
Sementara Elvano yang baru saja terjaga sedikit tersentak karena Cheril belum kembali ke Villa. Ia pun segera beranjak untuk mencari keberadaan Cheril. Sepeninggalan Cheril tadi, Elvano ternyata ketiduran.
Elvano berlari kesana kemari, dan ia tidak menemukan Cheril dimana pun.
Dan tiba-tiba ia teringat tentang pantai.
Mungkinkah Cheril ada di sana?
Dirinya memang sedikit meragukan hal ini, sebab hari sudah semakin gelap. Namun tak ada salahnya juga pikir Elvano untuk mencari ke sana.
Pada saat Elvano baru akan melangkahkan kakinya ke arah pantai, Cheril dan Geraldo sendiri masih duduk terdiam di tepi pantai.
"Geral, aku ingin kamu melupakan tentang kita!" ucap Cheril tiba-tiba.
"Hem?" Geral sontak kaget mendengar itu.
Hatinya terasa begitu sesak.
Sekarang bahkan sudah merubah panggilan mesra itu.
"Iya Geral, sekarang semuanya sudah berbeda. Aku tidak seperti dulu lagi. Sekarang aku adalah milik sahabatmu, Elvano Setiono," tegas Cheril.
"Apa kamu yakin dengan perkataanmu itu?" Geraldo masih berusaha membuat Cheril merasa ragu.
"Iya, aku sangat yakin. Kamu harus tau Geral, kesalahan kamu adalah meninggalkan aku begitu saja. Dan sekarang kamu kembali pada saat yang sangat terlambat. Semuanya sudah tidak mungkin lagi, Kita tidak bisa bersatu kembali," jelas Cheril.
"Tapi, apa kamu tidak mencintaiku lagi?" Geraldo masih belum bisa menerima kenyataan ini.
"Geral, tentang perasaan itu, besar cintaku pada Elvano jauh lebih besar untuk saat ini. Mungkin memang masih terdapat namamu yang samar di hati ini, tapi aku yakin, itu akan segera menghilang," tanggap Cheril sambil tersenyum.
"Jadi kamu juga sudah jatuh cinta terhadap Elvano ya? Dan secepat itu kamu melupakan diriku?" ucap Geraldo sambil memperlihatkan senyuman yang tak dapat diartikan dari sudut bibirnya.
"Iya. Jelas aku harus jatuh cinta padanya. Karena dia adalah suami aku yang sah, dan soal melupakanmu juga adalah kewajiban bagiku," tegas Cheril penuh wibawa.
"Aku sangat menyesal sudah meninggalkanmu selama beberapa bulan ini. Ya, memang salahku. Sekarang aku harus merasakan akibat dari perbuatanku ini," sesal Geraldo.
"Cheril, jika memang kamu bahagia bersama Elvano, maka pergilah! Aku akan merelakan dirimu bersama nya. Tapi kamu harus ingat, jika dia berani menyakitimu walau hanya seujung kuku saja, maka aku akan merebut mu dari dia!" tegas Geraldo.
"Aku tidak akan pernah menyakiti Cheril, bahkan juga tidak akan membiarkan seorangpun menyentuh Cherilku!" ucap Elvano tiba-tiba.
Deg
Suasana hening seketika. Cheril yang masih terduduk segera beranjak setelah mendengar suara Elvano.
Sedangkan Geraldo saat itu sudah dalam posisi berdiri menghadap pantai. Mendengar suara sahabatnya itu, ia pun hanya membalikkan badannya memastikan suara itu memang milik Elvano.
Sejak kapan Elvano ada di sini ... Apa dia mendengar semuanya.
Cheril berkata-kata di dalam hatinya. Saat itu ia merasa sangat ketakutan.
Elvano kemudian melangkah maju mendekati istrinya. Dan meraih tubuh istrinya, memeluknya erat. Di dalam hati, Elvano sangat ingin bertanya, apa yang terjadi sesungguhnya saat itu juga. Apa benar Geral hanya sebatas sahabat Cheril? Atau mereka memang hubungan mereka lebih dari sahabat? Rasanya ia sudah ingin marah.
Sekarang kedua mata Elvano sedang saling tatap dengan kedua bola mata Geral. Seakan keduanya sedang beradu tatap.
"Katakanlah! Sebenarnya apa hubungan kalian sebenarnya?" tanya Elvano akhirnya, dengan ekspresi yang tak dapat diartikan. Ia sudah tak dapat lagi menahan diri lebih lama untuk tidak menanyakan apapun.
Deg
Jantung Cheril sudah berdetak sangat tak beraturan saat itu.
Melihat ekspresi Cheril, Geral tau, wanita yang pernah menjadi bagian dari hidupnya itu sedang ketakutan. Ia pun mengambil alih berbicara.
