok." Tambah Elvano lagi mengulangi ucapannya yang tadi.
"Apa boleh dibangunkan Tuan Muda?" Tanya Sang Dokter.
"Eh .... Jangan Dok ... Anda mau cari mati berani membangunkan istri saya?" Elvano malah murka mendengar pertanyaan Dokter.
"Eh, maaf Tuan Muda!"
Dokter itu sedikit kaget mendengar ucapan Elvano.
Tidak hanya Dokter yang kaget, yang lainnya juga ikutan kaget. Mereka sama sekali tidak menyangka Elvano akan mengatakan itu.
"Yasudah, tidak apa-apa Tuan Muda, biar saya kembali lagi nanti!" Lanjut Dokter akhirnya.
"Nah begitu baru benar ... Pergilah!" Ujar Elvano masih dengan nada yang sedikit tinggi.
Ia malah tidak sadar, suaranya justru yang mungkin akan membangunkan Cheril bukan Dokter itu.
"Baik Tuan Muda!" Jawab Sang Dokter akhirnya.
Kemudian segera berlalu dari ruangan Cheril.
Sementara Ibu Winda dan Ayah William masih menatap putra mereka lekat dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.