
Setelah Cheril sudah benar-benar membuka matanya dan bersemangat, mereka berdua segera turun dari mobil dan berjalan dengan perlahan menuju ke arah bangunan yang ditunjuk oleh Elvano tadi.
Ketika Elvano dan Cheril tiba di depan pintu masuk bangunan itu, seorang lelaki paruh baya menghampiri mereka.
"Selamat siang Tuan Muda, Selamat siang, Nona!" sapa lelaki itu.
"Selamat siang Pak Jono!" balas Elvano.
Sementara Cheril hanya mengangguk pelan sambil membatin,
Jadi Vano kenal sama Bapak ini. Siapa dia dan tempat apa ini ya.
"Mari kita ke dalam, Tuan Muda, Nona! Silahkan!" ucap Pak Jono sambil tersenyum ramah.
Niko memang sudah memeberitahukan pada Pak Jono tentang Elvano dan Cheril yang akan berkunjung ke tempat itu, jadi Pak Jono sudah tidak kaget ketika melihat Elvano dan Cheril hadir di tempat itu. Ia bahkan sudah mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan majikannya itu.
Sebelumnya, Elvano sudah lebih dulu menghubungi Niko untuk mempertanyakan tentang kesiapan tempat yang akan mereka kunjungi itu, ia ingin memastikan proyek yang mereka bangun benar-benar sudah rampung dan sudah siap dikunjungi. Yup, bangunan ini adalah bagian dari depan sekaligus sebagai pintu masuk menuju ke sebuah proyek yang dibangun oleh Elvano selama ini. Yakni, proyek pantai itu.
Dari luar, semuanya memang tampak biasa saja. Tidak terlihat sama sekali di dalam sana ada pantai yang sangat indah. Sebab, di samping kiri dan kanan bangunan itu juga terdapat tembok yang cukup tinggi yang menutupi bagian dalamnya. Setelah memasuki bangunan tersebut yang sekaligus menjadi pintu masuk itu, maka mereka baru dapat melihat pemandangan indah dari pantai yang ada di dalamnya.
Elvano dan Cheril kemudian memasuki bangunan tersebut yang dituntun oleh Pak Jono. Dan alangkah kagetnya Cheril, saat melihat apa yang ada dibalik bangunan tersebut. Ia sontak mengangkat kedua tangannya untuk menutupi mulutnya yang menganga.
"Sayang, ini indah sekali!" ucap Cheril kagum.
Cheril sangat terpesona melihat pantai yang sangat indah itu. Ya, pantai itu memang sangat indah. Pemandangan di sana berbeda dengan pantai-pantai lainnya. Keasrian dari pantai itu juga masih sangat terjaga. Terdapat beberapa pohon kelapa, dan juga pohon pinus yang tersusun indah di sepanjang perjalanan menuju pantai seperti sengaja ditanam. Benar-benar sangat memanjakan mata. Air dari lautan itu juga begitu bersih, berwarna kebiruan dan penuh kilau efek dari pancaran sinar matahari yang membuat nya terlihat semakin indah. Selain itu, juga terdapat beberapa bangunan dengan berbagai model dengan nuansa bangunan desa yang menambah nilai plus bagi pantai ini. Membuat pantai itu semakin hidup dan asri. Selain bangunan dan pepohonan, di pantai ini juga terdapat banyak sekali tempat tongkrongan berupa kursi, ayunan dan lain sebagainya.
"Apa kamu suka?" tanya Elvano.
Elvano merangkul istrinya dengan sangat erat ketika mengucapkan itu.
"Iya Sayang, aku sangat suka. Pantai ini sangat indah! Aku bener-bener belum pernah melihat pantai yang seindah ini," tutur Cheril kagum.
"Ayo kita ke sana!" ajak Elvano.
Dan Elvano memberikan kode kepada Pak Jono supaya meninggalkan mereka berdua.
Laki-laki itu pun mengerti, ia segera berlalu dari hadapan pasangan ini.
Memberikan waktu kepada mereka untuk berduaan menikmati pemandangan indah itu.
Lalu, Elvano dan Cheril melangkah ke arah tepi pantai dengan tangan Elvano yang masih merangkul Cheril dengan sangat erat. Sedangkan Cheri juga mengangkatnya tangannya memeluk pinggang suaminya yang lebar.
Dan mereka memilih merebahkan tubuh mereka di atas sebuah kursi yang ada di tepi pantai.
"Sayang, apa aku boleh bertanya?"
Ucap Cheril sambil menggerakkan alisnya sedikit.
"Tentu saja, katakan! Apa yang ingin kamu tau?" tanggap Elvano sambil tersenyum.
