Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Elvano melakukan perjalanan bisnis pertamanya.


Setelah Elvano selesai dengan pembicaraannya, kedua ayah dan anak ini segera melangkah menuruni panggung aula dan keluar dari ruangan itu.


Selanjutnya Manager Li yang kembali mengambil alih untuk membubarkan semua karyawan yang ada di sana dan mereka pun kembali bekerja seperti biasa lnya.


Termasuk juga Elvano, setelah dari ruangan aula Elvano dan ayah nya menuju ke ruangan kerja Presdir di sana Elvano sudah akan memulai aktivitasnya. Banyak sekali hal baru yang ia temui, Elvano pun harus berusaha lebih keras untuk mempelajari semua itu.


Selama 1minggu pertama Elvano masih didampingi oleh ayahnya di ruangan Presdir, setelah itu Elvano sudah bisa di lepas untuk bekerja sendiri. Manager Li juga tidak merasa kesulitan selama mendampingi Elvano dalam mempelajari apa saja yang akan ia kerjakan, karna Elvano sangat cepat menangkap semua yang diajarkan oleh nya.


Selain kegiatan kantor, Elvano juga disibukkan dengan urusan kuliah privat yang akan dijalaninya. Namun dosennya juga tidak terlalu kesulitan dalam mengajari Elvano, malah kegiatan yang harusnya berlangsung selama 2 bulan bisa dipersingkat menjadi sebulan saja.


Selama sebulan Elvano sudah berhasil mendapatkan gelar sarjananya dan selama sebulan juga ia sudah berhasil menguasai semua pekerjaannya sebagai seorang Presdir di Astra Investama Group.


Ayah William pun sudah bisa merasa lega saat ini, saat ini juga ia sudah menyerahkan perusahaan itu sepenuhnya pada Elvano. Kini ayahnya sudah bisa menikmati masa pensiun seperti yang sangat ia harapkan selama ini.


Semua klien yang bekerja sama dengan Astra Investama Group juga sangat menyukai cara kerja Elvano, mereka semua selalu merasa puas ketika mendengarkan presentasi yang ia bawakan ketika meeting. Banyak sekali dari mereka yang sangat menyukai Elvano, beberapa dari mereka bahkan ada yang ingin menjodohkan anak mereka dengan Elvano.


Namun Elvano sama sekali tidak tertarik tentang perjodohan, ia juga tidak merasa tertarik pada wanita saat ini, malah setiap ada wanita yang ingin mendekatinya ia selalu bersikap dingin. Ia memang sudah menutup pintu hati nya sejak pertunangan yang batal itu.


Saat ini yang terpenting baginya adalah terus bekerja dan bekerja untuk memberikan yang terbaik bagi perusahaan yang sudah menjadi miliknya sendiri. Di tangan Elvano perusahaan itu memang semakin terlihat perkembangannya, walaupun ia masih bisa dikatakan seumur jagung dalam kepemimpinannya.


--------------------------


Suatu pagi


Elvano yang selama ini selalu disibukkan dengan berbagai urusan kantor, akhirnya hari ini ia sudah bisa menikmati akhir pekan.


Beberapa waktu yang lalu ia memang belum bisa meliburkan diri sekali pun di akhir pekan karna jadwalnya sangat padat. Selain menyelesaikan urusan kantor, melakukan pertemuan dengan klien, ia juga masih harus belajar beberapa hal baru yang belum ia ketahui. Belum lagi urusan kuliahnya waktu itu. Dan akhirnya hari ini ia bisa mendapatkan waktu luang.


Tiba-tiba Elvano sangat merindukan Ibu Anita, ia pun berpikiran untuk mengunjungi nya. Sekaligus hari senin ini ia memang bermaksud melakukan peninjauan di beberapa perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan mereka di kota itu.


Elvano sudah merasa sangat bersemangat ketika mengetahui jadwal kunjungan bisnis pertama nya adalah berkunjung ke kota XX hari Senin ini, karena selain merupakan pengalaman pertama, dalam pikirannya juga ia bisa bertemu dengan Ibu Anita.


Rasanya ia sudah tidak bisa menahan diri menunggu hingga hari senin, ia ingin segera berangkat hari ini juga, selain itu ia juga pasti memiliki lebih banyak waktu bersama-sama dengan Ibu Anita jika berangkat lebih cepat pikir Elvano.


Tepat pada pukul 7 pagi Elvano sudah keluar dari kamar. Ia sudah berpakaian rapi berjalan menuruni anak tangga menuju meja makan.


Sebelum berangkat, ia bermaksud untuk saparan terlebih dahulu.


Di meja makan sendiri sudah ada ayah dan ibunya yang sedang duduk di sana.


"Selamat pagi Ayah, selamat pagi Ibu!" Sapa Elvano penuh semangat yang juga dibalas dengan ucapan selamat pagi dari kedua orangtuanya.


