
Tepat seperti yang dikatakan oleh Ibu Anita, kurang lebih 5 jam kemudian bis pun tiba ditempat tujuan. Sebuah kota besar, kota yang sangat berbeda dari tempat tinggal Elvano sebelumnya, inilah kota dimana keluarga Elvano berada.
Perlahan bis mengurangi kecepatannya, membuat Elvano yang masih terlelap terjaga kembali. Dilihatnya sekeliling, ia telah berada ditempat yang sangat berbeda, tempat ini jelas jauh lebih padat.
Ia pun segera membangunkan Ibu Anita yang masih terlelap disampingnya.
"Bu, Bangun ! Kita sudah tiba."
"Hmm."
Ibu Anita menggeliat diatas kursi bis sambil mengucek matanya yang masih terasa berat untuk dibuka.
Setelah semua kesadarannya terkumpul kembali Ibu Anita melemparkan pandangan ke luar bis mencoba mencari tau sudah dimana mereka saat ini.
'Ah, akhirnya aku kembali ke sini.
Pak Rangga, dulu kita juga menaiki jenis bis yang sama ketika berada ditempat ini untuk membawa Elvano pergi dari kota ini.'
'Taukah kamu? Hari ini aku akan membawa putra yang telah kita besarkan bersama untuk kembali kerumahnya yang asli.
Kamu pasti senang kan?'
Senyuman tipis menghias pipi Ibu Anita yang sudah mulai keriput itu. Walaupun ada sedikit rasa kekhawatiran didalam hatinya, namun ia sangat yakin keluarga Setiono tidak mungkin menolak Elvano.
Berbeda dengan Elvano, saat ini jantungnya justru berdetak sangat tidak beraturan.
Dag dig dug
Ketika bis telah menghentikan lajunya, Elvano dan Ibu Anita turun dari dari bis dengan beberapa tentengan tas yang mereka bawa ditangan kiri dan kanan mereka.
Mereka masih harus menempuh perjalanan selama 30 menit dengan menggunakan jasa taksi untuk benar-benar tiba di rumah keluarga Elvano.
Sebuah taksi yang kebetulan nongkrong didekat terminal menjadi pilihan Ibu Anita.
Barang bawaan yang ada ditangan mereka masing-masing kembali harus masuk kedalam bagasi mobil. Sebuah perjalanan yang sungguh sangat melelahkan bagi mereka.
"Maaf Bu, kita mau kemana?" Tanya Bapak taksi ketika mobil mulai berjalan.
"Mansion Investama Pak." Jawab Ibu Anita singkat.
"Wah.. Ibu kenal dengan pemilik Astra Investama Group?" Bapak sopir tampak kagum ketika Ibu Anita menyebut nama mansion itu.
Ya, siapa juga yang tidak tau dengan Astra Investama Group.
"Iya Pak, kebetulan saya adalah salah satu pegawai di rumah besar itu." Jawab Ibu Anita sambil tersenyum.
"Oh, begitu ya ?"
"Oh iya, Ibu pasti tau dong tentang Pak William yang sedang mencari anaknya yang hilang sejak bayi?"
Deg
Seketika Elvano mengangkat wajahnya yang sedari tadi sedang sibuk memainkan telpon genggam miliknya.
"Maksud Bapak?" Tanya Ibu Anita antusias.
"Ah moso Ibu tidak tau?"
"Mm, maaf Pak, sebagai pegawai disana kami memang tidak begitu mengurusi hal demikian. Yang kami tau hanya bekerja saja Pak."
"Oh..."
Ah, aku tidak percaya dia tidak tau tentang ini, mungkin dia takut untuk membicarakannya.
"Jadi ceritanya seperti apa Pak?" Ibu Anita masih memancing Bapak taksi itu berbicara.
"Eh, Jadi pak William mengeluarkan pengumuman sejak 1 tahun yang lalu, bagi siapa yang dapat menemukan bayinya itu akan mendapatkan imbalan yang sangat besar."
"Tapi siapa juga yang bisa menemukannya, bayinya bahkan sudah bertumbuh besar.
Setelah melirik ke arah spion bagian dalam Bapak taksi melanjutkan pembicaraannya,
"Sepertinya sudah sebesar anak Ibu itu."
"Oh begitu ya Pak." Ibu Anita merasa senang mendengar kabar baik ini.
"Iya Bu, kasian Pak William sudah selama ini ia baru tau anak sulungnya itu masih hidup dan masih harus mencarinya selama 1tahun ini juga belum ada hasilnya."
'Tunggu ! Masih hidup? Maksudnya Kakek telah memalsukan kematianku?'
Elvano merasa sedikit kecewa dengan kalimat Pak taksi yang terakhir.
Ibu Anita belum sempat melemparkan pertanyaan kembali, ternyata mereka sudah tiba di mansion Investama.
"Kita sudah sampai Bu !" Bapak taksi menunjuk sebuah bangunan mewah disampingnya dengan memancungkan bibirnya.
"Eh...
Ibu Anita ikutan melirik ke arah rumah mewah yang dimaksud Bapak taksi.
"Bu, kok malah melamun?"
"Eh, i-iya Pak, ma-maaf."
Ibu Anita segera turun dari taksi.
Elvano sedari tadi memang sudah turun, ia sedang menurunkan barang bawaannya dibagasi belakang. Setelah Ibu Anita turun Bapak taksi kemudian membantu Elvano untuk menurunkan barang bawaan mereka.
