Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Kekonyolan Niko


Niko memasuki sebuah toko pakaian brended dan mencari pakaian yang dimaksud oleh Elvano. Namun sejauh mata memandang, Niko hanya melihat pakaian yang sangat indah dan cantik. Dia pun tampak kebingungan.


"Maaf Tuan, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang wanita yang sedari tadi mengikuti Niko dari belakang. Dan ini merupakan pertanyaan yang kesekian kali yang ia tanyakan. Sebab sejak tadi, Niko sama sekali tak menghiraukan pertanyaan tersebut.


"Ehem ... Nona, saya sedang mencari pakaian yang sangat jelek, tapi saya lihat di tempatmu ini semua pakaian begitu bagus. Apa anda tidak menjual pakaian yang sangat jelek?" tanya Niko akhirnya.


"Ehm? Maksud Tuan?"


Tentu saja gadis itu tampak kebingungan.


"Iya, maksud saya, saya mau membeli pakaian yang sangat jelek. Apa pendengaran Nona juga bermasalah?" kali ini Niko meniru perkataan Elvano terhadap dirinya tadi.


Dan sontak wajah gadis itu memerah seketika. Marah! tentu saja gadis itu marah.


"Maaf Tuan aneh yang terhormat, jika anda sungguh ingin mencari pakaian yang jelek, silahkan cari di tempat lain. Anda salah alamat!" tegas gadis pegawai toko pakaian.


"Ehm? Nona mengusir saya? Apa Nona tidak takut, jika saya melaporkan Nona pada bos Nona?" ancam Niko.


"Silahkan saja! Lagian memang Tuan yang aneh. Beli pakaian untuk kekasih saja musti cari yang jelek. Jika tidak punya uang, jangan sok memasuki toko pakaian mewah!" hina pegawai toko pakaian yang dikenal sebagai Olive.


"Kamu ..., " Niko sudah mulai emosi.


"Ada apa nih ribut-ribut?" sambung seorang gadis cantik yang baru saja memasuki toko pakaian tersebut yang merupakan pemilik toko pakaian itu.


"Maaf Nona, Tuan ini sedang membuat keributan," jawab Olive.


"Eh, Niko?" gadis pemilik toko pakaian tersebut cukup kaget setelah melihat wajah dari laki-laki itu ternyata adalah Niko.


Jadi dia pemilik toko pakaian ini ... Pantas saja pegawainya tidak tau sopan santun.


"Selamat siang Nona Nikita! sapa Niko.


"Sebenarnya apa yang terjadi Olive?" tanya Nikita pada olive tanpa menghiraukan sapaan Niko.


"Maaf Nona, Tuan ini ingin mencarikan pakaian untuk kekasihnya. Dan ...,


Kekasih ... Jadi Niko sudah memiliki kekasih ya ....


Belum selesai Olive berbicara, Nikita sudah memotong pembicaraan.


"Oh, anda mau mencari pakaian yang seperti apa untuk kekasih anda? Biar saya pilihkan untuk anda!" tanggap Nikita cemburu.


"Tidak jadi. Ternyata tak hanya pegawainya saja yang tidak tau sopan santun, bosnya juga tidak tau cara menghormati pelanggan," maki Niko dan langsung melangkah keluar dari toko pakaian tersebut.


"Hei, memangnya kamu orang yang tau sopan santun ya? Jika kamu memang pria yang tau sopan santun, tidak mungkin tidak pernah membalas pesan yang dikirimkan oleh orang lain," maki Nikita yang membuat karyawannya kebingungan.


Maksud Nona apa ya ...


Sedangkan Niko tidak terlihat ingin meladeni Nikita, ia hanya menunjukkan senyuman sinis dari sudut bibirnya. Dan terus melangkah keluar tanpa menoleh ke arah Nikita sama sekali.


Saat Niko telah berlalu dari toko pakaian miliknya, Olive mencoba menjelaskan apa yang dicari oleh Niko tadi. Namun belum sempat Olive bercerita, Nikita sudah lebih dulu membuka suara.


"Sudahlah, aku tidak ingin membahas tentang dia. Mungkin dia memang sengaja ingin memamerkan padaku bahwa dia sudah memiliki kekasih," cemburu Nikita.


Ternyata Nona cemburu pada laki-laki tadi. Apa mungkin Nona menyukai dia ... Tapi sepertinya laki-laki itu tidak menyukai Nona. Tapi baguslah ... Lagipula Nona tidak cocok sama pria seaneh itu.