"Vano, bukannya hari ini kamu libur?" tanya ayah William heran melihat Elvano tetap tampil formal ketika di hari libur seperti ini.


"Iya yah, Vano memang libur hari ini," jawab Elvano santai.


"Terus kamu kok berpakaian seperti ini? Seperti hendak pergi ke kantor?!" lanjut Ayah William. Ibu Winda juga ikut heran melihat penampilan putranya itu.


"Hari senin ini Vano akan melakukan kunjungan bisnis ke kota XX tempat Ibu Anita dan Vano tinggal dulu Yah, Vano sudah tidak sabar menunggu hingga hari senin. Jadi Vano bermaksud berangkat lebih cepat," jelas Elvano.


"Oh, jadi begitu ... Apa kamu sudah memberitahukan pada Manager Li tentang jadwal keberangkatan yang kamu percepat?"


"Belum Yah ... Biar Vano berangkat lebih dulu, nanti Manager Li biar menyusul hari seninnya saja," Ujar Elvano sambil menggigit sandwich yang ada di tangannya.


"Terus kamu berangkat dengan siapa? Sendirian? Menyetir sendiri?" timpal Ibu Winda, ia merasa khawatir karena mendengar Elvano yang berkata ia akan berangkat sendiri.


"Ya nggaklah Bu, Vano berangkat sama sopir Bu," jawab Vano sambil kembali melahap sandwich yang ada di tangannya.


"Ooh ... Ibu kira kamu akan menyetir sendiri."


"Memang boleh Bu?" goda Elvano.


"TIDAK!" ibu dan ayahnya menjawab serentak.


Hahahahaha


Kedua orangtua Elvano terheran-heran melihat tawa konyol Elvano untuk yang pertama kalinya. Kedua orangtuanya pun saling bertatapan satu sama lain, bertanya-tanya ada apa dengan Elvano. Sebab Elvano memang belum pernah melakukan hal konyol terhadap ayah dan ibunya sebelum ini.


"Ma-maaf Bu, yah ...," Elvano masih berusaha mengatur nafasnya yang ngos-ngosan karena tertawa tadi.


"Maaf, Vano hanya bercanda saja kok," kali ini ia sudah bisa mengontrol dirinya dengan baik dan menghentikan tawanya.


Fiiiiiuh


Syukurlah jika dia memang hanya bercanda.


Gumam ibu Winda dalam hati.


Ayah William juga merasa sangat lega mendengar pengakuan putranya yang hanya bercanda.


Huuuuuuuuh


Ia membuang nafas kasar.


"Ayah tidak menyangka ternyata kamu pintar bercanda juga Vano,"


"Eh, hehehehe ... Maaf sudah membuat ayah dan ibu merasa khawatir," ucap Elvano sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Tidak apa-apa kok Vano ... Kadang-kadang bercanda itu justru diperlukan," timpal Ibu Winda membela putranya.


"Giliran ayah yang bercanda aja di omelin ...," protes Ayah William.


"Itu kan beda Yah ...," Ibu Winda berkilah.


Ya, jadilah kedua orangtua itu saling berdebat.


Elvano hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan kedua orangtuanya. Elvano memang sudah terbiasa melihat Ibu Winda dan Ayah William seperti itu.


Ia sudah tidak menghiraukan kedua orangtuanya lagi, ia lebih memilih sibuk menghabiskan sarapan dan segera berangkat setelah itu.


"Ayah, Ibu, Vano pamit ya!" ucap Elvano berpamitan pada kedua orangtuanya yang baru saja berhenti berdebat.


"Eh, Baik Vano, kamu hati-hati ya!" balas Ibu Winda. Ayah William hanya diam saja, ucapan Ibu Winda sudah cukup untuk mewakilinya.


"Iya Bu,Bye," ucap Elvano lagi sambil melambaikan tangannya dan menuju ke arah pintu keluar yang juga dibalas oleh Ibu Winda.


"Bye Vano ... Hati-hati!" balas Ibu Winda setengah berteriak.


Sementara Elvano sudah tidak menjawab ibunya lagi. Ia sudah keluar dari rumah setelah pintu dibukakan oleh Pak Didi.


*********


Hallo my Readers ... Ini saya Kim'z.


Tidak henti-hentinya saya ingin mengucapkan terimakasih buat kalian semua yang terus membaca cerita ini.🥰


Dan terimakasih juga buat dukungan yang telah kalian berikan. Baik yang telah vote, like, coment, rate dan favorit yang sudah kalian berikan berulang-ulang.😍🙏


Terus dukung saya ya Readers karena dukungan kalian sangat, teramat penting untuk saya.🥰


Btw, hari ini saya ingin mengucapkan


"Selamat hari lahir Pancasila"


Bersama kita jaga Indonesia, bersatu di dalam lambang kebanggaan burung Garuda. Pancasila untuk kita semua🥰