"Pak, ini ongkosnya ! Kelebihannya buat Bapak saja." Elvano menyodorkan 2 lembar pecahan uang dengan nilai paling tinggi untuk Bapak taksi yang sudah ia lebihkan.
"Terimakasih anak muda." Jawab bapak taksi lalu kembali masuk kedalam taksinya dan melajukan kendaraannya perlahan
"Sepertinya pemuda tadi sangat mirip dengan seseorang, Tapi mirip siapa ya?" Pak Supir mencoba mengingat mirip siapa pemuda itu.
"Ah.. Benar, pemuda itu mirip sekali dengan Nyonya Setiono. Apa itu anaknya?" Ucap Pak supir kemudian setelah ia berhasil mengingat dengan baik.
Bapak taksi baru menyadari ada kemiripan antara Elvano dengan Ibunya. Lagian tampang Elvano memang tidak seperti anak seorang pembantu pikir bapak taksi itu selama perjalanannya.
Iya, Elvano memang sangat mirip dengan Ibunya.
Ibu Anita dan Elvano berjalan menuju gerbang mansion. Disana terlihat beberapa pengawal sedang berjaga-jaga. Salah satu pengawal mendekati gerbang ketika melihat Ibu Anita dan Elvano berdiri didekat gerbang.
"Maaf Bu, Ibu sedang apa disini?" Tanya pengawal itu sopan.
"Eh, saya ingin bertemu dengan pemilik rumah ini. Jawab Ibu Anita
Pengawal itu memandang Ibu Anita lekat dari atas sampai ke bawah. Mana mungkin Ibu ini bisa kenal dengan pemilik rumah ini? Demikian la isi otaknya. Pengawal itu juga melirik ke arah Elvano sekilas.
"Maaf Bu, apakah Ibu kenal dengan majikan kami?"
"Iya, katakan saja pada nya Anita mencarinya !"
Mendengar nama itu pengawal tsb tertawa kecil. Memang sudah sangat banyak orang yang mengakui bernama Anita dan membawa seorang pemuda untuk menemui majikannya. Namun tentu saja majikannya masih bisa sedikit mengenali wajah Anita yang mereka maksud walaupun samar-samar.
"Kok Bapak malah tertawa?" Tanya Ibu Anita heran.
"Maaf Bu, sudah banyak orang yang mengaku bernama Anita untuk bertemu dengan majikan kami. Nyatanya mereka semua hanya berbohong." Jawab pengawal itu panjang lebar.
Ternyata benar apa yang dikatakan Bapak taksi tadi.
Ibu Anita pun kehilangan akal bagaimana cara memberitahukan pada pengawal ini supaya ia diijinkan bertemu dengan majikannya.
Elvano yang sudah merasa putus asa bersiap mengajak Ibu Anita untuk pergi dari sana.
Tiba-tiba dari kejauhan, kepala pelayan rumah besar melihat ada keributan di depan gerbang, ia pun menghampirinya.
"Ada apa pak?" Tanya nya pada pengawal itu
Belum sempat pengawal itu menjawab Ibu Anita yang mengenali kepala pelayan itu sudah memanggil nama kepala pelayan tsb.
"Pak Didi?!"
Mendengar nama nya di panggil kepala pelayan itu pun menatap Ibu yang ada didepannya itu. Dan ia sedikit tersentak melihat kehadiran wanita itu setelah mengingat wajah itu.
"Kamu, kamu Anita?" Pak Didi masih bisa mengenali Ibu Anita sekali pun ia juga sudah agak lupa dengan wajahnya yang sudah mulai keriput itu.
"Jadi benar ini adalah Anita yang di cari oleh Tuan Besar?"
Pengawal tadi kelihatannya sedikit syok mendengar Pak Didi memanggil nama wanita itu.
"Heh ! Kamu tunggu apalagi? Buka gerbangnya !" Perintah Pak Didi.
"Ba-ba-baik Pak." Jawab pengawal itu terbata-bata.
Pintu gerbang pun terbuka, Ibu Anita dan Elvano melangkah masuk ke dalam gerbang.
"An, ini siapa? Apakah dia anak itu?" Tanya Pak Didi setelah melirik ke arah Elvano.
"Iya ! Dia Elvano Setiono !" Jawab Ibu Anita sambil tersenyum.
Jawaban Ibu Anita membuat pak Didi tersentak sekali lagi.
Pemuda ini memang mirip sekali dengan Ibu Winda.
Gumam Pak Didi dalam hati setelah menatap Elvano lekat.
"Selamat datang kembali Tuan Muda" Pak Didi menundukkan tubuhnya hormat. Pengawal yang tadi juga ikut menundukkan tubuhnya.
"Ma-maafkan saya sudah lancang tadi !" Pengawal itu juga meminta maaf karena merasa bersalah sudah tidak percaya dengan pengakuan Ibu Anita tadi.
"Eh.." Elvano sedikit tergelak melihat perlakuan kedua orang yang ada dihadapannya ini.
'Apa seorang tuan muda memang di perlakukan begini?'
Elvano mencoba mencerna suasana yang terjadi saat itu.
"Mari Tuan Muda, Anita, ikut aku kedalam !" Pak Didi mempersilahkan Elvano dan Ibu Anita untuk masuk ke rumah besar itu.