
Cheril pun akhirnya memilih membersihkan kembali dirinya karna merasa sangat lengket setelah usai mengikuti prosesi berfoto tadi.
Sesaat setelah tubuhnya sudah kembali bersih ia memilih merebahkan tubuhnya diatas sofa ruang tamu rumah sewa itu sembari meraih remot yang berada diatas meja tamu untuk menyalakan televisi yang ada dihadapannya.
Namun ketika televisi itu menyala, bukan dia yang menonton, tapi justru televisi lah yang menonton dirinya yang sedang melamun.
Pikiran Cheril sudah kembali berlarian.
Cheril tentu saja masih sangat penasaran dengan kata Tuan Muda yang diucapkan oleh kedua pengawal tadi. Ia juga sedang berusaha mengingat kembali pertemuannya dengan Elvano waktu masih di kota XX dimana setelah Elvano menghilang dari kota itu dan tiba-tiba mengajaknya bertemu kembali dan hadir dengan penampilan barunya. Lalu ia juga sedang memikirkan perjumpaan kedua mereka dirumah sewa ini yang dimana penampilan Elvano yang seperti salesman, saat itu ia mengira Elvano adalah bawahan Niko. Kenyataannya tetap saja ada kejanggalan saat melihat Niko membuka pintu untuk Elvano dari kejauhan, walaupun dia sendiri belum meyakini hal itu setelah benar-benar menyaksikannya hari ini, Niko memang sungguh membukakan pintu untuk dirinya dan Elvano tadi.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi ya? Aku harus bertanya pada siapa lagi?"
Ucap Cheril pelan.
Sementara ia teringat ponselnya juga masih mati karna belum diisi batrenya.
Cheril juga kembali menggembalakan pikirannya pada saat pertemuan pertamanya dengan Elvano, dimana ia sedang membutuhkan uang untuk pengobatan Ibunya. Ia tidak habis pikir sekarang Elvano malah sudah menjadi seorang Tuan Muda. Selain hal itu, ia juga mengingat dengan jelas ketika ia mengajak Elvano menikah saat itu.
"Ah, kenapa semua jadi berbalik begini?
Dulu aku tiba-tiba datang padanya memanfaat kelemahannya yang saat itu sedang membutuhkan pertolongan, lalu mengajaknya menikah untuk menghindari perjodohan dengan Jimmy dan aku juga sudah menyusun berbagai aturan supaya ia tidak berbuat semena-mena setelah kami menikah, bahkan aku juga berencana akan berpisah dengannya setelah beberapa bulan menikah. Tapi sekarang malah dirinya yang tiba-tiba mengajakku menikah dengan alasan yang sama, yakni karna sudah menolongku waktu itu. Dan parahnya ini sudah benar-benar terlaksana. Kenapa bisa kebetulan seperti ini sih? Apa ini yang dinamakan dengan karma?"
Aaaaaaah
"Ya, aku memang sempat jatuh cinta padanya sebelum ini. Tapi laki-laki ini sangat keterlaluan sekarang. Dia sangat menyebalkan. Aku sudah tidak mencintai nya lagi."
"Dia juga seenaknya kalau berucap, selalu menyakiti hati aku. Selalu mengungkit perihal Jimmy. Padahal Jimmy kan tidak pernah menyentuhku walau hanya seujung jarinya. Kecuali berbuat kasar padaku. Iya, hanya itu saja yang ia lakukan.
Jimmy memang lebih suka tidur dengan kekasih gelapnya itu. Aah, aku memang bersyukur sih untuk yang satu ini."
"Tunggu ! Jimmy dulu sering menyebutku sebagai barang bekas kan? Aah, kenapa semua laki-laki jadi menyebutku dengan ungkapan seperti itu? Memangnya aku wanita murahan? Aaah.... Sungguh menyebalkan !"
"Semua laki-laki sama saja !"
Aaaaah....
Cheril terus berkata seorang diri. Ia terlihat sangat frustasi. Sesekali ia juga mengusap wajahnya kasar, serta mencakar-cakar rambutnya hingga acak-acakan.
Tak lama kemudian ia malah ketiduran diatas sofa. Ah, Cheril memang muka bantal sih.
---------------------
Gedung Astra Investama Group
Saat itu Elvano dan Niko sudah agak bersantai karna mereka sudah berhasil menyelesaikan urusan mereka yang ketinggalan karna menghadiri prosesi foto wedding itu.
Pada saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 14.00. Elvano yang hanya sarapan roti lapis itu pun sudah mulai merasa lapar Kembali.
"Nik, kita pergi makan siang dulu yuk, aku lapar." Ucap Elvano.
"Ayo ! Aku juga lapar. Jawab Niko.
Kemudian keduanya pun segera menuju kearah lift untuk turun kebawah menuju mobil yang terparkir didepan gedung. Lalu mereka segera masuk kedalam mobil dan mobil pun melaju kembali.
