Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Wanita hamil sungguh harus digendong?


Selama di dalam perjalanan, Cheril mencoba mencari tahu tentang kehamilan melalui ponselnya. Ia lalu Googling dengan kata sandi, 'Apakah ibu hamil boleh berjalan sendiri?'


Jelas, berbagai informasi tentang ibu hamil langsung muncul di balik layar ponselnya. Dan membuat dia kaget ternyata ibu hamil malah disarankan untuk sering berjalan supaya pada saat hendak melahirkan nanti proses melahirkan itu lebih gampang.


Tentu saja Cheril segera menyampaikan ini pada suaminya.


"Tuh kan sayang ternyata tuh ibu hamil memang boleh berjalan sendiri. Malah sangat disarankan, nih kamu baca!" protes Cheril.


"Apaan? Paling juga yang kamu baca itu berita hoax," tanggap Elvano datar.


"Enggak sayang, ini tuh dari sumber terpercaya ... Ini nggak mungkin hoax. Lagian kan selama ini aku memang nggak pernah lihat ada orang hamil yang digendong sama suaminya kemana-mana. Mereka hanya berjalan bersama saling bergandengan tangan atau saling merangkul,"


"Sudahlah! Pokoknya kamu jangan mudah percaya dengan dunia internet. Kar'na kebanyakan itu hoax," tegas Elvano.


"Sekarang lebih baik kamu jangan banyak bicara dulu. Nanti Baby G kenapa-kenapa loh. Kamu nggak takut anak kita kenapa-napa? Kamu tuh cerewet banget loh, nyerocos saja ga pakai berhenti," sambung Elvano.


"Eh jangan bilang sekarang kamu berpikir bahwa orang hamil itu tidak boleh berbicara, apa itu maksud kamu?"


"Ya, Bisa jadi kan? Pokoknya kamu jangan banyak bicara lagi! Atau kalau tidak aku c*um nih!" ancam Elvano.


"Kamu ...,"


"Eh ... Mau aku c*um? Bicara sekali lagi aku c*um ya!" tegas Elvano yang berhasil membungkam mulut Cheril.


Huuuh!


Dasar Tuan Muda aneh ... Yang benar saja orang hamil tidak boleh berbicara.


Dan pada akhirnya Cheril hanya berani melemparkan protesnya di dalam hatinya saja.


Selang beberapa saat kemudian mereka sudah tiba di rumah sakit. Sebuah rumah sakit yang cukup besar milik keluarga Setiono.


Pada saat mereka tiba di rumah sakit, Elvano segera menggendong Cheril turun dari mobil. Kali ini Cheril berusaha memberontak karena ia sudah mengetahui kebenarannya tentang orang hamil yang tidak perlu digendong. Namun tentu tenaga Cheril tidak sekuat Elvano, ia pun tidak berhasil turun dari pelukan laki-laki itu.


Dua orang petugas medis yang melihat Elvano membopong tubuh istrinya, segera berlarian dengan terburu-buru membawa bed menuju ke arah Elvano dan Cheril, karena mereka mengira Cheril sedang dalam keadaan gawat darurat.


"Maaf Tuan Muda, apa yang terjadi pada Nona? Apa dia Nona terluka? Silahkan letakkan tubuh Nona di sini, Tuan Muda!" ucap salah satu perawat.


Saat itu Cheril lebih memilih menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya karena merasa malu. Wajahnya bahkan sudah sangat merah.


"Apa maksudmu? Istriku tidak terluka. Kamu nyumpahin istriku celaka ya? Berani sekali? Gajimu bulan ini aku potong!" murka Elvano.


"Eh ... Ja-jangan Tuan Muda! Mohon maafkan saya yang sudah berkata sembarangan!" ucap perawat itu sambil membungkukkan badannya.


Tentu saja kedua perawat ini sedikit kebingungan.


Apa yang terjadi sebenarnya ...


Mungkin itulah yang sedang mereka pikirkan di dalam hati.


"Sudah tau salah? Baguslah!


Beruntung suasana hati Elvano sedang sangat gembira saat itu, jika tidak mungkin perawat itu akan mendapatkan masalah besar.


"Lagian orang sedang hamil malah dibilang terluka. Bagaimana aku tidak marah coba?" Gumam Elvano pelan, tapi masih bisa didengar oleh kedua perawat itu.


