Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Tingkah aneh Ibu Anita


Pagi ini Elvano sudah kembali kuliah. Elvano saat ini sudah berada di semester akhir yang tinggal beberapa bulan lagi ia akan segera wisuda.


Elvano saat ini mengambil jurusan Bisnis. Ia juga tidak tau kenapa ia bisa mengambil bidang ini, ia tidak memiliki alasan khusus, padahal ia sebenarnya lebih menyukai bidang komputer. Mungkin saja ini semua ada hubungannya dengan kehidupannya kelak, di mana ketika suatu hari nanti ia kembali kepada keluarganya yang asli.


Elvano pagi ini bangun cukup pagi, karena ia ingin menyiapkan makanan untuk ibunya dan juga dirinya.


Pukul 4.30 Elvano keluar dari kamarnya dan menuju dapur.


"Ibu?" sapa Elvano.


Elvano kaget melihat ibunya sudah berada di dapur sebelum dirinya, padahal ia sudah bangun sangat pagi hari ini.


"Ibu kenapa bangun sepagi ini? Lagian, ini Ibu lagi apa Bu? Elvano bisa menyiapkan semua nya Bu !" ucap Elvano sambil merebut pisau yang dipegang ibunya untuk mengiris bawang.


"Tidak apa-apa Vano, Ibu bisa kok mengerjakannya," jawab Ibu Anita sambil merebut kembali pisau yang sudah dipegang Elvano


Lagian mana mungkin aku harus membiarkan anak majikan ku melakukan ini semua.


Ibu Anita masih terbayang dengan lamunannya kemarin siang yang membawa nya kembali ke masa lalunya.


"Bu, tolong dengarkan Vano Bu, aku mohon!" Elvano memohon kepada ibunya sambil memegang kedua bahu nya dan membuat mereka saling berhadapan.


Ibu Anita menatap putra angkat nya lekat. Dalam hati nya ia berkata;


Vano, kamu sudah sangat menderita selama ini, maafkan Ibu dan Bapak yang tidak bisa memberi mu kehidupan yang lebih layak.


Kini mata Ibu Anita pun sudah berkaca-kaca.


"Bu, Ibu duduk saja ya, biar Elvano yang kerjakan, Ibu tidak perlu bersedih, Ibu masih bisa kok masak untuk Vano lagi. Tapi tunggu Ibu sudah benar-benar pulih ya !" Kata Elvano sambil membantu Ibunya untuk duduk di kursi.


Elvano berpikir Ibunya sedih karena tidak bisa memasak untuk nya. Padahal pikiran Ibu Anita saat ini masih tertuju pada Keluarga Besar Setiono.


Akhirnya Ibu Anita pun membiarkan Elvano yang mengerjakan semua nya.


Ia pun memilih untuk mengalah, ia juga tidak mungkin bisa memaksakan diri jika Elvano sudah berkata demikian, ia tau putranya itu tidak akan membiarkan dirinya mengerjakan Sekali pun Ibunya memaksa.


Sementara Elvano memasak, Ibu Anita masih menatap punggung Elvano dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


Ketika Elvano secara tidak sengaja memutar badannya ia pun melihat Ibunya menatap nya dengan sangat aneh.


"Bu, kenapa melihat Vano seperti itu?" Elvano bertanya karna heran.


"Eh.... Ng-nggak apa-apa Nak !" Jawab Ibu Anita sedikit kaget


Elvano menaikan alisnya masih belum yakin dengan jawaban Ibunya.


"Apa karna Vano tampan ya Bu? " Elvano mengejek Ibunya sambil terkekeh


Mendengar kata-kata Elvano Ibunya tersenyum konyol.


"Memang bisa melihat ketampanan seseorang dari belakang?" Jawab Ibu Elvano


"Ya bisa lah Bu,orang tampan itu depan belakang juga tampan Bu !" Elvano membela diri


Hahahahaha


"Bisa saja kamu Nak."


"Nah gitu Bu, Ibu lebih cantik kalau tersenyum !" Ucap Elvano menggoda Ibunya sambil menunjuk kedua pipi nya dengan kedua telunjuknya membuat tanda senyum seperti anak kecil.


Ibu Anita semakin terkekeh melihat tingkah Elvano yang menggemaskan.


Tapi kamu memang tampan Tuan Muda, wajah mu sangat mirip dengan Ibu mu. iya, saat ini seharus nya kamu sudah mendapat gelar Tuan Muda.


Ibu Anita kembali melamun.