Sebenarnya sih Elvano sudah bisa menebak apa yang ingin ditanyakan oleh Cheril.
"Tapi, pertanyaannya agak banyak, boleh kan Sayang?"
"Iya, boleh! Apa yang ingin kamu tau?"
Wah, sepertinya suasana hati suamiku ini sedang sangat baik nih.
Ketika Elvano bersikap manis, Cheril malah merasa heran. Cheril mengangkat alisnya seakan tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Elvano.
"Bener ya, Sayang? Janji ya! Kamu tidak boleh marah dan harus menjawab semua pertanyaan aku!" tegas Cheril
Dan Elvano pun mulai murka.
Salah Cheril juga sih, dia memang sudah keterlaluan. Dibaikin sama suaminya, dia malah meragukan kebaikan itu. Giliran digalakin, wanita itu malah tidak suka. Maunya apa coba?
"Eh, baiklah, Maaf! Ok, aku akan mulai!"
Cheril lebih dulu menarik nafas panjang sebelum melemparkan pertanyaan bertubi-tubi.
"Kenapa pantai seindah ini hanya ada kita berdua? Dan bagaimana kamu bisa mengetahui tentang pantai ini? Terus, apakah tempat ini adalah milikmu?"
"Wow ... Ternyata pertanyaanmu memang sangat banyak ya?" ucap Elvano sambil melirik ke arah Cheril sejenak.
Cheril melemparkan senyuman lebar saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut Elvano.
"Ok, aku akan menjawabnya satu per satu,"
"Yang pertama, tentang kenapa pantai ini hanya ada kita berdua, itu karena pantai ini baru saja selesai dibangun, dan belum diresmikan.
Sekitar 1 tahun yang lalu pantai ini sangat tidak terurus. Saat itu, aku menemukan pantai ini bersama dengan Manajer Li. Ketika kami sedang ada perjalanan bisnis di sekitar sini. Dan sejak saat itulah aku memutuskan untuk membangun tempat ini."
"Awalnya, aku hanya ingin membangun tempat ini sebagai tempat wisata biasa. Manager Li juga sudah menghubungi beberapa rekan kami untuk mengajak mereka bekerjasama membangun beberapa hotel dan lain sebagainya. Namun, ketika aku sudah memiliki penghasilan sendiri, aku memutuskan mengambil alih sepenuhnya atas pantai ini. Dan aku memilih yang membangun pantai ini sesuai dengan yang aku inginkan. Tidak ada hotel di tempat ini, aku hanya membangun 2 buah Villa saja sebagai sarana kalau saja ada keluarga yang ingin menginap di tempat ini.
Juga sebuah rumah tinggal untuk keluarga kita nantinya.
Soal yang satu ini, Elvano memang sengaja tidak mengatakannya. Karena dia ingin memberikan kejutan pada Cheril.
Oh, jadi ini alasannya, kenapa Elvano mau terjun ke dunia mafia ya.
Sementara, Cheril berpendapat demikian di dalam hatinya. Ia mengungkapkan Elvano terjun ke dunia mafia hanya ingin mendapatkan uang untuk membangun pantai tersebut.
"Pertanyaan kedua, dan ketiga, aku rasa semuanya sudah terjawab di jawaban pertama tadi. Aku mengetahui tempat ini secara tak sengaja. Dan, iya, tempat ini memang sudah menjadi milikku saat ini. Karena aku sudah membeli serta membebaskan lahan di sepanjang pantai ini,"
"Apakah masih ada pertanyaan lain, Istriku sayang?"
"Eh, tidak! Hehehe." jawab Cheril cengengesan.
"Makasih ya, Sayang!" ucap Cheril.
"Hanya saja ... Aku ingin meminta satu hal padamu," sambung Cheril.
Wanita yang berstatus sebagai istrinya Elvano itu menundukkan wajahnya sesaat setelah mengucapkan kalimat terakhirnya itu.
"Ehm? Memangnya apa yang kamu inginkan dari aku?"
Tanya Elvano sambil sedikit mengerutkan dahinya penasaran.
Sementara Cheril masih terdiam. Ia masih ragu hendak mengatakannya atau tidak.
"Kenapa sayang? Kok diam? Katakanlah! Apa yang ingin kamu minta dariku? Berlian? Ehm, Hotel?"
Cheril menatap Elvano sesaat, dan menggeleng kasar ketika mendengarkan Elvano mengucapkan kedua benda mewah itu.
"Bukan ... Bukan itu yang aku inginkan!"
"Lalu, apa Sayang?"
Elvano terlihat semakin penasaran. Sedangkan Cheril kembali terdiam. Masih berpikir keras, dan berunding dengan hatinya.