
Fiiiiiiuh
Niko akhirnya bisa bernafas dengan lega.
Akhirnya aku tidak melewatkan gedung ini lagi. Hehehe
Niko berkata-kata dalam hatinya sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia merasa geli sendiri dengan tingkah lakunya itu. Bagaimana bisa ia sampai melewatkan gedung itu hingga 4x. Sungguh sangat tidak masuk akal.
Sementara Elvano hanya memasang wajah datarnya saja tanpa berkomentar apapun lagi ketika melihat Niko sudah memasuki area perkantoran miliknya itu.
Sesaat setelah mobil terparkir dengan baik, Elvano dan Niko segera turun dari mobil kemudian menuju kedalam gedung Astra Investama Group.
Ketika melihat kedua pria ini para karyawan yang ada disana segera menundukkan badan mereka pertanda hormat. Sesekali mereka juga mengangkat wajah mereka dan melemparkan pandangan mereka kearah Elvano, lalu menatap Tuan Muda mereka dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
Awalnya Niko merasa heran kenapa para karyawan terus menatap Elvano seperti itu, namun seketika ia pun menyadari memang ada hal aneh pada diri sahabat yang sekaligus juga merupakan atasannya itu. Niko pun reflek menepuk jidatnya pelan.
Elvano juga menyadari tatapan aneh yang ditujukan padanya. Hanya saja ia tidak terlalu menghiraukannya.
Ia malah terus berjalan menuju kearah lift khusus dengan penuh percaya diri.
Hanya Niko yang sesekali mengernyitkan wajahnya dan juga sesekali melototkan matanya pada para karyawan yang terus menatap Elvano supaya mereka berhenti menatap nya.
Kedua pria ini kemudian segera masuk kedalam lift setelah tiba didepan lift yang sudah terbuka. Pintu lift khusus memang jarang tertutup mengingat yang menggunakan lift ini hanya orang-orang tertentu saja.
"Eh Nik, kamu menyadari tidak tadi para karyawan terus menatapku lekat begitu?" Elvano akhirnya melemparkan pertanyaan pada Niko setelah mereka berada didalam lift yang pintunya sudah tertutup.
"Eh, Ya iyalah No, kamu ga liat aku terus melototi mereka?" Jawab Niko sambil mengarahkan pandangan ke arah Elvano.
"Yaela Nik, kalau aku tau tidak mungkin aku menanyakan itu. Lagian mana aku tau kau melototi mereka karna mereka terus menatapku." Ujar Elvano.
Benar juga sih. Haha.
Gumam Niko dalam hati sembari tertawa kecil.
"Tapi kenapa mereka terus menatapku seperti itu?" Elvano kembali melanjutkan pembicaraannya sambil mengerutkan dahinya sedikit heran.
Eh, apa dia masih belum menyadari dengan penampilan anehnya itu.
Niko pun menatap Elvano lekat dengan tatapan yang tidak bisa diartikan oleh Elvano.
"Eh, kenapa kamu ikut menatapku seperti itu?" Tanya Elvano murka.
Hahahahaha
Niko malah tertawa keras setelah menaikan sedikit alisnya.
"Heh ! Kenapa malah tertawa?" Elvano bertambah murka.
"Vano, Vano ! Aku sungguh tidak menyangka kau bisa sepolos ini. Apa kamu masih belum menyadari dengan penampilan aneh mu itu?" Ucap Niko akhirnya setelah berhasil mengendalikan tawanya.
Seketika Elvano pun menatap penampilannya sendiri. Juga dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
'Benar juga apa yang dikatakan Niko. Kenapa aku bisa lupa dengan penampilanku yang konyol ini?' Aaaaah.
Elvano berkata-kata dalam hatinya sembari berteriak kecil. Wajahnya pun tampak sedikit memerah karna malu.
Hahaha
Niko kembali tertawa melihat ekspresi Elvano yang sangat lucu itu.
"HEH ! Masih berani tertawa?" Elvano kembali murka melihat Niko yang kembali menertawai nya.
"Eh, i-iya, Maaf !" Akhirnya Niko meminta maaf masih sesekali cengengesan tapi kali ini ia memutar wajahnya pada saat ia merasa ingin tertawa.
'Bagaimana aku tidak tertawa? Wajahmu bahkan sudah seperti tomat.' Haha
Ting tong !
Sesaat kemudian pintu lift pun sudah kembali terbuka saat mereka sudah berada ditempat tujuan mereka.
Kedua pria itu kembali melangkah keluar dari lift, dan Elvano secepat mungkin masuk kedalam ruangannya karna takut ada karyawan lain yang melihat penampilan anehnya lagi. Membuat Niko kembali tertawa kecil melihat Tingkah Elvano yang sangat menggelikan itu.
Sesaat setelahnya Elvano sudah kembali menuju ruang kerjanya lagi dengan penampilan berwibawa seperti biasanya.