Batin Olive yang juga tidak menyetujui hubungan Nikita dengan Niko.


Olive pun sudah tidak melanjutkan usahanya untuk menjelaskan pada Nikita lagi.


Dan Nikita pun menjadi salah paham terhadap Niko karena tidak mengetahui tentang kejadian yang sebenarnya seperti apa. Dia tetap menganggap Niko memang ingin mencari pakaian untuk kekasihnya seperti informasi yang ia dapatkan dari Olive tadi.


Penjelasan singkat;


Nikita memang memiliki sebuah toko pakaian yang belum lama ia geluti. Paling usia toko pakaian tersebut baru berjalan 1 bulan. Cheril saja belum mengetahui tentang bisnis baru tersebut.


Dan pada saat Niko dan Olive sedang terlibat dalam perdebatan tadi, Nikita baru pulang dari kampus. Sebelum mempersiapkan diri untuk acara nonton, Nikita memilih mampir lebih dulu ke toko pakaiannya, tak disangka malah terjadi hal seperti ini. Membuat mood Nikita jadi berubah saja. Nikita sedang berpikir ulang sekarang, mengikuti acara nonton itu atau tidak.


---------


Sementara di mobil, Niko masih sangat kebingungan dalam hal pelaksanaan misi yang diberikan oleh Elvano. Yakni perihal mencari pakaian jelek.


Huuuuuuh


Niko membuang napas sembari mengusap wajahnya kasar.


"Di mana lagi aku bisa mendapatkan pakaian itu? Sudah memasuki beberapa toko pakaian, tapi masih belum menemukan pakaian jelek itu. Apa sungguh tidak ada yang menjual pakaian jelek?" maki Niko kesal sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Apalagi saat ia melirik ke arah jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 13.00. Niko sudah semakin gusar.


Saat Niko sudah hendak menyerah dan memilih kembali ke Villa, tiba-tiba dia melihat di pinggir jalan ada pedagang yang sedang menjajakan pakaian. Niko pun mencoba menghentikan kendaraannya. Kebetulan Niko melirik sekilas ke arah sana, dan sepertinya dia melihat ada 1 helai pakaian yang menurut dirinya cukup jelek yang tergantung di sana.


"Pak, saya mau yang itu. Berapa Pak?" tanya Niko sambil menunjuk ke arah sehelai pakaian yang ia lihat tadi. Pakaian yang dimaksudkan oleh Niko itu adalah sehelai daster yang sudah mulai usang.


Jelas pedagang tersebut merasa heran. Dari sekian banyak pakaian yang tergantung di sana, Niko malah memilih pakaian usang tersebut.


"Maaf Tuan, itu tidak dijual. Itu milik istri saya Tuan," jawab pedagang pakaian.


"Loh, kenapa digantung di sana? Pokoknya aku mau beli yang itu," protes Niko.


"Iya Tuan, itu karena istri saya sedang menjemurnya. Tadi tersenggol minuman jadi mengenai pakaiannya, basah. Jadi saya menjemurnya di sana," jelas pedagang pakaian itu secara lengkap. Memang pakaian tersebut digantung agak jauh dari yang lainnya.


"Pokoknya saya tidak mau tau, saya mau membeli yang itu. Ini, saya bayar mahal. Jual pada saya!" paksa Niko sambil mengeluarkan uang sebesar 500.000 rupiah.


Tentu saja pedagang itu tidak bisa menolak. Lagian Niko sungguh sudah tidak waras, membeli pakaian bekas yang belum dicuci dan sudah usang, malah dibayar begitu mahal.


"Baik Tuan, saya akan turunkan untuk anda sekarang!" jawab pedagang itu kemudian.


Transaksi jual beli yang sedikit tidak wajar itupun terjadi. Pedagang tersebut sungguh sangat kebingungan dengan apa yang ia alami hari ini. Bodoh amatlah, mau bajunya bau masam, bau terasi, pokoknya duit 500.000 rupiah masuk kantong. Demikian yang sedang dipikirkan oleh pedagang tersebut.


"Orang kaya itu sungguh aneh." Gumam pedagang tersebut setelah Niko sudah berlalu dari tempat ia berdagang.


Dengan riang gembira, Niko yang sudah menemukan apa yang ia cari memutuskan sesegera mungkin kembali ke Villa.