
Elvano dan ketiga pengawal khususnya terus melangkah maju dan saking bersemangatnya mereka, mereka sampai lupa dengan perlengkapan perang mereka yang sangat penting, yaitu senjata.
Mereka berempat terus maju dengan tangan kosong. Dan baru menyadarinya ketika melihat ada musuh yang mendekati mereka.
"Gawat! Kita melupakan senjata kita," ucap Rein panik.
Sementara segerobolan manusia-manusia terlatih yang ada di depan mereka berdiri tegak lengkap dengan senjata di tangan mereka masing-masing.
"Jangan bergerak dan angkat tangan kalian! Jika tidak kami akan melepaskan tembakan." Peringatan diberikan tegas oleh salah satu dari mereka yang mawakili. Sepertinya dia adalah pemimpin dari pasukan team itu.
"Bagaimana ini Tuan?" tanya Zum pelan.
"Ubah rencana kita ke plan B," balas Elvano dengan suara sangat kecil menyerupai berbisik.
Dan mereka bertiga pun mengangguk mengerti.
Mereka berempat melaksanakan plan B. Yaitu menyerahkan diri pada para pengawal itu untuk digiring dan dibawa begitu saja. Elvano dan ketiga pengawal khusus itu tidak melawan sama sekali. Mereka mengangkat tinggi kedua tangan mereka di atas kepala setinggi mungkin. Dan pemimpin pasukan itu tersenyum kemenangan. Lalu memberi kode pada beberapa temannya untuk maju dan menahan mereka semua. Setelah berhasil membekukan musuh, mereka pun menggiring tahanan mereka itu menuju ke sebuah ruangan yang sudah mereka persiapkan memang khusus untuk keempat orang ini.
Semetara di markas, Dirly masih belum bisa mempercayai semua ini. Elvano dan ketiga pengawalnya tidak melakukan perlawanan sama sekali. Ini sungguh tidak bisa dipercaya olehnya. Jika yang lainnya bisa dengan mudahnya merasa senang, maka tidak dengan Dirly dan pemimpin tertinggi mereka yang dikenal sebagai The Killer of king. Mereka bukan orang bodoh. Tepatnya mereka tidak sebodoh para bawahan itu. Mereka sangat yakin, keempat orang ini pasti sedang merencanakan sesuatu. Hanya saja mereka tidak dapat membaca itu. Dirly dan pemimpin Bloods team itu hanya bisa saling melempar pandang untuk sesaat. Seolah mulut mereka membisu, tapi malah saling berkomunikasi melalui kedua manik mereka.
Ya, Elvano dan ketiga temannya itu memang sedang melaksanakan rencana plan B. Yang dimana isi dari rencana tersebut adalah menyerah pada musuh atau lawan mereka. Namun tentu bukan menyerah begitu saja. Melainkan mereka sedang membelokkan rencana mereka dari plan A menjadi plan B. Semua telah tersusun rapi di dalam otak mereka.
Tentu saja bukan pula merasa takut sehingga mereka membelokkan rencana mereka. Jika ada ketakutan di hati mereka, mereka tak mungkin melangkah sejauh ini. Dan jika mereka mau pun, mereka masih dapat melawan pasukan yang cukup banyak itu dengan ilmu bela diri yang mereka miliki. Jangan berpikir keempat orang dengan kemampuan mereka yang terlatih itu tak dapat mengalahkan semua pasukan itu karena tidak memiliki senjata, senjata yang ada di dalam diri mereka saja sudah sangat cukup untuk melakukan perlawanan. Apalagi jika Elvano mengeluarkan jurusnya yang paling tinggi. Dalam 1 gerakan saja, dipastikan semua pengawal itu takutnya malah tak bernyawa dalam sekejap.
Elvano dan ketiga pengawal khusus itu telah berhasil mereka lumpuhkan. Begitulah pemikiran polos pemimpin pengawal. Dan dia tersenyum puas karena itu. Saat ini mereka telah berhasil mecapai depan pintu tahanan.
"Bawa mereka masuk!"
Pemimpin pengawal itu mengucap dengan suara keras.
Brug! Brug! Brug! Brug!
Keempat tahanan mereka dilempar kasar kedalam ruangan gelap yang ada di hadapan mereka. Tangan keempat orang itu tak lupa mereka ikat, dan kedua mata tahanan itu juga ditutup.
BRAK!
Usai itu salah satu dari teman mereka juga menutup pintu dengan kasar, lalu menguncinya. Dan segera menuju ruangan pimpinan tertinggi mereka untuk memberikan laporan tentang keberhasilan mereka.
