Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Pengganti bulan madu 3


Elvano masih menunggu jawaban Cheril. Sementara Cheril masih diam saja tak bergeming. Pada saat Cheril baru saja hendak membuka mulutnya untuk berbicara. Elvano juga ikut bersuara. Mereka berdua mengucap bersamaan.


"Ok, silahkan Sayang, apa yang ingin kamu katakan?" tanya Elvano.


"Ehem .... "


"Aku ... Mau ...,


Cheril berhenti sesaat dan menatap wajah Elvano lekat.


"Ehm? Mau apa Sayang?


Elvano semakin penasaran. Terlihat laki-laki tampan itu mengerutkan dahinya berulang kali.


Baiklah, katakan Cheril. Ayo katakan.


"Ehem ....


"Aku mau meminta kamu keluar dari dunia mafia!" ucap Cheril tegas.


Elvano tersenyum mendengar apa yang diucapkan oleh Cheril.


"Jadi itu yang kamu inginkan? Aku pikir kamu mau minta pesawat jet?"


"Ehm? Buat apa pesawat jet? Bisa memilikimu saja itu sudah cukup buat aku. Aku sudah tidak membutuhkan apapun lagi di dunia ini. Buat aku, sudah cukup punya kamu seorang." Ungkap Cheril.


Elvano merasa sangat tersentuh dengan apa yang diucapkan oleh Cheril. Hatinya berdenyut karena terharu. Kebahagiaan meliputi seluruh jiwanya. Elvano belum pernah merasakan sebahagia ini sebelumnya. dan ini memang pertama kalinya Cheril mengungkapkan isi hatinya. Membuat Elvano serasa terbang di atas awan.


"Terima kasih ya, Sayang. Terima kasih untuk cintamu yang besar. Terima kasih karena kamu sudah mau bersamaku. Dan terima kasih untuk anak yang ada di dalam sini,"


Elvano mengucap sambil mengusap perut Cheril. Mata Elvano saat itu juga sudah berkaca-kaca.


Karena Elvano tak ingin Cheril melihat air matanya yang sudah berkumpul di pelupuk mata indahnya itu, Elvano memilih beranjak dari tempat duduknya dan kemudian memulai pembicaraannya yang cukup panjang.


"Aku berjanji padamu, aku pasti akan membahagiakan kamu dan juga anak kita. Kita sekeluarga akan hidup bahagia selamanya.


Tak akan ada satu orang pun yang bisa mengusik kebahagiaan kita.


Dan setelah semua tugasku selesai, aku beranji akan meninggalkan semua itu.


Setelah merasa dirinya lebih rileks, Elvano kemudian duduk kembali di samping Cheril. Lalu memeluk Cheril erat. Dan melanjutkan kalimatnya yang belum selesai.


"Setelah itu kita sekeluarga akan hidup bahagia selamanya."


Ucap Elvano sambil menatap Cheril lekat.


Dan sekarang, giliran Cheril yang merasa terharu. Kebahagiaan meliputi hati Cheril. Kebahagiaan yang sempurna, yang diimpikan oleh semua wanita.


Pasangan ini menghabiskan waktu mereka di tepi pantai itu selama 1 jam lagi. Elvano dan Cheril saling memadu kasih menikmati keindahan alam yang diciptakan oleh Sang pencipta. Saling berbagi cerita tentang banyak hal, dan merencanakan hari-hari mereka ke depannya. Hamparan lautan lepas yang sangat luas seakan menggambarkan cinta mereka. Cinta yang luas tiada batas.


Angin yang bertiup dan suara deru ombak juga seakan menciptakan musik yang menenangkan jiwa. Membuat pasangan ini semakin betah untuk berlama-lamaan di tepi pantai itu.


Saat Elvano merasakan cacing yang ada di dalam perutnya sudah berdendang ria, Elvano pun mengajak Cheril untuk mencari makan.


"Sayang, kita cari makan yuk! Aku lapar nih," ajak Elvano.


"Ayo, aku juga lapar," sahut Cheril


Kemudian pasangan ini beranjak dari tempat duduk mereka meninggalkan tepi pantai saling merangkul mesrah.


Pak Jono yang melihat mereka kembali segera menghampiri keduanya.


Pak Jono sendiri sudah bisa menebak pasti pasangan ini hendak pergi keluar mencari makanan. Sebab di tempat ini memang belum ada yang menjual makanan.


"Eh, ini pak, kami mau mencari makan sebentar. Nanti kami balik lagi ke sini dan malam ini kami akan menginap di sini. Bapak tolong siapkan ya kamar yang ada di villa 1!" perintah Elvano.


