
Setelah selesai sarapan bersama, Cheril kemudian menemani ibu Elvano mengobrol. Mereka saling berbagi cerita tentang banyak hal.
Mereka yang baru 2 hari kenal itu sudah seperti ada ikatan spesial layak nya Ibu dan Anak.
Membuat Elvano yang menyaksikan semakin heran.
Kedua orang ini sungguh diluar nalarnya. Ia bahkan beberapa kali melihat ke arah mereka yang sedang tertawa kecil bersama, sudah seperti ada ikatan khusus di antara mereka.
Melihat Cheril dan ibunya yang begitu asyik mengobrol, dunia yang sudah seperti milik mereka berdua, Elvano pun memilih keluar dari ruangan VIP itu untuk mencari udara segar.
Ia sudah cukup lega karena perkataan Dokter tadi, lagian juga ada Cheril di ruangan itu, jadi ia tidak khawatir sama sekali meninggalkan ibunya.
Elvano duduk di sebuah taman kecil yang terdapat di dalam Rumah Sakit itu.
Ia tiba-tiba teringat dengan kartu nama yang diberikan oleh Cheril kemarin yang ia simpan di dalam saku celananya.
Kemudian Elvano pun mengeluarkan kartu itu dari sakunya.
Dan ia juga mengeluarkan ponsel miliknya.
Setelah berpikir cukup lama, Elvano akhirnya memutuskan untuk menelepon nomor yang tertera pada kartu nama itu.
Tut ... tut ...
Terdengar bunyi nada dering panggilan yang sedang menunggu untuk dijawab oleh penerimanya.
"Hallo .... Selamat Siang." Jawab seseorang di balik telepon
"Ha-hallo Selamat Siang. Dengan Bapak Billy saya bicara?" Tanya Elvano kemudian.
"Iya, saya Billy, ini siapa ya?"
"Oh, maaf Pak, perkenalkan saya Elvano, saya mau melamar kerja di Perusahaan yang Bapak pimpin, apakah masih ada lowongan pak?"
Manager Billy berpikir sejenak, bagaimana bisa ada orang yang menelepon nomor telepon pribadinya untuk melamar kerja, kemudian ia mengingat kata-kata Cheril kemarin.
"Eh, maaf, apakah anda temannya Nona Cheril?" Tanya Manager Billy
"I-iya Pak, saya teman Nona cheril." Elvano menjawab dengan penuh semangat
"Kalau begitu, kamu datang saja ke kantor besok. Kamu sudah diterima dan bisa langsung bekerja!" Jawab Manager Billy
Tunggu, apa dia bilang besok ....
Elvano menepuk jidatnya. Ia baru ingat dengan kata-kata Cheril bahwa ia harus menelepon ke kantor ketika sudah benar-benar siap, karena ia akan langsung bekerja, sedangkan ibunya masih berada di Rumah Sakit.
"Ma-maaf Pak, saya baru bisa bekerja hari Selasa Pak. Karena saat ini Ibu saya masih di Rumah Sakit." Jelas Elvano sedikit gugup
" Oh, iya tidak apa-apa, kamu masuk pas kamu sudah siap saja." Tanggap Manager Billy kemudian.
"Satu lagi, saya sudah mendengar dari Nona Cheril, kalau anda juga masih kuliah saat ini, jadi anda bekerja di siff malam saja." Tambah Manager Billy.
Perusahaan Indos Perkasa memang memiliki dua siff, siff malam memang sengaja mereka adakan khusus untuk anak-anak kuliahan seperti Elvano. Maksudnya adalah supaya bisa membantu mahasiswa kurang mampu yang ingin memiliki penghasilan sambil kuliah.
"Baik Pak!" Terimakasih banyak Pak." Jawab Elvano senang.
"Iya, sama-sama. Selamat bergabung di Indos Perkasa Elvano." Ucap Billy sekaligus mengakhiri pembicaraan.
" Sekali lagi, Terimakasih Pak ! Selamat siang." Tanggap Elvano dan setelah itu ia pun menutup panggilan ponselnya.
Yes yes yes
Elvano sangat senang sudah diterima di Perusahaan yang cukup besar itu.
Sepertinya aku harus berterimakasih pada Nona Cheril, kalo bukan karena dia juga aku tidak akan bisa bekerja di sana.
Elvano merebahkan punggungnya di belakang sandaran kursi taman, ia duduk di sana kira-kira 1 jam lagi sebelum ia kembali ke ruangan rawat ibunya.
Waktu menunjukkan pukul 11 siang waktu itu, melihat Elvano yang sudah kembali ke ruang rawat, Cheril pun pamit pulang.
Karena Cheril juga tidak ingin menggangu waktu beristirahat ibu Elvano.