"Nik, kamu kok masih ada disini?" Tanya Elvano ketika ia melihat Niko duduk masih disofa tamu ruangan kerjanya.
"Eh, memangnya aku harus dimana lagi?" Niko ikut melemparkan pertanyaan menanggapi Elvano berpura-pura tidak tau perihal undangan dan gedung yang diucapkan Elvano tadi.
"Ya, tadi kan aku memintamu untuk menyebarkan undangan dan menyewa gedung untuk pernikahan ku besok !" Ucap Elvano kemudian.
"Jadi kamu serius ya?" Ujar Niko dengan wajah yang sepolos mungkin. Bukan ia menganggap Elvano tidak serius dengan ucapannya tadi, tapi karna ia merasa sangat malas melakukan semua itu. Sungguh pekerjaan yang diluar akal sehat baginya.
"Heh ! Apa maksud mu? Tentu saja aku serius !" Elvano yang sudah tenang kembali emosi.
"Baik ! Baiklah ! Aku pergi sekarang juga !" Akhirnya Niko beranjak dari tempat duduknya dengan sangat berat.
Huuuuuuh
Ia juga membuang nafas kasar.
Niko akhirnya berlalu dari ruangan itu kembali menuju lift khusus untuk turun kelantai bawah dengan langkah yang juga sangat berat. Melaksanakan tugas aneh yang diperintahkan oleh Tuan Muda nya yang sangat sulit ditebak itu.
Sementara Elvano, setelah kepergian Niko, ia memilih masuk kembali ke ruangan istirahatnya dan merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur yang berada didalam ruangan itu.
Fiiiiiuh
"Nyaman sekali rasanya !" Gumam Elvano pelan.
Kemudian ia mulai masuk ke ruang pikirannya sendiri.
Saat ini ia sedang memikirkan bagaimana caranya menjelaskan semua rencananya itu ada kedua orangtuanya, supaya mereka tidak merasa kaget, atau bahkan jantungan. Memikirkan itu saja sudah membuat dirinya merinding sendiri.
Namun sekeras apapun ia berpikir, ia masih belum mendapatkan ide apapun.
"Aaaaaaah.."
Elvano berteriak sembari mengusap wajahnya gusar.
"Aku harus bagaimana ya?" Ucapnya pelan masih berpikir keras.
"Ah, sudahlah ! Lebih baik aku pulang lebih cepat saja biar bisa memiliki lebih banyak waktu untuk menjelaskan pada Ayah dan ibu tentang semua ini !" Ujarnya kemudian.
Elvano akhirnya segera beranjak dari tempat tidurnya itu dan juga ikut meninggalkan ruangan kerjanya untuk kembali ke rumah.
Ketika ia tiba dilantai paling bawah para karyawan masih saja menatapnya lekat. Membuat dirinya sedikit melototi mereka kali ini. Para karyawan pun segera menundukkan wajah mereka dan sangat ketakutan dengan tatapan membunuh yang dilemparkan oleh Elvano kearah mereka.
"Aku heran, kenapa mereka masih menatapku seperti itu? Padahal aku kan sudah merubah penampilanku." Gumam Elvano pelan ketika ia sudah berada didepan pintu keluar.
Sementara ditempat parkir sudah ada Pak supir yang siap mengantarkan Elvano pulang. Mobil pun sudah siap disana. Ia segera membukakan pintu mobil ketika melihat Elvano sudah sangat mendekati mobil. Sebelum meninggalkan ruangan tadi, Elvano memang sudah lebih dulu menelfon ke bagian resepsionis supaya menyiapkan mobil untuknya.
NB :
"Aku heran, kenapa mereka masih menatapku seperti itu? Padahal aku kan sudah merubah penampilanku." Gumam Elvano pelan ketika ia sudah berada didepan pintu keluar.
Ya, tentu saja para karyawan itu merasa sangat heran, tadi kan Tuan Muda mereka mengenakan pakaian aneh, baru beberapa menit sudah berganti lagi. Bagaimana mereka tidak kembali menatap laki-laki itu lekat?
Sungguh Tuan Muda yang sangat aneh ! Mungkin begitulah isi hati mereka.
Hai gaes, aku senang saat ini, yang mencintai novel ini sudah semakin banyak.
Terimakasih untuk kalian yang sudah setia dan masih terus membaca karya ini.
Dan semoga kalian akan selalu mengikuti cerita ini hingga akhir.
Tanpa dukungan kalian karya ini memang tidak ada apa-apanya.
Terimakasih juga buat jempol kalian, buat komen kalian, buat rate bintang 5, juga buat vote yang sudah kalian berikan.
Dan jangan pernah merasa bosen untuk terus mendukung karya ini ya supaya karya ini bisa menjadi salah satu karya terbaik di NT ini. Juga supaya aku sendiri lebih semangat lagi dalam menulis ππ€
Akhir kata aku ucapkan sekali lagi terimakasih banyak buat dukungan kalian semua. i love you allππππ₯°