---
3 jam kemudian, Dirly melangkah menuju ke ruangan tempat keempat musuh itu berada. Tentu dengan persiapan dan langkah yang sangat hati-hati. Namun ia juga tidak begitu merasa takut karena kali ini Dirly sedikit menganggap remeh keempat lawannya itu.
Dirly mengganggap mereka terlalu bodoh dengan melaksakan rencana plan B yang sedang mereka rencanakan itu. Entahlah, dia juga tidak tau jelas bagaimana isi pikiran mereka berempat yang memilih menyerah begitu saja. Yang justru membuat meraka merasakan siksaan berkala atas itu semua. Sebab pada akhirnya keempat orang ini telah dihajar habis-habisan oleh para mengawal di dalam tahanan sebelum Dirly melangkah maju.
Flashback on
Kepala pengawal melangkah pergi menuju ke arah pimpinan tertinggi mereka. Dan ketika tiba di sana, 1 tamparan keras mendarat di wajah pengawal itu karena terlihat senyuman kemenangan serta kesombongan ia bawa serta padanya.
"Dasar bodoh! Apa kamu berpikir kalian sungguh sudah berhasil malkukan tugas kalian dengan baik? HAH?" teriak The kill of king yang ada di hadapannya.
Tentu saja kepala pengawal itu merasa kebingungnan mendengar itu. Jelas-jelas dia sudah berhasil melumpuhkan musuh, tapi malah dimarahi bahkan dihadiahi 1 tamparan keras yang meninggalkan cap 5 jari di pipinya.
"Sekarang, kembali ke tempat itu dan buat mereka lebih menderita!" Perintah kembali diberikan.
Tanpa menanyakan apa kesalahan yang telah ia perbuat sehingga mendapat tamparan keras dari sang pemimpin, kepala pengawal itu pergi membawa segudang rasa penasaran. Tidak terima? Tentu saja. Dia sudah melakukan tugas terbaiknya, tapi malah mendapat balasan yang tidak setimpal. Namun ia juga tidak mungkin melakukan perlawanan. Bisa-bisa jika ia salah gerak nyawanya yang menjadi taruhan. Dan tepatnya ia akan melampiaskan semuanya. Ya, ia akan melampiaskan kemarahannya pada keempat tahanannya itu untuk membalaskan kekesalannya.
Flashback off
---
Terdengar samar dari luar seseorang yang sedang memutar kunci lalu menekan kasar gagang pintu itu hingga menyebabkan bunyi yang cukup keras di ruangan yang sangat sepi itu.
Dirly lalu memperlihatkan senyuman sinis dari sudut bibirnya.
Usai berdiam diri sejenak sambil melemparkan tatapan pada keempat tahanan itu, Dirly melangkah maju mendekati Elvano. Target utamanya. Saat ia melangkah, Elvano juga menatap Dirly kilas.
Kondisi lemah sangat terlihat dari wajah Elvano. Dan memang dia yang dihajar paling parah oleh para pengawal tadi sesuai dengan instruksi yang mereka dapatkan. Jika bukan karena tubuhnya yang sangat kuat, mungkin saja ia sudah kehilangan nyawanya saat itu. Namun tentu saja, tidak semudah itu membunuh seorang The lion king. Julukan yang melekat padanya bukan sembarangan julukan. Jangan pernah berpikir dalam konsisi se-lemah sekarang berarti The lion king itu sudah pasti akan hancur. Bahkan jika dia ingin melepaskan dirinya dari rantai yang mengikatnya saat itu saja masih dapat dia lakukan hanya dengan 1 kali hentakan saja. Dan bahkan dengan kondisinya yang se-lemah itu ia masih dapat menghilangkan 100 nyawa, 1000 nyawa atau bahkan bisa lebih dari itu hanya dalam 1 gerakan yang ia buat.
Dirly kembali memperlihatkan senyuman sinisnya ke arah Elvano saat dia sudah benar-benar berada di hadapan Elvano saat itu. Tak hanya sekedar senyuman, senyuman itu bahkan mengeluarkan suara hentakan dan pias angin yang ikut keluar dari sudut bibirnya itu.
Ya, Dirly sedang mengejek Elvano yang ia rasa telah kalah saat ini.