Bu, Cheril pulang dulu ya! Ibu harus banyak istirahat supaya besok Ibu sudah benar-benar diperbolehkan pulang oleh Dokter." Ucap Cheril sambil menatap ibu Elvano
"Iya Nak Cheril. Terimakasih ya! 2 hari ini sudah sangat merepotkanmu." Tanggap Ibu Elvano merasa sangat tidak nyaman terhadap Cheril.
"Tidak apa-apa kok Bu. Sekarang Ibu istirahat ya!" Pinta Cheril yang diikuti anggukan dari ibu Elvano sambil tersenyum.
Cheril kemudian berjalan menuju pintu keluar, Elvano mengikuti nya dari belakang.
Ia ingin mengantar Cheril keluar karena ia mau bicara dengan nya.
"Bu, Vano antar Cheril keluar ya." Kata Elvano meminta ijin pada Ibunya
Ibu Elvano hanya mengangguk pelan.
Mereka berdua kemudian keluar dari ruangan VIP nomor 2 beriringan.
Elvano memulai pembicaraan dengan menyebut nama Cheril
"Eh, iya. Ada apa?" Jawab Cheril sambil melempar pertanyaan.
Namun ia tidak menoleh ke arah Elvano dan masih terus melangkah dengan posisi dia di depan dan Elvano di belakang.
"Terimakasih Nona ... Elvano menghentikan langkahnya dan menundukkan badan di hadapan Cheril yang membelakanginya.
Cheril yang menyadari langkah Elvano terhenti , dia pun ikut berhenti dan kemudian membalikkan badan.
"Eh ....
Cheril menatap Elvano bingung sambil mengangkat satu tangannya seolah bertanya, Eh ada apa ini?
"Terimakasih untuk semuanya Nona!" Tambah Elvano lagi masih menundukkan badan.
Kali ini orang-orang yang ada di sana mulai melirik ke arah meraka berdua.
seketika wajah Cheril memerah karena malu.
Kemudian ia pun mendekati Elvano.
"Sudahlah! Jangan begini ... Kamu tidak lihat, semua orang sedang melihat ke arah kita." Ucap Cheril pelan.
Elvano akhirnya menegakkan badannya dan melirik sekeliling. Dan ia malah melototkan mata lalu melemparkannya ke arah mereka semua yang sedang melihat mereka berdua. Seakan akan berkata, jangan lihat-lihat!
Melihat tingkah Elvano membuat Cheril semakin malu. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya.
Apalagi saat itu tiba-tiba Sandi muncul entah dari mana.
"Cheril?!" Sandi memanggil Cheril
Seketika raut wajah Elvano langsung berubah mendengar suara itu, namun ia berusaha tenang kali ini.
"Sandi?!
Oh iya, kenalkan, ini teman aku Elvano." Cheril memperkenalkan Elvano pada Sandi.
Mereka berdua kemudian saling bersalaman
"Sandi"
"Elvano"
"Ibu kamu kan yang dirawat di ruang VIP nomor 2 itu?" Tanya Sandi membuka pembicaraan.
"Iya Dokter." Jawab Elvano singkat.
"Kondisi Ibumu sudah banyak membaik kok, besok sepertinya sudah boleh pulang" Jelas Dokter Sandi sambil tersenyum.
"Eh. I- iiya, terimakasih Dokter." Tanggap Elvano
Ia tidak menyangka Dokter itu bisa begitu ramah. Padahal ia berpikir mungkin Dokter itu akan salah sangka karena melihat nya bersama dengan Cheril.
"Baiklah! Saya tinggal dulu ya. Saya akan ada operasi sesaat lagi." Ucap Dokter Sandi pamit
Elvano hanya mengangguk terlihat sedikit ia paksakan.
"Aku duluan ya Ril!"
Sandi juga pamit pada Cheril
Eh, iya San .... Semoga operasinya sukses ya." Jawab Cheril sambil memberi semangat.
"Good luck ya!" Tambahnya lagi.
"Thank you Ril." Jawab Sandi sambil tersenyum sangat manis.
Ciiiiiih
Elvano membuang wajah ke bawah melihat senyuman Sandi yang entah ia artikan senyuman macam apa itu.
Setelah Sandi pergi, Cheril pun pergi meninggalkan Elvano yang masih bengong menatap kepergian Sandi dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
Ia bahkan tidak tau Cheril sudah pergi meninggalkan nya.
Dia baru menyadari Cheril sudah tidak ada di sana ketika ia membalikkan badan.
"Eh .... Kemana dia?"
Elvano bertanya-tanya dalam hatinya sambil melirik sekeliling.
Setelah sadar ia telah ditinggal Cheril, Elvano memutuskan kembali ke kamar rawat ibunya.
Padahal kan aku belum selesai bicara tadi. Aku bahkan belum memberitahukan pada nya bahwa besok aku sudah mulai bekerja di Perusahaan milik keluarganya itu.