"Oh, iya Tuan Muda. Kamar itu sudah siap kok, dan sudah bisa digunakan. Untuk makan siang, Tuan Muda dan Nona Muda juga tidak perlu mencari makan di luar. Saya sudah menyiapkan semuanya,"


Elvano dan Cheril saling bertatap setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Pak Jono.


"Benarkah? Wah, berarti kami sudah sangat merepotkan Pak Jono nih!" ucap Elvano segan.


"Eh, tidak apa-apa Tuan Muda. Saya malah senang bisa membantu Tuan Muda. Mari ikut ikut saya Tuan dan Nona muda!"


Mereka bertiga melangkah bersama menuju ke arah Villa 1 dengan posisi Pak Jono yang berada di depan, sedangkan Cheril dan Elvano berada di belakang mengikuti langkah Pak Jono.


Saat mereka melewati sebuah bangunan yang belum selesai di bangun, Cheril pun tergerak untuk bertanya.


"Sayang, tempat apa itu?" tanda tanya Cheril sambil menunjuk ke arah bangunan setengah jadi itu dengan jari telunjuknya.


"Ehm?


Elvano ikut melemparkan pandangannya kearah bangunan yang ditunjuk oleh Cheril.


"Oh, itu?"


Itu adalah rumah kita, Sayang. Setelah semua tugasku selesai kita akan tinggal di sana.


"Iya, yang itu. Tempat apa itu?"


Dari sekian banyak proyek yang dibangun, memang hanya tinggal bangunan itu saja yang belum jadi.


"Bukan apa-apa kok, Sayang. Sudahlah, jangan dipikirkan, aku juga belum tau akan di gunakan untuk apa. Ayo kita kejar Pak Jono! Dia sudah semakin menjauh," alih Elvano.


Elvano juga memancungkan mulutnya ke arah Pak Jono pada saat sedang mengucapkan kalimat terakhirnya itu. Dan Cheril menanggapi Elvano dengan ikut melemparkan pandangannya ke arah Pak Jono yang memang sudah agak menjauh dari pandangan mereka.


Kemudian mereka berdua segera melangkah menyusul Pak Jono. Setelahnya, Cheril juga tidak lagi mempertanyakan soal tadi.


Elvano dan Cheril mengedarkan pandangan mereka ke seluruh sudut ruangan Villa 1 ketika mereka sudah berada di dalamnya. Bangunan yang tampak sederhana dari luarnya itu terlihat begitu elegan di dalamnya. Nuansa klasik yang dikombinasikan dengan beberapa perabotan dengan nuansa desa membuat Villa tersebut tampak asri dan anggun. Sangat nyaman dipandang mata.


Ini juga merupakan pertama kali bagi Elvano memasuki Villa tersebut. Sebelumnya, Elvano memang sudah beberapa kali mengunjungi tempat ini, namun waktu Elvano datang berkunjung, Villa ini belum jadi. Karena itu Elvano juga ikut mengedarkan pandangannya ke sekeliling Villa. Elvano dan Cheril tampak mengagumi keindahan Villa itu.


Sesaat kemudian Elvano dan Cheril sudah tiba di meja makan. Terdapat berbagai macam menu yang cukup banyak di sana.


"Silakan dinikmati Tuan dan Nona muda! Maaf, jika menu ini tidak sesuai selera Tuan dan Nona Muda!" kata pak Jono.


"Wow, ini banyak sekali Pak Jono. Maaf sudah merepotkan Bapak!" tanggap Elvano segan.


Cheril juga ikut mengangguk setuju. Menu yang disediakan oleh Pak Jono memang sangat banyak. Mungkin masih cukup dikonsumsi oleh 5 orang.


"Tidak, Tuan Muda! Ini belum seberapa dibandingkan dengan apa yang sudah Tuan Muda perbuat bagi keluarga kami. Kami bahkan tak mampu membalas semua kebaikan Tuan Muda," ungkap Pak Jono.


Saat Pak Jono mengucapkan kalimat itu, Cheril melirik ke arah Elvano untuk mencari tau apa yang sebenarnya sudah terjadi. Cheril sedikit kaget bercampur penasaran. Sedangkan Elvano hanya menatap Cheril sesaat dan kembali menanggapi Pak Jono.


"Soal itu jangan dipikirkan lagi Pak, saya ikhlas kok membantu Bapak dan keluarga Bapak. Jadi Bapak tidak perlu memikirkan Bagaimana caranya membalas semua itu,"


"Baik, Tuan Muda. Sekali lagi, terima kasih banyak Tuan Muda!"


"Silahkan dinikmati menunya! Saya permisi dulu!"


Setelahnya, Pak Jono segera berlalu dari hadapan Elvano dan Cheril. Dan pasangan ini pun segera memulai aktivitas makan mereka.