Membuat kedua perawat itu saling melempar tatapan satu sama lain. Bingung bercampur penasaran. Namun juga tidak berani bertanya lebih banyak.


"Ini juga nih ... Saya tidak membutuhkan bed ini. Bawa pergi sana!" sambung Elvano ketus.


Kemudian kedua perawat itu dengan sigap mendorong pergi bed tersebut karena tidak ingin mendapatkan masalah lain.


"Kenapa semua orang terus menatap kita? Apa yang aneh?" tutur Elvano pelan.


"Ya jelaslah, sayang. Kamu terus menggendongku seperti ini sungguh sangat aneh! Apa kamu masih belum sadar?" protes Cheril.


"Aku kan menggendong istriku sendiri. Apanya yang aneh? Kamu tuh yang aneh. Bukannya senang malah protes terus,"


Bagaimana caranya berbicara dengan orang ini sih ....


"Lebih baik kamu turunkan aku di sini!" pinta Cheril.


"Tidak akan! Kamu itu sedang mengandung anak aku, jadi harus menurut! Paham?"


Berdebat dengan Elvano memang percuma saja, dia tidak akan pernah mau mendengarkan Cheril.


Pada akhirnya Cheril hanya bisa kembali terdiam membiarkan suaminya itu berbuat sesukanya.


Pada saat yang bersamaan, datanglah Manager Jill. Pimpinan rumah sakit ini. Kebetulan Elvano dan Manager Jill hubungannya juga cukup baik. Tak hanya sebatas bos dengan anak buah saja, tapi bisa dikatakan seperti seorang teman juga. Mungkin karena sifat Manager Jill yang sangat mudah bergaul, jadi mudah mendekatkan diri dengan siapa saja.


"Eh, Tuan Muda ... Ada apa nih? Apa terjadi sesuatu pada Nona Cheril? Kenapa tidak menelepon terlebih dahulu?" tanya Manager Jill tiba-tiba.


"HEH! Manager Jill! Apa kamu mau dipotong juga gajinya? Kenapa ikutan nyumpahin istriku?"


Elvano memarahi Manager Jill seperti ia memarahi kedua perawat tadi.


"Ehm? Jadi Nona Cheril tidak terluka ya? Tapi kenapa dibopong seperti ini? Apa kalian sedang syuting film?" ejek Manager Jill.


"Wah ... Sepertinya kamu tak hanya ingin dipotong gajinya ya? Tapi mau minta dipecat. Iya?" murka Elvano.


Hahahaha


"Maaf! Lagian Tuan Muda ini aneh-aneh saja. Lihat saja istrimu itu! Dia bahkan tak berani memperlihatkan wajahnya,"


"Hei istri aku itu lagi hamil, makanya aku gendong. PAHAM?" tegas Elvano.


Tentu saja manajer itu bertambah bingung.


Hahahahaha


"Jadi maksud Tuan Muda, istri Tuan Muda itu sedang hamil? Tidak boleh berjalan dan harus digendong. Begitu?"


Manager Jill mulai paham dengan jalan pikiran Elvano.


"Sudah tau masih nanya ... Sana! Siapkan ruangan untuk Cherilku!" titah Elvano.


Sementara isi hati Cheril saat itu,


Tolong Tuan Muda ... Hentikan kekonyolanmu ini. Ini sungguh memalukan.


"Eh, masih belum mau bergerak? CEPAT!"


Akhirnya Manager Jill segera berlalu dari hadapan kedua orang ini sambil tertawa geli. Ia segera mempersiapkan ruangan pemeriksaan dan mengosongkan jadwal Dokter SPOG terbaik untuk beberapa saat ke depan demi melayani empunya rumah sakit. Sedangkan Elvano yang sudah mulai merasa pegal memilih menurunkan Cheril di ruangan tunggu VVIP.


Sekitar 15 menit kemudian, Manager Jill kembali mendatangi Elvano dan Cheril untuk mengajak mereka menuju ke ruang pemeriksaan.


Seperti tadi, dengan sigap Elvano kembali menggendong istrinya menuju ruang pemeriksaan.


Tentu saja membuat semua yang melihat mereka tergelak. Apalagi saat mereka tau apa yang menjadi alasan Elvano. Sungguh sangat menggelikan. Dan tentu saja Cheril masih terus menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya hingga mereka memasuki ruang pemeriksaan.