
Kegiatan makan siang berjalan dengan lancar. Tak ada satupun dari mereka yang bersuara. Suasana sangat tenang dan hening. Hanya terdengar suara dentingan dari sendok dan piring yang saling bertemu.
Sekalipun Cheril merasa sangat penasaran soal Pak Jono tadi, Cheril juga tidak menanyakan tentang itu saat itu juga. Karena Cheril tak ingin membuat kegiatan makan mereka jadi terganggu.
Apalagi Elvano juga terlihat sangat kelaparan. Laki-laki yang berstatus sebagai suami Cheril itu terlihat begitu lahap dalam menyantap menu yang ada di atas meja makan.
Tentu saja Elvano sangat menikmati perjamuan itu. Pasalnya selain lapar, di atas meja makan juga terdapat menu semur jengkol kesukaannya.
Pak Jono sengaja menyediakan menu yang satu ini, sebab Niko memberitahukan pada Pak Jono tentang Elvano yang sangat menyukai jengkol pada saat pria paruh baya itu menanyakan menu favorit Tuan Muda Elvano padanya.
Cheril tersenyum tipis saat melihat Elvano makan begitu lahap dengan menu favoritnya itu. Namun Elvano yang juga menyadari itu sama sekali tak menanggapi Cheril. Ia lebih memilih untuk menghabiskan makanan kesukaannya itu.
Elvano memang sudah agak lama tidak mengkonsumsi jengkol. Mungkin karena itulah dia makan dengan sangat lahap, lebih bersemangat dari biasanya. Dan jujur saja saat menyantap makanan favoritnya itu, wajah Ibu Anita tiba-tiba muncul di pikirannya. Tiba-tiba saja Elvano merasa sangat merindukan Ibu Anita. Dan karena ini jugalah Elvano tidak memiliki mood untuk menggoda Cheril yang terus menatapnya. Sebab di saat seperti ini, Elvano sedang tidak ingin bercanda.
Tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama bagi mereka berdua untuk menyelesaikan kegiatan makan siang itu. Sekitar 20 menit mereka sudah selesai dengan kegiatan tersebut. Dan sesuai dengan pikiran mereka, masih sangat banyak menu yang tersisa di atas meja makan. Mereka tak mampu menghabiskan semuanya. Menu itu memang terlalu banyak jika hanya dikonsumsi oleh dua orang saja.
"Ehem ... Menu yang disediakan oleh Pak Jono sungguh sangat banyak. Perut aku udah bener-bener kenyang banget. Sayang sekali melihat makanan yang tersisa ini."
Ucap Elvano sambil memandang setumpuk makanan yang masih tersisa di atas meja makan. Demikian juga dengan Cheril. Ia ikut memandang makanan yang ada di atas meja. Dan menyetujui apa yang dikatakan oleh Elvano.
Selama ini Elvano memang tidak pernah membuang makanan. Ia memang selalu melahap habis semua menu yang sudah disediakan untuknya. Jika pun masih ada menu yang tersisa, semua menu itu pasti akan disimpan untuk dimakan pada jam makan selanjutnya. Sebab bagi Elvano, membuang makanan adalah pantangan terbesar dalam hidupnya. Elvano sangat menghargai makanan. Tak hanya makanan saja, tepatnya Elvano selalu belajar menghargai segala hal di dalam hidupnya.
Tentang pelajaran yang satu ini, Elvano mempelajarinya dari gurunya, Raymon. Guru Raymon selalu menegaskan pada semua muridnya, syarat utama untuk menjadi seorang ksatria adalah tahu caranya menghargai. Menghargai segala sesuatu. Baik itu berupa makhluk hidup, mau pun benda. Dan termasuk juga makanan yang merupakan hal dasar yang harus diutamakan.
Menurut Guru Raymon, orang yang bisa menghargai makanan pasti juga akan bisa menghargai hal lainnya.