"Nik, sebelumnya kita mampir dulu ke rumah sewa itu. Wanita itu juga pasti belum makan." Ucap Elvano tiba-tiba. Untung saja Niko belum melewatkan rumah sewa itu.
"Baiklah !" Niko menanggapi singkat.
Sesaat kemudian mobil mereka sudah terparkir didepan rumah sewa itu.
Para pengawal segera menundukan tubuh mereka ketika melihat Elvano dan Niko berjalan mendekati kearah mereka.
"Apa wanita itu masih berada didalam?" Tanya Elvano pada kedua pengawal itu dengan wajah datarnya. Sangat berbeda dengan ekspresinya yang tadi.
"Iya Tuan Muda." Jawab mereka bersamaan.
"Lalu apa ia menanyakan sesuatu pada kalian tadi?" Elvano kembali melemparkan pertanyaan.
"Apa yang dia tanyakan?"
"Tentang identitas Tuan Muda yang sebenarnya." Jawab salah satu dari mereka.
Elvano manggut-manggut mendengar penjelasan pengawal itu.
"Lalu kalian menjawab apa?" Elvano bertanya lagi.
"Kami tidak menjawab apa-apa Tuan Muda, hanya berkata kami tidak bisa menceritakan itu semua." Jawab salah satu dari pengawal itu lagi.
"Itu juga jawaban.. Masih bilang tidak menjawab apa-apa." Ujar Elvano kembali murka.
"Maaf Tuan Muda !" Ucap pengawal itu kemudian.
Niko yang sedari tadi hanya menyimak jadi tertawa kecil mendengar ucapan Elvano yang terakhir.
Haha..
Lucu sekali kau ini Tuan Muda Elvano kalau sudah berbicara tentang hal yang berhubungan dengan Nona Cheril.
Kemudian pengawal berusaha membukakan pintu rumah sewa itu supaya Elvano bisa masuk kedalam.
Sementara Niko ia lebih memilih duduk diluar bersama para pengawal.
Elvano mulai melangkah masuk ketika pintu sudah terbuka lebar. Dan matanya mulai menyusuri setiap sudut ruangan untuk mencari sosok Cheril. Lalu matanya pun terhenti pada sofa yang ada diruang tamu itu, ketika ia melihat Cheril sedang terbaring disana. Lalu ia pun segera mendekati nya.
Ternyata dia tertidur ya, pasti sangat lelah setelah prosesi pemotretan tadi.
Elvano lalu memandang wajah Cheril lekat dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Seandainya saja kamu tidak menikahi laki-laki itu waktu itu, aku pasti tidak akan membencimu seperti saat ini. Apakah kamu tau sesakit apa hati aku waktu melihatmu bersanding dengan nya waktu malam pertunangan itu?" Ucap Elvano pelan.
"Tapi, jujur, aku juga tidak tau seperti apa perasaanku saat ini. Aku merasa jauh lebih sakit ketika melihat wajahmu yang lebam waktu itu. Pada saat itu aku juga sudah berpikir ingin merebut mu kembali."
"Taukah kamu, Aku sangat tidak terima laki-laki itu berani menyakitimu. Karna alasan itu jugalah aku menghancurkan perusahaannya."
Elvano masih berkata-kata pelan.
Perlahan ia mulai berjongkok mendekati wajah Cheril. Lalu mengusap keningnya pelan, penuh dengan kasih sayang.
Cheril yang bisa merasakan ada yang sedang menempel didahinya mulai menggeliat diatas sofa. Sesaat kemudian ia pun sudah akan terjaga kembali. Perlahan Cheril juga mulai berusaha membuka matanya.
Sementara Elvano yang sudah salah tingkah segera memperbaiki penampilannya. Ia tidak ingin Cheril tau dirinya sedang bersikap sangat lembut.
"Heh ! Jam berapa ini? Kenapa malah tidur?" Ucap Elvano setengah berteriak. Membuat Cheril yang masih setengah sadar kaget bukan kepalang.
Matanya yang masih berat itu pun segera terbuka dengan sangat lebar.
Kenapa laki-laki menyebalkan ini bisa ada disini sih.
Cheril jelas memasang wajahnya yang sangat cemberut melihat Elvano ada disana setelah matanya sudah mulai benar-benar terbuka.
Namun ia juga memegang perutnya seketika ketika terdengar perutnya berbunyi.
Ah, jangan berbunyi pada saat-saat seperti ini.
Elvano yang sebelumnya bersikap murka sedikit tersenyum ketika mendengar perut Cheril yang berbunyi, namun tentu aja ia menyembunyikan senyuman itu dari Cheril.
"Ayo ikut aku !" Ucap Elvano kemudian sambil menarik tangan Cheril.
"Eh.. Mau kemana?"
"Sudah.. Jangan Banyak tanya !"
Elvano masih terus menarik tangan Cheril menuju pintu dan mereka pun sudah keluar dari rumah sewa itu dan segera menuju ke arah mobil yang diikuti oleh Niko yang juga berusaha untuk mendahului pasangan ini karna ingin membukakan pintu mobil untuk mereka.