Melihat Ibunya melamun, Elvano pun mendekati nya, saat ini Elvano sudah selesai masak, ia sedang menyajikan nya di atas meja.


"Bu, Ibu kenapa? Vano perhatikan Ibu Lebih banyak melamun pagi ini.


Deg


Dada Ibu Elvano berdegup kencang seketika.


'Mungkinkah Elvano menyadari atau ia tau bahwa aku sedang memikirkan sesuatu yang sangat penting tentang identitasnya? Ataukah ia sudah bertemu dengan keluarga Setiono?


Tapi cepat atau lambat Elvano pasti akan tau tentang ini semua, hanya saja saya benar-benar belum siap jika harus memberitahukan kepada nya saat ini.'


Panggilan kedua Elvano membuat Ibu Elvano terlonjak dari lamunannya.


"I-iya Vano !"


Tuh kan, Ibu kok melamun terus dari tadi. ia bahkan sampai kaget begitu ketika aku panggil.


"Ibu kenapa? kalau Ibu punya masalah ceritakan ke Vano Bu !"


"Oh, apakah Ibu sedang memikirkan soal biaya rumah sakit? Tanya Elvano lagi ketika ia teringat masalah uang yang sangat besar itu.


Iya, pasti karna masalah ini.


"Eh, i-iya Nak..." Jawab Ibu Anita asal.


Fiiiiuuuuuuuuh


Ibu Anita bernafas lega


Ternyata pikirannya yang tidak berfaedah itu hanya karena terbawa suasana saja.


"Ibu, Vano kan sudah bilang kemarin, Ibu tidak perlu memikirkan masalah ini lagi.. Biarkan Vano yang menyelesaikan semuanya, Ya Bu !" Elvano berusaha meyakinkan Ibunya


"Ibu percayakan pada Vano Bu?"


Ibu Anita mengangguk pelan


"Bu, sore ini Vano sudah bekerja lagi di Perusahaan Ayahnya Nona Cheril Bu, jadi Vano...."


"Tunggu ! Jadi kamu bekerja di Perusahaan Ayahnya Cheril?" Ibu memotong pembicaraan Elvano yang belum selesai tuntas itu.


"I-iya Bu.. Memangnya kenapa Bu?" Tanya Elvano heran karna Ibunya sangat kaget.


"Vano, kalau Ibu boleh tau apa nama Perusahaan nya? " Tanya Ibu Anita kali ini ia terlihat agak khawatir.


Elvano semakin heran melihat raut kekhawatiran diwajah Ibunya itu.


Kenapa ibu seperti ketakutan seperti itu sih.


"Indos Perkasa Bu !"


Ia tetap menjawab walaupun sedikit bingung dengan pertanyaan Ibunya yang aneh itu


Fiiiiiiiiiiiiiiiuh


Lagi-lagi Ibu Anita bernafas lega mendengar nama Perusahaan itu


Untung saja bukan Astra Investama Group


'Kalau saja Perusahaan itu adalah Astra Investama Group bagaimana aku harus menjelaskan kepada vano jika diri nya dan Nona Cheril adalah saudara kandung?'


Ibu Anita semakin tenggelam didalam perasaannya yang tidak berfaedah.


Melihat Ibunya kembali melamun membuat Elvano semakin heran.


"Bu, memangnya ada apa dengan Perusahaan Ayahnya Nona Cheril Bu?"


"Eh..Ti-tidak apa-apa Nak..." Ibu Anita menjawab sambil tersenyum.


Sekali pun Elvano masih bingung dengan tingkah aneh Ibunya, ia sudah cukup lega saat ini karna Ibunya sudah bisa tersenyum.


"Bu, Ibu jangan memikirkan soal biaya itu lagi ya !"


"Ibu harus percaya pada Vano, Vano pasti bisa kok menyelesaikan semuanya."


Vano menuntaskan percakapannya yang tadi.


Ibu Anita menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Lagian kan sebentar lagi kan vano sudah akan wisuda Bu. Pasti akan lebih mudah bagi Vano untuk melunasi semua hutang-hutang itu !" Tambah Elvano, ia berkata-kata dengan penuh semangat dan ia sangat yakin kali ini kata-katanya pasti akan membuat Ibunya merasa lebih tenang.


Padahal justru yang terjadi adalah Ibunya kembali melamun lagi setelah mendengar itu.


Ibu Anita pun masuk kembali kepada kisah Maya yang ia lukis sendiri dalam benaknya sejak tadi.