"Aku kan sudah katakan padamu, kami bersahabat baik," jawab Geraldo.
"Kau pikir aku ini bodoh? Tidak mungkin bersahabat bisa sedekat ini!" Bentak Elvano.
Deg deg deg deg deg
Dan tentu Elvano bisa merasakan itu. Ia semakin yakin, hubungan kedua orang ini tidak hanya sekedar bersahabat.
"Cheril, katakanlah! Aku ingin mendengar dari mulutmu. Kamu tak perlu takut, aku tidak akan marah padamu," tambah Elvano lirih.
"Hah? Eh, ah ....
Cheril sangat gugup.
Sementara Elvano masih menunggu dalam diam. Dan Geral merasa sangat tidak tega melihat gerak-gerik Cheril yang sedemikian rupa. Ia sudah hendak mengambil alih untuk menjawab pertanyaan yang ditujukan oleh Elvano pada Cheril.
"Vano ... Aku kan .... "
"Sssssttt! Aku tidak bertanya padamu, jadi aku harap kamu diam!" cegah Elvano.
Geral pun terdiam seketika.
Kemudian Cheril mencoba menarik nafas panjang, dan menghembusnya pelan. Lalu mencoba menjawab pertanyaan Elvano.
"Dia adalah ... Kekasihku di masa lalu!" jawab Cheril jujur.
Mendengar jawaban Cheril, rasa penasaran Elvano berubah menjadi rasa sakit. Luka dalam hatinya terasa melebar. Sangat perih rasanya.
"Ternyata dugaanku benar ya," Elvano hanya mampu mengucapkan kalimat ini dari mulutnya.
"Geral, aku peringatkan kamu, Cheril sudah menjadi milikku sekarang. Aku tidak akan membiarkan siapapun merebut Cheril dariku. Ingat itu!" ancam Elvano.
"Aku tidak perduli, dia memiliki hubungan apapun denganmu di masa lalu, yang jelas, sekarang dia adalah milikku," tambah Elvano.
Cheril merasa cukup lega dengan ucapan Elvano. Awalnya, dia pikir Elvano akan marah besar, ternyata semua itu tidak terjadi. Syukurlah. Gumam Cheril.
Sementara Geraldo hanya bisa berdiam diri. Menelan pil pahit yang ia ciptakan sendiri. Harus bagaimana lagi, memang salahnya sendiri sudah meninggalkan Cheril hingga ia jatuh ke dalam pelukan orang lain. Sekalipun rasanya tak bisa menerima, Geral tetap tidak bisa melakukan apapun saat ini. Apalagi ketika ia mengetahui ternyata Cheril dan Elvano juga saling mencintai seperti sekarang ini.
Setelahnya Elvano mengajak Cheril pergi dari tepi pantai, meninggalkan Geraldo seorang diri.
Sesekali Cheril masih melirik ke arah Geraldo, membuat Elvano rasanya sangat ingin marah.
Kenapa masa lalu mu harus dia ...
Tak hanya Cheril yang merasa tak tega terhadap Geraldo, diam-diam Elvano juga menyimpan perasaan yang sama. Namun tidak mungkin juga pastinya Elvano mengembalikan Cheril pada Geral.
Cinta Elvano sudah terlalu dalam. Dia tidak mungkin bisa hidup tanpa Cheril. Lagian ia juga berpikir bukan salah dia, Geral sendiri yang sudah melepaskan Cheril untuk dirinya.
Cheril dan Elvano sudah tiba di Villa saat ini. Langkah mereka langsung tertuju ke arah kamar. Dan keduanya memilih duduk di tepi tempat tidur.
"Cheril, aku ingin menanyakan satu hal padamu, apa kamu masih mencintai Geral?" tanya Elvano.
"Hem?" Dan Cheril tersentak mendengar pertanyaan itu. Ia juga tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut.
Melihat Cheril yang kaget dan terdiam, Elvano dapat mengambil kesimpulan sendiri.
Ternyata kamu masih mencintai Geral ya, tapi aku tidak akan membiarkan kamu pergi dariku Cheril.
Elvano berucap dalam hati sambil menahan rasa sakit hatinya yang terasa semakin sesak.
"Sudahlah, tidak perlu dijawab. Ayo kita mandi!" ajak Elvano mengalihkan pembicaraan.
"Eh .... Vano ... Aku .... "
"Sudah ku bilang, tidak perlu dijawab. Apa kamu tidak mengerti dengan bahasaku?" bentak Elvano tiba-tiba. Membuat Cheril sangat ketakutan.
Suasana hening pun tercipta untuk sesaat, sebelum Elvano kembali bersuara.
"Maafkan aku Cheril!" ucap Elvano dan langsung memeluk Cheril erat.