Setelah ia melihat kondisi Elvano secara langsung, dia sudah sangat yakin Elvano telah kalah saat itu. Dan semua persiapan yang ia lakukan bahkan dirasakannya hanya sia-sia belaka. Beberapa senjata yang ia selipkan pada bagian-bagian tubuhnya ia keluarkan dan ia jatuhkan ke bawah lantai hingga menimbulkan bunyi. Dia sengaja melakukan itu karena merasa menang. Dan saat ini dia hanya ingin mengeluarkan penghinaan terbesarnya pada Elvano. Seolah-olah ia sedang berkata, aku bahkan tidak membutuhkan senjata-senjata ini untuk menaklukkanmu.
Ehem ....
"Kamu sudah kalah Jeong Shu!" ucap Dirly dengan nada rendah identik dengan suara berat yang berarti mengejek.
"Kamu tau kenapa aku katakan ini? Hah?" lanjutnya berjeda.
Elvano kembali menatap Dirly kilas dan berlangsung sesaat. Dia memang belum mengerti apa maksud Dirly. Elvano tahu, Dirly tidak hanya sekedar mengejeknya yang berada di dalam kelemahan. Pasti lebih daripada itu. Namun Elvano juga tidak bersuara. Malas. Ya, tepatnya dia sedang malas untuk mengeluarkan suara.
Senyuman yang mengandung hentakan kembali terdengar. Udara dari sudut bibir Dirly seolah ia paksakan keluar seiring dengan senyuman sinis yang ia lakukan dari sudut bibirnya.
"Kamu sudah bermain terlalu jauh denganku. Kamu sudah tahu kan apa yang aku inginkan darimu? Seharusnya kamu cukup duduk manis di rumah sambil menunggu panggilan dariku." Dirly meninggikan suaranya pada kalimat terakhir.
Sementara Elvano masih diam saja.
"Seharusnya kamu tidak malakukan perlawanan ini Jeong Shu. Sekarang kau sudah tidak memiliki peta itu lagi untuk ku tukar. Kau kira apa lagi yang bisa kau tukar denganku untuk menyelamatkan orang-orang yang kamu sayangi? Bahkan juga menukar itu dengan dirimu. HAH?"
Saat mendengar ini, Elvano sontak mengangkat wajahnya. Matanya membulat seketika. Raut kekhawatiran telihat jelas di wajahnya. Seketika pikirannya tertuju pada Cheril. Wanita yang ia cintai. Wanita yang merupakan nafas hidupya. Separoh jiwanya. Salah! Tepatnya seluruh jiwanya.
Dirly dapat melihat itu. Ya, dia tahu Elvano sedang kalut. Dia tahu Elvano sedang memikirkan nasib istrinya itu.
Hahahahaha
"Kenapa? Apa sekarang kamu menyesal? Sekarang kamu bahkan ikut mencelakai wanitamu itu," ucap Dirly dengan nada rendah namun mengandung ejekan yang teramat dalam.
"Jika sesuatu terjadi pada istriku, maka akan aku pastikan tempat ini hancur berantakan!" sahut Elvano dalam kelemahan namun identik dengan ancaman mengerikan.
"WOW! Sungguh mengerikan sekali Bro," ucap Dirly kembali menjeda.
"Hei, dengarkan aku. Musuhmu tak hanya aku. Tak hanya kami. Aku yakin, kamu pasti mengetahui ini. Kau tahu? Aku bahkan sangat menyesal karena terlambat menyentuh kesayanganmu itu. Jika saja aku berpikir lebih cepat, tak mungkin aku sia-siakan kesempatan yang sangat bagus ini."
BUG! BUG! BUG!
Tiga pukulan keras didaratkan tepat pada tengah-tengah perut Elvano yang membuat nya mengerang kesakitan.
Ketiga pengawalnya yang sedari tadi memperhatikan Elvano sampai membuang pandangan mereka ke arah lain karena tak mampu melihat itu.
Mereka pun hanya bisa berteriak di dalam hati.
"Tuan, sudah saatnya kita melawan kan? Apa sekarang saatnya?"
Ya, maksudnya melanjutkan rencana plan B yang sudah mereka rencanakan itu.
Namun sayang sekali Elvano sama sekali tak dapat mendengar teriakan yang mereka lakukan dalam diam.
The lion king itu bahkan berada di titik paling lemah. Dia sedang memikirkan kata demi kata yang keluar dari mulut Dirly tadi. Dia tahu Dirly tidak sedang membohonginya. Semua yang dikatakan oleh Dirly memang benar. Sejak peta itu berada di tangannya, seluruh dunia memang menjadikan dia sebagai musuh. Dan Elvano tahu, pasti sesuatu yang tidak diinginkan telah terjadi pada wanitanya ini. Wanita yang hanya menjadi miliknya untuk selamanya. Dan celakanya, dia bahkan tak tau siapa yang melakukan itu.