Ada sekitar 6 macam lauk pauk yang disediakan oleh Pak Jono pada Cheril dan Elvano. Karena sejak awal Elvano dan Cheril sudah tahu makanan itu tidak akan habis dilahap oleh mereka, mereka pun hanya menyantap empat macam dari makanan itu saja. Jadi, masih menyisakan dua macam lauk yang sama sekali belum mereka sentuh. Tujuannya adalah supaya dua jenis makanan yang belum mereka sentuh itu masih bisa dinikmati oleh orang lain.
Pada akhirnya, Elvano memutuskan memberitahu kepada Pak Jono supaya ia menyimpan makanan yang masih tersisa itu untuk menu makan sore nanti, yakni tiga macam lauk kecuali satu piring jengkol yang sudah habis. Sementara 2 jenis makanan yang belum disentuh oleh Elvano dan Cheril, Elvano meminta Pak Jono membawa itu pulang ke rumahnya supaya bisa dinikmati oleh keluarga Pak Jono.
Setelah selesai dengan urusan Pak Jono dan mengatakan padanya tentang sisa makanan itu, Elvano mengajak Cheril menuju ke kamar mereka untuk beristirahat sebentar. Sebab ia tak ingin Cheril kelelahan dan bayi yang ada di dalam perut Cheril kenapa-napa. Elvano sangat mencemaskan perihal istrinya yang hamil muda itu. Apalagi waktu makan tadi, Cheril juga tidak terlihat bersemangat melahap makanan miliknya.
Lebih tepatnya, nafsu makan Cheril memang tidak begitu baik karena ia terus merasa mual di sepanjang hari.
Kini keduanya sudah memasuki kamar Villa. Dan mereka berdua memilih merebahkan tubuh mereka di atas tempat tidur.
"Sayang, tadi aku lihat kamu makannya sangat sedikit, Apa kamu kenyang?" tanya Elvano lembut sambil memeluk tubuh Cheril.
"Aku tidak merasa lapar. Perut aku malah terus mual," jawab Cheril jujur.
"Ehm? Jadi kamu sakit? Ayo kita ke dokter sekarang!" ajak Elvano panik dan ia bahkan sudah hendak beranjak.
Cheril sedikit syok melihat kepanikan Elvano yang terlalu berlebihan. Ia baru menyadari dirinya sudah salah memberi jawaban.
"Eh, aku tidak apa-apa kok. Hanya mual saja," tanggapnya cepat.
"Tidak apa-apa bagaimana? Mual berarti sakit kan? Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu dan bayi kita. Ayo kita ke dokter sekarang!" cecar Elvano.
"Bukan begitu, Sayang! Aku memang tidak apa-apa. Wanita hamil muda itu memang seperti itu kok," jelas Cheril.
Ya, namanya juga Elvano. Tetap saja dia tidak mau mempercayai penjelasan istrinya begitu saja. Dan urusan pun menjadi panjang.
"Sudahlah! Pokoknya, kamu tidak boleh menolak. Kita harus menemui dokter sekarang! Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu dan bayi kita," tegas Elvano.
"Ta-tapi ...,"
Tiba-tiba saja Elvano beranjak dari tempat dan pergi begitu saja dari kamar meninggalkan Cheril seorang diri.
"Loh, Sayang ... Mau ke ma ... na?" tanya Cheril heran.
Suaminya itu pergi tanpa pamit. Dan malah tidak menghiraukan panggilannya sama sekali.
"Mau kemana dia? Kenapa pergi begitu saja? Sungguh menyebalkan!" gerutu Cheril
"Apa dia marah padaku?"
Wanita yang berstatus sebagai istrinya Elvano itu terus beragumen dan berkata-kata sendiri.
20 menit telah berlalu, sosok yang ia tunggu masih juga belum kembali. Jelas membuat Cheril merasa cemas.
"Dia ke mana sih? Kenapa lama sekali? Apa dia sungguh marah padaku?"
Pertanyaan bertubi-tubi menghampiri pikiran Cheril. Rasa khawatir juga meliputi hatinya. Dan membuat Cheril tidak bisa lagi tetap berdiam diri menunggu Elvano di dalam kamar. Wanita dengan paras yang sangat cantik itu pun memutuskan untuk beranjak dari tempat tidur dan keluar dari kamar mencari Elvano.